Tampilkan postingan dengan label FF VII fanfic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FF VII fanfic. Tampilkan semua postingan

Seph x OC

My Sweet Nurse

Disclaimer : Kagak perlu yah.

OC : Heaven !!!!! (OC kesayanganku dari cerita buatanku sendiri). Tapi berbeda dengan tokoh “Heaven” yang asli from my original story, Heaven yang ini memiliki sifat berbeda dan merupakan seorang Yokai. Rambutnya juga kubuat berwarna coklat, berbeda dengan Heaven yang sebenarnya di cerita asliku.

Rate : T buat jaga2. Genre : Romance/Horror.

Charas : Sephiroth.

Summary : Kok bisa ya gue bikin fic gaje pake OC begini. Kayaknya gw ketularan seseorang…… *Sweatdrops*


***

Sephiroth menatap punggung gadis itu. Gadis itu masih membelakanginya, mengerjakan sesuatu; seperti menyiapkan cairan entah apa. Sephiroth masih bisa mencium wangi melati dari tubuh gadis itu dalam jarak segini, menatap rambut coklat panjang ikal yang tergelung berantakan seadanya. Kemudian pandangan sang General turun pada rok putih yang dikenakan gadis itu, rok-nya tidak terlalu panjang; di atas lutut; lalu tatapan Sephiroth jatuh pada sepasang betis putih jenjang.

“Kau bisa melakukan ini ?” Sephiroth bertanya dengan setengah meremehkan. Gadis di depannya ini usianya paling tidak hanya dua puluh tiga tahun; lebih muda enam tahun dari sang General sendiri; dan jelas lebih muda jauh dari Hojo yang biasa menangani Sephiroth.

Mendengar pertanyaan Sephiroth si gadis membalikkan tubuh; “General.” Jawabnya dingin; “Kalau Anda tidak percaya Anda boleh keluar sekarang.”

“Aku tidak bilang aku tidak percaya.” Sephiroth membalas tatapan bola mata biru-kelabu milik si gadis; “Miss---?”

“Heaven adalah namaku.” Jawab si gadis.

“Ok, Miss Heaven.” Sahut Sephiroth, membaringkan kembali tubuhnya di dipan yang terasa dingin. Sepasang mata General ini masih menatap wajah Heaven yang cantik namun ada kesan misterius. Gadis itu adalah gadis paling cantik yang pernah dilihat sang General; jauh lebih cantik daripada semua gadis di Silver Elite; fanclub sialannya. Kulit Heaven begitu putih, seperti salju; kontras dengan rambutnya yang berwarna coklat dan bibirnya yang berwarna peach dan basah alami.

Sephiroth tidak tahu apa yang membuatnya datang ke labolatorium gadis ini. Dia tidak pernah melihat labolatorium ini sebelumnya di Midgar. Lalu ketika dia sedang berjalan-jalan di Midgar kondisi tubuhnya kurang sehat, dan entah bagaimana dia sampai ke depan pintu labolatorium milik Heaven; yang sebelumnya sepertinya tidak pernah ada disitu.

Sang General tahu bahwa dia seharusnya pulang ke Hojo untuk memeriksakan diri. Tidak ada yang pernah menanganinya selain Hojo.

Apa gadis di depannya ini mengerti tentang reaksi Mako dalam darahnya ? Bagaimana kalau kondisinya semakin parah ?

“Kau pernah menangani seorang SOLDIER ?” Sephiroth bertanya lagi.

Heaven menghentikan gerakannya yang tengah menyiapkan jarum suntik. Dia menghampiri Sephiroth dan membalas tatapan mata sang General.

“Aku. Belum. Pernah. Menangani. SOLDIER.” Sahut gadis itu dengan nada sangat dingin serta kaku; “Tapi aku tahu mengenai SOLDIER, Mako, dan segala macamnya. Kalau Anda memang tidak percaya padaku, Sir, silakan keluar.”

“Kurasa aku memilih tetap disini.” Jawab Sephiroth.

Maka tanpa banyak bicara si gadis pun bekerja. Dia memegang pergelangan tangan kiri Sephiroth dengan tangan kirinya sendiri sambil memerintahkan; “Pejamkan matamu !”

Sephiroth memejamkan matanya. Dia tidak bisa melihat gadis itu dengan mata terpejam, tapi dia bisa merasakannya. Ada hawa sangat dingin datang dari tempat dimana gadis itu berdiri; di sebelah dipannya. Tangan dingin gadis itu mencengkeram pergelangan tangannya. Lalu tidak lama sesuatu menusuk di lengannya. Dia tahu itu jarum suntik. Gadis itu sedang menyuntiknya.

Entah cairan apa.

Entah obat apa.

Entah akan bereaksi bagaimana dengan Mako dalam tubuhnya.

Tetapi dia tidak bisa melawan. Hawa dingin yang aneh seperti membelit tubuhnya dan membuat tulangnya terasa lemas serta ototnya menjadi kaku. Tusukan jarum di lengan kirinya terasa pedih. Suatu cairan di dorong masuk oleh jarum suntik ke dalam darahnya. Entah kenapa dia bisa merasakan cairan itu bergerak masuk, kemudian merayapi pembuluh-pembuluh darahnya.

Kemudian muncul sensasi yang lain. Dia merasa rileks. Dia merasa nyaman. Dia tidak bisa membuka matanya atau bergerak atau pun bersuara, tetapi ada perasaan rileks dan nyaman. Dirasakannya tangan dingin gadis itu sekarang bergerak di dadanya; membelai dadanya. Dingin dan lembut.

Lalu dia merasa tangan itu menjauh. Tetapi tidak lama kemudian ada sesuatu yang dingin mengenai dadanya. Sephiroth mencium aroma melati yang sangat kuat dan merasakan gesekan rambut di dadanya. Heaven sedang membaringkan kepala di dada Sephiroth.

Apakah ini perlu ? Sang General bertanya dalam hati; Apakah dia sedang mengecek detak jantungku, atau---??

Anehnya Sephiroth tidak merasa keberatan, seperti ada sihir menguasainya. Dia masih tidak bisa bicara, membuka mata, ataupun bergerak. Lalu dirasakannya gerakan Heaven mengangkat kepala dan mendekatkan wajah ke wajahnya.

Sephiroth bisa merasakan nafas yang dingin. Sangat dingin. Terlalu dingin……

Dia merasa bibirnya membeku. Dia merasa hawa dingin masuk lewat lubang hidungnya; mengalir ke otaknya.

“General…..” Bisik suara Heaven; “Bagaimana kalau kau ikut denganku….?”

Sephiroth tidak bisa menjawab, tetapi dia berbicara dalam hati; “Kemana ?”

Entah bagaimana, sepertinya Heaven mendengar suara hati Sephiroth. Gadis itu menjawab lagi, tapi apakah memang benar gadis itu berbicara ataukah hanya dalam pikiran Sephiroth saja dan sebenarnya dia tidak mendengar apa-apa ?

“Ke tempatku, General.” Suara gadis itu terdengar menjawab dengan merdunya, entah nyata atau tidak; “Kau sangat kuat, menarik, tampan, dan aku menyukaimu. Aku menginginkanmu. Maukah kau ikut ke tempatku ?”

“Dan dimanakah tempatmu ?” Tanya sang General dalam batinnya.

“Jauh dari sini, Sir.”

“Apakah bersama ibuku ?”

Mendengar pertanyaan terakhir sang General, Heaven tertawa kecil. Tawa yang dingin tapi sangat merdu. Sepertinya tidak nyata.

“Anda sangat merindukan orang tua Anda, Sir.” Gadis itu menjawab setelah tawanya selesai; “Tidak, tidak bersama ibu Anda, Sir.”

Hening sejenak.

“Bagaimana kalau kau yang ikut aku ?” Akhirnya Sephiroth bertanya lagi; masih dalam batinnya.

“Aku tidak bisa.” Jawab suara Heaven.

Sekali lagi hening. Entah kenapa akhirnya Sephiroth merasa bahwa gadis yang berbicara kepadanya itu bukan manusia. Demi Gaia, gadis itu adalah siluman. Tapi sang General tidak merasa takut sedikit pun.

“Kau bukan manusia.” Ucap batin Sephiroth; “Tapi aku tidak keberatan. Meski begitu, aku tidak bisa ikut denganmu.”

“Darimana Anda tahu aku bukan manusia ?”

“Saat kau menjawab tidak bisa ikut ke tempatku. Karena kita berada dalam dua dunia dan sesuatu membatasimu.”

“Anda memang pintar.”

Sekali lagi hening.

“Aku tidak bisa ikut denganmu.” Lanjut Sephiroth dalam batinnya; “Masih banyak tugas yang harus kukerjakan. Masih banyak hal yang harus kulakukan di dunia ini.”

“Meskipun itu berarti kau akan menderita ?”

“Apa maksudmu ?”

“Kehidupan adalah penderitaan. Semakin banyak tugas yang dipikul seseorang itu berarti bahwa hatinya semakin tertekan.”

“Mungkin memang begitu, tapi aku memilih tetap menjalani hidupku dan melaksanakan semua tugasku.”

Keheningan kembali merajai. Agak lama, lebih lama dari sebelumnya. Kemudian hawa dingin yang tadi bergerak menuju otak Sephiroth mendadak terhenti dan sirna. Hawa dingin yang tadi mengaliri pembuluh darahnya juga mencair. Dia merasa sedikit hangat.

Dia merasa kembali berada di alam nyata.

“Buka matamu, General.” Perintah Heaven. Kali ini terdengar nyata, sangat nyata.

Sephiroth membuka matanya. Tidak ada apa pun yang terjadi. Heaven masih tampak normal seperti sebelumnya. Sephiroth masih berbaring di dipan. Jarum suntik masih berada di tangan Heaven, cairannya sudah habis; berarti obat sudah disuntikkan.

Entah bagaimana Sephiroth merasa jauh lebih sehat.

Dia bangun, menegakkan punggungnya dan duduk.

“Sudah selesai.” Ucap Heaven; “Kau boleh pergi sekarang.”

Sephiroth turun dari dipan. Ada satu pertanyaan di hatinya tapi dia tahu bahwa itu tidak boleh ditanyakan. Dia hendak bertanya akankah dia melihat gadis ini lagi. Namun entah kenapa sepertinya ucapan itu terlarang. Dia tidak boleh merindukan siluman. Jika tidak, maka dia akan diseret ikut ke dunia yang lain.

“Terima kasih.” Sahut Sephiroth, lalu keluar dari ruangan ini.

Setelah dia kembali ke jalanan di Midgar di malam hari yang bersalju dan melangkah menjauh, labolatorium yang tadi ditinggalkannya pun lenyap. Butir-butir salju turun dari langit; membentuk pusaran kecil di lokasi bekas labolatorium, dan seorang wanita berdiri disitu. Wanita itu tidak terlihat oleh mata manusia biasa. Dia hanya terlihat oleh orang yang dia inginkan.

Yuki-Onna.

***


The End


Authoress : Kalo ada yang ngga tau apa itu Yuki-Onna, tolong di-gogle aja yah. "Heaven" adalah milik saia, tapi "Yuki-Onna" bukan. Yuki-Onna, untuk singkatnya; adalah wanita salju alias setan alias siluman dalam kepercayaan Shinto-Jepang. Yuki-Onna suka mengajak pria yang disukainya ke gunung dengan membekukannya. ^_^


*Sephiroth : "Bagus deh. Untuk pertama kalinya saya dijodohin sama orang lain di fanfic ini selain sama si %#&* (insert swearing here) Genesis."

*(Sweatdrops)

*Authoress : "Kamu kujodohin ama setan, tau ?!"

*Sephiroth : "Lebih mending daripada sama Genesis, dammit !"

*(Sweatdrops lagi).....


Reason To Hate You

(Another) Reason To Hate You

Genre : Friendship/Hurt-Comfort

Charas : Sephiroth, Genesis, Angeal

Setting : Somewhere in the past; Shinra

Rating : T buat jaga2

Warning : Genesis' POV, Summary : Whatever you do, whatever you say; you just giving me another reason to hate you...


****

Aku menatap pintu tertutup itu. Bahkan dari sini aku sudah bisa merasakan atmosfer yang menyesakkan. Aku sudah bisa merasakan tatapan mata orang yang berada di balik pintu itu. Aku sudah bisa membayangkan wajahnya, ekspresinya, gerak-geriknya yang selalu anggun.....

Tidak pernah sedikit pun dia bercela. Tidak pernah sedikit pun dia melakukan sebuah kesalahan. Begitu perfect. Manusia yang sempurna.

Aku tidak pernah melihat dia membuat kesalahan sedikit pun. Oh, aku ingin sekali melihatnya. Aku tidak pernah melihat dia tampil dengan buruk sekali pun. Aku tidak pernah melihat rambutnya yang panjang dan rapi menjadi kusut. Aku tidak pernah melihat dia menundukkan kepala. Aku tidak pernah melihat dia menitikkan airmata sedikit pun. Aku tidak pernah melihat pakaiannya kotor sedikit pun. Aku tidak pernah melihatnya tidak begitu bercahaya seperti yang selalu kulihat....

Dan aku sangat ingin melihat dia tidak bercahaya lagi. Aku sangat ingin melihatnya terhempas, kotor, kusut, dan menangis.....

Aku ingin melihat Sephiroth tidak bercahaya lagi, terhempas, jatuh, kotor, kusut, dan menangis.

Aku menatap pintu itu. Semua bayangan tentang dirinya berkecamuk dalam batinku walaupun aku berusaha mengenyahkannya.

Obsesi ?

Apakah ini adalah obsesi ?

Angeal selalu mengatakan itu padaku; "Berhentilah terlalu terobsesi dengan Seph, Genesis."

Tidak semudah itu, Sahabatku.

Segala sesuatunya datang sendiri. Dia selalu muncul di benakku, walaupun - percayalah - aku berusaha mengenyahkannya. Aku berusaha mengusir bayangannya dari hatiku, aku berusaha melemparkan sosoknya keluar dari pikiranku. Tapi tidak bisa. Dia selalu ada di sekitarku, di depan mataku. Bagaimana aku bisa mengenyahkannya dari hatiku sedangkan sosoknya selalu berada di sekitarku ? Bagaimana aku bisa mengenyahkannya dari pikiranku kalau semua orang di sekitarku selalu menyebut-nyebut namanya ?

Sephiroth the Hero. Sephi-

Mendadak pintu di depanku terbuka. Aku tersentak dan mengangkat wajahku; menatap sosok yang sedang kupikirkan ini. Wajahnya, senyumnya yang congkak, tatapan matanya yang selalu meremehkan orang lain, kesinisannya yang tersembunyi.. namun aku jelas bisa menangkap kesinisan dalam senyumnya; di wajahnya; dalam pandangan matanya.

Yeah, aku bisa melihatnya dengan jelas. Angeal mungkin tidak menyadari bagaimana kau memandang remeh aku dan Angeal, Seph. Tapi aku menyadarinya. Kita bertiga bersahabat, kita bertiga sering ditugaskan dalam satu misi bersama. Pertempuran demi pertempuran yang kita alami bersama dalam misi telah mendekatkan kita. Aku masih ingat, Seph, kita saling membantu di medan perang. Tapi yang dapat nama hanya kau. Yang paling dihargai oleh President Shinra dan oleh semua orang hanya kau.

Semua orang tahu Sephiroth, tapi tidak semua orang tahu Angeal dan Genesis. Kau sangat terkenal. Kami tidak.

"Genesis ?"

"Oh." Aku menyadari kau sedang menatapku. Sepasang bola matamu yang berwarna hijau tampak begitu jernih. Begitu bening, tetapi menyimpan kegelapan dan misteri.

Bagaimana mungkin seseorang bisa memiliki mata yang begitu indah ?

Kau menyilakanku masuk ke dalam ruanganmu. Aku melangkah masuk, dan kau menutup pintu di belakangku, membuat kita berdua terisolasi di dalam ruanganmu.

"Duduklah." Kau memerintahkanku.

Memerintahku.

Kenapa ? Kita berdua sederajat. Kita berdua seumur. Aku bahkan lebih tua beberapa bulan darimu, Sephy.

Jangan memerintahku. Walaupun hanya satu kata yang sederhana. Tetapi ketika itu datang darimu aku merasa bahwa perkataan itu penuh dengan nada kesombongan dan penghinaan. Kau menekankan nada bicaramu sehingga terdengar jelas seolah kau menganggap remeh aku.

Tetapi aku bergerak ke kursi di depan mejamu dan duduk. Aku berusaha menjaga gerakanku agar seanggun dirimu.

Kau bergerak ke belakang mejamu dan duduk di kursimu. Aku masih melihat sepasang matamu masih menatapku. Kenapa kau menatapku, Sephy ? Apa yang kau lihat dariku ? Bagaimana menurutmu diriku ?

"Aku ingin membicarakan hal yang sangat pribadi." Kau akhirnya berkata; "Mungkin ini agak aneh, tapi aku merasa bahwa kita harus membicarakan hal ini. Kita tidak bisa begini terus dan pura-pura bahwa tidak ada apa-apa."

Apa maksudmu ?

"Apa maksudmu, Seph ?" Aku bertanya, berusaha menjaga agar nada suaraku tetap tenang dan tidak gemetar.

Jangan tersenyum, Seph !

Jangan tersenyum ! Aku benci melihatnya.

Senyum yang penuh percaya diri. Aku ingin sekali meruntuhkan kepercayaan dirimu itu. Aku ingin mengubah senyummu menjadi tangis......

"Aku ingin bertanya." Kau meneruskan dengan lambat-lambat. Kau sengaja menikmati ekspresiku yang terlihat suram; "Kenapa kau membenciku, Genesis ?"

Apa ?

"Aku tidak membencimu !" Lidahku berdalih.

Kau menggeleng tanpa rasa bersalah; "Setiap kali dalam sesi latihan kau berusaha membunuhku." Sahutmu; "Dan setiap dalam rapat kau selalu menentangku, kau selalu berusaha menolak pendapatku, kau selalu keberatan akan pendapatku dan berusaha mempermalukanku. Awalnya aku menganggap kau memang benar-benar memiliki pendapat yang lebih baik dariku, tapi---"

"Aku menentang pendapatmu dalam rapat memang karena aku memiliki ide lain yang lebih baik darimu !" Putusku.

"Tidak." Jawabmu; "Kau menentangku hanya karena kau ingin membuatku marah. Kau berusaha membuatku marah."

Dan aku terdiam sejenak. Demi Gaia ! Kenapa dia bisa sangat santai saat mengatakan itu ? Kenapa kau bisa mengucapkan itu dengan tenang, Seph...?

"Ayolah, Genesis." Kau meneruskan dengan lebih pelan; "Kita berdua adalah laki-laki dewasa dan---"

Kita berdua adalah laki-laki dewasa..... Sephiroth, kau selalu menganggapku anak kecil ! Kau senang mempermalukanku seperti ini, memancingku dengan perkataan-perkataan sialanmu ! Menganggap aku adalah bawahanmu yang harus dibimbing olehmu. Aku membencimu !

"---kita masing-masing tahu apa yang kita rasakan. Aku tidak ingin mendebatmu. Aku hanya ingin tahu alasanmu." Kau meneruskan.

"Alasan apa ?" Tanyaku.

"Alasanmu membenciku." Kau menjawab.

Apa ?

Apa telingaku tidak salah dengar ?

Kau bertanya padaku apa alasanku membencimu ?

Saudaraku; Sahabatku; Teman Seperjuanganku. Kau sedang bertanya padaku apa alasanku membencimu ?

Sephy, kau gila ?

Aku membencimu sampai mati. Aku benci padamu. Aku benci dirimu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dan aku tidak tahu kenapa.

Mungkin karena kau begitu perfect. Mungkin karena kesempurnaanmu itulah yang membuatku membencimu. Mungkin kau begitu sempurna dan semua orang agaknya menyadari kesempurnaanmu. Bukan hanya aku yang menyadari kesempurnaamu, tapi semua orang. Dan itu membuatku membencimu.

Tidak bisakah kau menyembunyikan segala kelebihanmu itu, Seph ?

Tundukkan kepalamu, sehingga orang tidak melihat betapa cantiknya dirimu.

Tidak bisakah kau tidak selalu tampil di depan dalam setiap rapat, berbicara dan membiarkan semua orang mengetahui betapa cerdasnya dirimu ?

Tidak bisakah kau berhenti tersenyum seperti itu ? Senyum yang sinis dan angkuh. Senyum yang membuat semua orang ingin memilikimu.

Termasuk aku.

Pernahkah kau sadari itu ? Tidak ? Karena kau begitu terkurung dalam pikiran-pikiranmu sendiri. Kau terkurung dalam kebekuan hatimu. Matamu terlalu buta untuk bisa melihatnya, Seph.

"Genesis ?" Kau menegur.

Jangan paksa aku bicara di saat aku tidak ingin bicara !

"Seph ?" Sahutku berusaha menahan diri. Aku tidak boleh kalah darimu. Aku tidak akan kalah darimu; "Kenapa kau memaksaku untuk mengatakan hal-hal yang tidak ingin kukatakan ?"

Kau terdiam. Kau menyandarkan punggungmu di sandaran kursimu. Sepasang mata hijaumu masih menatapku. Tidak ada ekspresi bersalah di wajahmu, tidak ada ekspresi gundah atau bimbang. Kau yang selalu sempurna. Kau tidak penah menunjukkan sedikit pun kegelisahan, ketakutan, kesedihan, rasa bersalah, dan---cinta.

"Aku tidak bermaksud memaksamu." Akhirnya kau menjawab; "Hanya saja kurasa aku sudah muak dengan semua ini. Aku bosan terus-menerus meladeni sikapmu dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, sedangkan sebenarnya aku semakin lama semakin menyadari bahwa kau membenciku. Aku hanya ingin dengar alasannya."

Apa ???

Bisakah kau mengulanginya, Sephy ??

Bisakah kau mengatakannya lagi ? Tapi jangan katakan itu dengan tenang ! Aku benci dengan segala ketenanganmu !

Bagaimana kau bisa begitu tenang ?

Sedangkan aku tidak ?! Aku bisa menyadari kedua tanganku terkepal. Kau melihatnya---Oh sialan, palingkan wajahmu ! Jangan melihatku !

Bisakah kau mengatakannya dengan menangis, Sephy ?? Bisakah kau bertanya padaku kenapa aku begitu membencimu; dengan disertai isak tangis, Sephy ?? Bisakah kau menunjukkan bahwa kebencianku padamu sangat mengganggumu dan membuatmu kehilangan kepercayaan diri ? Bisakah kau memohon agar aku tidak membencimu lagi...??

"Tepat. Aku memang membencimu !" Aku mendengar diriku sendiri berkata; tetapi aku sendiri sadar bahwa suaraku gemetar; "Dan kau mau tahu alasannya ?! Aneh sekali !"

Kau diam. Kau menungguku meneruskan pembicaraanku. Kau tidak ingin memutusku. Tetapi ekspresi wajahmu masih sama dinginnya seperti biasanya.

Karena kau tidak punya perasaan.

Itulah sebabnya aku membencimu.

Kau tidak punya perasaan.

"Karena....," Lidahku bergerak; "Karena kau adalah orang sombong sialan yang sebenarnya tidak punya otak, Sephiroth. Kau menang karena keberuntunganmu. Kau menang hanya karena kau dibesarkan oleh Shinra sejak lahir--"

Kau mengangkat alis; "Genesis---"

Jangan memutusku ! Itu hanya memberiku alasan untuk semakin membencimu !

"-Dan karena setiap kali kita berhasil menyelesaikan tugas apa pun bersama, namamulah yang paling dipuji!"

"Aku berusaha lebih keras dari kalian." Kau membantah.

Bagus ! Teruskan ! Bantah aku ! Marahlah, Sephy !

"Kau hendak mengatakan bahwa aku dan Angeal tidak berusaha apa-apa ?! Kau hendak mengaku bahwa dalam semua misi kita kau sendirilah yang bekerja ?!"

"Tidak ! Tapi jelas-jelas aku bekerja lebih banyak dari kalian--"

"Karena kau merebut semuanya, Sephy ! Kau merebut semua kesempatan !"

"Kesempatan mana yang kau maksud ?!" Kau membantah lagi; "Pada saat kita dikirim dalam misi terakhir seingatku kau dan Angeal berjalan-jalan menikmati pemandangan di pagi hari, maka aku tidak punya pilihan lain selain segera melaksanakan tugas kita daripada menunggu kalian kembali sore harinya--"

"Oh, jangan ingatkan aku ! Jangan membela dirimu sendiri ! Kau ular licik ! Kau sengaja menyelesaikan segala sesuatunya saat aku dan Angeal lengah, supaya dirimu sendiri yang dapat nama--"

"Ketika aku melaporkan kepada Lazard mengenai hasil dari misi kita itu, apa aku menyebutkan bahwa kalian berdua sebenarnya tidak bekerja apa-apa dan malah pergi menikmati pemandangan di kota sekitar ?! Tidak, bukan ?!"

"Tidak usah sok suci ! Aku benci orang yang sok suci ! Kau sengaja melindungi kami hanya karena kau ingin membuat kami berdua malu dalam hati. Kau ingin menunjukkan bahwa kau adalah mahluk suci sialan---"

"Aku bukan orang suci, dan kau sendiri---"

Di luar keinginanku, aku sudah memegang Rapier-ku dan menyerangmu. Kau menangkisnya dengan pedang Masamune-mu.

Kau tahu sekarang kenapa aku membencimu, Sephy ?

Jangan tanyakan padaku kenapa. Saat kau bertanya, itu malah memberiku alasan lain untuk semakin membencimu.....

Kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Dunia ini terlalu sempit untuk kita berdua, Saudaraku.

The End

Art

DISCLAIMER : This art is not mine. This is belong to someone under "belafantasy" in Devianart. Just google to see her homepage.

I think this doujinshi/comic/fanart; whatever you call it; is the BEST one I've seen. That's why I like it very much. Thank you, Bella, I love you.

Thank you.

Comic

DISCLAIMER : This art is not mine. This is belong to someone under "belafantasy" in Devianart. Just google to see her homepage.

Thank you.

Lovely Girls

Setting : FF VII suatu masa sesudah Advent Children, FF VIII umum.

Berdasarkan FinalFantasy Wiki :

Tifa Lockhart = 3 May; umur 22

Cloud Strife = 11 August; umur 23

Yuffie Kisaragi = 20 November; umur 18

Vincent Valentine = 13 October; umur 57 (tapi penampilannya spt 27)

Rinoa Heartilly = 3 March; umur 17

Squall Leonheart = 23 August; umur 17

Seifer Almasy = 22 December; umur 18


Chapter 1

(Tifa POV)

Aku bertanya pada diriku sendiri. Apa yang lebih buruk dari tersesat di sebuah pulau terpencil tak berpenghuni ?! Jawabannya adalah jika kau harus menjaga beberapa orang yang jelas-jelas sedang sakit parah sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur.

Aku menatap sosok yang terbaring di dalam tenda. Wajah sosok itu tampak sangat pucat dan sepasang matanya terpejam. Tidak ada ekspresi apa pun tercermin di wajahnya.

Apa yang kau rasakan, Cloud..?

Seolah menyadari pertanyaan dalam hatiku, sosok itu membuka matanya dengan perlahan. Pandangannya langsung menatapku.

“Ti..fa ?” Dia berbisik.

“Ya ?” Aku menggenggam tangannya yang dingin; “Jangan bicara dulu, kau sakit parah.” Aku menarik kembali tanganku dan menempelkan tanganku di dahinya yang terasa panas membara tanda demam tinggi.

Cloud membuka mulut hendak mengatakan sesuatu. Aku tahu apa yang hendak dia katakan. Kemudian agaknya dia tidak jadi mengatakannya dan menutup mulutnya lagi. Tapi toh aku sudah tahu dengan jelas apa yang sebenarnya hendak dia katakan, dan aku bersyukur aku tidak perlu mendengarnya secara langsung. Karena aku sudah cukup lelah dengan kalimat-kalimatnya.

“Kau tidak usah banyak pikir, Cloud.” Aku memaksakan senyum; “Jangan kuatir, aku bisa mengurus semuanya. Masih ada Yuffie dan teman-teman baru kita disini membantuku.”

Dia tidak menjawab, tetapi dia memejamkan matanya lagi.

Perlahan aku bangun dan meninggalkannya, keluar dari tenda. Hari sudah malam. Bintang bertebaran di langit yang gelap; dan api unggun tak jauh dari keempat tenda kami merupakan penerangan satu-satunya. Aku menghampiri ke api unggun itu dan melihat Yuffie duduk termenung memeluk lututnya.

“Oh, Tifa.” Katanya menyadari kehadiranku; “Cloud baik-baik saja ?”

“Ya; kurasa.” Jawabku. Aku duduk di sampingnya dan mengamati wajahnya yang mencerminkan kecemasan luar biasa.

“Jangan kuatir.” Hiburku; “Aku yakin Vincent juga baik-baik saja.”

“Ya, dia masih demam.” Sahut Yuffie; “Badannya panas.”

“Begitu pun dengan Cloud.” Kataku, menghela nafas.

Sebelum Yuffie mengatakan sesuatu apa pun lagi, mendadak terdengar jeritan cukup nyaring dari arah tenda lain. Kami berdua tersentak dan segera bangun lalu berlari masuk ke tenda itu.

Yang tadi menjerit adalah seorang gadis yang kira-kira lebih muda setahun dari Yuffie. Dia sedang duduk di lantai tenda merapat ke sudut dan di depannya tampak dua orang pria yang separuh tak sadarkan diri tetapi kedua pria itu; meskipun sama demamnya dengan Cloud dan Vincent; keduanya masih bisa-bisanya berkelahi. Tampang pemuda yang pirang menindih tubuh pemuda berambut coklat dan hendak melayangkan tinju ke muka si rambut coklat.

“Cukup !!” Dengan cepat aku menghampiri mereka dan menahan tangan si pirang sebelum menjotos muka si rambut coklat.

“P-pergi !!” Si pirang menengok menatapku dengan kemarahan luar biasa; “Atau kau akan menyesal, Nona !”

“Namaku Tifa Lockhart, dan kita akan lihat siapa yang menyesal duluan kalau kau tidak mau diam !” Bentakku. Karena pemuda itu sedang demam, aku berhasil (dengan agak susah payah karena dia cukup berat) memindahkannya dari atas pemuda yang berambut coklat dan membaringkannya di sudut yang lain.

Si gadis yang tadi menjerit segera menghampiri pemuda berambut coklat.

“Squall…!” Isak gadis itu; “Kau tak apa-apa, kan..?”

Si pemuda berambut coklat yang kelihatannya lebih pendiam dan lebih anti-sosial ketimbang Cloud; menggeleng. (Ralat : Cloud tidak anti-sosial, hanya berhati dingin).

Kemudian gadis itu; Rinoa; mengangkat wajahnya yang basah bersimbah airmata; menatapku; “T-tifa… bisakah Seifer tidur dengan t-temanmu saja ?” Pintanya.

Sebelum aku menjawab, Yuffie berkata; “Tidak. Kami sudah memberikan tenda paling besar untuk kedua temanmu itu; Nona Heartilly, dan aku tidak yakin Cloud akan senang untuk menerima tamu yang tidak dikenalnya di tendanya---”

Seifer; si pirang yang tadi kupindahkan ke sudut; mencibir dan berkata; “Aku seorang.. SeeD…. Ksatria putih sang penyihir…..”

“Dengar !” Kataku tak sabar. Mahluk ini lebih rewel daripada Cloud. Aku menatapnya; “Aku tidak mengerti apa itu SeeD atau penyihir --- dan dalam nama Gaia bisakah kau jangan mempersulit kami; atau sebaiknya kau kami tinggalkan saja ?!”

Seifer hendak membalasku tetapi malah terbatuk.

Rinoa sudah berkata lagi; “Tifa… Kalau begitu, bisakah kau memindahkan temanmu yang berbaju merah ke tempat temanmu yang pirang supaya Seifer dan Squall bisa pisah tenda..?”

“Jelas tidak !” Kata Yuffie cepat; “Vincent membutuhkan ruang gerak---”

Aku tidak tahan untuk tidak tersenyum. Ruang gerak ?! Kadang-kadang si Mawar Putih dari Wutai (begitulah Yuffie menyebut dirinya) itu lucu juga. Jelas-jelas Vincent sedang sakit demam dan tidak bisa bergerak. Well, aku tahu bahwa Vincent dan Cloud tidak akan keberatan jika tidur dalam satu tenda, tapi masalahnya baik aku maupun Yuffie sudah cukup capek dengan Rinoa yang baru saja kami kenal di jalanan. Gadis itu sangat rewel; mungkin karena agaknya dia adalah puteri bangsawan atau semacamnya; dan usianya juga paling muda di antara kami. Aku paling tua di antara kami ketiga gadis yang ada disini.

Aku tahu Yuffie juga sebenarnya tidak keberatan meletakkan Vincent dan Cloud bersama; malah mungkin Vincent akan gembira mempunyai teman ngobrol, tapi Yuffie agaknya sudah terlalu sebal dengan Rinoa yang selama perjalanan tidak pernah mau mengalah sedikit pun pada kami.

Dan benar saja, ekspresi wajah Rinoa berubah mendengar perkataan Yuffie. Dia tampak sangat tak senang lalu menjawab dengan merajuk; “Baik ! Kalau begitu aku akan pindahkan sendiri ---”

“Coba sentuh Vincent-ku kalau kau be---” Yuffie membentak tapi aku memberi isyarat agar dia diam, lalu aku menjawab Rinoa; “Silakan.”

Yuffie menatapku dengan ekspresi memprotes.

Aku melipat tangan dan sekali lagi memberi isyarat pada Yuffie agar diam saja.

Rinoa bangun dan dengan mengangkat dagunya dia melewati kami untuk menghampiri Seifer di sudut terpisah. Dia berusaha mengangkat Seifer yang kebetulan sudah pingsan lagi. Sayangnya; sesuai dugaanku; dia tidak mungkin bisa mengangkat tubuh Seifer yang berat.

Selama beberapa menit baik aku dan Yuffie hanya berdiri mengawasi Rinoa berkutat dengan tubuh Seifer.

Akhirnya dia menyerah dan terduduk pasrah.

“Nah, kalau kau sudah merasa lebih tenang;” Ucapku; “Kau bisa bergabung dengan aku dan Yuffie di depan lalu kita akan rundingkan giliran jaga untuk malam ini.”

Aku berjalan keluar dari tenda ini. Yuffie mengikutiku.

“Gadis yang manja dan menyebalkan !” Yuffie menggerutu pelan begitu kembali duduk di depan api unggun. Aku tidak menjawab. Aku duduk di sebelahnya dan mendekap diriku sendiri. Udara sangat dingin.

“Aku hanya beda setahun dari dia.” Yuffie melanjutkan; “Dan aku tidak semanja dia, tidak secengeng dia, tidak semerepotkan dia.”

Lagi-lagi aku tidak menjawab.

“Tifa ?” Dia akhirnya menyadari bahwa dia sudah mengeluh pada diri sendiri; “Bagaimana menurutmu ?”

“Um…..” Kudengar gumaman tak jelas dari mulutku sendiri.

“Sudah dua hari dua malam kita disini.” Lanjut Yuffie pula; “Dan kau ingat kan; selama dua hari dua malam kita berdua terus yang giliran jaga malam dan mencari makan di siang harinya, lalu kita berdua juga yang memasak karena dia tidak bisa masak.”

“Malam ini sebaiknya dia yang jaga.” Kataku akhirnya.

“Tepat. Aku sangat mengantuk dan capek.” Ucap Yuffie setuju.

Setelah beberapa saat, Rinoa keluar juga dari tenda. Kurasa tadinya gadis itu berniat untuk mengurung diri di tendanya bersama cowok yang dicintainya itu; Squall; entah karena tidak kepingin melihat aku dan Yuffie atau karena kepingin tidur; tapi yang jelas toh akhirnya dia menyerah juga dan keluar ke tempat kami.

“Tifa ?” Rinoa menghampiri kami dengan langkah gontai. Agaknya dia sadar kalau Yuffie lebih sering membentaknya daripada aku membentaknya karena itu setiap kali dia harus bicara dengan kami dia menyebut namaku saja.

“Ya ?” Aku terpaksa menjawab meskipun rasanya enggan.

“Kau masih punya makanan ?” Tanya Rinoa lagi, dan aku menyadari Yuffie langsung melotot siap meledak.

“Tidak.” Aku menjawab dengan cepat sebelum Yuffie membuka mulut; “Kau harus menunggu sampai besok.”

Rinoa mengeluh.

Lagi-lagi dengan cepat aku berkata; “Omong-omong, sekarang giliranmu jaga malam, Ms. Heartilly, karena aku dan Yuffie sudah mendapat giliran kemarin malam dan malam sebelumnya.” Aku bangun.

“T-tapi a-aku…..” Rinoa memprotes.

Yuffie ikut bangun.

“Tifa ! Tunggu !” Rinoa berusaha mencegah kami.

Dengan lelah aku menghentikan langkahku dan menengok padanya.

“Dengar,” Aku berusaha untuk tidak membentaknya. Kami sama-sama wanita, sebaiknya kami jangan saling membentak; “Aku tidak tahu apakah di rumahmu kau mempunyai banyak pelayan dan dayang-dayang yang melayanimu sepanjang waktu; atau bahkan babysitter yang membacakan dongeng untukmu dan menungguimu saat malam; tapi disini hanya ada kau, aku, dan Yuffie. Titik. Aku dan Yuffie sudah tidak tidur selama dua malam dan kami berdua sangat capek ! Kau boleh pilih; kau mau jaga malam atau kau yang akan pergi berburu besok !” Aku gagal untuk tidak membentaknya. Terima kasih, Gaia.

Setelah itu tanpa menunggu jawabannya aku menggandeng Yuffie dan masuk ke tenda keempat yang kosong; tenda kami para gadis.

“Tifa, kenapa kita tidak tidur bersama cowok kita saja ?” Tanya Yuffie ketika dia mulai berbaring di atas tumpukan kain yang kami gunakan sebagai alas tidur.

Aku membaringkan tubuhku dan menengok padanya yang berbaring di sebelahku.

“Karena…..” Sahutku lambat-lambat sementara otakku berpikir mencari jawaban yang bagus; “Karena kita tidak mau tertular.”

Yuffie tertawa; “Aku bukan anak kemarin sore.” Dia menjawab; “Aku tahu alasanmu. Kau tidak mau aku dan Vincent atau Rinoa dan Squall kebablasan melakukan sesuatu, kan..?! Karena itu jugalah kau membiarkan Seifer tidur bersama Squall sebab kau kuatir Rinoa yang masih kecil tidak bisa menahan diri dan melakukan sesuatu dengan Squall dalam kesempatan seperti ini.”

Mau tidak mau aku tersenyum; “Kau sudah tahu sendiri jawabannya, kenapa masih bertanya ?!” Ucapku.

“Aku hanya ingin mendengarnya langsung dari mulutmu.” Dia mengerucutkan bibirnya, lalu diam sejenak.

Selama beberapa saat kami berdua hanya berbaring.

Kemudian dia menengok padaku lagi dan berkata; “Cloud dan kau….. Kalian berdua---” Dia tidak meneruskan.

“Berdua apa ?” Tanyaku, meskipun aku tahu maksud pertanyaannya.

“Pacaran ?” Yuffie berdehem tak jelas, tapi aku menangkap suaranya.

Aku terdiam sesaat. Sebenarnya aku tidak mau menjawab tapi aku tahu kalau aku diam saja maka gadis satu ini akan terus mendesakku dengan pertanyaan yang sama sampai aku menjawab, maka aku pun menyahut; “Entahlah.”

“Oh, Tifa !” Yuffie menggerakkan tubuhnya setengah duduk; “Kau dan Cloud sangat cocok ! Tak ada lagi yang---”

Dia menghentikan ucapannya karena melihat ekspresiku. Aku tidak tahu bagaimana ekspresiku sekarang; sejujurnya; tapi kurasa ada sesuatu yang tercermin di wajahku sebab si gadis Wutai mendadak diam dan kembali merebahkan kepalanya.

“Oke.” Desahnya; “Mari kita tidur.”

Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Dia membalas senyumanku, kemudian aku memejamkan mataku…..

Entah sudah berapa lama mendadak aku terbangun karena suara berisik. Aku membuka mataku. Untuk sesaat aku hampir lupa aku ada dimana, tetapi kemudian otakku kembali bekerja dan aku mulai menyadari suara berisik datang dari luar tenda. Aku bangun, melirik ke tempat tidur Yuffie yang kosong, lalu keluar.

Yuffie dan Rinoa sedang bertengkar.

Api unggun sudah padam. Matahari sudah mulai muncul.

“Ada apa ?” Tanyaku serak. Aku menghampiri kedua gadis itu. Demi Gaia, rasanya aku ingin sekali memukul seseorang --- atau sesuatu --- apa saja; aku sudah tidak tahan. Aku capek sekali.

“Tifa, semalam dia tertidur !” Yuffie menunjuk Rinoa sambil menatapku; “Aku bangun dan menemukan dia tertidur pulas !”

“Aku lelah dan mengantuk !” Balas Rinoa setengah menangis; “Dan kalian berdua jahat sekali, menyuruhku jaga malam, padahal aku sangat letih ! Aku tidak tahan lagi dan tertidur di luar sini; kedinginan ! Aku ingin masuk ke tenda tapi aku takut kalian akan marah ---”

“Tentu saja aku akan marah !” Yuffie bertolak pinggang; “Kalau semalam kulihat kau masuk ke tenda, aku akan menamparmu ---”

Sebelum aku mengatakan sesuatu untuk melerai kedua gadis itu, mendadak terdengar suara berdehem, disusul oleh suara lain bertanya serak; “Ada apa ?”

Aku, Yuffie, dan Rinoa menengok. Vincent dan Cloud sedang mengamati kami sambil masing-masing menyibak tenda mereka masing-masing.

“Tidak ada apa-apa.” Aku menghampiri Cloud, sementara Yuffie menghampiri Vincent sambil merajuk; “Vincent, gadis itu…..” Suara Yuffie menghilang sementara dia memapah Vincent masuk kembali ke tendanya. Aku pun memapah Cloud kembali ke dalam tenda. Di luar terdengar isak tangis Rinoa.

Mata biru Cloud menatapku dengan setengah iba setengah geli. Mungkin dia kasihan, tapi dia juga merasa bahwa keadaan ini agak lucu.

“Gadis-gadis itu sangat merepotkanmu ?” Cloud berbisik padaku.

Aku tersenyum; “Tidak.” Kataku; “Ini urusan para wanita. Bukan urusanmu.”

“Aku tahu.” Jawabnya; “Tapi jangan pikir aku tidak mendengar suara-suara pertengkaran kalian. Aku hanya pura-pura tidak dengar, sebab rasanya tidak enak kalau aku ikut campur.”

“Bagus kalau kau tahu diri !” Aku pura-pura menggerutu. Aku merebahkan kepalanya di atas bantalan dan memegang dahinya lagi. Masih panas.

“Kedua pemuda yang bersama gadis kecil di luar itu.” Lanjut Cloud sambil berbaring dan membiarkanku mengambil air di baskom yang sudah kusediakan di sudut lalu mencuci wajahnya dengan saputangan; “Katamu mereka dari mana ? Aku lupa.”

“SeeD ?”

“Yeah. Apa itu ? Aku belum pernah mendengarnya.”

“Aku juga tidak.” Sahutku. Aku menyelesaikan pekerjaanku membasuh wajahnya dan kemudian aku berbisik padanya; “Cepatlah sembuh.” Lalu aku membawa saputangan dan baskom itu keluar. Aku harus kembali ke mata air untuk mengganti air.

Entahlah apakah Yuffie dan Rinoa ingat untuk membasuh Vincent, Squall, atau Seifer. Kuharap setidaknya Yuffie ingat.

Rinoa sudah tidak ada di depan. Kurasa dia kembali ke tempat Squall, maka aku meletakkan baskomku sebentar untuk mengintip ke tenda Yuffie dan berkata; “Aku mau ke mata air sebentar.”

Yuffie mengangguk. Dia sedang bergenggaman tangan dengan Vincent.

“Yuffie,” Kata Vincent sambil melirikku; “Bantulah Tifa !”

“Aku mau disampingmu !” Rengek Yuffie.

Aku buru-buru menutup tenda mereka dan meninggalkan mereka. Kuambil kembali baskomku, lalu aku juga mengambil dua kendi kosong yang kami gunakan untuk tempat minum, dan aku pun pergi ke mata air.


Continue to Chapter 2

Chapter 2

Hebat. Fantastis. Demi Gaia; kau benar-benar jenius; Tifa Lockhart ! Aku memaki diriku sendiri dalam hati. Pantas saja Cloud tidak mau berpacaran denganku. Aku benar-benar bodoh ! Aku sudah mengisi baskom dan kedua kendi besar dengan air, tetapi sekarang bagaimana aku bisa membawa dua kendi raksasa dan satu baskom besar kembali ke tenda kami setelah benda-benda ini sekarang penuh air ?! Kecuali aku punya tenaga seperti Barrett dan punya empat tangan; aku tidak akan bisa membawanya sekaligus.

Sesaat aku mengamati kedua kendi besar itu. Oke. Tidak ada Wonder Woman disini. Yang ada hanya aku; Tifa Lockhart; dan aku harus membawa benda ini. Mmmhh.. mungkin sebaiknya aku membawanya satu-satu saja. Pertama aku akan membawa baskom dan satu kendi, kemudian aku akan kembali lagi untuk menangkap ikan disini dan mengambil kendi satunya.

Aku merangkul salah satu kendi dengan lengan kananku sementara tangan kiriku memegang baskom sedemikian rupa supaya airnya jangan tumpah. Oke. Begini cukup baik. Aku mulai berjalan.

Memang tidak ada rintangan. Tapi sepanjang jalan mau tak mau aku terus bertanya dalam hati sedang apa sih Yuffie dan Rinoa sekarang ?!

Aku kembali ke tenda, meletakkan kendi dengan lega. Lengan kananku rasanya kesemutan dan memerah selama beberapa waktu. Aku meletakkan baskom juga, lalu kusadari bahwa tidak ada yang menyalakan api unggun. Aku tidak bisa menahan rasa penasaranku, maka aku berjalan ke tenda Vincent dan menyibaknya untuk mengintip…..

Coba tebak ?! Gadis Wutai kita jatuh tertidur di sebelah Vincent !

Sebenarnya aku ingin sekali membangunkan Yuffie, tetapi aku tidak enak pada Vincent yang juga tertidur. Jadi aku keluar lagi dari tenda mereka dan berjalan ke tenda Squall.

Yang ada disana hanya Squall dan Seifer. Bagusnya; Seifer masih di sudut dan tidur. Sedangkan Squall berbaring tapi matanya terbuka, lalu menatapku.

“Ms. Lockhart ?” Squall berbisik.

“Yeah ?”

“Apa kau lihat Rinoa ?” Tanyanya.

Apa ?! Apa aku lihat Rinoa ?! Otakku bekerja; Bukankah seharusnya aku yang bertanya begitu pada Squall --- apa Squall lihat Rinoa ?! Oh, jangan bilang padaku di saat seperti ini; dalam keadaan begini; Tuan Puteri Heartilly menghilang !

Squall menatapku; “Ms. Lockhart ?” Dia menegur.

“Tidak, aku tidak lihat Rinoa !” Aku tidak bisa menahan diri untuk membentak, lalu aku menutup tendanya dan berjalan menjauh. Aku menghela nafas. Apa sih yang ada di pikiran gadis bernama Rinoa itu ?! Kemana dia kira-kira, selagi semua orang kesusahan begini ?! Dan --- mau tak mau suara dalam kepalaku menyalahkan siapa pun yang bisa kusalahkan, termasuk --- Kenapa sih Cloud bisa jatuh sakit segala ?! Sebagai orang yang kuat, hebat…Sebagai laki-laki dia…… Oh, forget it !

Syukurlah saat aku sedang putus asa begini, Gaia membangunkan Yuffie. Gadis itu keluar dari tenda dan berkata; “Tifa, maaf. Aku tertidur. Aku capek sekali.”

“Yuffie,” Aku menatapnya. Kusadari bahwa aku cukup marah; “Aku tahu kau capek, tapi aku pun sama capeknya denganmu ! Aku memang lebih tua beberapa tahun darimu tapi aku juga wanita sepertimu, dan aku tidak bisa sendirian menghadapi situasi ini sementara kalian beristirahat !”

Yuffie agak terkejut menyadari nada suaraku. “Ma-maaf.” Dia berkata lagi; tampak sangat menyesal.

“Sudahlah !” Aku menghela nafas. Aku tahu dia menyesal. Aku sudah berlatih menjadi orang sabar dengan memelihara seorang anak angkat di rumah.

“Apa yang bisa kulakukan, Tifa ?” Tanya Yuffie pula.

Aku diam sejenak, lalu menjawab; “Cari Rinoa. Anak itu entah dimana, yang pasti tidak bersama Squall dan tidak ada di sekitar sini. Tolong cari Rinoa dan jaga dia, sementara aku akan mengambil kendi air yang satu lagi dan sekalian aku akan menangkap ikan untuk makan siang kita.”

“Baiklah.” Ucap Yuffie.

Maka aku merasa lebih lega dan kusadari aku sudah bisa tersenyum lagi. Aku kembali ke tempat mata air. Syukurlah kendi yang kutinggalkan masih utuh di tempatnya. Aku menatap ke mata air dan melihat beberapa ekor ikan. Oke, sekarang aku harus menangkap ikan. Pertama-tama… um…. Tombak ! Aku butuh tombak !

Aku memungut ranting tipis yang ada di tanah. Anggap saja ini tombak. Aku pun masuk ke dalam air, membiarkan betisku tenggelam, dan menatap salah satu ikan. Aku menusukkan tombakku, tetapi gagal.. ikan itu berenang dengan gesit.

Baiklah, aku toh bukan Wonder Woman. Tapi jangan harap ikan-ikan ini bisa mempermainkan Tifa Lockhart.

Aku berusaha lebih keras lagi dan berkonsentrasi penuh. Syukurlah akhirnya aku bisa menusuk beberapa ekor ikan. Setelah beberapa saat aku sudah berhasil membuat tumpukan ikan di pinggir mata air. Aku menusuk satu lagi, mencabutnya dari tombakku dan melemparkannya lagi ke atas tumpukan, lalu aku kembali ke darat. Kakiku basah semua. Aku membuang tombakku dan duduk, melepaskan sepatuku dan mengeluarkan air dari sepatuku.

Aku duduk selama beberapa saat, memandangi tumpukan ikanku. Sekarang bagaimana aku bisa membawa mereka kembali ke tenda ? Tidak mungkin kan aku memeluk ikan-ikan itu lalu membawanya seperti anak kecil yang meraup permen ?

Selagi aku bingung mendadak terdengar suara; “Tifa !”

Aku menengok dan melihat Yuffie datang. Oh, mendadak aku merasa sangat sayang padanya ! Gadis Wutai-ku ! Aku tersenyum padanya.

Kebetulan sekali dia membawa baskom miliknya yang rupanya baru digunakannya untuk mencuci muka Vincent.

“Rinoa sudah kembali, aku menemukannya tak jauh dari kita; sedang berusaha mencari buah-buahan yang jatuh di tanah.” Kata Yuffie; “Sayangnya dia tidak berhasil mendapatkan satu buah pun…. Oh.” Mata gadis Wutai itu menatap tumpukan ikanku; “Kau hebat, Tifa !!” Dia memelukku.

“Hey !” Aku tertawa dan membalas pelukannya.

Seolah bisa membaca pikiranku, Yuffie berkata lagi; “Baskom ini kita gunakan untuk membawa ikan-ikan ini dulu, lalu setelah itu aku akan kembali lagi ke mata air ini dengan baskom ini untuk mencuci dan membersihkannya serta mengisinya dengan air baru untuk Vincent.”

“Terima kasih.” Kataku.

Maka itulah yang kami lakukan. Kami berhasil membawa ikan-ikan itu sekali jalan; termasuk si kendi yang tadi tertinggal. Lalu selagi Yuffie pergi kembali ke mata air, aku membuat api unggun dan menggunakan ranting tipis lain yang ada di tanah untuk menusuk ikan-ikan seperti sate dan memanggangnya.

Karena lapar, Rinoa keluar dari tenda dan menghampiriku. Matanya merah dan sembab, mungkin tadi dimarahi Yuffie habis-habisan. Aku mengulurkan satu tusuk sate yang berisi empat ikan kepadanya.

“Pegangi ini di api.” Kataku sambil membuat tusukan sate yang baru; “Bukan pekerjaan sulit, kan ?!”

Dia menerimanya tanpa banyak bicara dan memeganginya di atas api.

Kami berdua memanggang masing-masing satu tusuk berisi empat ikan.

“Kita masih harus memanggangkan ikan untuk Cloud, Vincent, dan kedua temanmu.” Kataku pula.

Dia diam sejenak, lalu menjawab dengan takut-takut; “B-bagaimana kalau kita tinggalkan S-seifer ?”

Aku menatapnya.

Dia meneruskan; “D-dia bukan orang baik.”

Aku memutar bola mataku. Apakah anak itu tidak mengerti juga ?! Aku menjawabnya; “Dengar. Baik aku, Yuffie, Cloud, maupun Vincent; kami semua tidak mengenal orang yang bernama Seifer itu ! Kau yang mengenalnya. Sebenarnya kami tidak perduli apakah kau mau meninggalkannya atau tidak. Tapi yang kami tahu; rasanya keterlaluan bila kita membiarkan seorang manusia yang sedang sakit demam seorang diri tertinggal di pulau asing begini !”

“D-dia bukan manusia.” Rengek Rinoa; “Kau dengar kan, dia ingin menjadi ksatria putih sang penyihir !”

Aku menghela nafas dan nyaris menjatuhkan sate ikan di tanganku ke dalam kobaran api. “Disini bukan cerita Cinderella.” Ucapku; “Oh, sudahlah ! Kalau kau tidak mau merawatnya biar Yuffie dan aku yang merawatnya sekalian kami merawat Cloud dan Vincent, jadi tidak merepotkanmu ! Puas ?!”

Rinoa tidak menjawab tapi agaknya dia puas. Satu-satunya alasan sebenarnya kenapa dia hendak meninggalkan Seifer adalah karena dia tidak mau merawat dua orang. Dia tidak mau repot.

Gadis yang menyenangkan; Pikirku sinis.

Akhirnya Yuffie kembali. Kami memanggang ikan-ikan itu dan setelahnya aku dan Yuffie masing-masing menyuapi Cloud dan Vincent dulu, baru kemudian kami makan. Sebaliknya dengan Rinoa. Dia makan dulu, baru menyuapi Squall.

Setelah itu aku memaksa Yuffie menyuapi Seifer. Awalnya gadis Wutai itu sangat menolak, tapi karena kasihan padaku (aku pasti kelihatan sangat capek) dia menurut juga. Dari luar tenda aku bisa mendengar teriakan-teriakan kemarahan antara Yuffie dengan Seifer yang sedang bertengkar. Seifer agaknya menolak disuapi oleh cewek yang tidak dikenalnya, sedangkan Yuffie yang emosional pastilah langsung mengomel.

Teriakan-teriakan itu membangunkan Cloud. Dia merangkak menyibakkan tendanya; “Ada apa ?” Mata birunya yang jernih menatapku.

“Tidak ada apa-apa, Cloud, tidurlah lagi---”

“Kemarilah sebentar, Tifa.” Dia memutusku.

Maka aku masuk ke dalam tendanya. Dia kembali ke tempat tidurnya dan berbaring lagi, tetapi tidak tidur. Dia menatapku dan bertanya; “Sebenarnya ada apa sih..?”

Aku angkat bahu.

“Tifa ? Ayolah.” Desaknya.

“Gadis itu menyebalkan.” Kataku dengan suara pelan; “Rinoa.”

“Aku tidak keberatan kalau kita tinggalkan dia.” Jawab Cloud; “Dia bukan teman Yuffie atau teman Vincent, kan ?! Dan kau tidak kenal dia sebelumnya, kan ?!”

“Cloud, kita tidak boleh begitu.” Jawabku ragu-ragu sebab sebetulnya ide Cloud sangat bagus; “Siapa tahu dia akan bisa berguna bagi kita. Kita berada di pulau asing, dan kita harus menjalin kerjasama kalau ingin tetap hidup.”

Cloud memejamkan matanya sejenak mendengar perkataanku, lalu setelah beberapa detik dia membukanya lagi dan kembali memandangku; “Well, kalau begitu.. biar kubantu kau mengurus salah satu dari kedua pemuda asing itu !”

“Tidak usah ! Aku dan Yuffie---”

“Ayolah, Tifa. Aku tidak selemah dugaanmu. Aku sudah mulai sehat. Pindahkan saja salah satu dari kedua pemuda itu ke tendaku dan kujamin aku akan membantumu menjaganya. Daripada dia membuat onar terus ?!”

Awalnya aku tidak menyetujui ide Cloud, tetapi malam itu ada suatu kejadian menyebalkan; yaitu Seifer mencoba melarikan diri. Maka akhirnya aku dan Yuffie memindahkan Seifer ke tenda Cloud. Dan Rinoa sangat senang dengan keputusan ini, walaupun itu berarti baik aku dan Yuffie harus sering-sering mengintip ke dalam tenda Squall untuk mencegah Squall dan Rinoa yang masih begitu muda berbuat sesuatu (sex) dalam kesempatan begini.


Continue to Chapter 3

Chapter 3

(Cloud POV)

Pemuda yang menyebalkan; begitu kata Yuffie dan Tifa. Dan sekarang pemuda yang menyebalkan itu berbaring di sebelah kananku. Aku tidak perlu menengok untuk menyadari bahwa dia belum tidur. Dia bergerak-gerak gelisah.

Kemudian dia menatapku. Aku tidak perlu membuka mata untuk tahu diriku sedang diperhatikan.

Entah apa maunya dia.

Lalu aku menyadari bahwa dia bergerak-gerak lagi, mencoba bangun; meskipun agaknya dia sangat pusing.

Oke.

Mau bergurau denganku ?

Tanpa membuka mata aku mengambil Buster Sword yang berada di sisi kiriku. Aku mengambilnya dengan tangan kananku lalu kujulurkan tangan kananku ke samping kanan. Buster Sword menghalangi tubuh pemuda di sampingku yang baru hendak bangun; tepat di atas dadanya.

Dia terkejut --- Pastilah dia terkejut. Aku tidak perlu membuka mata. Orang bodoh pun tahu; meskipun aku sedang demam; pedang sebesar Buster Sword tetap saja berbahaya.

Selama beberapa saat dia menggumamkan kata-kata tak jelas dengan tergagap.

“S-s-singkirkan golok sialanmu !” Akhirnya dia berhasil memantapkan suaranya.

“Apa kau memutuskan untuk tetap berbaring ?” Tanyaku.

“Ya !” Dia menggerutu. Dia tidak berani bergerak sedikitpun sebab aku meletakkan posisi Buster Sword tepat di atas dadanya.

“Baiklah kalau begitu.” Aku menarik kembali Buster Sword-ku dan membaringkannya lagi di sebelah kiriku. Mataku masih terpejam. Aku tidak perlu menatapnya, bukan ?!

Untuk sesaat dia kembali tenang, berbaring dalam diam. Tapi kemudian; entah setelah beberapa waktu; aku pun nyaris terlelap; dia memanggilku; “Hey, rambut jabrik!”

“Aku punya nama.” Jawabku; “Dan Rambut Jabrik bukanlah namaku !”

“Aku tidak ingat namamu !” Katanya.

Aku diam selama beberapa saat. Awalnya aku enggan menjawabnya. Ucapannya sepertinya tidak memerlukan jawaban, tetapi akhirnya aku menyahut juga; “Cloud Strife.”

“Oke, Strife.” Dia berkata lagi. Heran juga dia tidak kehabisan tenaga untuk berbicara padahal dia sedang sakit; “Cewek berambut hitam itu pacarmu ?”

Aku membuka mataku. Aku langsung tidak menyukai pemuda ini.

“Bukan urusanmu.” Jawabku.

“Aku hanya mencoba mengajakmu mengobrol.” Lanjutnya; “Untuk membuatmu merasa lebih sehat---”

“Aku sudah lebih sehat tanpa harus mengobrol; apalagi denganmu.” Balasku; “Dan aku sakit ataupun tidak; Buster Sword disampingku beratnya tidak berkurang dan tajamnya juga tidak berkurang. Dalam keadaan sehat aku bisa membunuh apa pun tanpa berkedip, dan dalam keadaan sakit aku juga bisa mengayunkannya sembarangan lalu mencelakai seseorang—yang kebetulan berbaring di sebelahku—dengan sengaja maupun tidak.”

Pemuda itu tampak marah sekali mendengar kata-kataku. Untuk beberapa saat dia hanya bisa mengatupkan mulutnya dengan geram, tetapi kemudian dia menggumam; “Kau akan menyesali kata-katamu, Strife !”

Aku tidak memperdulikannya dan kembali memejamkan mataku. Syukurlah dia juga tenang, dan setelah beberapa saat ketika kubuka mataku untuk meliriknya kulihat dia sudah tidur lelap. Maka aku pun membiarkan diriku terlelap.

Aku tidak tahu sudah berapa lama, aku terbangun oleh seseorang yang masuk ke dalam tenda ini. Aku tidak pernah benar-benar bisa terlelap. Sedikit suara kecil saja bisa membangunkanku.

Ternyata Tifa yang datang. Dia membawakan mangkuk berisi jagung.

“Cloud.” Dia duduk di sampingku, tersenyum, dan menyendokkan jagung ke mulutku. Aku menyadari bahwa pemuda di sampingku sudah bangun juga, maka aku berkata pada Tifa; “Aku bisa makan sendiri.”

Gadis itu mengerti. Dia memberikan mangkuk isi jagung dan sendoknya padaku. Aku memaksa diri setengah duduk, menerimanya, lalu memakannya.

Tifa menengok pada pemuda di sebelahku dan berkata; “Seifer, kau harus tunggu Yuffie.”

“Cewek kecil itu ?!” Tanya pemuda di sebelahku yang namanya ternyata adalah Seifer; “Aku tidak membutuhkan anak kecil !”

“Cewek kecil itu kebetulan adalah temanku.” Aku menjawab duluan sebelum Tifa; “Dan kalau kau tidak mau diajak berteman dengannya mungkin kau akan lebih suka berteman dengan golok raksasaku ?!”

Seifer tampak mendongkol. Tifa tersenyum padaku dengan pandangan berterima kasih.

Tifa menungguku selesai makan untuk memberikan minum dan membawa keluar mangkuk bekas makan.

Setelah itu Yuffie datang dan memberikan makanan untuk Seifer.

“Aku tidak suka jagung !” Bentak Seifer.

“Kalau tidak suka ya tidak usah makan !” Yuffie balas membentak; “Biar mati kelaparan sekalian !”

Kurasa Yuffie tidak memerlukan bantuanku ?! Aku pura-pura memejamkan mata. Tidak enak rasanya mencampuri urusan cewek.

“Bawa keluar makanan menjijikkan itu !” Seifer membentak Yuffie lagi.

“Bawa sendiri keluar !” Balas Yuffie; “Memangnya aku pelayanmu ?!” Lalu gadis itu meletakkan mangkuk jagung di sebelah Seifer dengan membanting, lalu berjalan keluar dan meninggalkan kami.

Aku mendengar Seifer menyumpah-nyumpah.

Aku membuka mataku lagi.

“Dengar, sobat.” Kataku akhirnya; mencoba lebih lunak; “Aku tidak tahu apa yang biasa kau makan di rumahmu dan aku tidak mau tahu, tapi yang pasti disini kita berada di pulau terpencil dan sudah cukup bagus gadis-gadis itu mau mengurus kita ! Apakah kau sama sekali tidak merasa malu pada mereka dan malah suka menambah beban mereka ?!”

“Aku tidak suka dilayani oleh perempuan !” Jawabnya keras kepala; “Dan aku tidak suka perempuan-perempuan itu !”

Aku mengangkat Buster Sword-ku lagi dan kembali melintangkannya di depan dadanya; “Aku tidak suka caramu membicarakan Tifa dan Yuffie !”

Seifer mendelik.

Aku membiarkan dia ketakutan selama beberapa saat dengan tetap melintangkan Buster Sword-ku, tapi akhirnya karena dia kembali memejamkan mata dan pura-pura tidur aku pun menarik kembali tanganku dan menidurkan kembali Buster Sword-ku.

Ternyata dia belum tidur.

“Aku adalah ksatria putih sang Penyihir.” Gerutunya; “Kau akan menyesali perbuatanmu ini, Strife !”

“Satu-satunya penyihir yang pernah kukenal adalah Sephiroth.” Jawabku; “Dan aku tidak merasa dia akan membutuhkan ksatria sepertimu !”

Tetapi, agaknya dia pasti sangat tersinggung padaku. Sebab setelah beberapa saat; aku sudah hampir terlelap – dan dia menemukan itu sebagai kelengahanku – mendadak aku tersentak oleh adanya gerakan di depanku, dan sebelum aku sempat mengangkat Buster Sword-ku sebuah pedang lain sudah melintang di depan leherku.

Seifer.

“Kau belum berkenalan dengan Gunblade-ku.” Dia menyeringai; “Nah, sekarang; katakan halo pada Gunblade-ku, Strife !”


Continue to Chapter 4

To Be Continued (Still in progress)

The Turks and The Soldiers

SHINRA ACADEMY : SOLDIERS AND TURKS

Rating : K+

Charas : Reno, Rude, Rufus(maybe), Sephiroth, Genesis, Angeal, Tseng.

Setting : Somewhere in the past; ShinRa. Genesis & Angeal berada pada 3nd Class SOLDIER, dan Reno-Rude ceritanya juga belum menduduki jabatan tinggi dalam Dept. Turk. Disini kuanggap aja yang tertinggi dalam Turks adalah Tseng. Dan disini ceritanya Lazard adalah manajer tertinggi untuk SOLDIER dan Turks sekaligus.

Genre : General/Humor.

Summary : Somehow Turks and SOLDIERs didn’t get along well.

My first Genesis-Reno pairing – Non Yaoi.

Note : Somebody told me Reno’s full name is Reno Sinclair.


.

.

“Sialan, sialan, sialan !”

Rude menatap sahabatnya yang masih menggerutu sepanjang jalan menuju ke kantin. Rude bisa mengerti kenapa Reno marah-marah begini. Pasalnya adalah kelas yang baru saja mereka jalani memang menyebalkan. Mentor mereka di Turks memang menyebalkan.

Kantin ShinRa selalu penuh pada jam makan siang, bukan karena menunya menyenangkan (banyak staff mengatakan bahwa menu disini adalah hasil sisa labolatorium yang dicekoki kepada mereka) tetapi karena pendeknya jam istirahat disini maka tidak ada seorang pun yang berani membeli makan di luar dengan resiko terlambat masuk ke kelas berikutnya. Well, kadang Reno dan Rude berani mengambil resiko itu, daripada menelan masakan sampah.

“Apa lagi kali ini ?!” Gerutu Reno saat mengantri makanan; “Daging Tonberry goreng dipakaikan saus duri Cactuar ?!”

Reno tidak memelankan suaranya dan mendengar itu seseorang yang kebetulan berbaris di depan mereka menengok sekilas dan mendengus geli.

Reno memelototi orang itu; sementara di sebelahnya Rude berkata; “Nggak separah itu, Ren.”

Orang di depan mereka itu sudah kembali menatap ke depan. Orang itu tidak sendirian. Di sebelahnya dia bersama seorang pemuda berambut merah yang sedang berdiri mengantri sambil membaca buku.

Reno tahu siapa kedua orang itu. Dia pernah melihat keduanya. Angeal dan Genesis; 3nd Class SOLDIER.

Genesis tidak mendengar gerutuan Reno, dia masih terfokus pada bukunya. Dia berkata pada Angeal; “Three friends go off to war. One is captured, one flies away, and the last one is a hero. Menurutmu siapa yang akan menjadi Hero, Angeal ?”

Sahabatnya angkat bahu; “Entahlah.”

Genesis menggeleng tanpa menengok dan meneruskan sambil tetap memusatkan perhatian pada bukunya; “When the war of the beasts brings about the world’s end---”

Reno memutar bola mata.

“--The goddess descends from the sky--”

Reno berdehem keras.

Angeal menengok; “Ya ?” Sementara Genesis masih meneruskan membacakan Loveless-nya.

Reno menatap Angeal sambil menunjuk pada Genesis; “Bisakah kau suruh dia tutup mulut ? Sehari ini saja. Aku sudah muak mendengar kutipan Loveless setiap kali SOLDIER dan Turks berkesempatan makan siang di jam yang sama di kantin.”

Genesis berhenti membaca dengan seketika. Dia menurunkan bukunya dan menatap Reno. “Apa katamu ?” Genesis menegas.

Reno yang memang sudah bad mood menjawab tanpa segan-segan; “Kubilang, tutup mulutmu.”

“Apa hak-mu menyuruhku ?!” Balas Genesis.

“Aku bisa menyuruh siapa saja yang aku mau !” Sahut Reno; “Memangnya apa hak-mu mengganggu ketentraman di kantin ShinRa selama ini ?!”

Genesis maju selangkah. Angeal mengulurkan tangannya mencegah sahabatnya maju lebih jauh.

Rude juga menarik-narik lengan baju Reno sambil berbisik; “Ren, sudahlah !”

“Kau bukan pemilik ShinRa Building.” Angeal menjawab Reno; “Dan Genesis tidak mengganggu ketentraman kantin. Dia hanya membaca.”

“Oh ya, tentu kau bilang begitu !” Ejek Reno; “Dia kan sahabatmu ! Siapa pun pasti membela sahabatnya !”

“Maksudmu ?” Bentak Genesis.

Reno malah balas membentak; “Kau tuli, ya ?! Kau tidak mengerti apa yang aku katakan ?! Aku bilang sahabatmu sudah pasti membelamu !”

“Kau dari Dept. Turk bukan ?!” Genesis membalas lagi; “Aku tidak heran. Gaia tahu memang sudah menjadi rahasia umum bahwa anggota Turks adalah sisa-sisa buangan dari para pelamar SOLDIER yang tidak lulus tes.”

Mendengar itu seluruh anggota Turks (dan SOLDIER) yang ada di kantin ini menengok pada mereka.

“Lidahmu terlalu tajam, SOLDIER !” Seru Reno semakin naik darah; “Mungkin menjadi kelinci percobaan labolatorium dan terlalu banyak suntikan Mako pada tubuh kalian membuat kalian merasa berani mengucapkan hal-hal yang dalam nama Gaia tidak pada tempatnya ?”

Cukup sudah. Baik Angeal, Genesis, Reno, maupun Rude sudah tidak bisa menahan diri lagi. Tak terhindari; perkelahian pun terjadi. Beberapa anggota SOLDIER dan Turks lain disini yang mencoba melerai malah jadi saling berkelahi juga. Alarm berdering. Di seluruh ShinRa Building dipasangi alarm yang akan mendeteksi perkelahian (kecuali tentunya di ruang-ruang latihan) dan juga kamera pengawas.

Karena itulah, tak lama kemudian; ketika baik Reno maupun Rude sudah tersudut berdekatan; sebuah pedang panjang yang kuat menahan pedang Rapier milik Genesis dan pedang milik Angeal (Angeal tidak pernah menggunakan Buster Sword-nya).

Angeal menarik kembali pedang miliknya sedangkan Genesis menyentak; berusaha kembali menebas Reno dan Rude yang sudah terpojok berdekatan, tetapi lagi-lagi pedang panjang menghalanginya dan kali ini tenaga benturan pedang panjang itu dengan Rapier-nya mendorong tubuh Genesis mundur beberapa langkah.

“K-kau ?” Genesis terkejut ketika mendapati bahwa pedang panjang yang telah menangkisnya adalah pedang Masamune, dan si pemilik Masamune; Sephiroth sendiri-lah yang telah berada disini.

Suasana kantin hening. Genesis menengok ke sekelilingnya dan menyadari bahwa semua orang yang tadi saling berkelahi sekarang sudah menepi dan terdiam. Lazard dan Tseng juga berada disini; juga seluruh anggota 1th Class SOLDIER dan Turks level teratas.

“Kalian berdua.” Pertama-tama Lazard menunjuk pada Genesis dan Angeal; “Ikut aku, dan juga kalian.” Lalu dia menunjuk pada Reno dan Rude, kemudian Lazard bergegas meninggalkan kantin diikuti oleh Sephiroth dan Tseng lebih dulu.

***

“Aku tidak mengerti.” Lazard berjalan hilir-mudik di kantornya. Tidak biasanya dia begitu; “Apa yang terjadi ?” Ditatapnya Reno dan Rude yang berdiri berdekatan, lalu Genesis dan Angeal yang berdiri berdekatan juga.

“Mr. Lazard---” Reno dan Genesis bicara bersamaan, lalu keduanya sama-sama terdiam.

Sephiroth dan Tseng yang duduk di ruangan ini saling pandang.

“Well,” Lazard memandang Reno dan Genesis bergantian, kemudian menatap Angeal; “Kau yang jelaskan apa yang terjadi, Angeal Hewley.”

Angeal diam sejenak, kemudian menjawab; “Kurasa ini hanya kesalahpahaman, Mr. Lazard.”

Genesis tampak tak senang dan memprotes; “Mr. Lazard, anggota Turk itu yang mulai duluan !”

Reno segera membantah; “Kau; SOLDIER; yang menghina kami; mengatakan bahwa anggota Turks adalah bekas pelamar SOLDIER yang tidak lulus tes !”

“Oh ?! Lalu siapa yang mengatakan bahwa SOLDIER adalah kelinci percobaan dan terlalu banyak disuntikkan Mako ?!” Balas Genesis.

Lazard memijat dahi sendiri.

“Diam !” Sephiroth membentak Genesis.

“General !” Bawahannya itu memprotes lagi.

Sebelum Sephiroth berkata, kali ini giliran Tseng yang buka mulut; “Reno, tidak tahukah kau bahwa tidak sepantasnya kau menghina SOLDIER---”

Reno merajuk; “Lalu apakah pantas SOLDIER menghina Turks ?!” Dia memutus.

“Hey !” Kali ini Angeal agaknya juga tidak bisa menahan diri; “Kami tidak akan mengatakan apa-apa kalau kalian juga tidak menghina SOLDIER. Aku bisa menoleransi segala macam ucapanmu yang lain, tapi aku tidak bisa menoleransi siapa pun yang menghina SOLDIER !” Angeal memang selalu memiliki harga diri dan kebanggaan menjadi seorang SOLDIER.

Mendengar ucapannya, Rude bicara; “Seperti yang dikatakan Reno; kau kan sahabat si rambut merah itu---” Dia menunjuk Genesis; “Sudah pasti kau membelanya dan tidak mau mengakui bahwa sahabatmu itu duluan yang menghina Turks !”

Baik Genesis maupun Angeal menggerakkan pedang mereka. Tidak mau kalah, Reno juga mengangkat senjatanya sementara kedua tangan Rude mulai terkepal.

“Cukup !” Sephiroth memperingatkan.

“Reno, Rude !” Tseng menambahkan; “Apa kalian tahu; kalian bisa di-skors untuk kesalahan ini ?! Menghina SOLDIER. Sangat keterlaluan !”

“Bukankah sudah kubilang,” Jawab Reno ngotot; “SOLDIER duluan yang memulai semua ini.”

“Tak usah menyalahkan pihak lain !” Sahut Tseng; “Koreksi diri kalian sendiri !” Kemarahan Tseng agaknya cukup menjinakkan Reno dan Rude kali ini. Kedua Turks itu menunduk tetapi tampak tak puas.

“Kalian berempat akan dikenakan detensi.” Ucap Lazard akhirnya; “Rhapsodos dan Hewley; kalian berdua terpaksa kuhukum dengan membersihkan seluruh lantai di gedung kantor kita ini, sedangkan Reno dan Rude – kalian berdua terpaksa kuhukum dengan membantu rakyat membersihkan saluran air di Midgar !”

Ekspresi wajah keempatnya berubah masam. Genesis nyaris mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi setelah menyadari Sephiroth terus mengawasinya dengan tajam.

“Rhapsodos ? Hewley ?” Sephiroth menegur; “Kalian tidak dengar ?”

“Ya, Sir.” Keduanya menjawab dengan ogah-ogahan.

Lazard tersenyum dan meneruskan; “Tugas kalian bisa kalian berempat kerjakan besok seharian, mulai dari pagi hingga selesai.”

Tidak ada yang menjawab.

“Rhapsodos ?” Sephiroth menegur lagi, tetapi Lazard melerai; “Sudahlah. Nah, sebaiknya sekarang kalian berempat kembali ke kelas kalian masing-masing, dan ingat.. aku tidak menyukai pertengkaran bodoh ini. Aku sama sekali tidak terkesan dengan prilaku kalian dan aku berharap ini tidak akan terjadi lagi.”

Sekali lagi, tidak ada yang menjawab. Tetapi keempatnya bergerak ke pintu dan meninggalkan kantor Lazard.

Sang manager menghela nafas, menengok pada Sephiroth dan Tseng lalu bergurau; “Ramalan bintangku minggu ini pasti mengatakan : Rambut merah berarti bencana.”

Tseng tertawa sedangkan Sephiroth tidak.

Lazard meneruskan dengan lebih serius; “Kalian berdua masing-masing awasi bawahan kalian yang berambut merah.” Dalam hati Lazard membatin; “Bisa kebetulan sekali Genesis Rhapsodos dan Reno Sinclair sama-sama memiliki rambut berwarna merah. Benar juga; merah berarti bencana.”

***

“Aku tidak percaya Lazard menjatuhi kita hukuman begitu !!” Sepanjang jalan Genesis terus memprotes. Mereka berdua berjalan di koridor setelah selesai dalam satu sesi latihan. Tadi begitu keluar dari kantor Lazard, baik dari pihak SOLDIER kita maupun pihak Turks kita tidak ada yang bisa berbicara dan masing-masing langsung menuju ke bagian departemennya sendiri untuk meneruskan sesi latihan mereka yang tertunda. Setelah latihan bubar, barulah agaknya Genesis bisa berbicara kembali. Dan bukan hanya sekedar berbicara; dia mengeluh sepanjang saat sambil berjalan ke ruang Perpustakaan bersama Angeal.

“Aku tidak mau membersihkan lantai di ruang lobi !” Lanjut Genesis; “Kau dengar aku, Angeal ?”

Angeal tidak menjawab. Ekspresinya masam.

“Angeal ?”

“Genesis, dia menyuruh KITA membersihkannya !” Sahut Angeal akhirnya.

“Supaya apa ? Supaya kita ditertawakan semua staff di ShinRa ?! Sebab semua orang pasti melewati lobi dan pasti akan melihat kita !” Genesis tampak agak histeris; “Aku tidak mau !!”

“Hey, aku punya akal.” Angeal menghela nafas.

“Yeah ?”

“Kita bersihkan ruang lobi di siang hari saja setelah kita memastikan bahwa semua orang sudah datang dan sedang berada di kelas. Sekitar jam sepuluh, jadi tidak banyak orang mondar-mandir dan tidak ada yang akan melihat kita. Besok pagi kita akan mulai dengan lantai yang paling sepi. Kita akan menghindari orang-orang.”

“Kau mau tahu ideku ?! Sebaiknya kita suruh office boy yang melakukan tugasnya seperti biasa dan kita bayar dia agar tidak mengadu ! Lazard akan mengira bahwa kita yang membersihkannya. Lazard tidak akan tahu bedanya siapa yang membersihkan; sepanjang dia tetap menginjak lantai yang bersih mengkilat.”

“Bagaimana dengan Sephiroth, huh ?! Aku tidak mau ambil resiko.” Jawab Angeal; “Bisa saja Sephiroth akan diam-diam mengawasi kita besok untuk melihat apa kita benar-benar melakukan tugas kita. Kau lihat saja tadi; dia terus mengawasi kita !”

“Yeah, dia bisa saja melakukan itu !” Genesis tampak geram; “Suatu saat nanti aku akan…..”

“Oh, sudahlah !” Hardik Angeal jengkel.

“Apa maksudmu ? Kau mulai mau menjilat General itu seperti orang-orang lain, Angeal..?!”

“Gaia tahu aku tidak menjilat.”

“Bagus kalau begitu ! Dulu sekali; sewaktu Sephiroth masih kecil; dia juga bukan siapa-siapa ! Tidak ada yang kenal namanya, tidak ada yang menghormatinya seperti sekarang ini ! Dia hanyalah anak yang dibesarkan oleh ShinRa. Hanya keberuntunganlah yang membuatnya terkenal seperti sekarang ini ! Sebenarnya semua orang terlalu melebih-lebihkan dirinya !”

Angeal memutar bola mata; “Diamlah, Genesis.” Ucapnya kesal; “Sebelum kau membuat kita berdua terjebak dalam kesulitan lain !” Meski begitu, Angeal tahu bahwa Genesis tidak seratus persen serius dengan perkataannya tentang Sephiroth barusan. Sebagai sahabat masa kecil Genesis; Angeal tahu bahwa di dunia ini yang secara diam-diam paling dikagumi oleh Genesis adalah Sephiroth sendiri……

***

Tetapi ternyata yang tidak puas dengan keputusan Lazard bukan hanya SOLDIER. Tampak Reno dan Rude bercakap-cakap sambil duduk-duduk di taman di gedung ini. Reno duduk di pinggir kolam ikan yang ada di tengah taman sementara Rude duduk bersila di rumput di depannya.

“Lazard sungguh tidak adil !” Keluh Reno; “Dia jelas lebih memihak SOLDIER daripada Turks !”

Rude tidak menjawab.

“Dia menyuruh kita yang bekerja di Midgar agar semua orang di Midgar melihat dan menertawakan kita !” Lanjut Reno tak puas; “Banyak orang di Midgar yang sudah kenal kita, kan ?! Lazard sengaja tidak membiarkan rakyat menertawakan SOLDIER ! Karena itulah dia sengaja mengirim kita berdua keluar dan menahan kedua SOLDIER sialan itu di dalam gedung !”

“Yeah, SOLDIER memang kesayangan ShinRa.” Sahut Rude terpancing.

“Apa bagusnya SOLDIER ?!” Reno meneruskan; “Aku sih tidak mau tubuhku disuntik dengan Mako hanya untuk memaksakan diriku menjadi kuat ! Dan harus bolak-balik ke labolatorium Prof. Hojo atau Hollander !”

“Kau benar. Turks lebih alami.” Sahut Rude lagi.

Reno mencabut jerami di dekatnya dan memasukkannya ke mulut. Sesaat hening, kemudian mendadak dengan bersemangat Reno mencabut kembali jeraminya dan berseru; “Aha ! Aku punya ide !”

“Huh ?” Rude tersentak.

“Besok kita biarkan saja petugas kebersihan sosial yang melakukan tugas mereka seperti biasa di Midgar !” Ucap Reno; “Kita tetap keluar ke Midgar tapi kita pergi ke bar di Slum yang terpencil. Toh Lazard tidak akan tahu bedanya apa benar-benar kita yang membersihkannya atau tidak !”

“T-tapi bagaimana dengan Tseng ?” Tanya Rude mengingatkan.

Semangat Reno langsung menguap mendengar nama itu; “Yah.. kau benar.” Dia menghela nafas; “Tseng bisa saja takkan mempercayai kita dan diam-diam menguntit kita besok.”

“Yeah, kurasa begitu.” Rude mengangguk muram.

“Semua orang terlalu mendewa-dewakan SOLDIER.” Tambah Reno; “Padahal seharusnya dulu level SOLDIER dan Turks sejajar. Semua ini karena si Anak Emas itu. Sephiroth. Dia menjadi Pahlawan dan sejak saat itu orang-orang berpikir SOLDIER seperti emas.”

“Tapi Tseng tidak pernah mengkomplain tentang itu.” Ucap Rude lugu.

“Bodoh, tentu saja dia tidak pernah mengatakannya.” Gerutu sahabatnya; “Tseng terlalu baik ! Lagipula dia mana berani menentang Sephiroth ?!”

“Tapi Tseng kan bukan pengecut.” Kilah Rude.

“Aku tidak bilang dia pengecut, dodol !” Gerutu Reno melihat kepolosan sahabatnya ini; “Aku bilang dia terlalu baik !” Siapa yang sangka meskipun sosok Rude terlihat seperti orang yang keras hati dan disiplin ternyata hatinya polos. Reno menggelengkan kepala dan meneruskan; “Kau ini seperti berwajah singa berhati rusa, Rude.”

“Huh ?” Rude tampak bingung; “Singa ? Rusa ? Kau baik-baik saja, Ren ?”

“Sudahlah !” Gerutu Reno; “Aku kan hanya mengumpamakan ! Kita para Turks mungkin memang berwajah singa berhati rusa, tetapi musuh kita di SOLDIER itu berwajah rusa berhati singa !”

Hening sejenak.

“Jadi bagaimana dengan besok ?” Rude mengalihkan pembicaraan.

“Well, yah…..” Reno angkat bahu; “Kita lihat saja apa Tseng akan menguntit kita besok !”

***

Akhirnya malam pun tiba. Keempat orang itu masing-masing sudah pulang dengan rasa tidak puas terhadap keputusan Lazard tadi siang.

Genesis masih terus mengeluh, mengomel, menggerutu, dan apa sajalah. Bahkan saat mereka berdua menikmati makan malam di apartemen yang mereka tinggali bersama pun Genesis masih mengeluh.

Akibatnya Angeal sudah lebih dulu menyelesaikan makannya sedangkan Genesis yang makan sambil berbicara masih belum selesai setengah piring. Kadang Angeal heran bagaimana sahabatnya itu bisa tahan berbicara berjam-jam padanya tanpa henti (seperti juga sahabatnya itu tahan melafalkan Loveless berjam-jam tanpa henti) padahal bagi orang yang belum jelas mengenal Genesis akan mengatakan bahwa Genesis adalah anak pendiam yang lebih menyendiri dan lebih senang menghabiskan waktu dengan membaca dan menulis.

Angeal bersandar dan menyibukkan diri dengan Handphone-nya supaya tidak usah mendengarkan ocehan sahabatnya.

Dia mengecek e-mail.

“…Lazard seharusnya tahu bahwa kedua bocah Turks itu tidak bisa dipercaya.” Genesis tengah menggerutu; “Dan bisa-bisanya Lazard menugaskan mereka berdua keluar besok ! Demi Gaia, aku yakin kedua bocah Turks itu akan pergi minum-minum di bar dan tidak akan mengerjakan tugasnya !” Dia menusuk sepotong daging dengan garpu-nya dan memasukkannya ke mulut. Untuk sementara lidahnya berhenti berbicara dan sibuk mengunyah. Diliriknya Angeal yang sedang berkonsentrasi pada Handphone. Alis Angeal berkerut.

“Angeal ?” Genesis mulai menyadari ada yang tidak beres ketika melihat ekspresi sahabatnya; “Ada apa ?”

“Demi Gaia.” Jawab Angeal sambil masih membaca sesuatu di Handphone-nya; “Lihat ini, Genesis. Seseorang mengirimiku e-mail mengatakan bahwa dia tahu kita berdua tidak akan mengerjakan tugas kita besok !”

“Siapa yang mengirim ?” Genesis langsung melompat bangun dan mendekati sahabatnya, membaca pesan di e-mail yang tampil di layar Handphone Angeal.

“Tanpa nama.” Sahut Angeal.

“Oh, tidak usah menebak dua kali ! Pasti bocah Turk itu !” Gerutu Genesis, lalu merebut Handphone Angeal; “Biar kubalas !”

“Genesis !” Angeal mencoba meraih kembali Handphone-nya tapi Genesis sudah membawanya menjauh sambil mengetik balasan disitu dengan serius. Angeal bangun dan menarik Handphone-nya dari tangan sahabatnya. Tetapi terlambat, Genesis sudah keburu memencet tombol Send. Balasan sudah terkirim.

“Apa yang kau katakan ?” Angeal mengerutkan kening sambil membuka Outbox-nya untuk mencari hasil ketikan Genesis tadi.

“Percuma, Angeal. Sudah terkirim.” Jawab Genesis sambil bangun dan menyalakan Laptop-nya sendiri; “Dan aku akan menanyakan alamat e-mail asli kedua bocah Turks itu sekarang. Tidak akan sulit mencarinya. Aku yakin beberapa SOLDIER cukup akrab dengan Turks dan punya alamat e-mail kedua bocah itu yang sebenarnya. Aku bisa melabrak mereka sepuasnya sekarang !”

Angeal memutar bola mata.

“Ayolah.” Genesis menatap layar Laptop-nya; “Kita bisa memaki Turks sepuasnya lewat internet ! Lazard tidak akan tahu, kan ?! Juga Sephiroth sialan itu !”

“Tapi……..”

“Well, kau lupa; mereka mengatakan bahwa SOLDIER adalah kelinci percobaan yang terlalu banyak disuntik Mako ?”

“Oke, kau menang, Genesis. Aku akan mendukungmu memaki mereka.”

***

“Rude !!” Seru Reno; “Kesini deh !! Lihat !!” Dia menunjuk ke layar Laptop-nya; “Aku tidak percaya ! That bitch again !!”

“S-siapa, Ren ?” Tergopoh-gopoh Rude menghampiri.

“Si jalang dari SOLDIER !” Geram Reno; “Darimana dia bisa tahu alamat e-mail milikku..?!” Dia mengetikkan pertanyaan itu; “Darimana kau bisa tahu alamat e-mail-ku?” Lalu dia menekan tombol Send. Tak puas, dia membuka messenger-nya dan langsung meng-add alamat e-mail Genesis supaya dia bisa men-dial-nya.


*Untuk selanjutnya agar memudahkan percakapan, Authoress akan menggambarkannya dalam bentuk percakapan. Dan aku akan menggunakan bahasa Inggris, soalnya aneh kalo menulis percakapan di msn dgn bhs Indo.*



Re=Reno

Ru=Rude

A=Angeal

G=Genesis

(Re men-dial G di messenger)

Re : How did you get my e-mail address, bitch ?

G : Did you just call me bitch ?!

Re : Right. Bitch.

G : How immature.

Re : I like being immature. I’m still younger than you after all. And nothing’s wrong of being a kid in the heart, bitch.

G : Type it once again and I swear for the shake of Gaia you’re gonna sorry tomorrow !

Re : I don’t think so, bitch, because tomorrow you’re gonna be busy cleaning our office, you won’t have time even to play around with your fucking sword.

G : Look who’s talking. Aren’t you suppose to clean the drains under Midgar tomorrow ? Don’t think that I don’t know your plan. You’re planning to run tomorrow.

Re : Turks never run from their job, SOLDIER.

(Mendadak A masuk ke percakapan ini).

A : Huh ?

Re : Wow, very mature, Genesis, inviting your friend to help you.

A : Is that the Turk ?

G : How do you know my name, Turk ?

Re : Your messenger tells, idiot.

(Lalu Reno mengundang Rude masuk ke percakapan ini).

Ru : Who’s this ?

Re : Our beloved SOLDIERs.

(Rude membaca ID messenger kedua tamunya).

Ru : Genesis ? Angeal ?

Re : Yeah, those two bitches.

A : What did you just call us ?

Re : I said bitches.

A : Watch your mouth, kid. And I have no time for this.

G (kuatir Angeal akan Sign off) : Angeal, wait !

A : Genesis, we don’t have time for these little kids. We’re busy, remember ?

G : Angeal, please. They call us bitches. They really need some serious lesson !

A : Oh, well. Look, kiddies. Reno.. that’s your name, right ?! Don’t play with Genesis and I, and we will forget about this.

Re : I guess being cocky is the effect of Mako ?

A : Shut up !

G : How dare you !

Re : C’mon, men. Why everyone always say SOLDIER is the best ? Better than Turk ? That’s totally unfair !

G : Did you just say Turks are jealous with SOLDIERs ?

Ru : Jealous my ass ! We don’t have to be jealous at cocky poor men like you two.

G : Know what ? I know your apartment address and I’m going to be there in the few mins. We shall finish this tonight.

(Rude agak gentar tapi Reno masih cuek).

Re : Be my guests, SOLDIERs.

G : You see that, Angeal ?! Let’s go now !

A : Verywell.

(Genesis signs off).

(Angeal signs off).


Handphone Sephiroth berdering.

“Yeah ?” Dia menjawabnya dengan enggan. Nyaris tidak pernah sedetik pun para petinggi ShinRa membiarkannya tenang. Dia memang dibutuhkan. Selalu dibutuhkan, dan sangat dibutuhkan.

“Sephiroth !” Suara Lazard; “Dengar, pergilah ke apartemen Reno dan Rude !” Dia menyebutkan alamatnya.

“Apa yang terjadi ?”

“Aku juga baru dapat laporan dari salah seorang petugas yang patroli di stasiun Sektor Lima Midgar bahwa empat orang sedang berkelahi disana dan merusakkan setengah gedung. Reno Sinclair, Rude, Genesis Rhapsodos, dan Angeal Hewley.” Jawab Lazard cepat.

Sephiroth menyumpah tak jelas.

“Aku akan menyuruh Tseng kesana, juga beberapa 1th Class SOLDIERs untuk membantumu dan beberapa petinggi di Turks---”

“Tidak usah !” Putus Sephiroth dengan geram; “Aku bisa menangani Rhapsodos dan Hewley sendiri ! Tapi aku akan butuh Tseng untuk mendiamkan Sinclair dan Rude !”

“Baiklah kalau begitu. Kupercayakan padamu, Sephiroth. Aku akan menelepon Tseng sekarang !” Lazard memutuskan hubungan telepon.

Sephiroth segera bergegas.

***

Akhirnya pertarungan berhasil dihentikan. Sephiroth maju ke tengah pertarungan itu dan menghentikan keempatnya sekaligus. Tseng sudah tiba.

“Coba kalian jelaskan pada aku dan General !” Seru Tseng marah sambil menatap Reno dan Rude; “Apa yang kalian kerjakan malam-malam begini ?!?”

Reno dan Rude saling pandang.

“SOLDIER duluan yang cari gara-gara !” Kata Rude akhirnya; “Genesis Rhapsodos mengirim e-mail kepada Reno berisi makian.”

Sephiroth menatap Genesis.

“Turks duluan yang mengirimi e-mail kepada Angeal !” Bantah Genesis; “Reno Sinclair berusaha memancing kemarahan kami dengan mengatakan bahwa dia tahu kami tidak akan mengerjakan tugas kami besok, dan celakanya dia selalu berhasil memancing kemarahan kami !”

“Aku tidak mengerti ocehanmu, songbird !” Gerutu Reno; “Memangnya aku mengirim e-mail pada Angeal ?!? Kau duluan yang mengirimiku e-mail. Aku mendapatkan alamat e-mail-mu dari kirimanmu sendiri, sedangkan aku bahkan tidak tahu darimana kau mendapatkan alamat e-mail-ku !”

“Jangan pura-pura !” Balas Genesis; “Dasar bocah kekanakkan !”

“SOLDIER jalang ! Silakan panggil aku bocah ! Aku memang lebih muda darimu.” Reno tak mau kalah; “Dan aku memang tidak ingin jadi dewasa setelah melihat contoh arti ‘dewasa’ dari dirimu, jalang !”

“Sebut kata itu lagi !” Teriak Genesis; “Kau yang memulai ini semua ! Gaia tahu bahwa kau mengirimi Angeal e-mail secara tersamar dengan menggunakan account baru atau apa; pokoknya tidak ada alamat dan nama pengirim !”

Sephiroth mengerjapkan mata. “T-tunggu !” Putusnya sebelum Reno bicara lagi; “Apa katamu tadi, Genesis ? Apa isi e-mail yang kau maksudkan itu ?”

“Katanya,” Angeal yang menjawab; “Dia tahu kami pasti tidak akan mengerjakan tugas kami besok !”

Mendadak ekspresi muka Sephiroth berubah.

“General ?” Angeal menyadari itu dan terlintas di benaknya sesuatu; “Kau---Hey, e-mail itu bukan darimu, kan… General…?!?”

Sephiroth diam sejenak. Semua mata tertuju padanya. Akhirnya dengan pelan; meskipun mukanya merah padam; tanpa ekspresi dia menjawab; “Yeah, itu aku.”

“Oh !!” Seru Genesis; “Seharusnya aku tahu ! Dan apa maksudmu, General ? Kau tahu kami tidak akan mengerjakan tugas kami ?! Kau pikir kami anak kecil ?! Kau terlalu rendah menilai kami, Sephiroth !”

Sebelum Sephiroth menyahut, Reno menyeletuk; “Makanya, jangan nuduh orang sembarangan dulu, SOLDIER !”

“Diam kau, Sinclair !” Tseng menenangkan. Dia melirik Sephiroth dan menghela nafas; “Ternyata ini hanya kesalahpahaman belaka. Jadi sekarang bagaimana kalau kita semua saling berjabat tangan dan berbaikan lagi ?”

“Well….” Sephiroth angkat bahu; “Terserah kau saja.”

“Oke.” Kata Tseng; “Reno, Rude. Kalian jabatlah tangan Angeal dan Genesis !”

Meskipun mendongkol, dengan ogah-ogahan akhirnya keempat orang itu mau juga berjabat tangan.

“Hukuman besok tetap berlaku.” Lanjut Tseng; “Tapi kurasa kita harus memberi kepercayaan kepada mereka berempat untuk menjalankannya sendiri, General ?”

“Yeah.” Sahut Sephiroth.

“Bagus. Kuanggap semua selesai sampai disini, ya.” Kata Tseng pula sambil tersenyum; “Aku mau kembali pulang dan tidur. Reno, Rude, kalian berdua juga harus kembali tidur !”

“Mana bisa ?!” Seru Reno; “Separuh bangunan apartemen kami sudah hancur dan dilalap api !”

Tseng dan Sephiroth saling pandang.

“Begini saja.” Ucap Tseng; “Terpaksa malam ini Reno dan Rude tidur di apartemenku. Dan untuk menghindari pertengkaran, bagaimana kalau Anda mengajak Angeal dan Genesis tidur di apartemen Anda malam ini, General ?”

“Well……” Sephiroth tampak ragu. Dia tidak menyadari ekspresi wajah Genesis seketika berubah. Akhirnya Sephiroth menghela nafas dan menjawab; “Baiklah. Anggap saja untuk mengantisipasi pertengkaran.”

“Sepakat.” Tseng tersenyum.

Bukan hanya dia yang tersenyum. Meskipun Reno dan Rude tampak tak senang dengan keputusan Tseng yang berarti bahwa kebebasan Reno dan Rude malam ini terkekang, Genesis tampak tersenyum puas… sebuah senyum senang dan bergairah. Hanya Angeal yang menyadari Genesis tampak bersemangat.

Ha, tidur seatap dengan Sephiroth semalam. Hadiah yang menyenangkan dari perkelahiannya dengan Turks.


The End.

Hollander's Dirty Wish

SHINRA ACADEMY : HOLLANDER’S DIRTY WISH

Rating : M

Charas : Hollander, Genesis, Sephiroth.

Setting : Somewhere in the past; ShinRa.

Genre : (Apa aja deh, agak2 horor bagi saia – wkwkwkwk… xD)

Warning : Sedikit Yaoi yang bikin merinding, tapi nggak ada Lime/Lemon. Kalau nggak suka, silakan lewatkan chapter ini karena chapter berikutnya tidak berhubungan dengan yang ini.


Hollander menatap wajah seorang pemuda yang sedang tidur di atas dipan di ruangan labolatorium-nya. Wajah itu begitu memukaunya. Penuh dengan daya tarik duniawi. Bibir yang sedikit terbuka seolah menantang siapa pun untuk melumatnya. Hollander mendekat, mengawasi wajah si pemuda lebih dekat lagi. Sekarang dia bisa tenang-tenang mengawasinya. Jika sepasang mata pemuda itu membuka; menampakkan bola mata biru-kelabu yang indah itu; maka Hollander takkan berani lagi memandangi wajah itu lama-lama.

Sebenarnya sayang sekali Hollander tidak bisa menatap sepasang mata biru-kelabu yang cantik milik si pemuda yang sedang tertidur ini. Mata itu; Hollander mengingatnya; begitu hidup. Begitu penuh daya pikat duniawi. Begitu menantang. Penuh aroganisme dan kecongkakan, tetapi begitu indah.

Perlahan sang profesor tua mengulurkan tangannya. Jemarinya menyentuh pipi si pemuda yang sedang tidur ini. Pemuda itu tidak merasakannya. Oh tentu saja tidak. Obat tidur racikan Hollander memang keras. Sang profesor tersenyum sendiri.

Burung merak merah; Pikir Hollander sambil mengagumi kecantikan si pemuda yang sedang tidur di dipannya. Pemuda itu adalah SOLDIER Kelas Pertama; Genesis Rhapsodos; mahluk yang bermain dengan api laksana burung phoenix. Tetapi saat ini Genesis sama sekali tidak berbahaya, sebab pengaruh obat tidur jelas membiusnya.

Hollander menikmati menyentuh kulit wajah Genesis yang putih bersih, kemudian ke bibirnya yang sedikit terbuka. Perlahan Hollander memasukkan jari telunjuknya ke mulut Genesis; mendorong bibir itu membuka. Telunjuk sang profesor terus masuk ke dalam mulut sang SOLDIER. Hollander menutup mata; membayangkan SOLDIER Kelas Pertama itu menghisap jarinya.

Kemudian sang profesor membuka mata lagi, menatap kembali wajah cantik yang sedang tertidur itu; seakan tidak ada di dunia ini yang bisa membangunkannya. Bahkan ciuman sekali pun.

Sang profesor menarik kembali jarinya dari mulut Genesis. Kemudian profesor itu membungkuk; mendekatkan wajahnya ke wajah Genesis; sampai dia bisa merasakan nafas pelan sang SOLDIER yang tertidur.

Genesis terlalu menarik; Pikir Hollander; Sangat—sangat—menantang. Membuat siapa pun merasa tertantang untuk memilikinya; menyentuhnya; menundukkannya…. Tetapi tentu saja tidak akan ada yang bisa berhasil, sebab Genesis adalah SOLDIER Kelas Pertama yang terhebat setelah Sephiroth…..

Dan Angeal.

Setara dengan Angeal.

Hollander mengamati wajah Genesis dari dekat; membayangkan apakah Angeal pernah menikmati bibir si rambut merah itu. Angeal; putranya tersayang. Putra tunggalnya yang baik, yang tidak (belum) tahu bahwa Hollander adalah ayahnya.

Apakah putra tunggalnya; Angeal; pernah menciumi bibir si rambut merah ini… atau malah mungkin lebih dari itu ?

Hollander sudah sering memperhatikan keduanya dari jauh sejak keduanya tiba di ShinRa Building ini. Bisa dikatakan Genesis-lah yang lebih dominan. Jadi.. apakah bibir si rambut merah ini pernah memaksa mencium bibir Angeal..?

Hollander paham sifat keduanya. Kalau ada sesuatu pernah terjadi di antara Angeal dan Genesis; itu semua adalah upaya Genesis. Mahluk berambut merah ini begitu liar, penuh nafsu duniawi, sekaligus penuh daya pikat yang menggairahkan.

Jari-jari Hollander bergerak ke leher Genesis.

Mahluk ini adalah ciptaanku; Pikirnya; Ciptaanku yang gagal. Tentunya saat ini mahluk malang ini tidak pernah mengira bahwa dirinya hanyalah sebuah ciptaan yang gagal. Hollander tersenyum. Jari-jarinya kini melepaskan pelindung bahu kiri Genesis, lalu pelindung bahu kanan, kemudian perlahan menanggalkan jubah merah Genesis.

Hollander meletakkan jubah merah itu di lantai, lalu tangan sang profesor bergerak ke ban pinggang sang SOLDIER yang tertidur.

Mahluk pongah yang malang; Batin sang profesor lagi; Burung merak. Mahluk ini belum sadar apa yang akan menimpanya.

Sang profesor menggeleng prihatin. Bukan karena kasihan pada monster yang sedang tertidur ini, tetapi karena menyesali kegagalannya. Angeal; putranya; adalah sesuatu yang lebih sempurna ketimbang monster berambut merah ini. Tapi sama saja. Baik Genesis maupun Angeal; keturunan Project-G yang diciptakan Hollander ini; tidak pernah bisa menyamai hasil dari Project-S ciptaan Hojo sialan itu.

Genesis mengeluarkan bunyi rintihan pelan.

Hollander tersentak dan buru-buru menarik tangannya dari kulit sang SOLDIER. Tentunya si profesor tua ini tidak mau ambil resiko sang SOLDIER menyadari apa yang sedang terjadi. Tetapi untunglah rupanya SOLDIER itu belum bisa terbangun dari tidurnya juga. SOLDIER itu hanya merintih pelan sedetik lalu kembali terlelap; memberi kesempatan pada Hollander untuk kembali menyentuhnya.

Hollander tahu persis siapa yang diinginkan oleh monster ciptaannya ini. Memang sudah takdirnya. Memang sudah ditanamkan dalam darahnya. Bahkan jika monster itu berusaha untuk mengelak pun akan sia-sia. Sebagai ciptaan sulung dari Project-G; dalam diri Genesis secara otomatis menyukai Sephiroth; mengharapkan Sephiroth yang merupakan ciptaan tunggal dari Project-S saat ini. Hampir seperti Adam dan Hawa. Hampir bisa diistilahkan bahwa Genesis diciptakan dari tulang rusuk Sephiroth; tepatnya sel Jenova yang berada dalam tubuh Sephiroth.

Keberhasilan Hojo, dan kegagalan Hollander.

Sephiroth bahkan tidak mau membalas perasaan Genesis; tidak perduli bagaimana indahnya fisik Genesis. Menurut pengamatan Hollander selama ini, Sephiroth agaknya cukup baik pada Angeal; mahluk kedua hasil keturunan Project-G. Tetapi jelas bukan berarti Sephiroth jatuh cinta kepada salah satu pun di antara Genesis maupun Angeal. Hanya saja sebagai seorang sahabat atau kakak; Sephiroth agaknya lebih menyukai Angeal daripada Genesis.

Tentu saja; Pikir Hollander. Angeal memiliki budi pekerti yang baik. Dan Angeal adalah ciptaan yang lebih sempurna ketimbang Genesis.

Meskipun begitu; Hollander tahu bahwa keindahan yang dimiliki kedua monster ciptaannya bukan hasil kreasi tangannya. Itu adalah pemberian Gaia. Keindahan fisik yang didapat secara biologis. Begitulah darimana Angeal bisa mendapatkan rambut hitamnya yang tebal bergelombang. Rambut yang mirip dengan ibu biologis Angeal; yaitu Gillian.

Istri Hollander. Istrinya yang sah hingga saat ini; yang ditinggalkannya di desa Banora. Hollander meninggalkan istri dan anaknya demi mengabdi kepada ShinRa.

Bicara soal Gillian, sebenarnya ada bagian-bagian dalam diri Genesis yang juga mirip dengan Gillian.

Tentu saja.

Sel Jenova; disuntikkan lebih dahulu kepada Gillian. Kemudian dari situlah sel Gillian disuntikkan kepada si bayi tabung yang sekarang sudah menjadi manusia dewasa di depannya ini. Ciptaan yang tidak sempurna. Monster. Meskipun begitu; bayi tabung juga dihasilkan dari persilangan sel sperma dengan sel telur manusia, hanya saja bukan secara normal. Orang tua biologis Genesis adalah Kepala Desa Banora dan istrinya. Sang Kepala Desa memang sudah merupakan abdi setia ShinRa dan menerima bayi yang diberikan padanya, meskipun awalnya istrinya agaknya jijik dengan si bayi.

Kemudian dari Gillian sendiri secara langsung melahirkan bayi; yang tentunya menjadi ciptaan yang lebih sempurna dibanding yang pertama tadi. Bayi yang lebih normal ini adalah Angeal.

Entah darimana Genesis mendapatkan rambut merahnya; sebab baik Gillian maupun orang tua biologis Genesis sendiri berambut hitam.

Sedangkan kedua adik biologis Genesis; Weiss dan Nero; memiliki proses kelahiran yang jauh lebih normal.

Tentu saja jika bicara soal fisik, memang Hollander mengakui bahwa monster berambut merah ini sangat sempurna; setidaknya saat ini; sebab kesempurnaannya ada batasnya dan dengan cepat akan menguap. Sayangnya itu juga akan terjadi kepada Angeal; tetapi dengan kondisi berbeda.

Sepasang mahluk Project-G; Genesis dan Angeal; masih belum bisa menandingi satu-satunya mahluk dari Project-S milik Hojo; Sephiroth; putra biologis Hojo sendiri dengan si cantik Lucrecia.

Hollander menghela nafas menyadari kenyataan itu. Kegagalannya. Dan lagi-lagi keberhasilan Hojo.

Diam-diam timbul harapan aneh di batin Hollander. Meskipun sepasang monster hasil kreasinya tidak bisa menandingi Sephiroth; dia berharap setidaknya salah satu bisa menjadi pasangan Sephiroth. Bukankah Genesis sangat serasi dengan Sephiroth ? Di seluruh ShinRa ini, siapakah yang bisa menandingi keindahan fisik Genesis ? Mahluk paling cantik di SOLDIER. Sayangnya itu tidak akan berlangsung lama. Dan ketika rambut mahluk ini memutih serta tubuhnya melemah; meskipun kulitnya tidak berubah; apa Sephiroth masih mau meliriknya ?

Yah, sekarang saja tidak. Apalagi nanti.

Hollander kembali membelai pipi si monster berambut merah yang sedang tertidur. “Kenapa kau tidak mau berusaha lebih keras ?” Bisik sang profesor; “Bukankah kau sangat menginginkan Sephiroth ? Kenapa kau tidak mau memaksa lebih keras ? Kau sangat menginginkannya; semua orang tahu itu. Kau membencinya sekaligus mengharapkannya. Kau iri padanya sekaligus mengaguminya setengah mati. Semua orang bisa melihatnya. Terpancar dari matamu, ekspresi wajahmu, gairahmu, kata-katamu, sikapmu, bahkan aku bisa melihat getaran kulitmu yang mendambakan untuk bersentuhan dengan kulitnya.”


Authoress : *Coughs* Itu menjijikkan. I need a break. Phew. Air. *gasp*

Oke, lanjut…..



Jari-jari Hollander menyentuh tubuh Genesis perlahan, dari ujung kepalanya; lalu rambutnya; lalu beralih ke wajah—kelopak mata yang tertutup, pipi, hidung, bibir yang sempurna, lalu dagunya. Kemudian leher dan terus turun…..

Hollander tidak pernah bisa mengerti kenapa putra Hojo menolak mahluk seindah ini. Memang sih; keindahan ini akan pudar begitu proses degradasinya dimulai, tetapi saat ini.. siapa di dalam nama Gaia yang bisa menandingi keindahan burung merak merah ini…?

Dengan frustasi Hollander teringat kembali kepada Hojo dan Lucrecia. Ya, pastilah Sephiroth mewarisi keangkuhan Hojo dan Lucrecia. Hati yang dingin milik Hojo dan Lucrecia, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa sel-sel dalam tubuh Sephiroth adalah pemberian Jenova. Yang paling menimbulkan frustasi adalah fisik Sephiroth yang sungguh mengingatkan akan ibu biologisnya yang cantik rupawan. Wanita dambaan Hollander; yang telah menolak Hollander untuk Hojo. Si cantik Lucrecia; wanita paling sempurna……..

“Kalau bukan Genesis,” Bisik Hollander pada dirinya sendiri; “Pilihlah Angeal, Sephiroth..!!”

Sialnya, tepat saat dia mengatakan kata terakhir, pintu ruangan labolatoriumnya terbuka. Hollander menengok dan nyaris terlompat menyadari siapa yang berjalan masuk.

“S-S-S-Sephiroth…?”

Sephiroth tentu saja tidak mendengar jelas ucapan Hollander mengenai “pilihlah Angeal” tetapi dia jelas tidak menyukai pemandangan yang dilihatnya. “Singkirkan tangan kotormu darinya !!!” Sephiroth langsung membentak. Pemandangan yang dilihatnya memang layak untuk membuat si pemilik pedang Masamune ini naik darah. Bagaimana tidak ?! Dia melihat sahabatnya tersayang (oke, mungkin bukan ‘tersayang’ tapi toh tetap sahabatnya) berbaring tak sadarkan diri di atas dipan labolatorium; tanpa mengenakan busana apa pun lagi; dan si tua Hollander berdiri di sisi dipan; membungkuk dan menyentuh tubuh sahabatnya itu. Walaupun Hollander tidak tampak bernafsu dengan tubuh yang dilihatnya, tetapi toh Sephiroth tetap tidak bisa menerima perlakuan seperti itu kepada sahabatnya !

Pedang Masamune nyaris menebas putus kepala Hollander jika Hollander tidak buru-buru membanting diri untuk tiarap sampai menabrak meja dan terguling ke sudut ruangan.

Dengan cepat Sephiroth menyambar kain selimut yang berada di kaki Genesis lalu menutupi tubuh sahabatnya itu, kemudian dia menghampiri Hollander yang tersudut. Pedang Masamune-nya terarah mengancam.

“Apa yang kau lakukan ??!” Bentak Sephiroth.

“S-S-S-Sephiroth-T-t-idak-a-ada-y-yang-k-kulakik-maksudku-kulakukan---” Hollander tergagap memandang sosok marah di hadapannya.

“Kau apakan dia ??!” Sephiroth membentak lagi; “Jawab yang benar !!”

“A-aaa-aku..me-me-memeriksanya……” Otak Hollander bekerja sementara dia memberanikan dirinya mengucapkan dalih; “D-dia demam ! A-aku mengecek s-s-suhu b-badannya…..”

“Benarkah begitu ?!” Tanya Sephiroth tanpa menurunkan pedangnya. Ekspresinya masih terlihat sangat murka.

“Y-yaaa….” Hollander mengangguk-angguk meyakinkan.

“Aku tidak merasa kau mengatakan yang sebenarnya !” Lanjut Sephiroth pula; “Sebab menurutku Genesis tidak akan membiarkanmu melepaskan seluruh pakaiannya begitu !”

“D-dia.. t-tertidur…..” Hollander membela diri; “A-aku m-melakukannya d-di-luar kesadarannya… se-sebab a-aku ha-harus m-mengecek suhu b-badannya…..”

“Tidak bisakah kau mengecek suhu badannya dengan menempelkan termometer pada lehernya atau semacam itu ?!” Balas Sephiroth; “Yang kulihat tadi sangat menjijikkan !”

“M-maafkan a-aku, S-Sephiroth……” Hollander buru-buru bertekuk lutut; “Tadi a-aku sa-sangat bingung.. m-maka aku berbuat b-bodoh….. Kau tahu kan, a-aku tidak bermaksud melakukan hal-hal yang diluar kesusilaan kepadanya……”

“Yang benar ?!”

“Sephiroth ! Kau tahu aku, kan… A-aku sudah tua, dan a-aku sudah mengabdi lama di ShinRa. Apa m-mungkin aku berbohong pada se-seorang SOLDIER Kelas Pertama sepertimu ?! Kau tahu sendiri; a-aku laki-laki. Aku t-tidak tertarik kepada sesama laki-laki !”

“Aku jelas tahu kau laki-laki, tetapi aku tidak yakin kau tertarik atau tidak kepada sesama jenis.” Gerutu Sephiroth; “Sebab di ShinRa ini semuanya bertingkah aneh belakang ini !”

“Sephiroth, ayolah……”

“Baiklah. Kita andaikan kau jujur. Tapi kenapa kau membius Genesis ?”

“M-memb-bius…?” Ulang Hollander kaget. Dia heran bagaimana Sephiroth bisa tahu dia telah memberi Genesis obat tidur.

“Jangan membodohiku, Profesor.” Sahut Sephiroth; “Aku kenal Genesis. Aku pernah beberapa kali bertanding dengannya. Level kekuatannya sangat tinggi; nyaris menyamaiku; dan orang macam kau takkan bisa menyentuhnya tanpa membuatnya terbangun. Sekarang ini kita berdua berbicara dengan suara keras dan berisik, aku heran kenapa dia tidak terbangun jika memang dia tidak dibius, sedangkan orang biasa yang bukan SOLDIER saja pasti terbangun kalau ada yang berisik di dekat tempat tidurnya.”

“A-a-aaaa…..” Sesaat Hollander hanya bisa tergagap lagi. Tetapi Masamune semakin mendekat ke lehernya, maka dengan cepat dia memberi alasan; “A-aku tidak me-membius G-Genesis….. Pasti a-asistenku tidak sengaja memasukkan o-obat tidur ke gelas yang ditujukan untuk Genesis…..” Sang profesor bersimpuh; “Tolonglah, General. Percayalah, aku tidak mungkin punya maksud tertentu terhadap Genesis; apalagi dia adalah SOLDIER Kelas Pertama ! K-kau tahu aku sudah lama berada di ShinRa dan a-aku cukup dipercayai oleh P-president ShinRa……”

Sephiroth diam sejenak. Mudah baginya untuk memotong kepala si tua di depannya ini. Tetapi dia tahu bahwa President ShinRa mempercayai si tua ini, dan jika dia membunuh si tua ini maka dia akan menimbulkan banyak tanda tanya dan rentetan penyelidikan mengenai motifnya membunuh dan itu malah akan semakin memalukan Genesis sendiri. Maka dia menurunkan pedangnya.

“Kalau sampai terjadi lagi, Profesor, aku tidak akan memberi ampun.” Ucapnya mengancam.

“B-baik….!” Jawab Hollander.

“Dan mulai sekarang setiap kali Genesis harus mengunjungimu untuk keperluan apa pun, aku akan memastikan aku menemaninya.” Lanjut Sephiroth.

“S-silakan.” Sang profesor mengiyakan.

“Berapa lama sampai pengaruh obat bius sialanmu lenyap ?” Tanya Sephiroth pula; “Berapa lama Genesis akan tidur ?”

“S-sekitar.. d-dua hari.” Sahut Hollander; “D-dia akan b-baik-baik saja begitu sadar. Ha-hanya obat tidur biasa, tidak akan ada efek samping.”

“Bagus. Kalau sampai dua hari dia belum bangun juga; atau jika dia bangun dalam keadaan tidak sehat; aku akan mencarimu lagi !”

“Y-yaa……”

Sephiroth yang sudah menyimpan kembali pedangnya; berjalan ke dipan lagi. Dia menyambar semua pakaian Genesis dan memakaikannya kepada sahabatnya itu tanpa berhasil membuat Genesis terbangun.

Hollander mengawasinya. Ekspresi Sephiroth tetap dingin, tidak ada perubahan; meskipun gerakannya memakaikan pakaian di tubuh sahabatnya tergolong lembut.

Hollander memberanikan diri bertanya; “K-kau.. menyukainya ?”

Sephiroth tidak menjawab. Dia menyelesaikan memakaikan pakaian kepada sahabatnya yang tertidur seperti boneka saja. Lalu dia mengangkat tubuh sahabatnya itu dan menggendongnya keluar tanpa menengok lagi.

Hollander menghela nafas. “Kelihatannya….” Pikirnya; “Harapanku sebenarnya akan tercapai. Hanya tinggal soal waktu. Sebetulnya anak Lucrecia menyukai monster ciptaanku itu, hanya saja dia berusaha lari dari perasaannya sendiri…. Menarik. Hojo juga pasti menyadari itu.” Perlahan dia bangkit; “Tapi anak Lucrecia itu.. wajahnya benar-benar mirip dengan ibunya !” Dia menghela nafas penuh kerinduan membayangkan Lucrecia.

Dia teringat alasan pertama Hojo dan dirinya mulai menciptakan project-project ini waktu mereka berdua masih muda; sebenarnya semua hanya demi cinta mereka kepada Lucrecia. Mereka berdua menghabiskan bertahun-tahun untuk memberi “hadiah” kepada Lucrecia; yaitu mahluk hidup campuran antara biologis dengan ilmu pengetahuan. Tetapi kemudian terjadi hal yang tidak menyenangkan dan Lucrecia dikurung dalam salah satu tabung eksperimen karena cinta Hojo dan Hollander kepada wanita itu surut dan bergantikan dengan cinta kepada ilmu pengetahuan. Mereka menjadi lebih mencintai project mereka daripada mencintai Lucrecia. Mahluk yang diciptakan oleh Hojo memiliki unsur “Yang” (Positif), sedangkan mahluk yang pertama kali diciptakan oleh Hollander memiliki unsur “Yin” (Negatif) meskipun yang kedua tidak.

The End



Authoress : Gua ngga tau Hollander naksir Lucrecia apa engga. Tapi di fanfic ini gua anggap aja begitu.. Hehe. Dan tentang Project-G adalah “pasangan” Project-S itu adalah bisa-bisanya gua.. xD

Pengikut

free hit counter