Tampilkan postingan dengan label Sephiroth-Genesis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sephiroth-Genesis. Tampilkan semua postingan

Reason To Hate You

(Another) Reason To Hate You

Genre : Friendship/Hurt-Comfort

Charas : Sephiroth, Genesis, Angeal

Setting : Somewhere in the past; Shinra

Rating : T buat jaga2

Warning : Genesis' POV, Summary : Whatever you do, whatever you say; you just giving me another reason to hate you...


****

Aku menatap pintu tertutup itu. Bahkan dari sini aku sudah bisa merasakan atmosfer yang menyesakkan. Aku sudah bisa merasakan tatapan mata orang yang berada di balik pintu itu. Aku sudah bisa membayangkan wajahnya, ekspresinya, gerak-geriknya yang selalu anggun.....

Tidak pernah sedikit pun dia bercela. Tidak pernah sedikit pun dia melakukan sebuah kesalahan. Begitu perfect. Manusia yang sempurna.

Aku tidak pernah melihat dia membuat kesalahan sedikit pun. Oh, aku ingin sekali melihatnya. Aku tidak pernah melihat dia tampil dengan buruk sekali pun. Aku tidak pernah melihat rambutnya yang panjang dan rapi menjadi kusut. Aku tidak pernah melihat dia menundukkan kepala. Aku tidak pernah melihat dia menitikkan airmata sedikit pun. Aku tidak pernah melihat pakaiannya kotor sedikit pun. Aku tidak pernah melihatnya tidak begitu bercahaya seperti yang selalu kulihat....

Dan aku sangat ingin melihat dia tidak bercahaya lagi. Aku sangat ingin melihatnya terhempas, kotor, kusut, dan menangis.....

Aku ingin melihat Sephiroth tidak bercahaya lagi, terhempas, jatuh, kotor, kusut, dan menangis.

Aku menatap pintu itu. Semua bayangan tentang dirinya berkecamuk dalam batinku walaupun aku berusaha mengenyahkannya.

Obsesi ?

Apakah ini adalah obsesi ?

Angeal selalu mengatakan itu padaku; "Berhentilah terlalu terobsesi dengan Seph, Genesis."

Tidak semudah itu, Sahabatku.

Segala sesuatunya datang sendiri. Dia selalu muncul di benakku, walaupun - percayalah - aku berusaha mengenyahkannya. Aku berusaha mengusir bayangannya dari hatiku, aku berusaha melemparkan sosoknya keluar dari pikiranku. Tapi tidak bisa. Dia selalu ada di sekitarku, di depan mataku. Bagaimana aku bisa mengenyahkannya dari hatiku sedangkan sosoknya selalu berada di sekitarku ? Bagaimana aku bisa mengenyahkannya dari pikiranku kalau semua orang di sekitarku selalu menyebut-nyebut namanya ?

Sephiroth the Hero. Sephi-

Mendadak pintu di depanku terbuka. Aku tersentak dan mengangkat wajahku; menatap sosok yang sedang kupikirkan ini. Wajahnya, senyumnya yang congkak, tatapan matanya yang selalu meremehkan orang lain, kesinisannya yang tersembunyi.. namun aku jelas bisa menangkap kesinisan dalam senyumnya; di wajahnya; dalam pandangan matanya.

Yeah, aku bisa melihatnya dengan jelas. Angeal mungkin tidak menyadari bagaimana kau memandang remeh aku dan Angeal, Seph. Tapi aku menyadarinya. Kita bertiga bersahabat, kita bertiga sering ditugaskan dalam satu misi bersama. Pertempuran demi pertempuran yang kita alami bersama dalam misi telah mendekatkan kita. Aku masih ingat, Seph, kita saling membantu di medan perang. Tapi yang dapat nama hanya kau. Yang paling dihargai oleh President Shinra dan oleh semua orang hanya kau.

Semua orang tahu Sephiroth, tapi tidak semua orang tahu Angeal dan Genesis. Kau sangat terkenal. Kami tidak.

"Genesis ?"

"Oh." Aku menyadari kau sedang menatapku. Sepasang bola matamu yang berwarna hijau tampak begitu jernih. Begitu bening, tetapi menyimpan kegelapan dan misteri.

Bagaimana mungkin seseorang bisa memiliki mata yang begitu indah ?

Kau menyilakanku masuk ke dalam ruanganmu. Aku melangkah masuk, dan kau menutup pintu di belakangku, membuat kita berdua terisolasi di dalam ruanganmu.

"Duduklah." Kau memerintahkanku.

Memerintahku.

Kenapa ? Kita berdua sederajat. Kita berdua seumur. Aku bahkan lebih tua beberapa bulan darimu, Sephy.

Jangan memerintahku. Walaupun hanya satu kata yang sederhana. Tetapi ketika itu datang darimu aku merasa bahwa perkataan itu penuh dengan nada kesombongan dan penghinaan. Kau menekankan nada bicaramu sehingga terdengar jelas seolah kau menganggap remeh aku.

Tetapi aku bergerak ke kursi di depan mejamu dan duduk. Aku berusaha menjaga gerakanku agar seanggun dirimu.

Kau bergerak ke belakang mejamu dan duduk di kursimu. Aku masih melihat sepasang matamu masih menatapku. Kenapa kau menatapku, Sephy ? Apa yang kau lihat dariku ? Bagaimana menurutmu diriku ?

"Aku ingin membicarakan hal yang sangat pribadi." Kau akhirnya berkata; "Mungkin ini agak aneh, tapi aku merasa bahwa kita harus membicarakan hal ini. Kita tidak bisa begini terus dan pura-pura bahwa tidak ada apa-apa."

Apa maksudmu ?

"Apa maksudmu, Seph ?" Aku bertanya, berusaha menjaga agar nada suaraku tetap tenang dan tidak gemetar.

Jangan tersenyum, Seph !

Jangan tersenyum ! Aku benci melihatnya.

Senyum yang penuh percaya diri. Aku ingin sekali meruntuhkan kepercayaan dirimu itu. Aku ingin mengubah senyummu menjadi tangis......

"Aku ingin bertanya." Kau meneruskan dengan lambat-lambat. Kau sengaja menikmati ekspresiku yang terlihat suram; "Kenapa kau membenciku, Genesis ?"

Apa ?

"Aku tidak membencimu !" Lidahku berdalih.

Kau menggeleng tanpa rasa bersalah; "Setiap kali dalam sesi latihan kau berusaha membunuhku." Sahutmu; "Dan setiap dalam rapat kau selalu menentangku, kau selalu berusaha menolak pendapatku, kau selalu keberatan akan pendapatku dan berusaha mempermalukanku. Awalnya aku menganggap kau memang benar-benar memiliki pendapat yang lebih baik dariku, tapi---"

"Aku menentang pendapatmu dalam rapat memang karena aku memiliki ide lain yang lebih baik darimu !" Putusku.

"Tidak." Jawabmu; "Kau menentangku hanya karena kau ingin membuatku marah. Kau berusaha membuatku marah."

Dan aku terdiam sejenak. Demi Gaia ! Kenapa dia bisa sangat santai saat mengatakan itu ? Kenapa kau bisa mengucapkan itu dengan tenang, Seph...?

"Ayolah, Genesis." Kau meneruskan dengan lebih pelan; "Kita berdua adalah laki-laki dewasa dan---"

Kita berdua adalah laki-laki dewasa..... Sephiroth, kau selalu menganggapku anak kecil ! Kau senang mempermalukanku seperti ini, memancingku dengan perkataan-perkataan sialanmu ! Menganggap aku adalah bawahanmu yang harus dibimbing olehmu. Aku membencimu !

"---kita masing-masing tahu apa yang kita rasakan. Aku tidak ingin mendebatmu. Aku hanya ingin tahu alasanmu." Kau meneruskan.

"Alasan apa ?" Tanyaku.

"Alasanmu membenciku." Kau menjawab.

Apa ?

Apa telingaku tidak salah dengar ?

Kau bertanya padaku apa alasanku membencimu ?

Saudaraku; Sahabatku; Teman Seperjuanganku. Kau sedang bertanya padaku apa alasanku membencimu ?

Sephy, kau gila ?

Aku membencimu sampai mati. Aku benci padamu. Aku benci dirimu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dan aku tidak tahu kenapa.

Mungkin karena kau begitu perfect. Mungkin karena kesempurnaanmu itulah yang membuatku membencimu. Mungkin kau begitu sempurna dan semua orang agaknya menyadari kesempurnaanmu. Bukan hanya aku yang menyadari kesempurnaamu, tapi semua orang. Dan itu membuatku membencimu.

Tidak bisakah kau menyembunyikan segala kelebihanmu itu, Seph ?

Tundukkan kepalamu, sehingga orang tidak melihat betapa cantiknya dirimu.

Tidak bisakah kau tidak selalu tampil di depan dalam setiap rapat, berbicara dan membiarkan semua orang mengetahui betapa cerdasnya dirimu ?

Tidak bisakah kau berhenti tersenyum seperti itu ? Senyum yang sinis dan angkuh. Senyum yang membuat semua orang ingin memilikimu.

Termasuk aku.

Pernahkah kau sadari itu ? Tidak ? Karena kau begitu terkurung dalam pikiran-pikiranmu sendiri. Kau terkurung dalam kebekuan hatimu. Matamu terlalu buta untuk bisa melihatnya, Seph.

"Genesis ?" Kau menegur.

Jangan paksa aku bicara di saat aku tidak ingin bicara !

"Seph ?" Sahutku berusaha menahan diri. Aku tidak boleh kalah darimu. Aku tidak akan kalah darimu; "Kenapa kau memaksaku untuk mengatakan hal-hal yang tidak ingin kukatakan ?"

Kau terdiam. Kau menyandarkan punggungmu di sandaran kursimu. Sepasang mata hijaumu masih menatapku. Tidak ada ekspresi bersalah di wajahmu, tidak ada ekspresi gundah atau bimbang. Kau yang selalu sempurna. Kau tidak penah menunjukkan sedikit pun kegelisahan, ketakutan, kesedihan, rasa bersalah, dan---cinta.

"Aku tidak bermaksud memaksamu." Akhirnya kau menjawab; "Hanya saja kurasa aku sudah muak dengan semua ini. Aku bosan terus-menerus meladeni sikapmu dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, sedangkan sebenarnya aku semakin lama semakin menyadari bahwa kau membenciku. Aku hanya ingin dengar alasannya."

Apa ???

Bisakah kau mengulanginya, Sephy ??

Bisakah kau mengatakannya lagi ? Tapi jangan katakan itu dengan tenang ! Aku benci dengan segala ketenanganmu !

Bagaimana kau bisa begitu tenang ?

Sedangkan aku tidak ?! Aku bisa menyadari kedua tanganku terkepal. Kau melihatnya---Oh sialan, palingkan wajahmu ! Jangan melihatku !

Bisakah kau mengatakannya dengan menangis, Sephy ?? Bisakah kau bertanya padaku kenapa aku begitu membencimu; dengan disertai isak tangis, Sephy ?? Bisakah kau menunjukkan bahwa kebencianku padamu sangat mengganggumu dan membuatmu kehilangan kepercayaan diri ? Bisakah kau memohon agar aku tidak membencimu lagi...??

"Tepat. Aku memang membencimu !" Aku mendengar diriku sendiri berkata; tetapi aku sendiri sadar bahwa suaraku gemetar; "Dan kau mau tahu alasannya ?! Aneh sekali !"

Kau diam. Kau menungguku meneruskan pembicaraanku. Kau tidak ingin memutusku. Tetapi ekspresi wajahmu masih sama dinginnya seperti biasanya.

Karena kau tidak punya perasaan.

Itulah sebabnya aku membencimu.

Kau tidak punya perasaan.

"Karena....," Lidahku bergerak; "Karena kau adalah orang sombong sialan yang sebenarnya tidak punya otak, Sephiroth. Kau menang karena keberuntunganmu. Kau menang hanya karena kau dibesarkan oleh Shinra sejak lahir--"

Kau mengangkat alis; "Genesis---"

Jangan memutusku ! Itu hanya memberiku alasan untuk semakin membencimu !

"-Dan karena setiap kali kita berhasil menyelesaikan tugas apa pun bersama, namamulah yang paling dipuji!"

"Aku berusaha lebih keras dari kalian." Kau membantah.

Bagus ! Teruskan ! Bantah aku ! Marahlah, Sephy !

"Kau hendak mengatakan bahwa aku dan Angeal tidak berusaha apa-apa ?! Kau hendak mengaku bahwa dalam semua misi kita kau sendirilah yang bekerja ?!"

"Tidak ! Tapi jelas-jelas aku bekerja lebih banyak dari kalian--"

"Karena kau merebut semuanya, Sephy ! Kau merebut semua kesempatan !"

"Kesempatan mana yang kau maksud ?!" Kau membantah lagi; "Pada saat kita dikirim dalam misi terakhir seingatku kau dan Angeal berjalan-jalan menikmati pemandangan di pagi hari, maka aku tidak punya pilihan lain selain segera melaksanakan tugas kita daripada menunggu kalian kembali sore harinya--"

"Oh, jangan ingatkan aku ! Jangan membela dirimu sendiri ! Kau ular licik ! Kau sengaja menyelesaikan segala sesuatunya saat aku dan Angeal lengah, supaya dirimu sendiri yang dapat nama--"

"Ketika aku melaporkan kepada Lazard mengenai hasil dari misi kita itu, apa aku menyebutkan bahwa kalian berdua sebenarnya tidak bekerja apa-apa dan malah pergi menikmati pemandangan di kota sekitar ?! Tidak, bukan ?!"

"Tidak usah sok suci ! Aku benci orang yang sok suci ! Kau sengaja melindungi kami hanya karena kau ingin membuat kami berdua malu dalam hati. Kau ingin menunjukkan bahwa kau adalah mahluk suci sialan---"

"Aku bukan orang suci, dan kau sendiri---"

Di luar keinginanku, aku sudah memegang Rapier-ku dan menyerangmu. Kau menangkisnya dengan pedang Masamune-mu.

Kau tahu sekarang kenapa aku membencimu, Sephy ?

Jangan tanyakan padaku kenapa. Saat kau bertanya, itu malah memberiku alasan lain untuk semakin membencimu.....

Kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Dunia ini terlalu sempit untuk kita berdua, Saudaraku.

The End

Hollander's Dirty Wish

SHINRA ACADEMY : HOLLANDER’S DIRTY WISH

Rating : M

Charas : Hollander, Genesis, Sephiroth.

Setting : Somewhere in the past; ShinRa.

Genre : (Apa aja deh, agak2 horor bagi saia – wkwkwkwk… xD)

Warning : Sedikit Yaoi yang bikin merinding, tapi nggak ada Lime/Lemon. Kalau nggak suka, silakan lewatkan chapter ini karena chapter berikutnya tidak berhubungan dengan yang ini.


Hollander menatap wajah seorang pemuda yang sedang tidur di atas dipan di ruangan labolatorium-nya. Wajah itu begitu memukaunya. Penuh dengan daya tarik duniawi. Bibir yang sedikit terbuka seolah menantang siapa pun untuk melumatnya. Hollander mendekat, mengawasi wajah si pemuda lebih dekat lagi. Sekarang dia bisa tenang-tenang mengawasinya. Jika sepasang mata pemuda itu membuka; menampakkan bola mata biru-kelabu yang indah itu; maka Hollander takkan berani lagi memandangi wajah itu lama-lama.

Sebenarnya sayang sekali Hollander tidak bisa menatap sepasang mata biru-kelabu yang cantik milik si pemuda yang sedang tertidur ini. Mata itu; Hollander mengingatnya; begitu hidup. Begitu penuh daya pikat duniawi. Begitu menantang. Penuh aroganisme dan kecongkakan, tetapi begitu indah.

Perlahan sang profesor tua mengulurkan tangannya. Jemarinya menyentuh pipi si pemuda yang sedang tidur ini. Pemuda itu tidak merasakannya. Oh tentu saja tidak. Obat tidur racikan Hollander memang keras. Sang profesor tersenyum sendiri.

Burung merak merah; Pikir Hollander sambil mengagumi kecantikan si pemuda yang sedang tidur di dipannya. Pemuda itu adalah SOLDIER Kelas Pertama; Genesis Rhapsodos; mahluk yang bermain dengan api laksana burung phoenix. Tetapi saat ini Genesis sama sekali tidak berbahaya, sebab pengaruh obat tidur jelas membiusnya.

Hollander menikmati menyentuh kulit wajah Genesis yang putih bersih, kemudian ke bibirnya yang sedikit terbuka. Perlahan Hollander memasukkan jari telunjuknya ke mulut Genesis; mendorong bibir itu membuka. Telunjuk sang profesor terus masuk ke dalam mulut sang SOLDIER. Hollander menutup mata; membayangkan SOLDIER Kelas Pertama itu menghisap jarinya.

Kemudian sang profesor membuka mata lagi, menatap kembali wajah cantik yang sedang tertidur itu; seakan tidak ada di dunia ini yang bisa membangunkannya. Bahkan ciuman sekali pun.

Sang profesor menarik kembali jarinya dari mulut Genesis. Kemudian profesor itu membungkuk; mendekatkan wajahnya ke wajah Genesis; sampai dia bisa merasakan nafas pelan sang SOLDIER yang tertidur.

Genesis terlalu menarik; Pikir Hollander; Sangat—sangat—menantang. Membuat siapa pun merasa tertantang untuk memilikinya; menyentuhnya; menundukkannya…. Tetapi tentu saja tidak akan ada yang bisa berhasil, sebab Genesis adalah SOLDIER Kelas Pertama yang terhebat setelah Sephiroth…..

Dan Angeal.

Setara dengan Angeal.

Hollander mengamati wajah Genesis dari dekat; membayangkan apakah Angeal pernah menikmati bibir si rambut merah itu. Angeal; putranya tersayang. Putra tunggalnya yang baik, yang tidak (belum) tahu bahwa Hollander adalah ayahnya.

Apakah putra tunggalnya; Angeal; pernah menciumi bibir si rambut merah ini… atau malah mungkin lebih dari itu ?

Hollander sudah sering memperhatikan keduanya dari jauh sejak keduanya tiba di ShinRa Building ini. Bisa dikatakan Genesis-lah yang lebih dominan. Jadi.. apakah bibir si rambut merah ini pernah memaksa mencium bibir Angeal..?

Hollander paham sifat keduanya. Kalau ada sesuatu pernah terjadi di antara Angeal dan Genesis; itu semua adalah upaya Genesis. Mahluk berambut merah ini begitu liar, penuh nafsu duniawi, sekaligus penuh daya pikat yang menggairahkan.

Jari-jari Hollander bergerak ke leher Genesis.

Mahluk ini adalah ciptaanku; Pikirnya; Ciptaanku yang gagal. Tentunya saat ini mahluk malang ini tidak pernah mengira bahwa dirinya hanyalah sebuah ciptaan yang gagal. Hollander tersenyum. Jari-jarinya kini melepaskan pelindung bahu kiri Genesis, lalu pelindung bahu kanan, kemudian perlahan menanggalkan jubah merah Genesis.

Hollander meletakkan jubah merah itu di lantai, lalu tangan sang profesor bergerak ke ban pinggang sang SOLDIER yang tertidur.

Mahluk pongah yang malang; Batin sang profesor lagi; Burung merak. Mahluk ini belum sadar apa yang akan menimpanya.

Sang profesor menggeleng prihatin. Bukan karena kasihan pada monster yang sedang tertidur ini, tetapi karena menyesali kegagalannya. Angeal; putranya; adalah sesuatu yang lebih sempurna ketimbang monster berambut merah ini. Tapi sama saja. Baik Genesis maupun Angeal; keturunan Project-G yang diciptakan Hollander ini; tidak pernah bisa menyamai hasil dari Project-S ciptaan Hojo sialan itu.

Genesis mengeluarkan bunyi rintihan pelan.

Hollander tersentak dan buru-buru menarik tangannya dari kulit sang SOLDIER. Tentunya si profesor tua ini tidak mau ambil resiko sang SOLDIER menyadari apa yang sedang terjadi. Tetapi untunglah rupanya SOLDIER itu belum bisa terbangun dari tidurnya juga. SOLDIER itu hanya merintih pelan sedetik lalu kembali terlelap; memberi kesempatan pada Hollander untuk kembali menyentuhnya.

Hollander tahu persis siapa yang diinginkan oleh monster ciptaannya ini. Memang sudah takdirnya. Memang sudah ditanamkan dalam darahnya. Bahkan jika monster itu berusaha untuk mengelak pun akan sia-sia. Sebagai ciptaan sulung dari Project-G; dalam diri Genesis secara otomatis menyukai Sephiroth; mengharapkan Sephiroth yang merupakan ciptaan tunggal dari Project-S saat ini. Hampir seperti Adam dan Hawa. Hampir bisa diistilahkan bahwa Genesis diciptakan dari tulang rusuk Sephiroth; tepatnya sel Jenova yang berada dalam tubuh Sephiroth.

Keberhasilan Hojo, dan kegagalan Hollander.

Sephiroth bahkan tidak mau membalas perasaan Genesis; tidak perduli bagaimana indahnya fisik Genesis. Menurut pengamatan Hollander selama ini, Sephiroth agaknya cukup baik pada Angeal; mahluk kedua hasil keturunan Project-G. Tetapi jelas bukan berarti Sephiroth jatuh cinta kepada salah satu pun di antara Genesis maupun Angeal. Hanya saja sebagai seorang sahabat atau kakak; Sephiroth agaknya lebih menyukai Angeal daripada Genesis.

Tentu saja; Pikir Hollander. Angeal memiliki budi pekerti yang baik. Dan Angeal adalah ciptaan yang lebih sempurna ketimbang Genesis.

Meskipun begitu; Hollander tahu bahwa keindahan yang dimiliki kedua monster ciptaannya bukan hasil kreasi tangannya. Itu adalah pemberian Gaia. Keindahan fisik yang didapat secara biologis. Begitulah darimana Angeal bisa mendapatkan rambut hitamnya yang tebal bergelombang. Rambut yang mirip dengan ibu biologis Angeal; yaitu Gillian.

Istri Hollander. Istrinya yang sah hingga saat ini; yang ditinggalkannya di desa Banora. Hollander meninggalkan istri dan anaknya demi mengabdi kepada ShinRa.

Bicara soal Gillian, sebenarnya ada bagian-bagian dalam diri Genesis yang juga mirip dengan Gillian.

Tentu saja.

Sel Jenova; disuntikkan lebih dahulu kepada Gillian. Kemudian dari situlah sel Gillian disuntikkan kepada si bayi tabung yang sekarang sudah menjadi manusia dewasa di depannya ini. Ciptaan yang tidak sempurna. Monster. Meskipun begitu; bayi tabung juga dihasilkan dari persilangan sel sperma dengan sel telur manusia, hanya saja bukan secara normal. Orang tua biologis Genesis adalah Kepala Desa Banora dan istrinya. Sang Kepala Desa memang sudah merupakan abdi setia ShinRa dan menerima bayi yang diberikan padanya, meskipun awalnya istrinya agaknya jijik dengan si bayi.

Kemudian dari Gillian sendiri secara langsung melahirkan bayi; yang tentunya menjadi ciptaan yang lebih sempurna dibanding yang pertama tadi. Bayi yang lebih normal ini adalah Angeal.

Entah darimana Genesis mendapatkan rambut merahnya; sebab baik Gillian maupun orang tua biologis Genesis sendiri berambut hitam.

Sedangkan kedua adik biologis Genesis; Weiss dan Nero; memiliki proses kelahiran yang jauh lebih normal.

Tentu saja jika bicara soal fisik, memang Hollander mengakui bahwa monster berambut merah ini sangat sempurna; setidaknya saat ini; sebab kesempurnaannya ada batasnya dan dengan cepat akan menguap. Sayangnya itu juga akan terjadi kepada Angeal; tetapi dengan kondisi berbeda.

Sepasang mahluk Project-G; Genesis dan Angeal; masih belum bisa menandingi satu-satunya mahluk dari Project-S milik Hojo; Sephiroth; putra biologis Hojo sendiri dengan si cantik Lucrecia.

Hollander menghela nafas menyadari kenyataan itu. Kegagalannya. Dan lagi-lagi keberhasilan Hojo.

Diam-diam timbul harapan aneh di batin Hollander. Meskipun sepasang monster hasil kreasinya tidak bisa menandingi Sephiroth; dia berharap setidaknya salah satu bisa menjadi pasangan Sephiroth. Bukankah Genesis sangat serasi dengan Sephiroth ? Di seluruh ShinRa ini, siapakah yang bisa menandingi keindahan fisik Genesis ? Mahluk paling cantik di SOLDIER. Sayangnya itu tidak akan berlangsung lama. Dan ketika rambut mahluk ini memutih serta tubuhnya melemah; meskipun kulitnya tidak berubah; apa Sephiroth masih mau meliriknya ?

Yah, sekarang saja tidak. Apalagi nanti.

Hollander kembali membelai pipi si monster berambut merah yang sedang tertidur. “Kenapa kau tidak mau berusaha lebih keras ?” Bisik sang profesor; “Bukankah kau sangat menginginkan Sephiroth ? Kenapa kau tidak mau memaksa lebih keras ? Kau sangat menginginkannya; semua orang tahu itu. Kau membencinya sekaligus mengharapkannya. Kau iri padanya sekaligus mengaguminya setengah mati. Semua orang bisa melihatnya. Terpancar dari matamu, ekspresi wajahmu, gairahmu, kata-katamu, sikapmu, bahkan aku bisa melihat getaran kulitmu yang mendambakan untuk bersentuhan dengan kulitnya.”


Authoress : *Coughs* Itu menjijikkan. I need a break. Phew. Air. *gasp*

Oke, lanjut…..



Jari-jari Hollander menyentuh tubuh Genesis perlahan, dari ujung kepalanya; lalu rambutnya; lalu beralih ke wajah—kelopak mata yang tertutup, pipi, hidung, bibir yang sempurna, lalu dagunya. Kemudian leher dan terus turun…..

Hollander tidak pernah bisa mengerti kenapa putra Hojo menolak mahluk seindah ini. Memang sih; keindahan ini akan pudar begitu proses degradasinya dimulai, tetapi saat ini.. siapa di dalam nama Gaia yang bisa menandingi keindahan burung merak merah ini…?

Dengan frustasi Hollander teringat kembali kepada Hojo dan Lucrecia. Ya, pastilah Sephiroth mewarisi keangkuhan Hojo dan Lucrecia. Hati yang dingin milik Hojo dan Lucrecia, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa sel-sel dalam tubuh Sephiroth adalah pemberian Jenova. Yang paling menimbulkan frustasi adalah fisik Sephiroth yang sungguh mengingatkan akan ibu biologisnya yang cantik rupawan. Wanita dambaan Hollander; yang telah menolak Hollander untuk Hojo. Si cantik Lucrecia; wanita paling sempurna……..

“Kalau bukan Genesis,” Bisik Hollander pada dirinya sendiri; “Pilihlah Angeal, Sephiroth..!!”

Sialnya, tepat saat dia mengatakan kata terakhir, pintu ruangan labolatoriumnya terbuka. Hollander menengok dan nyaris terlompat menyadari siapa yang berjalan masuk.

“S-S-S-Sephiroth…?”

Sephiroth tentu saja tidak mendengar jelas ucapan Hollander mengenai “pilihlah Angeal” tetapi dia jelas tidak menyukai pemandangan yang dilihatnya. “Singkirkan tangan kotormu darinya !!!” Sephiroth langsung membentak. Pemandangan yang dilihatnya memang layak untuk membuat si pemilik pedang Masamune ini naik darah. Bagaimana tidak ?! Dia melihat sahabatnya tersayang (oke, mungkin bukan ‘tersayang’ tapi toh tetap sahabatnya) berbaring tak sadarkan diri di atas dipan labolatorium; tanpa mengenakan busana apa pun lagi; dan si tua Hollander berdiri di sisi dipan; membungkuk dan menyentuh tubuh sahabatnya itu. Walaupun Hollander tidak tampak bernafsu dengan tubuh yang dilihatnya, tetapi toh Sephiroth tetap tidak bisa menerima perlakuan seperti itu kepada sahabatnya !

Pedang Masamune nyaris menebas putus kepala Hollander jika Hollander tidak buru-buru membanting diri untuk tiarap sampai menabrak meja dan terguling ke sudut ruangan.

Dengan cepat Sephiroth menyambar kain selimut yang berada di kaki Genesis lalu menutupi tubuh sahabatnya itu, kemudian dia menghampiri Hollander yang tersudut. Pedang Masamune-nya terarah mengancam.

“Apa yang kau lakukan ??!” Bentak Sephiroth.

“S-S-S-Sephiroth-T-t-idak-a-ada-y-yang-k-kulakik-maksudku-kulakukan---” Hollander tergagap memandang sosok marah di hadapannya.

“Kau apakan dia ??!” Sephiroth membentak lagi; “Jawab yang benar !!”

“A-aaa-aku..me-me-memeriksanya……” Otak Hollander bekerja sementara dia memberanikan dirinya mengucapkan dalih; “D-dia demam ! A-aku mengecek s-s-suhu b-badannya…..”

“Benarkah begitu ?!” Tanya Sephiroth tanpa menurunkan pedangnya. Ekspresinya masih terlihat sangat murka.

“Y-yaaa….” Hollander mengangguk-angguk meyakinkan.

“Aku tidak merasa kau mengatakan yang sebenarnya !” Lanjut Sephiroth pula; “Sebab menurutku Genesis tidak akan membiarkanmu melepaskan seluruh pakaiannya begitu !”

“D-dia.. t-tertidur…..” Hollander membela diri; “A-aku m-melakukannya d-di-luar kesadarannya… se-sebab a-aku ha-harus m-mengecek suhu b-badannya…..”

“Tidak bisakah kau mengecek suhu badannya dengan menempelkan termometer pada lehernya atau semacam itu ?!” Balas Sephiroth; “Yang kulihat tadi sangat menjijikkan !”

“M-maafkan a-aku, S-Sephiroth……” Hollander buru-buru bertekuk lutut; “Tadi a-aku sa-sangat bingung.. m-maka aku berbuat b-bodoh….. Kau tahu kan, a-aku tidak bermaksud melakukan hal-hal yang diluar kesusilaan kepadanya……”

“Yang benar ?!”

“Sephiroth ! Kau tahu aku, kan… A-aku sudah tua, dan a-aku sudah mengabdi lama di ShinRa. Apa m-mungkin aku berbohong pada se-seorang SOLDIER Kelas Pertama sepertimu ?! Kau tahu sendiri; a-aku laki-laki. Aku t-tidak tertarik kepada sesama laki-laki !”

“Aku jelas tahu kau laki-laki, tetapi aku tidak yakin kau tertarik atau tidak kepada sesama jenis.” Gerutu Sephiroth; “Sebab di ShinRa ini semuanya bertingkah aneh belakang ini !”

“Sephiroth, ayolah……”

“Baiklah. Kita andaikan kau jujur. Tapi kenapa kau membius Genesis ?”

“M-memb-bius…?” Ulang Hollander kaget. Dia heran bagaimana Sephiroth bisa tahu dia telah memberi Genesis obat tidur.

“Jangan membodohiku, Profesor.” Sahut Sephiroth; “Aku kenal Genesis. Aku pernah beberapa kali bertanding dengannya. Level kekuatannya sangat tinggi; nyaris menyamaiku; dan orang macam kau takkan bisa menyentuhnya tanpa membuatnya terbangun. Sekarang ini kita berdua berbicara dengan suara keras dan berisik, aku heran kenapa dia tidak terbangun jika memang dia tidak dibius, sedangkan orang biasa yang bukan SOLDIER saja pasti terbangun kalau ada yang berisik di dekat tempat tidurnya.”

“A-a-aaaa…..” Sesaat Hollander hanya bisa tergagap lagi. Tetapi Masamune semakin mendekat ke lehernya, maka dengan cepat dia memberi alasan; “A-aku tidak me-membius G-Genesis….. Pasti a-asistenku tidak sengaja memasukkan o-obat tidur ke gelas yang ditujukan untuk Genesis…..” Sang profesor bersimpuh; “Tolonglah, General. Percayalah, aku tidak mungkin punya maksud tertentu terhadap Genesis; apalagi dia adalah SOLDIER Kelas Pertama ! K-kau tahu aku sudah lama berada di ShinRa dan a-aku cukup dipercayai oleh P-president ShinRa……”

Sephiroth diam sejenak. Mudah baginya untuk memotong kepala si tua di depannya ini. Tetapi dia tahu bahwa President ShinRa mempercayai si tua ini, dan jika dia membunuh si tua ini maka dia akan menimbulkan banyak tanda tanya dan rentetan penyelidikan mengenai motifnya membunuh dan itu malah akan semakin memalukan Genesis sendiri. Maka dia menurunkan pedangnya.

“Kalau sampai terjadi lagi, Profesor, aku tidak akan memberi ampun.” Ucapnya mengancam.

“B-baik….!” Jawab Hollander.

“Dan mulai sekarang setiap kali Genesis harus mengunjungimu untuk keperluan apa pun, aku akan memastikan aku menemaninya.” Lanjut Sephiroth.

“S-silakan.” Sang profesor mengiyakan.

“Berapa lama sampai pengaruh obat bius sialanmu lenyap ?” Tanya Sephiroth pula; “Berapa lama Genesis akan tidur ?”

“S-sekitar.. d-dua hari.” Sahut Hollander; “D-dia akan b-baik-baik saja begitu sadar. Ha-hanya obat tidur biasa, tidak akan ada efek samping.”

“Bagus. Kalau sampai dua hari dia belum bangun juga; atau jika dia bangun dalam keadaan tidak sehat; aku akan mencarimu lagi !”

“Y-yaa……”

Sephiroth yang sudah menyimpan kembali pedangnya; berjalan ke dipan lagi. Dia menyambar semua pakaian Genesis dan memakaikannya kepada sahabatnya itu tanpa berhasil membuat Genesis terbangun.

Hollander mengawasinya. Ekspresi Sephiroth tetap dingin, tidak ada perubahan; meskipun gerakannya memakaikan pakaian di tubuh sahabatnya tergolong lembut.

Hollander memberanikan diri bertanya; “K-kau.. menyukainya ?”

Sephiroth tidak menjawab. Dia menyelesaikan memakaikan pakaian kepada sahabatnya yang tertidur seperti boneka saja. Lalu dia mengangkat tubuh sahabatnya itu dan menggendongnya keluar tanpa menengok lagi.

Hollander menghela nafas. “Kelihatannya….” Pikirnya; “Harapanku sebenarnya akan tercapai. Hanya tinggal soal waktu. Sebetulnya anak Lucrecia menyukai monster ciptaanku itu, hanya saja dia berusaha lari dari perasaannya sendiri…. Menarik. Hojo juga pasti menyadari itu.” Perlahan dia bangkit; “Tapi anak Lucrecia itu.. wajahnya benar-benar mirip dengan ibunya !” Dia menghela nafas penuh kerinduan membayangkan Lucrecia.

Dia teringat alasan pertama Hojo dan dirinya mulai menciptakan project-project ini waktu mereka berdua masih muda; sebenarnya semua hanya demi cinta mereka kepada Lucrecia. Mereka berdua menghabiskan bertahun-tahun untuk memberi “hadiah” kepada Lucrecia; yaitu mahluk hidup campuran antara biologis dengan ilmu pengetahuan. Tetapi kemudian terjadi hal yang tidak menyenangkan dan Lucrecia dikurung dalam salah satu tabung eksperimen karena cinta Hojo dan Hollander kepada wanita itu surut dan bergantikan dengan cinta kepada ilmu pengetahuan. Mereka menjadi lebih mencintai project mereka daripada mencintai Lucrecia. Mahluk yang diciptakan oleh Hojo memiliki unsur “Yang” (Positif), sedangkan mahluk yang pertama kali diciptakan oleh Hollander memiliki unsur “Yin” (Negatif) meskipun yang kedua tidak.

The End



Authoress : Gua ngga tau Hollander naksir Lucrecia apa engga. Tapi di fanfic ini gua anggap aja begitu.. Hehe. Dan tentang Project-G adalah “pasangan” Project-S itu adalah bisa-bisanya gua.. xD

Crazy

SHINRA ACADEMY : CRAZY

Rating = K+, Charas = Sephiroth & Genesis R.

Setting = Seph, Gen, Ang; were in First Class SOLDIER together

Genre = Humor.

Summary = Just crazy…..


.

.

“Please, please, please, please !”

Sephiroth memutar bola mata. Dia menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya; menatap mahluk berambut merah yang sedari tadi membuntutinya kesana-sini seperti seekor anak anjing sambil mendendangkan; “Please… please….”

Ekspresi Sephiroth pasti ekspresi kesal, sebab Genesis langsung mundur selangkah sambil menyeringai dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada seperti orang memohon sambil berkata lagi; “Seph ? Ayolah ?”

Demi Gaia ! Sephiroth menahan diri untuk tidak segera mendaratkan bogem mentah di muka mahluk berambut merah satu itu. Entahlah kenapa Gaia menciptakan mahluk berambut merah itu memiliki pita suara yang cukup kuat. Selain untuk membacakan Loveless yang menimbulkan depresi aneh, pita suara itu ternyata juga berguna untuk berkicau tanpa henti----Berbicara; maksudnya. Tapi di telinga Sephiroth sudah hampir tak ada bedanya dengan burung yang sedang ribut mencicit.

“Genesis.” Kata Sephiroth; “Sudah kubilang kira-kira seratus kali; pergilah bersama Angeal saja !”

“Dan sudah kujelaskan juga kira-kira seratus kali,” Balas Genesis; “Angeal sudah punya janji lain besok. Kira-kira sepuluh orang anak didiknya sudah mengiriminya kartu Valentine untuk mengajaknya kencan.”

“Dan kau juga tentunya pasti sudah mendapatkan kira-kira dua puluh kartu ajakan kencan.” Jawab Sephiroth sejujurnya. Dia sadar bahwa Genesis memang *Coughs*-Hot-Coughs*. Tentu saja tidak berarti bahwa Sephiroth menyukai Genesis seperti seorang pria menyukai wanita. Harga diri Sephiroth terlalu tinggi untuk bisa jatuh cinta pada sesama laki-laki; termasuk si rambut merah di hadapannya ini yang memiliki sosok feminim dengan sepasang mata biru keabu-abuan yang memancarkan segala pancaran daya tarik duniawi dan tampak menantang.

Menantang orang untuk mendekatinya, memilikinya, mencintainya.

Sephiroth buru-buru menepiskan pikiran gilanya.

“Aku memang sudah mendapatkan banyak ajakan.” Sahut Genesis; “Tapi hanya kau yang kuinginkan, Sephiroth !”

“Bisakah kau pelankan suaramu ?! Nanti orang-orang yang mendengar bisa mengira kau ini homosex !” Gerutu Sephiroth.

Tapi, demi Gaia, Genesis malah menjawab dengan kalem; “Oh, aku tidak keberatan dianggap begitu.”

“Huh ?!?” Sephiroth menegas.

“Ah, tidak.” Si rambut merah menyeringai lagi; “Aku tidak bilang apa-apa. Nah, Sephiroth, maukah kau menerima ajakan kencanku untuk besok ? Kita bisa pergi ke Midgar, nonton bioskop, makan di restoran, lalu jalan-jalan ke taman hiburan atau apa saja, dan----dan……”

“Caramu mengatakannya membuatku merinding.” Gerutu Sephiroth lagi; “Songbird, pergilah bersama orang lain ! Aku tidak punya waktu untuk jalan-jalan besok.”

“Tapi a-aku kan hanya akrab denganmu dan Angeal !” Rengek Genesis; “Angeal sudah pasti tidak bisa menemaniku besok ! Hanya tinggal kau satu-satunya yang dekat denganku di dunia ini..!”

“Pergilah bersama kedua adikmu, oke ?!” Sephiroth menatap sahabatnya itu; “Kau punya dua adik, kan ?! Weiss dan Nero. Kau anak sulung. Sekarang kau berada duduk dalam posisi SOLDIER Kelas Pertama, dan kau berusia dua puluh lima, tolong berhentilah merengek begitu !”

Tetapi kemudian Sephiroth langsung menyesali perkataannya setelah dilihatnya Genesis tampak sangat sakit hati. Ekspresi kecewa tercermin di wajah si rambut merah itu; entah dibuat-buat atau tidak; yang jelas menjengkelkan Sephiroth.

“Oke ! Baiklah !” Akhirnya Sephiroth menyerah; “Aku akan pergi bersamamu besok, tapi aku tidak ingin kau menyebut itu sebagai Kencan, mengerti ?! Kata itu menakutkanku ! Anggap saja kita berjalan-jalan di hari santai sebagai seorang sahabat !”

“Baiklah. Setuju.” Genesis kembali tersenyum cerah; “Kau sebut saja apa pun namanya itu sesuai kemauanmu, dan aku akan menyebutnya sesuai kemauanku; oke ?! Besok aku akan menjemputmu ke apartemenmu jam sepuluh. Nah, sampai besok.” Dia bersiul-siul, membalikkan tubuh, lalu meninggalkan Sephiroth sambil kembali mengutip Loveless-nya.

Apa saja deh ! Pikir Sephiroth capek sambil mengawasi punggung Genesis yang menjauh; Yang penting akhirnya sekarang burung sialan itu pergi dari hadapanku ! Walaupun cuma untuk sementara…….

***

Alhasil; keesokannya; kira-kira pukul sembilan pagi; Sephiroth sedang berada di kamar mandi; bel pintu apartemennya sudah berdering dengan tak sabar. Dia terpaksa menghentikan mandi, membungkus dirinya dengan handuk, lalu keluar membukakan pintu. Genesis berdiri di depan pintu; jelas nyaris menekan bel sekali lagi dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya mendekap sesuatu yang nyaris tidak dipercayai Sephiroth.

Keduanya sama kagetnya ketika Sephiroth menarik pintu membuka.

Genesis kaget karena pintu dibuka dengan mendadak, lalu kaget melihat Sephiroth yang hanya berada dalam balutan handuk di pinggul. Sedangkan Sephiroth sendiri kaget melihat benda yang dibawa Genesis dalam pelukan tangan kiri si rambut merah itu. Satu boneka beruang besar dan satu kotak coklat.

Selama beberapa detik keduanya sama-sama saling pandang dengan kaget dan bingung. Lalu semu merah menghiasi muka Genesis dan dia menyapa; “Oh, hai……”

Sephiroth tersadar dari kagetnya. Dia meninggalkan pintu dalam keadaan membuka tanpa menyilakan tamunya masuk---toh sang tamu langsung melenggang masuk dengan santainya.

“Genesis.” Gerutu Sephiroth setelah Genesis masuk dan menutup pintu apartemen di belakangnya; “Kau bilang kau mau datang jam sepuluh. Ini baru jam sembilan.”

“Eh, baru jam sembilan ?!” Balas Genesis; berusaha terdengar polos dengan sia-sia; “Ohh… ternyata jam di apartemenku mati.”

Sephiroth menyumpah tak jelas. Dia berjalan kembali ke kamar mandi tapi sebelum dia masuk, Genesis sudah meletakkan boneka beruang dan coklat di atas kursi sofa lalu mengejar Sephiroth.

“Kau mau kemana ?” Tanya si rambut merah.

“Kamar mandi.” Jawab Sephiroth.

“Ngapain ?”

“Tidur.” Sephiroth memutar bola mata; “YA’ JELAS BUAT MANDI dong !!! Hanya Gaia yang tahu apa kau biasanya tidur di kamar mandi tapi yang jelas aku menggunakan kamar mandi untuk mandi dan keperluan normal lainnya, ngerti ?!?”

“Oh. Aku juga menggunakan kamar mandi untuk mandi dan keperluan normal lain, kok, misalnya untuk p----”

“Tidak usah disebutkan, Genesis !” Putus Sephiroth. Dia meneruskan langkahnya ke kamar mandi tetapi ketika dia sudah di dalam dan hendak menutup pintu, Genesis terang-terangan menahan pintu itu.

Sephiroth memelototi sahabatnya. Gaia yang agung ! Kerusakan macam apa sih yang ada di dalam otak si rambut merah itu !?!

Genesis menampilkan senyum yang menurut dirinya sendiri menawan tapi menurut Sephiroth membuat merinding.

“Kau mau apa ?” Tanya Sephiroth dengan nada sedingin mungkin.

“Um… A-aku…..” Sephiroth melihat muka Genesis memerah lagi; “Eh, begini, menurutku kau sangat bagus dalam balutan handuk itu. B-bagaimana kalau kita t-tidak usah keluar dan k-kita duduk-duduk saja disini sambil m-makan coklat dariku dan k-kau tidak usah mengganti p-pakaian lagi….?” Si rambut merah mengusulkan. Sepasang mata birunya menelusuri tubuh Sephiroth dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.

Selama beberapa detik Sephiroth tidak bisa mempercayai telinganya. Otaknya bekerja lambat-lambat mencerna kalimat-kalimat Genesis barusan. Dan ketika akhirnya dia sudah sadar dengan jelas bahwa apa yang didengarnya ini adalah kenyataan; Dalam nama Gaia yang Agung; dia tidak tahan untuk tidak menyentakkan pintu dari tangan Genesis sampai si rambut merah itu melepaskan pegangannya, lalu Sephiroth segera membanting pintu kamar mandi menutup tepat di depan muka Genesis dan menguncinya.

“Sephy !!” Didengarnya teriakan Genesis di luar.

“Jangan memanggilku begitu !” Bentak Sephiroth dari dalam; “Kau ini kenapa sih.. menakutkan banget !!”

“Kau tidak bisa menyalahkan aku !” Balas Genesis; “Aku pria berusia dua puluh lima tahun. Aku punya kebutuhan hormon yang tidak bisa kukendali-----”

“Kebutuhan APA ?!?” Sephiroth nyaris tidak bisa mempercayai pendengarannya.

“Tidak, bukan apa-apa !” Genesis menyerah.

Sephiroth segera meneruskan mandinya untuk menenangkan diri; membiarkan air dingin mengguyur kepalanya. Demi Gaia ! Apakah dia benar-benar mendengar kata “hormon” ??! Benar-benar mengerikan ! Dasar burung merak gila berwarna merah !

Baik Sephiroth maupun Genesis jelas memiliki ribuan fans; cewek maupun cowok; di dalam ShinRa maupun di luar ShinRa; di semua pelosok di Midgar, bahkan di semua kota di dunia ini. Sephiroth tidak bisa percaya bahwa Genesis bisa-bisanya mengucapkan kata mengerikan di atas di depannya.

Setelah selesai mandi, dia bertekad tidak akan membiarkan mahluk menakutkan berambut merah di luar melihatnya dengan hanya memakai handuk lagi. Dia mengenakan seluruh pakaiannya di kamar mandi, lalu membuka pintu setelah memastikan bahwa tubuhnya sudah terbungkus rapat oleh pakaian.

Dilihatnya Genesis duduk di sofa, di sebelah boneka dan coklat yang dibawanya. Wajahnya tampak kecewa dan sakit hati; menunduk dan tampak melamun.

Sephiroth menatapnya dengan nyaris tidak percaya. Seorang pria dewasa; SOLDIER Kelas Pertama; sedang merajuk di hadapannya ?! Mereka berdua kan seusia, tapi; demi Gaia; kenapa Sephiroth merasa dirinya tidak akan merajuk seperti anak kecil begitu sementara sahabatnya ini yang seumur dengannya terang-terangan sedang merajuk.

Yang lebih mengerikan lagi, Sephiroth menyadari dirinya mulai merasa bahwa Genesis sangat----manis..! Sephiroth belum pernah; dalam seumur hidupnya; tertarik kepada siapa pun; baik laki-laki maupun perempuan. Hatinya terlalu dingin untuk cinta, dan harga dirinya yang berlebihan membuatnya sulit melihat bahwa ada seseorang yang bisa layak menjadi pasangannya. Tetapi sekarang ini hatinya terasa sedikit bergetar melihat sosok sahabatnya yang padahal telah dilihatnya bertahun-tahun.

Dan telah bertahun-tahun juga Genesis selalu berusaha menarik perhatian Sephiroth.

Sephiroth memandangi wajah Genesis. Cantik; Pikirnya; Mata biru keabu-abuan itu seolah menawarkan tantangan; menawarkan petualangan penuh gairah. Bibir itu selalu seakan tersenyum mengejek; menggoda orang untuk melumatnya. Dan semakin diperhatikan Sephiroth merasa semakin tertantang. Sephiroth buru-buru memalingkan mukanya sendiri dan membalikkan tubuh tepat ketika Genesis mengangkat mukanya untuk menatap sang General.

Sephiroth berpura-pura sibuk membenahi sesuatu di lemari. Dirasakannya tatapan Genesis pada punggungnya. Kemudian dengan ngeri disadarinya bahwa mahluk berambut merah itu menghampirinya; berada dekat sekali di belakangnya sekarang.

“Seph ?” Tegur Genesis.

“Yeah ?”

“Ngg.. kurasa sebaiknya kita tidak usah jalan-jalan di luar ya ? Kita disini saja… duduk-duduk makan coklat dan menyewa film…..”

“Kau tahu kan kalau aku tidak suka coklat ?!” Sephiroth membalikkan tubuh, menatap sahabatnya itu; “Dan kurasa aku juga tidak suka nonton film. Nah, sebaiknya kita jalan-jalan di luar saja; menikmati sinar matahari.”

***

Jam dua siang, akhirnya Sephiroth mulai menyesali keputusannya. Mereka berdua berada di taman hiburan sejak jam sepuluh pagi tadi. Tentunya mereka sempat mampir ke restoran dulu untuk makan pagi. Di restoran, Genesis memaksa Sephiroth minum minuman beralkohol yang memusingkan (syukurlah Sephiroth memiliki tenaga yang cukup besar untuk menahan khasiat anggur yang diminumnya) dan kemudian setelah mereka berdua berada di taman bermain, Sephiroth nyaris tidak bisa mempercayai dirinya bisa berteman akrab dengan mahluk berambut merah di depannya ini.

Mahluk itu sekarang sedang memimpin jalan dengan riang sambil tetap berceloteh tanpa henti; membuat kepala Sephiroth terasa makin pusing. Sesekali mahluk berambut merah itu menengok untuk bertanya; “Kau mendengarkan kan, Seph ?”

“Yeah.” Geram Sephiroth sekali lagi tanpa benar-benar mendengarkan kicauan si burung berbulu merah tentang Loveless, tentang Banora’s White; apel di Banora (desa asal Genesis), dan tentang Zack Fair; seorang murid Angeal; yang jelas-jelas tidak disukai Genesis sebab Geensis terus menjelekkan Zack dalam semua ceritanya.

Kemudian sesekali Genesis akan memaksanya mampir ke stand ini atau itu tanpa benar-benar menginginkannya; seolah dia hanya berusaha membuat Sephiroth menikmati acara kencan terkutuknya ini. Mereka sudah mampir ke stand permainan tembak-tembakkan dan demi Gaia tentu saja SOLDIER Kelas Pertama bisa menembak dengan tepat; maka sebagai hadiahnya mereka memenangkan sebuah boneka babi besar berwarna merah jambu mengerikan yang sekarang dibawa dalam dekapan tangan kiri Genesis. Sebetulnya Genesis ingin Sephiroth yang membawakannya sepanjang jalan, tetapi Sephiroth sudah terus-terang menyampaikan keberatannya dalam nama Gaia yang agung dan bersumpah akan memenggal kepala Genesis detk ini juga kalau Genesis memaksanya berjalan kemana-mana dengan boneka babi di tangan.

Setelah dari stand permainan menembak Sephiroth sempat diseret ke stand gulali. Sephiroth sudah menegaskan belasan kali bahwa dia TIDAK suka makanan yang MANIS tetapi Genesis memaksa membeli dua gulali; satu untuknya satu untuk Sephiroth; dan mengatakan bahwa “Aku juga tidak suka makan gulali, tapi di taman hiburan ini semua orang berjalan dengan gulali di tangan maka untuk menghormati tradisi setempat maka kita berdua juga harus berjalan kemana-mana dengan gulali di tangan.”

Hanya Gaia yang tahu kejadian apa yang telah menimpa si brengsek berambut merah itu di masa kecilnya sampai mengalami kerusakan otak separah ini…… Mungkinkah dulu ibunya Genesis pernah tanpa sengaja membenturkan kepala Genesis ke tembok waktu Genesis masih bayi ?! Yeah, pasti begitu. Meskipun secara fisik tidak nampak ada memar, benjol, atau kerusakan lain; di dalam otaknya pasti ada kerusakan.

Maka begitulah. Sephiroth terpaksa berjalan sambil memegang gulali di tangan. Gulali jelek berwarna merah jambu. Sephiroth tidak bisa memutuskan mana yang lebih jelek; si boneka babi atau gula-gula sialan yang lengket ini.

Dia berjalan sambil menggerutu tak jelas, mengikuti Genesis. Dia sengaja tidak mau berjalan tepat di samping Genesis saking sebalnya.

“Seph !” Genesis menunjuk ke salah satu stand; “Lihat !”

Sephiroth menatap ke arah yang ditunjuk Genesis dan menghentikan langkahnya. “Genesis, kau berusia dua puluh lim----” Dia menggerutu, tetapi Genesis sudah memutusnya dengan menarik tangan Sephiroth.

“Ayolah !” Seru si rambut merah, setengah menyeret Sephiroth ke stand yang dimaksudnya: Stand penjual balon-balon berbentuk hati.

“Seph !” Genesis menatap sahabatnya setelah keduanya tiba di depan stand itu dan Sephiroth sekarang jelas-jelas merajuk. “Ayolah, Seph !” Bujuk Genesis; “Aku tahu kita sudah dewasa, dan aku sumpah kau takkan melihatku masuk ke dalam gedung ShinRa dengan balon di tangan ! Tapi ini adalah hari untuk bersenang-senang dan memikirkan segala sesuatu yang romantis bersama pasangan kita !”

“Disitulah letak kesalahannya.” Gumam Sephiroth tak jelas; “Aku BUKAN pasanganmu, songbird, dan kata ‘romantis’ membuatku merinding !”

Genesis tidak memperdulikannya dan sudah berkata kepada si Penjaga Stand; “Dua balon berbentuk hati… Jangan warna pink lagi, warna merah saja----aku lebih suka merah. Nah, ya. Dua. Satu untuk kekasihku ini-------”

“APA-mu ??!” Bentak Sephiroth yang mendengarnya.

Genesis memberinya tatapan polos yang kentara sekali dibuat-buat; “Apa, Seph ? Aku tidak bilang apa-apa.” Disodorkannya benang milik sebuah balon merah berbentuk hati jelek ke tangan Sephiroth yang mau tak mau menerimanya.

Jadi, begitulah. Sephiroth terjebak di taman hiburan bersama si Burung Bernyanyi berwarna merah, membawa balon dan gulali; serta dikelilingi oleh orang-orang di sekitar mereka yang semuanya adalah pasangan mesra.

Sephiroth berharap tidak ada seorang pun di antara fans-nya atau anggota ShinRa yang melihatnya saat ini. Tetapi ternyata Gaia sedang bersikap kejam terhadapnya, sebab ketika dia dan Genesis berhenti lagi di Stand limun untuk membeli minuman, terdengar suara yang sangat dikenal menyapa dari belakang mereka; “Hai, Sephiroth…? Genesis..?”

Dengan ngeri Sephiroth memutar tubuh dan melihat Lazard sungguhan berada di belakangnya.

Selama beberapa detik Sephiroth hanya mematung.

“Mr. Lazard !” Genesis menyapa; “Senang bertemu dengan Anda disini !”

“Eh, ya……” Pandangan mata Lazard jatuh pada boneka babi yang dipeluk Genesis dengan tangan kiri sambil memegang balon sekaligus. Gulali milik Genesis sudah habis dimakan, tetapi Sephiroth yang malang terpaksa membawa gulali miliknya kemana-mana sebab dia tidak suka makan manis.

Lazard seorang diri, tidak tampak bersama siapa-siapa.

Lazard memberi Sephiroth tatapan yang seolah mengatakan; “Aku tidak percaya aku melihat Sephiroth memegang balon dan gulali di taman hiburan!!”

Muka Sephiroth sudah memerah. Kemudian menjadi ungu campuran malu dan geram.

Melihat gelagat buruk Lazard buru-buru berkata; “A-aku… Eh, sebaiknya aku pergi dulu.” Lazard menyeringai; berusaha tidak menatap pada si Pemilik Pedang Masamune yang berambut perak yang agaknya sudah seperti mercon siap meledak kapan saja. Sementara si Pemilik Pedang Rapier yang berambut merah masih tenang-tenang saja; bahkan tampak menikmati ini semua.

“Oke, Mr. Lazard.” Genesis tersenyum kalem.

Lazard melambai pada Genesis lalu buru-buru meninggalkan kedua SOLDIER Kelas Pertama itu.

Sesudah Lazard menjauh, Sephiroth memutar tubuhnya menghadapi Genesis lalu berkata dengan nada sangat ditekan; “Aku. Mau. Pulang. Sekarang !!!”

“Nanti dulu, Sephy.” Genesis membalas tatapan Sephiroth, tetapi pandangan mata hijau Sephiroth benar-benar tidak berkompromi. Genesis mengalihkan pandangan; tidak berani membalas tatapan Sephiroth, tetapi dasar Genesis----walaupun matanya tidak berani melawan pandangan mata Sephiroth lidahnya masih bisa berkata lagi; “Oke, oke. Kita akan pulang… tapi setelah yang satu ini ! Satu ini saja, Sephiroth, please ?”

“Aku tidak mau minum limun apa pun !” Sephiroth membalas, mengira yang dimaksud Genesis adalah limun.

“Tidak, aku juga tidak mau limun. Rasa hausku mendadak lenyap.” Sahut Genesis dengan nada suara sepolos mungkin, tetapi tentu saja selalu dia gagal memberikan kesan polos entah pada nada suaranya maupun ekspresi mukanya.

“Kalau begitu apa maumu, songbird ? Cepat katakan ! Aku sudah capek !!”

Genesis menunjuk ke suatu arah. Sephiroth menatap ke arah yang ditunjuk. Tampak semacam anak sungai sempit yang arusnya tenang dan airnya jernih; jalurnya berliku-liku dan masuk ke dalam sesuatu bangunan gelap seperti terowongan. Di pangkal anak sungai sebelum terowongan tampak belasan perahu kecil berbentuk angsa ditambatkan oleh penjaga perahu.

“Apa itu ?” Sephiroth bertanya.

Genesis menjawab dengan takut-takut; “Terowongan Cinta-----”

“Terowongan APA ?!?!” Putus sang General.

“B-bukan apa-apa, Sephy !! A-aku janji, ini yang terakhir ! Setelah itu kita pulang..!! Aku janji !! Ayolah !! Kau tidak perlu berbuat apa-apa, hanya duduk di perahu itu lalu kita melewati terowongan dan keluar lagi di ujung sana ! Tidak sakit, kok !” Sahut Genesis cepat-cepat; “Kumohon….. General ? Sir ?”

“Baiklah !” Bentak Sephiroth lelah; “Ini yang terakhir ! Dan apakah kita bisa minta perahu lain selain perahu berbentuk unggas jelek itu ?”

“Tidak !” Genesis menyeringai.

Perahu itu sempit. Hanya cukup untuk dua orang dan meskipun Genesis bertubuh sangat kurus serta Sephiroth sendiri bertubuh ramping; mereka berdua terpaksa berdekatan. Genesis masih membawa balon dan bonekanya dan Sephiroth juga masih memegangi gulali dan balon. Yang menimbulkan rasa frustasi adalah tawa kikik dari si penjaga perahu saat Genesis menyampaikan maksudnya untuk menyewa satu perahu. Kikik itu mengeras ketika melihat Genesis duduk dengan Sephiroth, dan yang terkikik bukan hanya si penjaga perahu tetapi juga semua orang yang kebetulan melihat mereka.

“Pegangi ini sebentar.” Genesis menyodorkan balon miliknya ke tangan Sephiroth; “Sebentar saja. Tolong.”

Sephiroth terpaksa memeganginya, menyatukannya di tangan kirinya bersama balonnya sendiri dan gulali yang entah kenapa dengan bodohnya masih dia pegangi. Si boneka babi berada dalam pangkuan Genesis.

Sephiroth merasa risih. Perahu ini sempit, dia duduk di sebelah kiri dan bahu kanannya berimpitan dengan bahu kiri Genesis. Dia heran kenapa si mahluk berambut merah di sebelahnya tampak tenang-tenang saja, sementara perahu pun mulai dilepaskan dari tambatan dan mengalir mengikuti arus sungai yang pelan.

Perlahan tapi pasti mereka menuju ke arah terowongan……. Akhirnya mereka memasuki terowongan. Gelap. Sangat gelap. Awalnya Sephiroth tidak bisa melihat apa-apa karena gelapnya. Kemudian dirasakannya perahu mereka berdua berhenti. Masih gelap. Lalu mata Sephiroth mulai terbiasa…. Namun sebelum dia benar-benar bisa melihat jelas ke sekelilingnya, mendadak tanpa sempat dicegah mahluk disebelahnya melingkari punggungnya dengan tangan kiri; merangkulnya; sementara tangan kanan mahluk itu secara bersamaan bergerak ke dagu Sephiroth----memaksa wajah Sephiroth untuk menengok----dan mencium bibirnya….!

Jadi itulah alasannya kenapa mahluk itu menitipkan balonnya ke tangan Sephiroth. Supaya tangannya sendiri bebas.

Awalnya sang General terlalu shock untuk bisa bereaksi. Genesis mengambil kesempatan untuk memaksa bibir sang General membuka dengan bibirnya sendiri lalu memaksa memasukkan lidahnya ke dalam mulut sang General-------------

Detik berikutnya, yang didengar penjaga perahu penyewaan Terowongan Cinta serta semua orang lain di taman hiburan ini adalah sebuah ledakan keras. Terowongan Cinta meledak. Bersamaan itu dua sosok melompat ke udara dan terlihat cahaya-cahaya kilatan pedang.

“KUBUNUH KAU, Genesis Rhapsodos !!!!” Teriak Sephiroth; mengejar Genesis yang dengan gesit menghindar kesana-sini dari sabetan pedang Masamune. Rupanya kesabaran Sephiroth sudah habis total dan dia langsung men-summon Masamune di tangannya. Genesis segera men-summon pedang Rapier-nya supaya bisa menangkis Masamune yang berbahaya.

“T-Tenang dulu, S-Sephy----Maksudku; Sephiroth !” Seru Genesis; “A-aku kan sudah bilang.. aku pria berusia dua puluh lima tahun dan me-memiliki k-kebutuhan u-untuk m-menyalurkan h---”

“JANGAN COBA-COBA MENYEBUTKAN KATA ‘H’ ITU LAGI DI DEPANKU, Rhapsodos !!!!” Putus Sephiroth.

“----M-masalahnya k-kau c-cantik dan s-sexy sekali---Hey, hati-hati dengan pedangmu, Miss Masamune---”

“KAU PANGGIL AKU APA ????!!!”

Maka begitulah. Sephiroth ngamuk berat. Genesis akhirnya terpaksa terbang kabur dengan masih dikejar-kejar oleh Sephiroth. Entah bagaimana Genesis berhasil lolos dan selamat dari amukan sang General yang agaknya sudah tidak tahan untuk memotong tubuh si rambut merah itu menjadi dua belas potong (atau lebih). Keesokannya di ShinRa Building pun sama saja. Selama seminggu penuh Genesis yang malang terpaksa berusaha menghindari Sephiroth (sebab kalau kebetulan bertemu Sephiroth segera langsung menyabetkan Masamune-nya tanpa banyak omong lagi). Angeal dengan sia-sia berusaha mendamaikan mereka, dan secara aneh Angeal sudah langsung tahu apa yang telah terjadi; seolah dia sendiri pernah mengalami hal yang sama dengan Sephiroth sewaktu pergi dengan Genesis ke taman hiburan di hari Valentine tahun lalu. Pelajaran satu-satunya yang didapat oleh Sephiroth adalah: Jangan pernah mau pergi berkencan lagi seumur hidupnya !

The End.



Authoress: Maafkanlah leluconku yang tak lucu di atas xD…

Btw biarpun aku selalu mengatakan bahwa Sephiroth itu “cantik/sexy/menarik” dalam semua tulisanku, secara pribadi aku sama sekali tidak menganggap dia “cantik/indah/dan sebagainya”. Aku hanya bersikap sportif dalam tulisanku karena dalam dunia Final Fantasy VII Sephiroth memang dianggap paling sempurna. Lagipula dalam tulisanku di atas mengekspresikan pandangan Genesis; dan kita tahu Genesis mengagumi Sephiroth.

Secara pribadi, aku pun tidak menganggap Genesis itu “cantik”. Dia memang menarik, tapi tidak bisa dikatakan “cantik”.

***

We're Late!

SHINRA ACADEMY : “WE’RE LATE !”

Setting : Somewhere in the past; ShinRa Academy; when Genesis & Angeal were in 2nd Class

Rating : K.

Charas : Genesis, Sephiroth, Angeal.

Genre : General/Humor.

Disclaimer : All charas belong to Squeenix co.


“Angeal, rileks.” Gerutu Genesis.

Angeal hanya menggumamkan jawaban tak jelas dan melangkah lebih cepat lagi meninggalkan si rambut merah di belakangnya.

“Angeal !” Genesis mempercepat langkahnya dan berhasil menyusul sahabatnya itu sambil kedua tangan Genesis mengancingkan ban pinggangnya sendiri yang tadi belum terkancing karena mereka pergi dengan terburu-buru. “Angeal.” Dia meneruskan sambil meraba seluruh kancing bajunya sendiri untuk memastikan bahwa tidak ada kancing yang lepas; “Kalau sampai pakaianku terlihat tidak beres hari ini, aku akan menyalahkanmu !” Kemudian tangannya meraba rambutnya yang merah, menyisiri rambutnya itu dengan jari-jari tangannya yang lentik.

Angeal memutar bola mata. Dia mendengus, dan meneruskan langkahnya dengan lebih cepat. Genesis menyusulnya lagi. Kemarahan mulai terlihat di sepasang mata biru-kelabu Genesis. Si rambut merah itu paling tidak suka penolakan, paling tidak suka jika tidak mendapatkan perhatian.

“Baik ! Kau tidak suka berjalan bersamaku !” Bentaknya.

Bagaimana orang bisa bertahan menghadapi mahluk itu ?! Gerutu Angeal dalam hati. Kesabarannya habis. Dia berhenti berjalan untuk menengok menatap sahabatnya sejak kecil ini dan dia tidak tahan untuk tidak membentak; “Genesis ! Dengar ! Kita sudah diberitahu kemarin bahwa pagi ini ada rapat jam setengah sembilan tepat dan sekarang sudah jam setengah sembilan kurang tiga menit sedangkan kita masih belum mencapai ShinRa Building ! Terima kasih kepada Gaia karena aku memiliki sahabat yang menyenangkan dan disiplin sepertimu !!” Lalu tanpa menunggu jawaban; dan tanpa memperdulikan orang-orang di jalanan yang menengok pada mereka berdua karena ucapannya yang keras tadi; Angeal meneruskan langkahnya.

Dua detik kemudian Genesis kembali mengimbangi langkahnya.

“Jangan salahkan aku !” Balas sahabatnya itu sambil tetap berjalan merendengi Angeal; “Aku terlambat bangun karena aku tidak tidur semalaman, kau tahu; aku-----”

“Kau apa ?!? Kau membaca Loveless sepanjang malam sampai jam dua pagi dan---oh sekali lagi terima kasih Gaia---Kau juga membuatku tidak bisa tidur karena Loveless-mu itu !!” Tukas Angeal; “Aku heran aku belum membeli kapas untuk menyumbat kupingku sejak bertahun-tahun yang lalu !”

“Angeal Hewley !!” Seru Genesis dengan nada sakit hati yang jelas dibuat-buat; “Aku tidak percaya sebagai teman sejak kecil kau sanggup mengatakan kata-kata seperti itu padaku; sahabatmu satu-satunya ! Perkataanmu menghina Loveless yang sangat kusukai, temanku tersayang, tahukah kau aku sangat sakit hati----”

“Simpan dulu sakit hatimu, Genesis !” Angeal memutus saat dia mulai menyadari orang-orang di sepanjang jalanan sialan ini menengok pada mereka berdua sambil cengar-cengir dan menunjuk-nunjuk. Angeal merendahkan suaranya sambil tetap berjalan; “Orang-orang menatap kita !”

Genesis menengok ke sekelilingnya; menyadari bahwa orang-orang di sepanjang jalan Midgar ini menengok pada mereka berdua sambil bisik-bisik menertawakan. Tentu saja. Dua pria dewasa bertengkar seperti anak kecil dengan suara keras. Belum lagi kenyataan bahwa keduanya sudah terkenal sebagai SOLDIER Kelas Kedua dari ShinRa Co. yang termashyur.

Berbeda dari Angeal yang berpura-pura tidak menyadari sedang diperhatikan oleh orang-orang di jalanan, dengan terang-terangan Genesis membalas tatapan mereka lalu membentak; “Lihat apa kalian ?!?”

“Genesis !” Seru Angeal memperingatkan. Angeal sudah hafal watak Genesis. Pernah suatu kali saat mereka sedang duduk di SOLDIER Kelas Ketiga dan kelas mereka diwawancarai, Genesis nyaris membunuh reporter-nya setelah tanpa sengaja sang reporter mengatakan bahwa Genesis mempunyai wajah yang cantik dan feminim.

Dan tentu saja sekarang Angeal tidak ingin Genesis --- secara sengaja maupun tidak --- melukai orang-orang di jalanan.

Dia mengalungkan lengannya di lengan Genesis dan setengah menyeret si rambut merah itu kembali berjalan.

Cukup sukses. Genesis baru menyentakkan lengannya untuk melepaskan diri setelah mereka berdua tiba di pintu masuk ShinRa. Satpam sudah mengenal mereka berdua dan tersenyum pada Angeal yang membalas dengan ucapan selamat pagi. Sang Satpam tidak tersenyum sama sekali pada Genesis. Seluruh staff dan manajer di ShinRa sudah mengenal siapa Genesis: seorang pemuda yang sombong, angkuh, congkak, pemarah, penyendiri, emosional, dan bertindak dengan menuruti kata hati atau perasaan lebih daripada rasio.

Kemudian mereka harus absen dan Angeal sudah memutar bola mata lagi. Genesis mengambil kartu absennya sendiri dengan tenang dan menulis jam setengah sembilan kurang lima. Padahal sekarang jam setengah sembilan lewat sepuluh. Sudah sering begini. Genesis mencurangi waktu di absen mereka.

“Apa ?!” Dia berbisik melihat ekspresi protes di wajah Angeal; “Kau boleh tulis apa pun yang kau mau di kartumu sendiri, sahabatku, dan aku boleh menulis apa pun yang aku mau di kartuku sendiri !”

Angeal mendengus. Menulis jam yang sebenarnya berarti terang-terangan dia minta detensi; sebab sudah sekitar sepuluh kali dia (dan Genesis) terlambat bulan ini dan dia menulis yang sebenarnya sebanyak tiga kali (Sedangkan Genesis tidak). Berarti di kartu Angeal sekarang ada tiga kali terlambat, dan ini akan jadi yang keempat. Sialan. Demi Gaia. Angeal pun menulis jam setengah sembilan kurang lima; mengikuti jejak si iblis berambut merah.

Genesis menyeringai puas.

“Little bitch !” Bisik Angeal menyumpah tak jelas saat mereka berdua masuk ke lift.

“Apa ?” Genesis menengok; “Kau panggil aku apa ?” Agaknya dia benar-benar tidak mendengarnya dengan jelas.

“Bukan apa-apa.” Gumam Angeal.

Genesis angkat bahu.

Pintu lift terbuka dan mereka langsung menuju ruang rapat. Pintu ruangan itu sudah tertutup rapat.

“Jangan kuatir.” Bisik Genesis pada Angeal sebelum mengetuk pintu; “Biar aku yang mencari alasan jika ditanya. Lagipula Mr. Lazard adalah orang yang baik, dia tidak akan mempersulit kita.” Lalu si rambut merah itu mengetuk pintu.

Tidak ada jawaban. Dari dalam sangat hening. Memberanikan diri, Genesis membuka pintu tanpa menunggu jawaban sambil langsung berkata; “Mr. Lazard, maaf, kami--------”

Tetapi bukan Lazard yang berada di kursi pimpinan rapat di ujung meja.

Melainkan Sephiroth. Sephiroth sendiri. Sephiroth yang terkenal, Sephiroth the hero, Sephiroth yang di usia mudanya sudah menjadi General dalam SOLDIER, Sephiroth yang hebat, termashyur; pemilik pedang Masamune yang terkenal.

Peserta rapat ini; yang duduk mengelilingi meja panjang besar itu; juga bukan hanya SOLDIER Kelas Kedua atau Kelas Ketiga; tapi juga Kelas Pertama, dan sumpah demi Gaia semua mata mereka tertuju pada Angeal dan Genesis.

Bahkan Genesis pun jadi kehabisan kata-kata. Dia berusaha menemukan kembali suaranya, berusaha mengucapkan sesuatu, tapi pandangan mata hijau Sephiroth tertuju lurus padanya dan entah kenapa itu membuatnya salah tingkah.

Tidak ada ekspresi apa pun di wajah Sephiroth. Kemudian dengan ngeri Angeal menyadari bola mata hijau Sephiroth bergerak dari wajah Genesis, lalu ke Angeal (yang berada agak di belakang Genesis), lalu ke arah jam dinding di atas pintu yang masih dipegangi Genesis.

Angeal berharap jam itu mati. Gaia yang agung, tolonglah ! Sekali ini saja !

Sayang harapannya tidak terkabul.

“Setengah sembilan lewat lima belas.” Gumam Sephiroth.

Angeal merasa bisa merasakan lutut Genesis gemetar. Selama sedetik Angeal mengira Genesis akan lari keluar sambil membanting pintu kembali menutup. Tetapi tentu saja Genesis tidak akan melakukan itu. Mereka berdua adalah SOLDIER sekarang.

Tetapi walaupun tidak lari, Genesis masih tidak bisa bicara. Dia berusaha mengatakan sesuatu tapi yang terdengar hanya ucapan “Aa---” terbata-bata.

Sephiroth mengawasinya, menunggu.

Terpaksa Angeal membuka mulut; “S-selamat pagi, General, maaf kami terlambat.” Dia berusaha menjaga agar suaranya tidak gemetar. Bagus, sekarang dia harus mencari alasan, sebab kelihatannya Genesis yang biasanya hebat mengarang alasan kali ini tampak seperti mau pingsan. Otak Angeal berputar keras. “K-kami.. uh… terlambat karena pelayan di restauran tempat kami makan pagi tanpa sengaja me-menumpahkan sup ke pakaian Genesis sehingga dia harus pulang dan berganti pakaian dulu, dan a-aku menemaninya.”

Genesis langsung menengok pada Angeal yang sekarang tepat di sebelahnya. Wajah Genesis sudah merah padam bercampur pucat, tetapi kesadaran Genesis agaknya mulai pulih dan sepasang matanya memelototi sahabatnya itu seolah mengatakan pada Angeal; ‘Alasan paling tolol, Angeal Hewley, dan aku akan mencekikmu sampai mati begitu kita keluar dari ruangan sialan ini !!!’

Angeal membalas tatapan galak sahabatnya dengan pandangan yang mengatakan; ‘Habis mau bagaimana lagi, dong ?! Aku tidak pintar mencari alasan, dan kau; tuan berotak pintar yang katanya mau mencarikan alasan untuk kita; malah berdiri gemetaran dari tadi !’

Sephiroth berdehem, dan dengan muka semakin merah baik Angeal maupun Genesis kembali menatap pada sang General yang jelas tidak menikmati pertunjukan saling-tatap dari kedua bawahannya itu.

“Aku tidak senang diinterupsi pada saat aku sedang memberikan pengarahan.” Akhirnya Sephiroth berkata, sepasang matanya masih tertuju lurus pada kedua mahluk di pintu yang tampak sangat salah tingkah; “Dan keterlambatan kalian jelas telah menginterupsiku; selain kenyataan bahwa kalian tidak tepat waktu; entah dengan alasan apa pun-----Oh, berhentilah saling berpandangan begitu ! Lain kali pikirkan dulu alasan yang bisa kalian sepakati bersama sebelum mulai mengetuk pintu !”

Nada suara Sephiroth tetap tenang dan datar, tapi baik Angeal maupun Genesis merasa kata-kata itu seperti tangan yang menampar muka mereka.

Untunglah agaknya sang General cukup baik hati. Walaupun; sekali lagi; nadanya tetap datar dan ekspresinya tidak menunjukkan emosi apa pun, Sephiroth meneruskan; “Karena aku sedang fokus pada bahasan rapat kita dan aku tidak punya banyak waktu, kali ini kalian berdua kuijinkan masuk. Aku akan berbicara mengenai sikap kalian setelah rapat ini selesai. Sekarang duduklah !”

Mata Genesis dan Angeal segera menatap ke kursi-kursi di dua sisi meja panjang ruangan ini dan menyadari bahwa dua kursi kosong yang tersisa jaraknya berjauhan (padahal biasanya keduanya selalu duduk berdampingan). Yang satu diapit oleh dua SOLDIER Kelas Kedua; kelas mereka. Sedangkan yang satunya… berada di sisi kiri paling dekat dengan sang General dan bersebelahan dengan SOLDIER Kelas Pertama.

Sephiroth menunggu dengan tak sabar dan sedetik kemudian dia nyaris tidak bisa percaya bahwa kedua SOLDIER Kelas Kedua itu; kedua bawahannya itu; memperebutkan tempat duduk yang berada di antara Kelas Kedua. Sephiroth bisa mengerti kalau tidak ada yang mau duduk di sebelahnya. Dia tahu dia memang mengerikan. Tapi yang membuatnya nyaris tidak percaya adalah tingkah laku kekanakkan dari dua pria dewasa yang terlambat datang ini.

Kedua SOLDIER Kelas Kedua itu berlari bersamaan ke kursi yang diapit oleh dua teman sekelas mereka lalu saling menyikut dan mendorong sampai salah satu teman mereka hampir terjatuh.

“Cukup !” Seru Sephiroth; “Kau !”---Dia menunjuk Genesis; “Disini !!” Dia memberi isyarat agar Genesis duduk di kursi yang paling ujung dari sisi meja; yang berada paling dekat dengan Sephiroth.

Mau tak mau Genesis berjalan kesitu, membiarkan Angeal mendapat tempat yang lebih menyenangkan. Sephiroth mengawasi Genesis dan jelas menyadari bahwa si rambut merah itu menolak memandangnya; tapi ekspresi kemarahan mulai jelas terlihat di wajah si rambut merah.

Kemarahan yang tidak disembunyikan.

Si rambut merah itu menarik kursinya dengan kasar lalu membanting dirinya duduk dan menghela nafas jengkel.

“Bisa kita mulai ?” Pancing Sephiroth.

Anggota lain sadar bahwa pertanyaan itu ditujukan bukan pada mereka, maka mereka tidak memberi jawaban.

Genesis tidak mengacuhkan pertanyaan itu, sepasang matanya menatap ke sepasang tangannya sendiri yang diletakkan di atas meja dan ekspresinya jelas menunjukkan kemurkaan.

Angeal tidak tahan untuk tidak memperingatkan sahabatnya yang agaknya tidak sadar kepada siapa pertanyaan Sephiroth ditujukan. “Genesis !” Desis Angeal. Cukup keras di ruangan yang sunyi ini sehingga sekarang semua mata tertuju pada Angeal; kecuali mata Genesis sendiri.

Muka Angeal memerah.

Sephiroth menatap Angeal sekilas lalu kembali memandang Genesis yang masih menatap ke kedua tangannya sendiri sambil menahan marah. Saking marahnya si rambut merah tidak meyadari bahwa Angeal baru saja melakukan pengorbanan besar mempermalukan diri demi memanggil namanya.

Tetapi sedetik kemudian Genesis segera terlonjak dengan terkejut dan shock, sebab Sephiroth menggebrak meja sambil berdiri.

“Bisa kita mulai ?” Ulang Sephiroth. Nadanya jauh lebih tegas, lebih keras, dan lebih disiplin. Pandangannya lurus kepada Genesis.

“Y-ya, Sir.” Genesis lupa untuk marah saking shock-nya.

Sephiroth berjalan ke arah papan tulis yang memang telah disediakan di ruangan rapat ini dan meneruskan ceramahnya tentang perang yang telah terjadi selama bertahun-tahun ini. ShinRa dan Wutai.

Dia sudah menerangkan selama sekitar empat puluh lima menit ketika akhirnya dia dengan jengkel menyadari bahwa ada yang tidak mendengarkan. Dia berhenti berbicara, kembali menatap pada mahluk berambut merah yang sedang menunduk mengawasi kedua tangannya sendiri di atas meja sambil entah memikirkan apa; yang pasti ekspresi si rambut merah itu jelas menunjukkan ketidakpuasan.

Dengan ngeri Angeal melihat Sephiroth berjalan menghampiri Genesis sementara si rambut merah itu masih belum mau sadar dari lamunan. Selama dua detik Angeal merasa Sephiroth akan menarik kerah baju Genesis lalu menampar anak itu, tetapi syukurlah ternyata tidak. Sephiroth hanya berdiri diam di sebelah Genesis selama sesaat; menunggu reaksi Genesis.

“S-Sir ?” Akhirnya Genesis menyadari juga bahwa sang General sudah berada di sebelahnya dan memperhatikannya. Dia menengadah, membalas tatapan sang General.

“Ada yang ingin kau katakan ?” Balas Sephiroth.

“Apa ?”

“Kulihat agaknya ada banyak sekali keberatan di hatimu. Coba kau sampaikan satu persatu sekarang.”

Genesis melayangkan pandangan matanya pada Angeal selama beberapa saat, lalu menjawab; “T-tidak. Tak ada.”

“Kalau begitu maukah kau lebih berkonsentrasi lagi dan mendengarkan jika ada yang sedang berbicara di depan ?!” Kata Sephiroth pula; berusaha bersikap baik.

“Ya, Sir.”

Sephiroth kembali berjalan ke papan tulis. Dirasakannya pandangan si rambut merah di punggungnya. Tanpa perlu menoleh dia menyadari bahwa pandangan yang diberikan oleh Genesis adalah tatapan penuh kebencian. Ketika Sephiroth akhirnya sampai di papan tulis dan memutar tubuhnya untuk menghadapi bawahan-bawahannya yang duduk memandangnya; pandangan matanya dan pandangan mata Genesis bertemu, dan Sephiroth benar-benar melihat kemarahan dan kebencian yang tersirat.

Sephiroth kembali menerangkan. Kali ini Genesis memperhatikan, tapi terus dengan tatapan mata benci dan marah. Sephiroth menyadari itu, maka setiap dua puluh menit dia berhenti menerangkan dan membalas tatapan mata Genesis dengan terang-terangan sambil bertanya dengan nada kaku; “Ada pertanyaan ?”

Awalnya Genesis menggeleng, tetapi setelah terjadi selama dua kali dan Sephiroth dengan jelas menunjuknya; “Kau. Ada pertanyaan ?” Maka Genesis tidak menahan diri lagi, dia mulai memberikan komentar-komentarnya. Adu debat terjadi. Bahkan kemudian Genesis tanpa bisa menahan diri lagi mulai berani menginterupsi saat Sephiroth sedang meneruskan, melontarkan kritik-kritik atas penjelasan mengenai taktik perang sang General.

Mereka berdua berbeda pendapat. Dan seisi ruangan sadar bahwa walaupun taktik perang metode lain yang disarankan Genesis memang mungkin lebih sederhana; tetapi sangat menyolok bahwa selalu lebih kejam daripada semua metode Sephiroth. Seolah Genesis tidak akan segan mengorbankan nyawa penduduk dalam suatu desa demi kemenangan, bahkan tidak akan segan mengorbankan nyawa ratusan prajurit ShinRa sendiri demi kemenangan.

Entahlah apakah memang Genesis memiliki sifat yang kejam, ataukah hal-hal yang dia lontarkan saat ini dipaksakannya keluar hanya supaya demi bisa mengkritik Sephiroth.

Rapat ini berlangsung sangat lama karena kedua orang itu terus berbantahan. Sudah lewat jam dua siang dan mereka semua masih terkurung di ruangan ini. Angeal mulai lapar dan bosan dengan pertengkaran kedua orang itu. Dia berkali-kali menatap sahabatnya dengan nada memberi isyarat agar sahabatnya diam, tetapi Genesis tidak bisa berhenti kalau sudah memulai sesuatu.

Semua SOLDIER Kelas Ketiga yang hadir disini sekarang sudah bergerak-gerak dengan gelisah dan capek. Lapar, haus, serta kebutuhan untuk ke toilet. Tidak ada yang berani minta izin keluar untuk ke toilet sedari tadi; sebab melihat ekspresi sang General yang seperti orang sedang menjalani uji kesabaran.

Jam tiga siang dan Angeal merasa seluruh ototnya pegal dan kaku, tapi lagi-lagi mereka masih terkurung di ruangan ini; mendengarkan omong-kosong Genesis; sadistic little bitch; yang berusaha mempermalukan Sephiroth dengan sia-sia sebab sang General jelas lebih berotak. Angeal menyesal kenapa dia tidak pernah merusak pita suara sahabatnya sejak dulu (tentu saja kiasan) atau setidaknya menyumbat mulut sahabatnya itu. Dia melirik Genesis yang masih berbicara dan merasa bahwa dia ingin sekali menutup mulut itu dengan tangannya.

Setengah jam kemudian, sesuatu terjadi. Seorang SOLDIER Kelas Ketiga yang bertubuh kecil yang sedari tadi bergerak-gerak gelisah di tempat duduknya; mendadak miring dan terjatuh. Semua orang terkejut. SOLDIER kecil itu pingsan. Dengan sigap Angeal segera melompat bangun dan mengangkat tubuh si SOLDIER yang pingsan dari lantai.

“Bawa dia ke Prof. Hollander !” Seru Sephiroth, tampak terkejut. Angeal mengangguk dan menggendong anak yang pingsan itu keluar.

Kejadian itu cukup menyadarkan Sephiroth bahwa mereka semua sudah lelah. “Rapat selesai !” Dia melirik jam sambil berjalan kembali ke mejanya. Dilihatnya Genesis juga bergerak hendak bangun meninggalkan meja, maka dia berkata; “Kau. Dan temanmu yang tadi, datanglah ke ruanganku nanti sore setelah kalian cukup istirahat untuk membicarakan tentang tingkah laku kalian berdua pagi tadi !”

Genesis tidak menjawab, tapi sepertinya dia mengerti. Dia meninggalkan ruangan bersama SOLDIER yang lain.

Salah seorang SOLDIER Kelas Pertama masih berada disini. “Anak itu……” Dia berkata sambil menunjuk punggung Genesis yang menjauh; “Aku salah satu mentor mereka. Aku akan memberi pelajaran pada anak itu kalau kau mau. Namanya Genesis Rhapsodos, dan dia memang kurang sopan santun.”

“Big mouth. Lack of knowledge.” Gerutu Sephiroth sambil membereskan kertas-kertasnya di atas meja.

“Kau terlalu baik dengan meladeninya berdebat.”

“Oh ya ?! Aku hanya ingin membungkamnya, tidak kusangka dia sangat gigih. Semangat yang bagus sebenarnya.” Jawab Sephiroth pula, menumpuk kertas-kertas dan map-nya; “Nah, pergilah istirahat. Aku juga memerlukan istirahat.” Dia meninggalkan ruangan.

‘Tunggu, Sir !” Cegah sang SOLDIER Kelas Pertama; “Anda tidak ingin aku memberi pelajaran sopan santun pada anak itu ?”

“Aku akan melakukannya sendiri kalau aku mau.” Sahut Sephiroth tanpa berhenti berjalan menjauh.

Memang, tidak ada yang bisa berhasil menghasut atau menjilat Sephiroth, walaupun jelas semua orang di ShinRa berusaha melakukan itu.

***

Angeal mengawasi Genesis yang kali ini sibuk makan tanpa banyak protes padahal biasanya selalu saja ada yang bisa dikomentari Genesis tentang makanan di kantin keparat ini.

Si rambut merah itu tidak menaruh perhatian pada apa pun lagi kecuali makanan dan terlihat sangat capek serta kelaparan.

“Kau tidak akan selapar itu kalau kau tadi tidak mencoba berdebat dengan sang General.” Angeal menghela nafas.

“Sudah terlambat.” Jawab Genesis sambil makan; “Aku sudah berdebat dengannya dan sekarang aku sangat capek !”

“Menurutku kau tadi terlalu nekad.” Angeal menghela nafas.

“Nekad ?!” Genesis tertawa sinis; “Terima kasih atas dukunganmu, sahabatku yang baik hati.”

Angeal memutar bola mata.

***

Pintu ruangan Sephiroth diketuk. Si rambut perak itu melirik jam dengan kesal, tapi menahan diri lalu berkata; “Masuk !”

Pintu terbuka. Genesis masuk duluan diikuti Angeal di belakangnya.

“Anda memanggil, Sir ?” Tanya si rambut merah. Agaknya dia sudah lebih tenang dan tidak semarah waktu di ruang rapat. Rupanya kantin di ShinRa entah bagaimana hari ini cukup memuaskannya.

Hari sudah malam. Sebagian besar orang sudah pulang. Sudah jam setengah tujuh. Sephiroth sebenarnya sudah menunggu kedua anak itu sejak jam lima, tapi keduanya tidak muncul juga, maka akhirnya Sephiroth menyuruh salah satu staff untuk memanggilkan keduanya yang rupanya bersembunyi di perpustakaan.

Sephiroth mengamati ekspresi kedua mahluk yang sekarang duduk di hadapannya. Si rambut merah tampak tenang, bahkan tampak agak puas. Sedangkan Angeal tampak setengah geram (entah pada siapa) dan setengah merasa bersalah. Tidak perlu waktu lama bagi Sephiroth untuk menyadari kejadian yang terjadi: Genesis tidak menyampaikan pesan Sephiroth pada Angeal bahwa Sephiroth menunggu mereka. Genesis berpura-pura lupa (dan Angeal memang lupa sungguhan; sebab di awal rapat tadi pagi Sephiroth sudah menyampaikan secara langsung), dan ketika ada staff datang memanggilkan mereka barulah Angeal benar-benar teringat sementara Genesis pura-pura baru ingat.

“Berapa usiamu, Genesis Rhapsodos ?” Sephiroth bertanya dengan nada datar.

“Huh ?” Genesis tampak kaget.

“Aku menanyakan usiamu.” Jawab Sephiroth.

“Bukankah usiaku tercantum dalam data-dataku ?” Genesis balas bertanya.

“Aku ingin mendengarnya secara langsung darimu.” Kata sang General pula.

Mau tak mau Genesis menjawab; “Dua puluh dua.”

Sephiroth menghela nafas, “Kukira kau baru tujuh belas tahun.” Ucapnya kalem lalu meneruskan dengan nada setengah mengejek; “Tentu saja maksudku bukan wajahmu; tapi tingkah lakumu.”

Sekali lagi, Sephiroth membuat Genesis kehabisan kata-kata saking marah dan malunya. Mau tak mau Sang General merasa puas mengamati wajah Genesis yang merah karena malu sekaligus masam karena geram.

“General.” Tegur Angeal dengan nada agak tajam; “Sebenarnya ada apa Anda memanggil kami ?” Jelas sekali Angeal adalah sahabat yang baik yang tidak rela sahabatnya dipermalukan.

“Oh.” Sephiroth mengalihkan pandangannya dari wajah Genesis ke wajah Angeal; “Aku hanya ingin menyampaikan teguranku atas keterlambatan kalian tadi pagi, dan setahuku kalian sudah sering terlambat.” Dia mengeluarkan kartu absen Genesis dan Angeal dari laci mejanya; “Aku menyuruh orang membawakan kartu absen kalian padaku tadi sore.”

Angeal diam sejenak, menatap sang General yang membolak-balik kedua kartu absen itu. Entah kenapa Angeal memiliki firasat bahwa sang General sudah tidak percaya pada catatan hadir yang tertulis disitu, tetapi Angeal terlambat memperingatkan Genesis yang sudah berkilah; “Kalau Anda lihat baik-baik… saya baru terlambat sekali ini……”

“Yang benar ?” Tanya Sephiroth.

“Ya, a---” Genesis mencoba menjawab lagi tetapi Angeal sudah menendang kaki sahabatnya itu di bawah dan berkata duluan dengan cepat kepada Sephiroth; “Maafkan kami.”

Genesis mengaduh dan memelototi sahabatnya. Angeal berusaha menutupi suara mengaduh itu dengan berkata sekali lagi dengan sangat cepat tanpa membalas pandangan Genesis; “MaafkankamiGeneralkamitidakakanmengulanginya !” Tangannya menyikut lengan sahabatnya.

Agaknya sekarang Genesis sadar. Dia menatap Angeal, lalu menatap Sephiroth; “B-bagaimana kau bisa tahu ?” Dia menanyai sang General.

Kalimat yang berkesan kurang ajar itu membuat Angeal menendang kaki sahabatnya lagi di bawah.

“Aduh !” Seru Genesis; melompat bangun; “Angeal, aku----”

Angeal memberi isyarat dengan mengerling ke arah Sephiroth. Genesis segera duduk kembali.

Syukurlah Sephiroth tidak marah, tetapi juga tidak tampak terkesan dengan dagelan singkat dari sepasang sahabat itu.

“Apa semua orang di desa Banora seperti ini..?” Dia menggumam pelan.

“Maaf ?” Tanya Angeal.

“Oh, aku hanya bergurau.” Jawab sang General; “Dan untuk menjawab pertanyaanmu, Genesis, aku sadar bahwa catatan di kartu absenmu palsu karena aku melihat ada tiga kali terlambat dalam kartu Angeal sedangkan tidak dalam kartumu, padahal aku sudah dengar bahwa kalian selalu datang bersama, dan kalian berdua jelas melupakan petugas satpam pagi hari yang selalu melihat kedatangan kalian.” Dia berhenti sejenak untuk memperhatikan ekspresi gelisah Genesis, lalu meneruskan dengan tenang; “Tolong jangan buat aku berpikir bahwa kalian berdua baru duduk di SOLDIER kelas tiga, Genesis Rhapsodos dan Angeal Hewley. Itu pertama. Yang kedua, jangan mencoba melukai satpam yang kumaksud hanya karena dia mengatakan kebenaran di depanku. Kalau ada sesuatu terjadi dengan satpam itu dan keluarganya, kalian berdualah yang pertama akan kudatangi.”

“Baik, Sir.” Sahut Angeal formal meskipun mukanya merah padam karena malu dan merasa bersalah.

Sephiroth menatapnya; “Tolong awasi tingkah laku sahabatmu mulai sekarang, Hewley.”

“Baik, Sir.” Jawab Angeal dengan nada tak senang. Bukan tak senang karena apa, tapi karena Sephiroth mengucapkan itu seolah menganggap Genesis liar dan tidak sebijak Angeal sendiri. Angeal tidak pernah ingin dianggap mengungguli Genesis; dalam hal apa pun; oleh siapa pun.

“Dan mulai sekarang.” Tambah sang General; “Aku akan meminta Mr. Lazard mengganti sistem absensi dengan mesin sidik jari. Setidaknya itu lebih baik. Seharusnya ShinRa sudah memperbaiki sistem ini sejak lama, tapi sebelumnya memang tidak ada yang berani berbuat curang; sehingga selama ini kami bersedia mempercayakan setiap anggota untuk menulis sendiri jam hadirnya di kartu masing-masing. Selama ini kami menilai setiap anggota yang bisa masuk ke ShinRa berarti sudah cukup dewasa dan bisa jujur serta bertanggung jawab……”

Muka Genesis memerah. Dia menunduk; tidak berani menatap sang General dan tidak berani mengatakan apa-apa lagi.

Sephiroth diam sejenak. Kedua anak di depannya yang seusia dengannya ini tidak berani membalas pandangannya sekarang. Sebetulnya mereka bertiga seumur. Sephiroth hanya satu (atau beberapa) bulan lebih tua dari Genesis dan Genesis hanya satu (atau beberapa) bulan lebih tua dari Angeal.

Dia merasa bahwa kedua bawahannya itu sudah cukup mendapat pelajaran. “Baiklah, sekarang kalian boleh pergi.” Katanya; “Kurasa kalian tidak akan mengulanginya lagi besok.”

Angeal dan Genesis bangkit. Ketika Genesis mengangkat muka lagi untuk memandang Sephiroth sekilas sebelum mengikuti Angeal meninggalkan ruangan, Sephiroth menyadari tatapan mata kagum dan penuh cinta dari si rambut merah itu seolah sudah bertahun-tahun Genesis memang telah memendam perasaan itu kepada Sephiroth, dan kenyataannya memang begitulah yang sebenarnya…….

The End


Sleeping Beauty

SHINRA ACADEMY : SLEEPING BEAUTY

Rating : M, yaoi.

Charas : Hollander, Genesis, Sephiroth, Angeal

Setting : Somewhere in the past; ShinRa.

Genre : Romance

Warning : YAOI (without lemon)

Summary : Sephiroth talked about sex and love…..

.

.

“K-kau yakin ?” Hollander menatap SOLDIER berambut merah di depannya.

Anak malang; Pikir Hollander dalam hati dengan rasa sedikit iba; Sampai segitunya dia menginginkan Sephiroth !

“Apa aku harus bilang sampai seratus kali ?!” Bentak sang SOLDIER berambut merah; Genesis.

“Uh…..” Hollander ragu sejenak; “K-kalau sampai G-general Sephiroth tahu a-aku terlibat, kepalaku akan m-melayang…..”

“Dia tidak akan tahu !” Genesis tampak tak sabar; “Sudah kukatakan itu padamu belasan kali ! Kau tidak percaya padaku ?!?”

“B-bukan begitu !”

“Bagaimana kalau begini saja ?!” Genesis menodongkan pedang Rapier-nya yang merah membara ke leher si tua Hollander; “Kau selalu takut pada Sephiroth, kan ?! Kau tidak pernah takut padaku ?! Aku berani jamin pedangku sama tajamnya dengan Masamune miliknya ! Kalau kau tidak mau mengerjakan apa yang kusuruh tadi, kepalamu akan melayang di tanganku !”

“G-Genesis !” Hollander buru-buru menyoja; berusaha memadamkan emosi sang 1th Class SOLDIER; “B-bukannya a-aku tidak mau menurutimu…. Hanya saja.. re-resikonya besar untuk dirimu sendiri. K-kalau S-Sephiroth tidak mau---”

“Tidak usah banyak omong !!” Putus Genesis marah; “Aku tidak tanya pendapatmu !! Pokoknya buatkan saja apa yang aku mau !!!”

“B-baik !” Gerutu Hollander; “Resikonya kau tanggung sendiri, Genesis !”

Genesis tampak nyaris menggerakkan pedangnya untuk menebas kepala Hollander, maka Hollander buru-buru tutup mulut dan mengerjakan perintah anak itu. Tidak mudah, apalagi Genesis menunggu dengan sangat tidak sabar. SOLDIER satu itu berjalan hilir-mudik di labolatorium dengan ekspresi sangat tak sabar. Sesekali dia bertanya; “Sudah selesai ?” Dan itu membuat Hollander agak grogi, tetapi si tua berusaha mengerjakan sebaik mungkin.

Akhirnya selesai juga.

Hollander menuangkan cairan yang dikerjakannya ke dalam sebuah botol kristal kecil. Cairan itu berwarna hijau menjijikkan seperti lumut.

Genesis mendekat, mengulurkan tangannya untuk meminta botol itu.

Tetapi Hollander masih ragu memberikannya, dan dengan baik hati Hollander memberi nasehat terakhir; “Genesis, dengar. Mari kita bikin jelas sekali lagi untuk terakhir kalinya. Obat ini; seperti permintaanmu; akan membuatmu tertidur, dan tak ada seorang pun yang bisa membangunkanmu, kecuali…..” Hollander diam sejenak, lalu dengan mashygul meneruskan; “Ciuman Sephiroth di bibirmu !”

“Berikan saja botol itu dan tutup mulutmu !” Bentak Genesis.

Hollander memberikan botol itu ke tangan Genesis dengan rasa mashygul yang makin parah. Dalam hati dia merutuk; Darimana sih anak sinting ini bisa dapat ide gila begitu ?! Apa dia baru saja membaca dongeng Sleeping Beauty di perpustakaan dan dipikirnya taktik ini akan berhasil ?!

“Jangan minum disini, Genesis !” Tambah Hollander cepat; “Aku tidak mau Sephiroth tahu bahwa akulah yang membuatkanmu obat itu. Kau sendiri yang minta aku buatkan obat sinting itu.”

“Sinting ?!” Genesis tertawa; “Demi Gaia ! Sephiroth adalah laki-laki paling tampan di seluruh ShinRa !”

Hollander mengumpat tak jelas.

“Aku tahu jalan pikiranmu !” Kata Genesis pula; “Menurutmu Sephiroth tidak akan mau menciumku, bukan ?!”

“Yeah.” Gerutu Hollander. Dalam hati si tua membatin; YEAH. Jelas tidak mau.

“Aku adalah sahabatnya.” Genesis berkata lagi; “Tidak mungkin dia tidak mau menolong sahabatnya sendiri !”

“Kita doakan saja begitu.” Gerutu Hollander dengan pelan. Dalam hatinya dia menambahkan lagi; Setahuku kau sudah beberapa kali mencoba membunuh Sephiroth dalam sesi latihan, aku heran dia masih menganggapmu sahabatnya.

“Profesor ?”

“Yeah ?”

“Menurutmu siapa yang paling cantik dalam SOLDIER ?”

“Huh ?” Hollander mendengus.

“Jawab pertanyaanku !” Pedang Rapier terarah lagi ke leher Hollander; “Siapa yang tercantik disini ?”

Yang pasti bukan elo; Pikir Hollander. Di hatinya terbayang Lucrecia; ibu Sephiroth. Tapi tentu saja dia tidak berani mengatakan itu, maka dia menjawab; “Uuuhh… Cissnei sangat cantik meskipun usianya masih sangat kecil……”

“Aku bilang di dalam SOLDIER !” Bentak Genesis tak puas.

“Genesis, yang benar saja ! SOLDIER kan semua laki-laki !” Keluh Hollander dengan capek.

“Oke ! Siapa yang paling tampan di dalam SOLDIER ?”

“Mana kutahu, Genesis ?! Aku sudah terlalu tua untuk mengamati muka kalian satu-persatu.”

“Jangan bercanda, Profesor !” Genesis mendesak.

Anak ini gila; Pikir Hollander; Dan narcisnya minta ampun. Tapi di luarnya si tua menjawab dengan pasrah; “Aku tidak terlalu ingat wajah-wajah SOLDIER lain tapi menurutku kau cukup menarik, Genesis.”

“Cukup ?! Hanya cukup ?!” Genesis tampak tak puas.

“Genesis, aku capek !” Hollander mulai kesal; “Masih banyak yang harus kukerjakan ! Sebaiknya kau bawa obatmu ke kamarmu dan cepat minum sebelum Sephiroth keburu jatuh ke pelukan SOLDIER lain ! Aku akan mendoakan kebahagiaanmu !”

***

Maka, siang hari keesokannya, di ShinRa terjadi berita yang menggemparkan.

SOLDIER 1th Class; Genesis Rhapsodos; jatuh tidak sadarkan diri. Yang kasihan adalah Angeal, soalnya dia kelabakan banget.

“Apa yang terjadi ?” Tanya Sephiroth ketika Angeal masuk ke dalam ruangannya sambil menggendong tubuh Genesis yang tidak sadarkan diri.

Angeal membaringkan Genesis di atas meja sang General. “A-aku tidak tahu !” Angeal tampak sangat panik; “A-awalnya dia bilang dia bilang dia mau ke toilet, dan aku menungguinya di luar. Kira-kira lima menit kemudian dia keluar, dan kami kembali berjalan menuju Perpustakaan. Awalnya dia kelihatan baik-baik saja, tapi mendadak d-dia jatuh dan tidak sadarkan diri. Aku sudah berusaha membangunkannya tapi sia-sia !”

Tentu saja Angeal tidak tahu bahwa diam-diam Genesis meminum obatnya ketika berada di dalam toilet lalu membuang botolnya ke tempat sampah.

“Apa ada orang lain di dalam toilet itu ?” Tanya Sephiroth.

“Sudah kuperiksa. Tidak ada siapa-siapa !”

Sephiroth menyentuh dahi Genesis. “Sama sekali tidak ada tanda-tanda demam.” Ucapnya kuatir; “Dan tidak terlihat pucat. Apa semalam dia masih baik-baik saja ?” (Angeal dan Genesis tinggal bersama di satu apartemen).

“Yeah, semalam dia masih normal.” Sahut Angeal.

“Tolong panggilkan Prof. Hollander.” Kata Sephiroth pula. Tentu saja dia tidak tahu bahwa Hollander yang membuatkan obat tidur, tetapi karena doktor yang biasa menangani Genesis adalah Hollander, secara otomatis Sephiroth meminta dipanggilkan Hollander.

Angeal segera berlari keluar memanggilkan Hollander.

Tak lama, si tua itu datang bersama Angeal. Muka Hollander tampak pucat.

“S-S-Sephiroth…..” Hollander menyapa.

“Tolong periksa Genesis.” Kata Sephiroth; “Dia jatuh tak sadarkan diri dengan mendadak.”

“B-baiklah.” Hollander maju, menghampiri meja dimana Genesis dibaringkan. Dia memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan kiri Genesis lalu di lehernya. Kemudian si tua itu pura-pura mengeluarkan beberapa alat dari sakunya dan berpura-pura memeriksa dengan teliti. Setelah puas, dia menghela nafas.

“Cepat katakan, Profesor !” Seru Angeal.

Hollander berusaha tidak menatap Sephiroth dan menjawab Angeal; “Sepertinya Genesis menelan obat tidur---”

“Obat tidur ?!” Ulang Angeal.

“B-bukan obat tidur biasa, Angeal.” Lanjut Hollander; “Semacam obat tidur khusus. I-ini akan membuatnya tidur selamanya….”

“Apa ?!?”

“A-ada obatnya, kok ! A-aku kan belum selesai bicara ! D-dia bisa di-disadarkan dengan…..” Hollander nyaris tidak sanggup meneruskan.

Sephiroth dan Angeal menunggu.

“Dengan……” Hollander memalingkan muka.

“Dengan apa ?” Bentak Angeal tak sabar; “Katakan saja, Profesor !”

“K-kurasa dengan… ciuman…….” Cicit Hollander pelan.

Sesaat hening.

“Dengan apa ?” Sephiroth menegas; mengira dirinya salah dengar.

Hollander mengulang dengan segan; “C-ciuman dari o-orang yang dicintainya.”

Sekali lagi hening. Detik berikutnya Buster Sword sudah menempel di leher Hollander.

“Jangan bercanda, Profesor !” Gerutu Angeal.

“A-aa-aku tidak bercanda, Angeal !” Seru Hollander gemetar; “M-memang begitulah k-kenyataannya ! S-seperti dalam dongeng Snow White, Sleeping Beauty, semacam itu….!”

Sephiroth dan Angeal saling pandang. Sephiroth tampak bingung, sebab dia tidak pernah membaca dongeng seumur hidupnya (betapa malangnya…..).

“Kenapa harus dongeng keparat itu ?!” Gerutu Angeal pula; “Kita tidak hidup di negeri dongeng, Profesor !”

“M-mana kutahu, Angeal ?! Tanyakan saja p-pada Genesis !” Sahut Hollander.

Angeal memutar bola mata dengan tak sabar dan menarik kembali Buster Sword-nya; “Oke, kita andaikan saja ini benar ! Lalu bagaimana caranya membangunkan Genesis---”

“Kan aku sudah bilang; dicium oleh orang yang dia cintai !” Hollander mengumpat.

“Disitulah masalahnya ! Genesis tidak punya pacar !” Balas Angeal kesal.

“T-tidak punya pacar b-bukan berarti d-dia tidak diam-diam me-mencintai seseorang, A-angeal.” Ucap Hollander sambil melirik Sephiroth dengan sembunyi-sembunyi.

“Apa maksudmu ?” Tanya Angeal.

“G-Genesis sudah dewasa.” Sahut Hollander; “Pastilah diam-diam ada orang yang di-disukainya. Kau sebagai sahabatnya, apa dia tidak pernah menceritakan padamu isi hatinya, A-Angeal ?”

Angeal menggaruk kepala.

“Yeah, mungkin dia pernah menyukai seseorang, Angeal ?” Sephiroth akhirnya membuka mulut.

“A-aku tidak tahu….” Jawab Angeal dengan ragu; “Well, dia tidak pernah membicarakan perempuan---Maksudku; pernah, tapi tidak sering. Genesis agak terlalu tertutup dengan perempuan…..”

“M-mungkin….” Cicit Hollander pula; “B-bukan p-perempuan---?” Dan detik berikutnya Buster Sword sudah kembali menempel di leher Hollander, kali ini ditambah dengan Masamune.

“Apa maksudmu, Profesor ?!” Gerutu Angeal; “Tidak lucu !”

“A-a-aaa-ku kan h-hanya m-menduga-duga…..” Hollander gemetar; “S-singkirkan p-pedang k-kalian….”

Sephiroth dan Angeal menarik kembali pedang mereka.

“Demi Gaia !” Angeal tampak mashygul; “Apa yang harus kita lakukan sekarang..?! Adakah cara lain untuk menyelamatkan Genesis, Profesor ?”

Hollander menggeleng.

“Katakan padaku siapa yang pernah disukai Genesis.” Ucap Sephiroth pada Angeal dengan baik hati; “Aku akan membawa perempuan itu kesini, sekali pun misalnya perempuan itu sudah menikah.”

Hollander mendengus. “Jangan mengganggu ketentraman rumah tangga orang lain, Sephiroth !” Umpat si tua dengan pelan.

Angeal duduk dan berusaha mengingat-ingat dengan mashygul. “Kurasa dia pernah menyukai seorang wanita di desa kami dulu…..”

“Katakan alamat dan nama wanita itu !” Putus Sephiroth cepat.

“Masalahnya, wanita itu sudah mati, Sephy !” Balas Angeal setengah putus asa; “Kau tidak ingin Genesis berciuman dengan mayat kan ?!”

Sephiroth memutar bola mata dengan jengkel; “Jelas tidak !” Gumamnya.

“Kemudian….” Angeal masih berusaha mengingat-ingat; “Waktu kecil Genesis pernah memelihara anjing dan dia sangat dekat dengan anjingnya. Dia kehilangan harapan saat anjingnya meninggal….. Anjing itu betina, tapi sudah mati juga……”

Sephiroth mendengus; “Yang bener, dong, Angeal !” Dia tidak tahan untuk tidak membentak; “Aku capek nih !”

Hollander melirik si pemilik pedang Masamune dengan sembunyi-sembunyi, lalu menatap Angeal dan dalam hati si tua membatin; Nggak usah susah-susah, Angeal, orang yang dicintai Genesis ada di depanmu kok !

“Aku tidak tahu lagi siapa yang disukai Genesis !” Angeal tampak benar-benar putus asa sekarang.

Melihat itu Hollander memberi usul dengan baik hati; “Memangnya tak ada ya orang yang selalu dibicarakan Genesis siang dan malam ?”

Angeal tampak berpikir sejenak. “Ada sih…..” Jawabnya ragu.

“Siapa ?” Tanya Sephiroth cepat.

Angeal tidak menjawab.

“Angeal ?” Desak Sephiroth.

“Ugh…..” Angeal tampak semakin ragu. Dia memalingkan mukanya dari Sephiroth, tetapi sambil menjawab; “Itu kau sendiri.”

“APA ?!”

“Aku sudah mengatakan yang sebenarnya, Seph !” Angeal angkat bahu.

“Gila !” Umpat Sephiroth, merasa kepalanya pusing mendadak. Dia buru-buru duduk di kursinya di belakang meja. “Dia membicarakan aku hanya sebagai sahabat, bukan, Angeal ?!” Lanjutnya sambil memijit dahinya sendiri; “Pasti ada wanita yang dia cintai dalam hidupnya !”

Sebelum Angeal menjawab, Hollander berkata; “Kalau memang ada orang yang dibicarakan oleh Genesis setiap hari dari pagi hingga malam ya sudah pasti orang itulah yang dicintainya !”

“Jaga lidahmu, Profesor !” Hardik Sephiroth.

“Maaf, General.” Gerutu si tua; “Bagaimana kalau begini saja; kita panggil seluruh wanita muda di ShinRa Building ini, di Midgar, dan di Banora Village; lalu kita suruh satu-persatu mencium Genesis ?!”

Hollander langsung mendapatkan tatapan kemarahan dari Sephiroth dan Angeal sekaligus.

“Maaf.” Hollander nyengir; “Soalnya kita kan tidak tahu siapa yang disukai Genesis.”

“Mungkin dia tidak pernah mengatakannya padaku karena dia malu.” Angeal menghela nafas; “Bagaimana kalau kita tanya beberapa orang yang agak akrab dengannya di SOLDIER ?”

“Yang paling akrab dengannya kan dirimu.” Ucap Sephiroth.

“Yeah, tapi bisa saja dia grogi untuk bercerita tentang perempuan kepada sahabat terakrabnya dan memilih menceritakan hal itu pada orang lain.” Kata Angeal letih.

“Ya sudah. Terserah kau saja.” Sahut Sephiroth.

“Aku akan menanyakan pada beberapa orang. Kau tunggu disini, Seph.” Angeal bergegas keluar, meninggalkan Sephiroth dengan Hollander dan dengan Genesis yang sedang tertidur lelap.

Mau tak mau Sephiroth menatap Genesis yang terbaring di atas mejanya. Angeal sialan ! Kenapa Angeal membaringkan Genesis disini ?! Sephiroth jadi tidak bisa bekerja. Semua kertasnya tertindih tubuh Genesis. Yeah, Laptop-nya di meja samping memang masih ada, tapi bagaimana pun seseorang takkan bisa bekerja dengan tenang sementara ada tubuh tertidur di atas mejanya.

Apa burung merak merah ini benar-benar tidur ? Pikir Sephiroth. Diawasinya sepasang mata Genesis yang terpejam. Agaknya memang tertidur lelap; sangat lelap. Tampak damai.

Kalau sedang begini sebetulnya dia manis juga; Pikir Sephiroth pula; Sialan ! Kemudian disadarinya Hollander yang masih berada di ruangan ini mengawasinya dengan sembunyi-sembunyi.

“Ya, Profesor ?” Sephiroth menegur.

“T-tidak….” Hollander buru-buru menunduk.

Hening sejenak.

“G-General ?” Hollander akhirnya berkata lagi.

“Yeah ?”

“Anda ingin a-aku tinggalkan sendiri ?”

Sephiroth diam sejenak mendengar pertanyaan itu. Kemudian, di luar dugaan Hollander; Sephiroth menjawab; “Tidak.”

“T-tapi.. a-aku ingin kembali ke labolatorium-ku !” Rengek Hollander.

“Well, baiklah kalau begitu.” Sahut sang General.

Hollander buru-buru meninggalkan tempat itu dan menutup pintu ruangan di belakangnya; berharap Sephiroth segera membangunkan Genesis dan ini semua berakhir. Si tua kembali ke labolatorium-nya.

Setelah Hollander pergi, mau tak mau tatapan mata Sephiroth kembali jatuh pada sosok yang tertidur pasrah di atas mejanya.

Aneh. Kenapa seseorang bisa tampak begitu manis bila sedang tidur dengan damai begini ? Apakah karena di saat sadar orang itu memiliki kepribadian yang begitu buruknya..?

Pandangan mata Sephiroth jatuh pada bibir Genesis.

Bibir yang sangat menggoda. Sangat menantang. Sangat mengundang. Tidak heran Genesis memiliki begitu banyak penggemar; bahkan ada gosip bahwa setiap kali Genesis pergi ke bar banyak pria yang mencoba menggaetnya.

Bibir itu—mulut itu; yang selalu mengatakan hal-hal yang bertentangan dengan perkataan Sephiroth di dalam setiap adu debat mereka; sekedar hanya untuk memancing kemarahan Sephiroth. Entah kenapa. Sudah bukan sekali-dua kali Sephiroth dan Genesis bertengkar; bahkan nyaris selalu diakhiri dengan pertarungan yang hampir saling-bunuh jika Angeal tidak berusaha menghentikan.

Bicara tentang Angeal, pintu mendadak terbuka dan Angeal masuk. Ekspresi mukanya aneh, campuran antara geram dan putus asa.

“Angeal ?” Sephiroth menegur sahabatnya; “Kau sudah tahu siapa yang disukai Genesis..?”

“Tidak !” Jawab Angeal, tampak lebih condong pada ‘geram’ sekarang daripada ‘putus asa’.

“Katakan padaku.” Bujuk Sephiroth; “Apa yang terjadi ?”

“Oh, Seph !” Angeal menghampirinya dan duduk di depan meja; di seberang Sephiroth; sementara tubuh Genesis berbaring di atas meja di antara mereka berdua. “Kau tahu apa kata orang ?”

“Apa ?” Sephiroth menjaga nada suaranya tetap tenang. Dia tidak ingin panik. Kalau dia panik maka Angeal akan semakin panik. Sephiroth, Angeal, dan Genesis seumur. Sephiroth lebih tua satu (atau beberapa) bulan dari Genesis dan Genesis lebih tua satu (atau beberapa) bulan dari Angeal. Tapi dalam semuanya Genesis-lah yang paling banyak menimbulkan masalah bagi kedua temannya. Seperti sekarang ini.

“Mereka bilang…..” Angeal tampak ragu mengucapkannya; “Mereka pernah melihat dia bersama laki-laki.”

Sephiroth terdiam.

“Aku tidak bisa mempercayai gosip ini !” Angeal menggeleng; “Tapi semua orang yang kutanya mengatakan gosip yang sama. Aku tidak bisa percaya ! Genesis sangat normal di depanku !”

“Apa maksud mereka dengan kalimat dia bersama laki-laki ?” Tanya Sephiroth.

“Pada tahun pertama kami di ShinRa, suatu malam Genesis pernah pergi ke bar tanpa diriku karena aku tertidur saking kelelahan. Orang-orang mengatakan bahwa malam itu Genesis mabuk dan seorang pria setengah baya menggandengnya. Kemudian saat kami berada di 2nd Class SOLDIER kata orang Genesis pernah ke bar dan dalam keadaan tidak mabuk dia memaksa seorang remaja putra biasa untuk memuaskannya ! Lalu---”

Sephiroth tidak merasa ingin mendengar lanjutannya, tetapi Angeal sudah meneruskan; “Saat kami berada di 1th Class SOLDIER ada gosip bahwa Genesis berpacaran dengan seorang SOLDIER muda dari 3th Class.”

“SOLDIER muda dari 3th Class ?” Ulang Sephiroth; “Berarti orang itu masih ada disini sekarang ? Kau sudah bicara dengannya ?”

“Yeah. Dia masih di 3th Class. Masih kanak-kanak.” Gerutu Angeal; “Dia mengaku bahwa dia memang berpacaran dengan Genesis, tapi menurutnya Genesis-lah yang lebih dominan dan yang selalu menentukan kapan mereka berdua akan bertemu. Jika Genesis sedang tidak menginginkan pertemuan maka anak 3th Class itu tidak berani memintanya.” Angeal diam sejenak, lalu dengan frustasi meneruskan; “Dia bilang.. Genesis menyuruhnya---”

“Cukup ! Aku tak mau dengar !” Putus Sephiroth.

“Sephy, anak itu memiliki warna rambut yang nyaris sama sepertimu.” Kata Angeal pula.

“Oh ya ?! Dan apa artinya itu ?” Balas Sephiroth dengan nada tersinggung.

Angeal menghela nafas.

Hening sejenak.

“Kalau memang begitu bawa saja anak itu kesini.” Ucap Sephiroth; “Suruh anak itu membangunkan Genesis.”

“Seph--”

“Kita tahu tidak ada cara lain, kan ?! Kalau memang Genesis menyukai anak itu kenapa tidak kau bawa anak itu kesini ?!”

“Karena a-aku rasa.. G-Genesis akan lebih suka jika yang menciumnya adalah--”

Sephiroth jelas tidak ingin mendengar itu. Dia tidak mau mendengarnya. “Angeal..!” Putusnya dengan cepat; “Bawa anak itu kesini ! Sekarang !”

Angeal menatap Sephiroth. “Dengar, Seph !” Ucapnya; “Aku tidak mau berbohong lebih lama lagi. Sejak awal aku sudah curiga, tetapi aku menyimpan perasaan curiga ini. Kemudian setelah tadi aku mendengar dari orang-orang bahwa Genesis memang tertarik pada sesama jenis (dan juga lain jenis), aku sadar bahwa kecurigaanku benar--”

“Angeal Hewley !” Putus Sephiroth lagi, nada suaranya semakin cepat. Dia nyaris tidak memberi kesempatan pada dirinya sendiri untuk bernafas; “ Aku suruh kau panggil anak itu kesini !!”

Hening sejenak.

“Maaf.” Kata Angeal.

“Tidak. Akulah yang minta maaf.” Sahut Sephiroth. Dia merasa seperti telah membentak Angeal, padahal dia tidak pernah ingin membentak Angeal.

Angeal bangun; “Biar kupanggil anak itu.” Lalu dia keluar.

Sephiroth menghela nafas. Karena tidak ingin memandang Genesis, Sephiroth bangun dan berjalan ke dekat pintu; menunggu.

Tidak lama kemudian Angeal kembali bersama seorang anak berusia sekitar enam belasan; SOLDIER 3th Class (*Authoress : karakter OC). Anak itu tampak gugup dan gemetar; apalagi setelah melihat Sephiroth juga berada di ruangan ini.

“G-general….” Cicitnya. Seperti kata Angeal; anak itu memiliki rambut berwarna perak yang hampir sama dengan warna rambut Sephiroth.

“Abaikan aku dan lakukan apa yang harus kau lakukan.” Sephiroth memutar tubuh; membelakangi ruangan; menatap tembok.

Sephiroth tidak melihatnya, tapi dia tahu anak itu sedang berjalan menghampiri Genesis dengan gemetar. Angeal memberinya instruksi; “Kau hanya harus mencium Red general, dan ingat—hanya sekali—dan jangan coba-coba mengambil kesempatan !”

Sephiroth tidak perlu menengok untuk menyadari bahwa anak itu sedang membungkuk di atas wajah Genesis dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Genesis…..

Terasa seperti berjam-jam, bertahun-tahun. Terasa lama sekali. Sephiroth tidak tahan dan membalikkan tubuhnya----dalam waktu yang tidak tepat. Dia melihat dengan mata kepala sendiri sang SOLDIER 3th Class mencium Genesis…..

Selama beberapa detik yang terasa menyiksa dan seperti berjam-jam lamanya; Sephiroth merasa dadanya sesak. Seperti ada sesuatu yang menekan ulu hatinya dengan keras. Sangat menyakitkan.

“Cukup !” Syukurlah Angeal yang agaknya menyadari itu buru-buru menarik SOLDIER 3th Class itu mundur; “Tidak berhasil !”

“M-maaf…..” Wajah SOLDIER 3th Class itu memerah.

“Pergilah !” Kata Angeal.

Anak itu menurut dan pergi dengan terbirit-birit.

Angeal menatap Sephiroth. Sang white (silver) general memalingkan wajah. “Sekarang terserah padamu.” Ucap Angeal; “Tapi ini menyangkut Genesis. Aku bisa mengerti kalau kau tidak memiliki perasaan apa pun padanya. Meski begitu, bisakah kau melakukan ini demi membangunkannya..?”

“Kenapa tidak kau saja ?” Sephiroth balas bertanya.

“Seph, dia menyukaimu !”

“Kau sahabatnya.” Sephiroth angkat bahu; “Dan aku belum pernah berciuman seumur hidupku ! Aku tidak tahu bagaimana caranya.”

Angeal memutar bola mata.

“Kau selalu bersamanya.” Lanjut Sephiroth; “Kau kira aku buta, Angeal ? Kau kira aku tuli ? Aku tahu pernah terjadi sesuatu di antara kau dan Genesis. Kenapa bukan kau saja yang menciumnya sekarang ?”

Angeal tampak terkejut. “Terjadi sesuatu ?!” Dia mengulang.

“Demi Gaia.” Sephiroth menatap sahabatnya itu; “Aku tidak buta. Jangan pura-pura lagi. Kau dan Genesis pernah berhubungan sex. Mungkin itu sudah bertahun-tahun lalu; waktu kalian masih beranjak remaja; di Banora Village. Tapi aku tahu itu pernah terjadi. Keakraban kalian terlalu intim, dan cara kalian menatap satu sama lain.”

Angeal mengerjap. “Untuk seseorang yang belum pernah berpacaran seumur hidupnya kau termasuk cukup jeli, Sephiroth.” Gumamnya.

“Pengakuanmu membuatku semakin tidak bisa menciumnya.” Sephiroth berkata lagi.

“Kenapa ?” Tanya Angeal.

“Karena dia adalah milikmu.” Sahut Sephiroth pahit; “Dan aku tidak suka merebut kekasih sahabatku.”

Angeal tertawa kecil; “Benar-benar seorang Sephiroth, eh ?!” Dia menjawab; “Nah, masalahnya adalah kau tidak tahu hubungan seperti apa yang kumiliki dengan Genesis. Aku tidak akan kehilangan dia.”

“Maksudmu ?”

“Well… Sulit untuk kukatakan.” Angeal angkat bahu; “Tapi singkatnya kalau kau.. uh… menciumnya atau menginginkannya aku tidak akan merasa kau merebutnya dariku; jika itu maksudmu.”

“Aku tidak mengerti.”

“Jelasnya….” Angeal tampak berpikir sejenak; “Aku tidak menganggapmu sebagai musuh. Bukan berarti aku merendahkanmu. Yah, sulit kukatakan. Anggap saja bahasa lainnya adalah aku menerima kehadiranmu di dalam hubunganku dengan Genesis.”

Sephiroth diam sejenak, lalu berkata lagi; “Aku semakin tidak mengerti, dan rasanya aku jadi salah menangkap maksudmu, Angeal !”

Mau tak mau Angeal tertawa; “Jangan berpikiran yang aneh-aneh tentangku, Sephy..!”

“Kau memberiku ide untuk berpikiran begitu !” Gerutu Sephiroth; “Nah, sebaiknya kita jangan memperpanjang waktu. Ciumlah dia.”

“Sudah kukatakan,” Sahut Angeal sabar; “Kau yang harus melakukannya.”

“Tidak sebelum kau mencobanya sendiri !”

Angeal diam sejenak, lalu menjawab; “Kalau aku melakukannya, kau juga akan melakukannya setelah aku ?”

“Aku tidak yakin.”

“Seph, jangan pikirkan tentang harga dirimu dulu. Ini menyangkut Genesis. Dia bisa benar-benar mati kalau dibiarkan terlalu lama. Setidaknya, walaupun kau tak punya perasaan padanya; anggaplah yang kau lakukan adalah perbuatan untuk menyelamatkan nyawa seorang sahabat.”

Sephiroth ragu sejenak. Tapi akhirnya mengangguk; “Baiklah. Kalau memang ini bisa menolongnya.”

Hening sejenak. Tidak ada yang beranjak melakukannya di antara Sephiroth maupun Angeal.

“Sebenarnya aku lebih suka langsung kau saja yang melakukannya.” Ucap Angeal; “Sebab jika aku melakukannya lebih dulu sebelum kau; dan itu pasti sia-sia; sama saja kita menganggap dia semacam piala bergilir dan itu merendahkan martabatnya.”

“Masalahnya aku tidak bisa melakukannya sebelum dirimu.” Sahut Sephiroth; “A-aku belum pernah mencium seseorang……”

“Ayolah…..”

“Dan kenyataan bahwa dia lebih akrab denganmu. Kau sudah dua puluh lima tahun mengenalnya.”

Angeal memutar bola mata. Karena ini demi Genesis; sahabatnya; dia tidak mau membuang waktu lagi; “Baiklah. Aku akan duluan. Kau mau berpaling, Sephy ?”

Sephiroth memutar tubuhnya tanpa menjawab. Dia tidak melihat, tapi dia tahu apa yang sedang dikerjakan Angeal. Bayangan Angeal mencium Genesis seolah terlihat jelas di depan matanya. Ada perasaan aneh menjalar di hatinya. Cemburukah ? Tapi pada yang mana..? Ataukah rasa tegang karena sebentar lagi dirinya sendiri akan merasakan bagaimana rasanya mencium bibir seseorang ?

Sephiroth pernah menginginkan cinta. Pernah memaksakan diri mencintai seorang wanita, tapi gagal. Hatinya ini terlalu dingin dan tidak bisa dipaksa. Meskipun begitu, dia tidak pernah bermimpi bahwa ciuman pertamanya adalah dengan seorang pria.

Rasanya menjijikkan.

Dia nyaris membatalkan niatnya ketika Angeal menepuk bahunya dari belakang dan berbisik; “Sudah kulakukan. Aku akan keluar sekarang. Dan kau tidak perlu kuatir, aku takkan menceritakan tentang ini kepada siapa pun.” Lalu Angeal tersenyum padanya dan berjalan keluar.

Sephiroth mengawasi pintu ruangannya ditutup dari depan. Lalu dia membalikkan tubuh dan perlahan menghampiri Genesis. Dia memandangi sosok yang tertidur itu. Jelas, sosok ini bukanlah impiannya, bukanlah sosok yang dibayangkannya akan menjadi ciuman pertamanya.

Meskipun begitu, Genesis memang “cantik” ……

Mahluk paling rupawan dalam SOLDIER.

Jika sedang membuka sepasang mata biru-kelabu Genesis selalu penuh dengan cahaya kehidupan. Seolah menantang orang untuk menundukkannya. Keangkuhannya, kecongkakannya, segala emosinya yang membara. Menantang orang untuk memilikinya, namun tidak ada yang bisa benar-benar berhasil memilikinya. Bahkan bibirnya seperti menjanjikan kenikmatan duniawi.

Sephiroth berdiri di samping meja, membungkukkan tubuhnya ke wajah Genesis…. Dia bisa merasakan nafas teratur Genesis yang sedang tertidur.

Sangat damai.

Apa sebaiknya tidak usah dibangunkan ?

Burung api ini akan membakar apa saja di saat bangun……

Walaupun berpikir begitu, Sephiroth menempelkan bibirnya di bibir Genesis. Basah….. Bekas ciuman Angeal. Ada kemarahan yang aneh di hati Sephiroth menyadari bahwa bibir ini telah mencium beberapa orang lain berkali-kali.

Beginikah rasanya mencium bibir seseorang….?

Sephiroth memejamkan matanya, menekankan bibirnya lebih lagi pada bibir Genesis. Perlu waktu beberapa detik, kemudian dirasakannya bibir Genesis membuka dan memaksa bibirnya sendiri membuka juga, lalu dirasakannya sesuatu mendorong masuk ke dalam mulutnya. Lidah. Sephiroth membuka mata dan menyadari Genesis sudah bangun.

White general hendak menyentakkan kepalanya mundur, tetapi Red general mengulurkan tangan kanannya; menahan kepala Sephiroth, dan terus memaksa menciumnya; tepatnya mengajarinya caranya berciuman.

Beberapa detik Sephiroth membiarkan dirinya terlena dengan ciuman itu. Kemudian dia memaksa diri menyentak; melepaskan diri. “Kau sudah sadar.” Bisiknya.

Genesis diam sejenak. Sepasang matanya menatap wajah Sephiroth. Tangannya masih berada di belakang kepala Sephiroth dan membelai rambut perak itu.

“Bagaimana rasanya ?” Akhirnya Red general berbicara.

“Apa ?”

“Ciuman pertamamu.”

Hening sejenak.

“Cukup aneh.” Jawab Sephiroth sejujurnya.

“Itu ciuman pertamamu, bukan ?” Sahut Genesis; “Aku bisa merasakannya. Aku bisa melihatnya.”

“Dan itu pasti bukan pertamamu.” Sephiroth membalas, menegakkan diri.

Genesis bangun, duduk di atas meja; sementara Sephiroth berdiri di sampingnya.

“Aku bisa mengajarimu lebih banyak.” Ucap Genesis.

Sephiroth menatapnya. Pandangan mata Genesis kali ini berbeda dengan biasanya. Pandangan mata itu tampak memohon.

“Dengan siapa kau pertama kali belajar berciuman ?” Tanya Sephiroth tak tertahankan.

“Angeal.” Sahut Genesis tanpa malu-malu; “Dan saat itu adalah saat pertama kali untuknya juga.”

“Kau terlalu liar, songbird.” Kata Sephiroth pelan; “Sama sekali bukan tipe-ku.”

“Kalau kau mau menjadi milikku, aku akan mencoba berusaha mengendalikan diri.” Jawab Genesis.

Kembali hening sejenak.

“Lalu bagaimana dengan Angeal ?” Tanya Sephiroth pula.

“Angeal….. Jangan kuatirkan dia.” Genesis mengulurkan tangannya; menarik lengan baju Sephiroth; “Menurutmu aku harus bagaimana dengan dia ? Kau yang beritahu aku, moonbeam.”

“Apa kau punya perasaan terhadapnya ?” Sephiroth membiarkan Genesis memainkan lengan bajunya, kemudian Genesis merebahkan kepala di lengan Sephiroth. Genesis tidak menjawab.

“Kau sengaja kan dengan kecelakaan tertidur ini, songbird ?” Sephiroth akhirnya menyadari; “Kau sudah merencanakan ini ? Dan aku masuk dalam perangkapmu tanpa kusadari ! Siapa yang membuatkan obat tidur untukmu ? Hollander ?”

“Kau cerdas, Sephy.” Genesis tersenyum tanpa merasa bersalah. Dia masih memeluk lengan Sephiroth dan menyandarkan kepalanya di lengan itu.

“Kau membuatku takut.” Gerutu white general.

“Oh, aku tidak bermaksud begitu.” Jawab Genesis santai.

Kembali hening sejenak. Akhirnya dengan pelan Sephiroth menepiskan tangan Genesis yang memeluknya dan menyentakkan lengan; memaksa kepala Genesis tegak kembali.

“Datanglah ke apartemenku besok malam.” Ucap Sephiroth pelan; “Seorang diri. Kita akan meneruskan pembicaraan ini.”

Dan senyum pun merekah di wajah Genesis….. Dia tahu misinya sudah sukses. Dia sudah memiliki Sephiroth sekarang; atau Sephiroth yang memilikinya. Entah yang mana. Tapi yang pasti dia tahu dia sudah berhasil membuat sang white general merasakan cinta dan gairah……..

The End.

Pengikut

free hit counter