Tampilkan postingan dengan label Genesis-Angeal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Genesis-Angeal. Tampilkan semua postingan

The Turks and The Soldiers

SHINRA ACADEMY : SOLDIERS AND TURKS

Rating : K+

Charas : Reno, Rude, Rufus(maybe), Sephiroth, Genesis, Angeal, Tseng.

Setting : Somewhere in the past; ShinRa. Genesis & Angeal berada pada 3nd Class SOLDIER, dan Reno-Rude ceritanya juga belum menduduki jabatan tinggi dalam Dept. Turk. Disini kuanggap aja yang tertinggi dalam Turks adalah Tseng. Dan disini ceritanya Lazard adalah manajer tertinggi untuk SOLDIER dan Turks sekaligus.

Genre : General/Humor.

Summary : Somehow Turks and SOLDIERs didn’t get along well.

My first Genesis-Reno pairing – Non Yaoi.

Note : Somebody told me Reno’s full name is Reno Sinclair.


.

.

Sialan, sialan, sialan !”

Rude menatap sahabatnya yang masih menggerutu sepanjang jalan menuju ke kantin. Rude bisa mengerti kenapa Reno marah-marah begini. Pasalnya adalah kelas yang baru saja mereka jalani memang menyebalkan. Mentor mereka di Turks memang menyebalkan.

Kantin ShinRa selalu penuh pada jam makan siang, bukan karena menunya menyenangkan (banyak staff mengatakan bahwa menu disini adalah hasil sisa labolatorium yang dicekoki kepada mereka) tetapi karena pendeknya jam istirahat disini maka tidak ada seorang pun yang berani membeli makan di luar dengan resiko terlambat masuk ke kelas berikutnya. Well, kadang Reno dan Rude berani mengambil resiko itu, daripada menelan masakan sampah.

“Apa lagi kali ini ?!” Gerutu Reno saat mengantri makanan; “Daging Tonberry goreng dipakaikan saus duri Cactuar ?!”

Reno tidak memelankan suaranya dan mendengar itu seseorang yang kebetulan berbaris di depan mereka menengok sekilas dan mendengus geli.

Reno memelototi orang itu; sementara di sebelahnya Rude berkata; “Nggak separah itu, Ren.”

Orang di depan mereka itu sudah kembali menatap ke depan. Orang itu tidak sendirian. Di sebelahnya dia bersama seorang pemuda berambut merah yang sedang berdiri mengantri sambil membaca buku.

Reno tahu siapa kedua orang itu. Dia pernah melihat keduanya. Angeal dan Genesis; 3nd Class SOLDIER.

Genesis tidak mendengar gerutuan Reno, dia masih terfokus pada bukunya. Dia berkata pada Angeal; “Three friends go off to war. One is captured, one flies away, and the last one is a hero. Menurutmu siapa yang akan menjadi Hero, Angeal ?”

Sahabatnya angkat bahu; “Entahlah.”

Genesis menggeleng tanpa menengok dan meneruskan sambil tetap memusatkan perhatian pada bukunya; “When the war of the beasts brings about the world’s end---”

Reno memutar bola mata.

“--The goddess descends from the sky--”

Reno berdehem keras.

Angeal menengok; “Ya ?” Sementara Genesis masih meneruskan membacakan Loveless-nya.

Reno menatap Angeal sambil menunjuk pada Genesis; “Bisakah kau suruh dia tutup mulut ? Sehari ini saja. Aku sudah muak mendengar kutipan Loveless setiap kali SOLDIER dan Turks berkesempatan makan siang di jam yang sama di kantin.”

Genesis berhenti membaca dengan seketika. Dia menurunkan bukunya dan menatap Reno. “Apa katamu ?” Genesis menegas.

Reno yang memang sudah bad mood menjawab tanpa segan-segan; “Kubilang, tutup mulutmu.”

“Apa hak-mu menyuruhku ?!” Balas Genesis.

“Aku bisa menyuruh siapa saja yang aku mau !” Sahut Reno; “Memangnya apa hak-mu mengganggu ketentraman di kantin ShinRa selama ini ?!”

Genesis maju selangkah. Angeal mengulurkan tangannya mencegah sahabatnya maju lebih jauh.

Rude juga menarik-narik lengan baju Reno sambil berbisik; “Ren, sudahlah !”

“Kau bukan pemilik ShinRa Building.” Angeal menjawab Reno; “Dan Genesis tidak mengganggu ketentraman kantin. Dia hanya membaca.”

“Oh ya, tentu kau bilang begitu !” Ejek Reno; “Dia kan sahabatmu ! Siapa pun pasti membela sahabatnya !”

“Maksudmu ?” Bentak Genesis.

Reno malah balas membentak; “Kau tuli, ya ?! Kau tidak mengerti apa yang aku katakan ?! Aku bilang sahabatmu sudah pasti membelamu !”

“Kau dari Dept. Turk bukan ?!” Genesis membalas lagi; “Aku tidak heran. Gaia tahu memang sudah menjadi rahasia umum bahwa anggota Turks adalah sisa-sisa buangan dari para pelamar SOLDIER yang tidak lulus tes.”

Mendengar itu seluruh anggota Turks (dan SOLDIER) yang ada di kantin ini menengok pada mereka.

“Lidahmu terlalu tajam, SOLDIER !” Seru Reno semakin naik darah; “Mungkin menjadi kelinci percobaan labolatorium dan terlalu banyak suntikan Mako pada tubuh kalian membuat kalian merasa berani mengucapkan hal-hal yang dalam nama Gaia tidak pada tempatnya ?”

Cukup sudah. Baik Angeal, Genesis, Reno, maupun Rude sudah tidak bisa menahan diri lagi. Tak terhindari; perkelahian pun terjadi. Beberapa anggota SOLDIER dan Turks lain disini yang mencoba melerai malah jadi saling berkelahi juga. Alarm berdering. Di seluruh ShinRa Building dipasangi alarm yang akan mendeteksi perkelahian (kecuali tentunya di ruang-ruang latihan) dan juga kamera pengawas.

Karena itulah, tak lama kemudian; ketika baik Reno maupun Rude sudah tersudut berdekatan; sebuah pedang panjang yang kuat menahan pedang Rapier milik Genesis dan pedang milik Angeal (Angeal tidak pernah menggunakan Buster Sword-nya).

Angeal menarik kembali pedang miliknya sedangkan Genesis menyentak; berusaha kembali menebas Reno dan Rude yang sudah terpojok berdekatan, tetapi lagi-lagi pedang panjang menghalanginya dan kali ini tenaga benturan pedang panjang itu dengan Rapier-nya mendorong tubuh Genesis mundur beberapa langkah.

“K-kau ?” Genesis terkejut ketika mendapati bahwa pedang panjang yang telah menangkisnya adalah pedang Masamune, dan si pemilik Masamune; Sephiroth sendiri-lah yang telah berada disini.

Suasana kantin hening. Genesis menengok ke sekelilingnya dan menyadari bahwa semua orang yang tadi saling berkelahi sekarang sudah menepi dan terdiam. Lazard dan Tseng juga berada disini; juga seluruh anggota 1th Class SOLDIER dan Turks level teratas.

Kalian berdua.” Pertama-tama Lazard menunjuk pada Genesis dan Angeal; “Ikut aku, dan juga kalian.” Lalu dia menunjuk pada Reno dan Rude, kemudian Lazard bergegas meninggalkan kantin diikuti oleh Sephiroth dan Tseng lebih dulu.

***

“Aku tidak mengerti.” Lazard berjalan hilir-mudik di kantornya. Tidak biasanya dia begitu; “Apa yang terjadi ?” Ditatapnya Reno dan Rude yang berdiri berdekatan, lalu Genesis dan Angeal yang berdiri berdekatan juga.

“Mr. Lazard---” Reno dan Genesis bicara bersamaan, lalu keduanya sama-sama terdiam.

Sephiroth dan Tseng yang duduk di ruangan ini saling pandang.

“Well,” Lazard memandang Reno dan Genesis bergantian, kemudian menatap Angeal; “Kau yang jelaskan apa yang terjadi, Angeal Hewley.”

Angeal diam sejenak, kemudian menjawab; “Kurasa ini hanya kesalahpahaman, Mr. Lazard.”

Genesis tampak tak senang dan memprotes; “Mr. Lazard, anggota Turk itu yang mulai duluan !”

Reno segera membantah; “Kau; SOLDIER; yang menghina kami; mengatakan bahwa anggota Turks adalah bekas pelamar SOLDIER yang tidak lulus tes !”

“Oh ?! Lalu siapa yang mengatakan bahwa SOLDIER adalah kelinci percobaan dan terlalu banyak disuntikkan Mako ?!” Balas Genesis.

Lazard memijat dahi sendiri.

“Diam !” Sephiroth membentak Genesis.

“General !” Bawahannya itu memprotes lagi.

Sebelum Sephiroth berkata, kali ini giliran Tseng yang buka mulut; “Reno, tidak tahukah kau bahwa tidak sepantasnya kau menghina SOLDIER---”

Reno merajuk; “Lalu apakah pantas SOLDIER menghina Turks ?!” Dia memutus.

“Hey !” Kali ini Angeal agaknya juga tidak bisa menahan diri; “Kami tidak akan mengatakan apa-apa kalau kalian juga tidak menghina SOLDIER. Aku bisa menoleransi segala macam ucapanmu yang lain, tapi aku tidak bisa menoleransi siapa pun yang menghina SOLDIER !” Angeal memang selalu memiliki harga diri dan kebanggaan menjadi seorang SOLDIER.

Mendengar ucapannya, Rude bicara; “Seperti yang dikatakan Reno; kau kan sahabat si rambut merah itu---” Dia menunjuk Genesis; “Sudah pasti kau membelanya dan tidak mau mengakui bahwa sahabatmu itu duluan yang menghina Turks !”

Baik Genesis maupun Angeal menggerakkan pedang mereka. Tidak mau kalah, Reno juga mengangkat senjatanya sementara kedua tangan Rude mulai terkepal.

“Cukup !” Sephiroth memperingatkan.

“Reno, Rude !” Tseng menambahkan; “Apa kalian tahu; kalian bisa di-skors untuk kesalahan ini ?! Menghina SOLDIER. Sangat keterlaluan !”

“Bukankah sudah kubilang,” Jawab Reno ngotot; “SOLDIER duluan yang memulai semua ini.”

“Tak usah menyalahkan pihak lain !” Sahut Tseng; “Koreksi diri kalian sendiri !” Kemarahan Tseng agaknya cukup menjinakkan Reno dan Rude kali ini. Kedua Turks itu menunduk tetapi tampak tak puas.

“Kalian berempat akan dikenakan detensi.” Ucap Lazard akhirnya; “Rhapsodos dan Hewley; kalian berdua terpaksa kuhukum dengan membersihkan seluruh lantai di gedung kantor kita ini, sedangkan Reno dan Rude – kalian berdua terpaksa kuhukum dengan membantu rakyat membersihkan saluran air di Midgar !”

Ekspresi wajah keempatnya berubah masam. Genesis nyaris mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi setelah menyadari Sephiroth terus mengawasinya dengan tajam.

“Rhapsodos ? Hewley ?” Sephiroth menegur; “Kalian tidak dengar ?”

“Ya, Sir.” Keduanya menjawab dengan ogah-ogahan.

Lazard tersenyum dan meneruskan; “Tugas kalian bisa kalian berempat kerjakan besok seharian, mulai dari pagi hingga selesai.”

Tidak ada yang menjawab.

“Rhapsodos ?” Sephiroth menegur lagi, tetapi Lazard melerai; “Sudahlah. Nah, sebaiknya sekarang kalian berempat kembali ke kelas kalian masing-masing, dan ingat.. aku tidak menyukai pertengkaran bodoh ini. Aku sama sekali tidak terkesan dengan prilaku kalian dan aku berharap ini tidak akan terjadi lagi.”

Sekali lagi, tidak ada yang menjawab. Tetapi keempatnya bergerak ke pintu dan meninggalkan kantor Lazard.

Sang manager menghela nafas, menengok pada Sephiroth dan Tseng lalu bergurau; “Ramalan bintangku minggu ini pasti mengatakan : Rambut merah berarti bencana.”

Tseng tertawa sedangkan Sephiroth tidak.

Lazard meneruskan dengan lebih serius; “Kalian berdua masing-masing awasi bawahan kalian yang berambut merah.” Dalam hati Lazard membatin; “Bisa kebetulan sekali Genesis Rhapsodos dan Reno Sinclair sama-sama memiliki rambut berwarna merah. Benar juga; merah berarti bencana.”

***

“Aku tidak percaya Lazard menjatuhi kita hukuman begitu !!” Sepanjang jalan Genesis terus memprotes. Mereka berdua berjalan di koridor setelah selesai dalam satu sesi latihan. Tadi begitu keluar dari kantor Lazard, baik dari pihak SOLDIER kita maupun pihak Turks kita tidak ada yang bisa berbicara dan masing-masing langsung menuju ke bagian departemennya sendiri untuk meneruskan sesi latihan mereka yang tertunda. Setelah latihan bubar, barulah agaknya Genesis bisa berbicara kembali. Dan bukan hanya sekedar berbicara; dia mengeluh sepanjang saat sambil berjalan ke ruang Perpustakaan bersama Angeal.

“Aku tidak mau membersihkan lantai di ruang lobi !” Lanjut Genesis; “Kau dengar aku, Angeal ?”

Angeal tidak menjawab. Ekspresinya masam.

Angeal ?”

“Genesis, dia menyuruh KITA membersihkannya !” Sahut Angeal akhirnya.

“Supaya apa ? Supaya kita ditertawakan semua staff di ShinRa ?! Sebab semua orang pasti melewati lobi dan pasti akan melihat kita !” Genesis tampak agak histeris; “Aku tidak mau !!”

“Hey, aku punya akal.” Angeal menghela nafas.

“Yeah ?”

“Kita bersihkan ruang lobi di siang hari saja setelah kita memastikan bahwa semua orang sudah datang dan sedang berada di kelas. Sekitar jam sepuluh, jadi tidak banyak orang mondar-mandir dan tidak ada yang akan melihat kita. Besok pagi kita akan mulai dengan lantai yang paling sepi. Kita akan menghindari orang-orang.”

“Kau mau tahu ideku ?! Sebaiknya kita suruh office boy yang melakukan tugasnya seperti biasa dan kita bayar dia agar tidak mengadu ! Lazard akan mengira bahwa kita yang membersihkannya. Lazard tidak akan tahu bedanya siapa yang membersihkan; sepanjang dia tetap menginjak lantai yang bersih mengkilat.”

“Bagaimana dengan Sephiroth, huh ?! Aku tidak mau ambil resiko.” Jawab Angeal; “Bisa saja Sephiroth akan diam-diam mengawasi kita besok untuk melihat apa kita benar-benar melakukan tugas kita. Kau lihat saja tadi; dia terus mengawasi kita !”

“Yeah, dia bisa saja melakukan itu !” Genesis tampak geram; “Suatu saat nanti aku akan…..”

“Oh, sudahlah !” Hardik Angeal jengkel.

“Apa maksudmu ? Kau mulai mau menjilat General itu seperti orang-orang lain, Angeal..?!”

“Gaia tahu aku tidak menjilat.”

“Bagus kalau begitu ! Dulu sekali; sewaktu Sephiroth masih kecil; dia juga bukan siapa-siapa ! Tidak ada yang kenal namanya, tidak ada yang menghormatinya seperti sekarang ini ! Dia hanyalah anak yang dibesarkan oleh ShinRa. Hanya keberuntunganlah yang membuatnya terkenal seperti sekarang ini ! Sebenarnya semua orang terlalu melebih-lebihkan dirinya !”

Angeal memutar bola mata; “Diamlah, Genesis.” Ucapnya kesal; “Sebelum kau membuat kita berdua terjebak dalam kesulitan lain !” Meski begitu, Angeal tahu bahwa Genesis tidak seratus persen serius dengan perkataannya tentang Sephiroth barusan. Sebagai sahabat masa kecil Genesis; Angeal tahu bahwa di dunia ini yang secara diam-diam paling dikagumi oleh Genesis adalah Sephiroth sendiri……

***

Tetapi ternyata yang tidak puas dengan keputusan Lazard bukan hanya SOLDIER. Tampak Reno dan Rude bercakap-cakap sambil duduk-duduk di taman di gedung ini. Reno duduk di pinggir kolam ikan yang ada di tengah taman sementara Rude duduk bersila di rumput di depannya.

“Lazard sungguh tidak adil !” Keluh Reno; “Dia jelas lebih memihak SOLDIER daripada Turks !”

Rude tidak menjawab.

“Dia menyuruh kita yang bekerja di Midgar agar semua orang di Midgar melihat dan menertawakan kita !” Lanjut Reno tak puas; “Banyak orang di Midgar yang sudah kenal kita, kan ?! Lazard sengaja tidak membiarkan rakyat menertawakan SOLDIER ! Karena itulah dia sengaja mengirim kita berdua keluar dan menahan kedua SOLDIER sialan itu di dalam gedung !”

“Yeah, SOLDIER memang kesayangan ShinRa.” Sahut Rude terpancing.

“Apa bagusnya SOLDIER ?!” Reno meneruskan; “Aku sih tidak mau tubuhku disuntik dengan Mako hanya untuk memaksakan diriku menjadi kuat ! Dan harus bolak-balik ke labolatorium Prof. Hojo atau Hollander !”

“Kau benar. Turks lebih alami.” Sahut Rude lagi.

Reno mencabut jerami di dekatnya dan memasukkannya ke mulut. Sesaat hening, kemudian mendadak dengan bersemangat Reno mencabut kembali jeraminya dan berseru; “Aha ! Aku punya ide !”

“Huh ?” Rude tersentak.

“Besok kita biarkan saja petugas kebersihan sosial yang melakukan tugas mereka seperti biasa di Midgar !” Ucap Reno; “Kita tetap keluar ke Midgar tapi kita pergi ke bar di Slum yang terpencil. Toh Lazard tidak akan tahu bedanya apa benar-benar kita yang membersihkannya atau tidak !”

“T-tapi bagaimana dengan Tseng ?” Tanya Rude mengingatkan.

Semangat Reno langsung menguap mendengar nama itu; “Yah.. kau benar.” Dia menghela nafas; “Tseng bisa saja takkan mempercayai kita dan diam-diam menguntit kita besok.”

“Yeah, kurasa begitu.” Rude mengangguk muram.

“Semua orang terlalu mendewa-dewakan SOLDIER.” Tambah Reno; “Padahal seharusnya dulu level SOLDIER dan Turks sejajar. Semua ini karena si Anak Emas itu. Sephiroth. Dia menjadi Pahlawan dan sejak saat itu orang-orang berpikir SOLDIER seperti emas.”

“Tapi Tseng tidak pernah mengkomplain tentang itu.” Ucap Rude lugu.

“Bodoh, tentu saja dia tidak pernah mengatakannya.” Gerutu sahabatnya; “Tseng terlalu baik ! Lagipula dia mana berani menentang Sephiroth ?!”

“Tapi Tseng kan bukan pengecut.” Kilah Rude.

“Aku tidak bilang dia pengecut, dodol !” Gerutu Reno melihat kepolosan sahabatnya ini; “Aku bilang dia terlalu baik !” Siapa yang sangka meskipun sosok Rude terlihat seperti orang yang keras hati dan disiplin ternyata hatinya polos. Reno menggelengkan kepala dan meneruskan; “Kau ini seperti berwajah singa berhati rusa, Rude.”

“Huh ?” Rude tampak bingung; “Singa ? Rusa ? Kau baik-baik saja, Ren ?”

“Sudahlah !” Gerutu Reno; “Aku kan hanya mengumpamakan ! Kita para Turks mungkin memang berwajah singa berhati rusa, tetapi musuh kita di SOLDIER itu berwajah rusa berhati singa !”

Hening sejenak.

“Jadi bagaimana dengan besok ?” Rude mengalihkan pembicaraan.

“Well, yah…..” Reno angkat bahu; “Kita lihat saja apa Tseng akan menguntit kita besok !”

***

Akhirnya malam pun tiba. Keempat orang itu masing-masing sudah pulang dengan rasa tidak puas terhadap keputusan Lazard tadi siang.

Genesis masih terus mengeluh, mengomel, menggerutu, dan apa sajalah. Bahkan saat mereka berdua menikmati makan malam di apartemen yang mereka tinggali bersama pun Genesis masih mengeluh.

Akibatnya Angeal sudah lebih dulu menyelesaikan makannya sedangkan Genesis yang makan sambil berbicara masih belum selesai setengah piring. Kadang Angeal heran bagaimana sahabatnya itu bisa tahan berbicara berjam-jam padanya tanpa henti (seperti juga sahabatnya itu tahan melafalkan Loveless berjam-jam tanpa henti) padahal bagi orang yang belum jelas mengenal Genesis akan mengatakan bahwa Genesis adalah anak pendiam yang lebih menyendiri dan lebih senang menghabiskan waktu dengan membaca dan menulis.

Angeal bersandar dan menyibukkan diri dengan Handphone-nya supaya tidak usah mendengarkan ocehan sahabatnya.

Dia mengecek e-mail.

“…Lazard seharusnya tahu bahwa kedua bocah Turks itu tidak bisa dipercaya.” Genesis tengah menggerutu; “Dan bisa-bisanya Lazard menugaskan mereka berdua keluar besok ! Demi Gaia, aku yakin kedua bocah Turks itu akan pergi minum-minum di bar dan tidak akan mengerjakan tugasnya !” Dia menusuk sepotong daging dengan garpu-nya dan memasukkannya ke mulut. Untuk sementara lidahnya berhenti berbicara dan sibuk mengunyah. Diliriknya Angeal yang sedang berkonsentrasi pada Handphone. Alis Angeal berkerut.

“Angeal ?” Genesis mulai menyadari ada yang tidak beres ketika melihat ekspresi sahabatnya; “Ada apa ?”

“Demi Gaia.” Jawab Angeal sambil masih membaca sesuatu di Handphone-nya; “Lihat ini, Genesis. Seseorang mengirimiku e-mail mengatakan bahwa dia tahu kita berdua tidak akan mengerjakan tugas kita besok !”

“Siapa yang mengirim ?” Genesis langsung melompat bangun dan mendekati sahabatnya, membaca pesan di e-mail yang tampil di layar Handphone Angeal.

“Tanpa nama.” Sahut Angeal.

“Oh, tidak usah menebak dua kali ! Pasti bocah Turk itu !” Gerutu Genesis, lalu merebut Handphone Angeal; “Biar kubalas !”

“Genesis !” Angeal mencoba meraih kembali Handphone-nya tapi Genesis sudah membawanya menjauh sambil mengetik balasan disitu dengan serius. Angeal bangun dan menarik Handphone-nya dari tangan sahabatnya. Tetapi terlambat, Genesis sudah keburu memencet tombol Send. Balasan sudah terkirim.

“Apa yang kau katakan ?” Angeal mengerutkan kening sambil membuka Outbox-nya untuk mencari hasil ketikan Genesis tadi.

“Percuma, Angeal. Sudah terkirim.” Jawab Genesis sambil bangun dan menyalakan Laptop-nya sendiri; “Dan aku akan menanyakan alamat e-mail asli kedua bocah Turks itu sekarang. Tidak akan sulit mencarinya. Aku yakin beberapa SOLDIER cukup akrab dengan Turks dan punya alamat e-mail kedua bocah itu yang sebenarnya. Aku bisa melabrak mereka sepuasnya sekarang !”

Angeal memutar bola mata.

“Ayolah.” Genesis menatap layar Laptop-nya; “Kita bisa memaki Turks sepuasnya lewat internet ! Lazard tidak akan tahu, kan ?! Juga Sephiroth sialan itu !”

“Tapi……..”

“Well, kau lupa; mereka mengatakan bahwa SOLDIER adalah kelinci percobaan yang terlalu banyak disuntik Mako ?”

“Oke, kau menang, Genesis. Aku akan mendukungmu memaki mereka.”

***

“Rude !!” Seru Reno; “Kesini deh !! Lihat !!” Dia menunjuk ke layar Laptop-nya; “Aku tidak percaya ! That bitch again !!”

“S-siapa, Ren ?” Tergopoh-gopoh Rude menghampiri.

“Si jalang dari SOLDIER !” Geram Reno; “Darimana dia bisa tahu alamat e-mail milikku..?!” Dia mengetikkan pertanyaan itu; “Darimana kau bisa tahu alamat e-mail-ku?” Lalu dia menekan tombol Send. Tak puas, dia membuka messenger-nya dan langsung meng-add alamat e-mail Genesis supaya dia bisa men-dial-nya.


*Untuk selanjutnya agar memudahkan percakapan, Authoress akan menggambarkannya dalam bentuk percakapan. Dan aku akan menggunakan bahasa Inggris, soalnya aneh kalo menulis percakapan di msn dgn bhs Indo.*



Re=Reno

Ru=Rude

A=Angeal

G=Genesis

(Re men-dial G di messenger)

Re : How did you get my e-mail address, bitch ?

G : Did you just call me bitch ?!

Re : Right. Bitch.

G : How immature.

Re : I like being immature. I’m still younger than you after all. And nothing’s wrong of being a kid in the heart, bitch.

G : Type it once again and I swear for the shake of Gaia you’re gonna sorry tomorrow !

Re : I don’t think so, bitch, because tomorrow you’re gonna be busy cleaning our office, you won’t have time even to play around with your fucking sword.

G : Look who’s talking. Aren’t you suppose to clean the drains under Midgar tomorrow ? Don’t think that I don’t know your plan. You’re planning to run tomorrow.

Re : Turks never run from their job, SOLDIER.

(Mendadak A masuk ke percakapan ini).

A : Huh ?

Re : Wow, very mature, Genesis, inviting your friend to help you.

A : Is that the Turk ?

G : How do you know my name, Turk ?

Re : Your messenger tells, idiot.

(Lalu Reno mengundang Rude masuk ke percakapan ini).

Ru : Who’s this ?

Re : Our beloved SOLDIERs.

(Rude membaca ID messenger kedua tamunya).

Ru : Genesis ? Angeal ?

Re : Yeah, those two bitches.

A : What did you just call us ?

Re : I said bitches.

A : Watch your mouth, kid. And I have no time for this.

G (kuatir Angeal akan Sign off) : Angeal, wait !

A : Genesis, we don’t have time for these little kids. We’re busy, remember ?

G : Angeal, please. They call us bitches. They really need some serious lesson !

A : Oh, well. Look, kiddies. Reno.. that’s your name, right ?! Don’t play with Genesis and I, and we will forget about this.

Re : I guess being cocky is the effect of Mako ?

A : Shut up !

G : How dare you !

Re : C’mon, men. Why everyone always say SOLDIER is the best ? Better than Turk ? That’s totally unfair !

G : Did you just say Turks are jealous with SOLDIERs ?

Ru : Jealous my ass ! We don’t have to be jealous at cocky poor men like you two.

G : Know what ? I know your apartment address and I’m going to be there in the few mins. We shall finish this tonight.

(Rude agak gentar tapi Reno masih cuek).

Re : Be my guests, SOLDIERs.

G : You see that, Angeal ?! Let’s go now !

A : Verywell.

(Genesis signs off).

(Angeal signs off).


Handphone Sephiroth berdering.

“Yeah ?” Dia menjawabnya dengan enggan. Nyaris tidak pernah sedetik pun para petinggi ShinRa membiarkannya tenang. Dia memang dibutuhkan. Selalu dibutuhkan, dan sangat dibutuhkan.

“Sephiroth !” Suara Lazard; “Dengar, pergilah ke apartemen Reno dan Rude !” Dia menyebutkan alamatnya.

“Apa yang terjadi ?”

“Aku juga baru dapat laporan dari salah seorang petugas yang patroli di stasiun Sektor Lima Midgar bahwa empat orang sedang berkelahi disana dan merusakkan setengah gedung. Reno Sinclair, Rude, Genesis Rhapsodos, dan Angeal Hewley.” Jawab Lazard cepat.

Sephiroth menyumpah tak jelas.

“Aku akan menyuruh Tseng kesana, juga beberapa 1th Class SOLDIERs untuk membantumu dan beberapa petinggi di Turks---”

“Tidak usah !” Putus Sephiroth dengan geram; “Aku bisa menangani Rhapsodos dan Hewley sendiri ! Tapi aku akan butuh Tseng untuk mendiamkan Sinclair dan Rude !”

“Baiklah kalau begitu. Kupercayakan padamu, Sephiroth. Aku akan menelepon Tseng sekarang !” Lazard memutuskan hubungan telepon.

Sephiroth segera bergegas.

***

Akhirnya pertarungan berhasil dihentikan. Sephiroth maju ke tengah pertarungan itu dan menghentikan keempatnya sekaligus. Tseng sudah tiba.

“Coba kalian jelaskan pada aku dan General !” Seru Tseng marah sambil menatap Reno dan Rude; “Apa yang kalian kerjakan malam-malam begini ?!?”

Reno dan Rude saling pandang.

“SOLDIER duluan yang cari gara-gara !” Kata Rude akhirnya; “Genesis Rhapsodos mengirim e-mail kepada Reno berisi makian.”

Sephiroth menatap Genesis.

“Turks duluan yang mengirimi e-mail kepada Angeal !” Bantah Genesis; “Reno Sinclair berusaha memancing kemarahan kami dengan mengatakan bahwa dia tahu kami tidak akan mengerjakan tugas kami besok, dan celakanya dia selalu berhasil memancing kemarahan kami !”

“Aku tidak mengerti ocehanmu, songbird !” Gerutu Reno; “Memangnya aku mengirim e-mail pada Angeal ?!? Kau duluan yang mengirimiku e-mail. Aku mendapatkan alamat e-mail-mu dari kirimanmu sendiri, sedangkan aku bahkan tidak tahu darimana kau mendapatkan alamat e-mail-ku !”

“Jangan pura-pura !” Balas Genesis; “Dasar bocah kekanakkan !”

“SOLDIER jalang ! Silakan panggil aku bocah ! Aku memang lebih muda darimu.” Reno tak mau kalah; “Dan aku memang tidak ingin jadi dewasa setelah melihat contoh arti ‘dewasa’ dari dirimu, jalang !”

“Sebut kata itu lagi !” Teriak Genesis; “Kau yang memulai ini semua ! Gaia tahu bahwa kau mengirimi Angeal e-mail secara tersamar dengan menggunakan account baru atau apa; pokoknya tidak ada alamat dan nama pengirim !”

Sephiroth mengerjapkan mata. “T-tunggu !” Putusnya sebelum Reno bicara lagi; “Apa katamu tadi, Genesis ? Apa isi e-mail yang kau maksudkan itu ?”

“Katanya,” Angeal yang menjawab; “Dia tahu kami pasti tidak akan mengerjakan tugas kami besok !”

Mendadak ekspresi muka Sephiroth berubah.

“General ?” Angeal menyadari itu dan terlintas di benaknya sesuatu; “Kau---Hey, e-mail itu bukan darimu, kan… General…?!?”

Sephiroth diam sejenak. Semua mata tertuju padanya. Akhirnya dengan pelan; meskipun mukanya merah padam; tanpa ekspresi dia menjawab; “Yeah, itu aku.”

“Oh !!” Seru Genesis; “Seharusnya aku tahu ! Dan apa maksudmu, General ? Kau tahu kami tidak akan mengerjakan tugas kami ?! Kau pikir kami anak kecil ?! Kau terlalu rendah menilai kami, Sephiroth !”

Sebelum Sephiroth menyahut, Reno menyeletuk; “Makanya, jangan nuduh orang sembarangan dulu, SOLDIER !”

“Diam kau, Sinclair !” Tseng menenangkan. Dia melirik Sephiroth dan menghela nafas; “Ternyata ini hanya kesalahpahaman belaka. Jadi sekarang bagaimana kalau kita semua saling berjabat tangan dan berbaikan lagi ?”

“Well….” Sephiroth angkat bahu; “Terserah kau saja.”

“Oke.” Kata Tseng; “Reno, Rude. Kalian jabatlah tangan Angeal dan Genesis !”

Meskipun mendongkol, dengan ogah-ogahan akhirnya keempat orang itu mau juga berjabat tangan.

“Hukuman besok tetap berlaku.” Lanjut Tseng; “Tapi kurasa kita harus memberi kepercayaan kepada mereka berempat untuk menjalankannya sendiri, General ?”

“Yeah.” Sahut Sephiroth.

“Bagus. Kuanggap semua selesai sampai disini, ya.” Kata Tseng pula sambil tersenyum; “Aku mau kembali pulang dan tidur. Reno, Rude, kalian berdua juga harus kembali tidur !”

“Mana bisa ?!” Seru Reno; “Separuh bangunan apartemen kami sudah hancur dan dilalap api !”

Tseng dan Sephiroth saling pandang.

“Begini saja.” Ucap Tseng; “Terpaksa malam ini Reno dan Rude tidur di apartemenku. Dan untuk menghindari pertengkaran, bagaimana kalau Anda mengajak Angeal dan Genesis tidur di apartemen Anda malam ini, General ?”

“Well……” Sephiroth tampak ragu. Dia tidak menyadari ekspresi wajah Genesis seketika berubah. Akhirnya Sephiroth menghela nafas dan menjawab; “Baiklah. Anggap saja untuk mengantisipasi pertengkaran.”

“Sepakat.” Tseng tersenyum.

Bukan hanya dia yang tersenyum. Meskipun Reno dan Rude tampak tak senang dengan keputusan Tseng yang berarti bahwa kebebasan Reno dan Rude malam ini terkekang, Genesis tampak tersenyum puas… sebuah senyum senang dan bergairah. Hanya Angeal yang menyadari Genesis tampak bersemangat.

Ha, tidur seatap dengan Sephiroth semalam. Hadiah yang menyenangkan dari perkelahiannya dengan Turks.


The End.

We're Late!

SHINRA ACADEMY : “WE’RE LATE !”

Setting : Somewhere in the past; ShinRa Academy; when Genesis & Angeal were in 2nd Class

Rating : K.

Charas : Genesis, Sephiroth, Angeal.

Genre : General/Humor.

Disclaimer : All charas belong to Squeenix co.


“Angeal, rileks.” Gerutu Genesis.

Angeal hanya menggumamkan jawaban tak jelas dan melangkah lebih cepat lagi meninggalkan si rambut merah di belakangnya.

Angeal !” Genesis mempercepat langkahnya dan berhasil menyusul sahabatnya itu sambil kedua tangan Genesis mengancingkan ban pinggangnya sendiri yang tadi belum terkancing karena mereka pergi dengan terburu-buru. “Angeal.” Dia meneruskan sambil meraba seluruh kancing bajunya sendiri untuk memastikan bahwa tidak ada kancing yang lepas; “Kalau sampai pakaianku terlihat tidak beres hari ini, aku akan menyalahkanmu !” Kemudian tangannya meraba rambutnya yang merah, menyisiri rambutnya itu dengan jari-jari tangannya yang lentik.

Angeal memutar bola mata. Dia mendengus, dan meneruskan langkahnya dengan lebih cepat. Genesis menyusulnya lagi. Kemarahan mulai terlihat di sepasang mata biru-kelabu Genesis. Si rambut merah itu paling tidak suka penolakan, paling tidak suka jika tidak mendapatkan perhatian.

“Baik ! Kau tidak suka berjalan bersamaku !” Bentaknya.

Bagaimana orang bisa bertahan menghadapi mahluk itu ?! Gerutu Angeal dalam hati. Kesabarannya habis. Dia berhenti berjalan untuk menengok menatap sahabatnya sejak kecil ini dan dia tidak tahan untuk tidak membentak; “Genesis ! Dengar ! Kita sudah diberitahu kemarin bahwa pagi ini ada rapat jam setengah sembilan tepat dan sekarang sudah jam setengah sembilan kurang tiga menit sedangkan kita masih belum mencapai ShinRa Building ! Terima kasih kepada Gaia karena aku memiliki sahabat yang menyenangkan dan disiplin sepertimu !!” Lalu tanpa menunggu jawaban; dan tanpa memperdulikan orang-orang di jalanan yang menengok pada mereka berdua karena ucapannya yang keras tadi; Angeal meneruskan langkahnya.

Dua detik kemudian Genesis kembali mengimbangi langkahnya.

“Jangan salahkan aku !” Balas sahabatnya itu sambil tetap berjalan merendengi Angeal; “Aku terlambat bangun karena aku tidak tidur semalaman, kau tahu; aku-----”

“Kau apa ?!? Kau membaca Loveless sepanjang malam sampai jam dua pagi dan---oh sekali lagi terima kasih Gaia---Kau juga membuatku tidak bisa tidur karena Loveless-mu itu !!” Tukas Angeal; “Aku heran aku belum membeli kapas untuk menyumbat kupingku sejak bertahun-tahun yang lalu !”

Angeal Hewley !!” Seru Genesis dengan nada sakit hati yang jelas dibuat-buat; “Aku tidak percaya sebagai teman sejak kecil kau sanggup mengatakan kata-kata seperti itu padaku; sahabatmu satu-satunya ! Perkataanmu menghina Loveless yang sangat kusukai, temanku tersayang, tahukah kau aku sangat sakit hati----”

“Simpan dulu sakit hatimu, Genesis !” Angeal memutus saat dia mulai menyadari orang-orang di sepanjang jalanan sialan ini menengok pada mereka berdua sambil cengar-cengir dan menunjuk-nunjuk. Angeal merendahkan suaranya sambil tetap berjalan; “Orang-orang menatap kita !”

Genesis menengok ke sekelilingnya; menyadari bahwa orang-orang di sepanjang jalan Midgar ini menengok pada mereka berdua sambil bisik-bisik menertawakan. Tentu saja. Dua pria dewasa bertengkar seperti anak kecil dengan suara keras. Belum lagi kenyataan bahwa keduanya sudah terkenal sebagai SOLDIER Kelas Kedua dari ShinRa Co. yang termashyur.

Berbeda dari Angeal yang berpura-pura tidak menyadari sedang diperhatikan oleh orang-orang di jalanan, dengan terang-terangan Genesis membalas tatapan mereka lalu membentak; “Lihat apa kalian ?!?”

“Genesis !” Seru Angeal memperingatkan. Angeal sudah hafal watak Genesis. Pernah suatu kali saat mereka sedang duduk di SOLDIER Kelas Ketiga dan kelas mereka diwawancarai, Genesis nyaris membunuh reporter-nya setelah tanpa sengaja sang reporter mengatakan bahwa Genesis mempunyai wajah yang cantik dan feminim.

Dan tentu saja sekarang Angeal tidak ingin Genesis --- secara sengaja maupun tidak --- melukai orang-orang di jalanan.

Dia mengalungkan lengannya di lengan Genesis dan setengah menyeret si rambut merah itu kembali berjalan.

Cukup sukses. Genesis baru menyentakkan lengannya untuk melepaskan diri setelah mereka berdua tiba di pintu masuk ShinRa. Satpam sudah mengenal mereka berdua dan tersenyum pada Angeal yang membalas dengan ucapan selamat pagi. Sang Satpam tidak tersenyum sama sekali pada Genesis. Seluruh staff dan manajer di ShinRa sudah mengenal siapa Genesis: seorang pemuda yang sombong, angkuh, congkak, pemarah, penyendiri, emosional, dan bertindak dengan menuruti kata hati atau perasaan lebih daripada rasio.

Kemudian mereka harus absen dan Angeal sudah memutar bola mata lagi. Genesis mengambil kartu absennya sendiri dengan tenang dan menulis jam setengah sembilan kurang lima. Padahal sekarang jam setengah sembilan lewat sepuluh. Sudah sering begini. Genesis mencurangi waktu di absen mereka.

“Apa ?!” Dia berbisik melihat ekspresi protes di wajah Angeal; “Kau boleh tulis apa pun yang kau mau di kartumu sendiri, sahabatku, dan aku boleh menulis apa pun yang aku mau di kartuku sendiri !”

Angeal mendengus. Menulis jam yang sebenarnya berarti terang-terangan dia minta detensi; sebab sudah sekitar sepuluh kali dia (dan Genesis) terlambat bulan ini dan dia menulis yang sebenarnya sebanyak tiga kali (Sedangkan Genesis tidak). Berarti di kartu Angeal sekarang ada tiga kali terlambat, dan ini akan jadi yang keempat. Sialan. Demi Gaia. Angeal pun menulis jam setengah sembilan kurang lima; mengikuti jejak si iblis berambut merah.

Genesis menyeringai puas.

Little bitch !” Bisik Angeal menyumpah tak jelas saat mereka berdua masuk ke lift.

“Apa ?” Genesis menengok; “Kau panggil aku apa ?” Agaknya dia benar-benar tidak mendengarnya dengan jelas.

“Bukan apa-apa.” Gumam Angeal.

Genesis angkat bahu.

Pintu lift terbuka dan mereka langsung menuju ruang rapat. Pintu ruangan itu sudah tertutup rapat.

“Jangan kuatir.” Bisik Genesis pada Angeal sebelum mengetuk pintu; “Biar aku yang mencari alasan jika ditanya. Lagipula Mr. Lazard adalah orang yang baik, dia tidak akan mempersulit kita.” Lalu si rambut merah itu mengetuk pintu.

Tidak ada jawaban. Dari dalam sangat hening. Memberanikan diri, Genesis membuka pintu tanpa menunggu jawaban sambil langsung berkata; “Mr. Lazard, maaf, kami--------”

Tetapi bukan Lazard yang berada di kursi pimpinan rapat di ujung meja.

Melainkan Sephiroth. Sephiroth sendiri. Sephiroth yang terkenal, Sephiroth the hero, Sephiroth yang di usia mudanya sudah menjadi General dalam SOLDIER, Sephiroth yang hebat, termashyur; pemilik pedang Masamune yang terkenal.

Peserta rapat ini; yang duduk mengelilingi meja panjang besar itu; juga bukan hanya SOLDIER Kelas Kedua atau Kelas Ketiga; tapi juga Kelas Pertama, dan sumpah demi Gaia semua mata mereka tertuju pada Angeal dan Genesis.

Bahkan Genesis pun jadi kehabisan kata-kata. Dia berusaha menemukan kembali suaranya, berusaha mengucapkan sesuatu, tapi pandangan mata hijau Sephiroth tertuju lurus padanya dan entah kenapa itu membuatnya salah tingkah.

Tidak ada ekspresi apa pun di wajah Sephiroth. Kemudian dengan ngeri Angeal menyadari bola mata hijau Sephiroth bergerak dari wajah Genesis, lalu ke Angeal (yang berada agak di belakang Genesis), lalu ke arah jam dinding di atas pintu yang masih dipegangi Genesis.

Angeal berharap jam itu mati. Gaia yang agung, tolonglah ! Sekali ini saja !

Sayang harapannya tidak terkabul.

“Setengah sembilan lewat lima belas.” Gumam Sephiroth.

Angeal merasa bisa merasakan lutut Genesis gemetar. Selama sedetik Angeal mengira Genesis akan lari keluar sambil membanting pintu kembali menutup. Tetapi tentu saja Genesis tidak akan melakukan itu. Mereka berdua adalah SOLDIER sekarang.

Tetapi walaupun tidak lari, Genesis masih tidak bisa bicara. Dia berusaha mengatakan sesuatu tapi yang terdengar hanya ucapan “Aa---” terbata-bata.

Sephiroth mengawasinya, menunggu.

Terpaksa Angeal membuka mulut; “S-selamat pagi, General, maaf kami terlambat.” Dia berusaha menjaga agar suaranya tidak gemetar. Bagus, sekarang dia harus mencari alasan, sebab kelihatannya Genesis yang biasanya hebat mengarang alasan kali ini tampak seperti mau pingsan. Otak Angeal berputar keras. “K-kami.. uh… terlambat karena pelayan di restauran tempat kami makan pagi tanpa sengaja me-menumpahkan sup ke pakaian Genesis sehingga dia harus pulang dan berganti pakaian dulu, dan a-aku menemaninya.”

Genesis langsung menengok pada Angeal yang sekarang tepat di sebelahnya. Wajah Genesis sudah merah padam bercampur pucat, tetapi kesadaran Genesis agaknya mulai pulih dan sepasang matanya memelototi sahabatnya itu seolah mengatakan pada Angeal; ‘Alasan paling tolol, Angeal Hewley, dan aku akan mencekikmu sampai mati begitu kita keluar dari ruangan sialan ini !!!’

Angeal membalas tatapan galak sahabatnya dengan pandangan yang mengatakan; ‘Habis mau bagaimana lagi, dong ?! Aku tidak pintar mencari alasan, dan kau; tuan berotak pintar yang katanya mau mencarikan alasan untuk kita; malah berdiri gemetaran dari tadi !’

Sephiroth berdehem, dan dengan muka semakin merah baik Angeal maupun Genesis kembali menatap pada sang General yang jelas tidak menikmati pertunjukan saling-tatap dari kedua bawahannya itu.

“Aku tidak senang diinterupsi pada saat aku sedang memberikan pengarahan.” Akhirnya Sephiroth berkata, sepasang matanya masih tertuju lurus pada kedua mahluk di pintu yang tampak sangat salah tingkah; “Dan keterlambatan kalian jelas telah menginterupsiku; selain kenyataan bahwa kalian tidak tepat waktu; entah dengan alasan apa pun-----Oh, berhentilah saling berpandangan begitu ! Lain kali pikirkan dulu alasan yang bisa kalian sepakati bersama sebelum mulai mengetuk pintu !”

Nada suara Sephiroth tetap tenang dan datar, tapi baik Angeal maupun Genesis merasa kata-kata itu seperti tangan yang menampar muka mereka.

Untunglah agaknya sang General cukup baik hati. Walaupun; sekali lagi; nadanya tetap datar dan ekspresinya tidak menunjukkan emosi apa pun, Sephiroth meneruskan; “Karena aku sedang fokus pada bahasan rapat kita dan aku tidak punya banyak waktu, kali ini kalian berdua kuijinkan masuk. Aku akan berbicara mengenai sikap kalian setelah rapat ini selesai. Sekarang duduklah !”

Mata Genesis dan Angeal segera menatap ke kursi-kursi di dua sisi meja panjang ruangan ini dan menyadari bahwa dua kursi kosong yang tersisa jaraknya berjauhan (padahal biasanya keduanya selalu duduk berdampingan). Yang satu diapit oleh dua SOLDIER Kelas Kedua; kelas mereka. Sedangkan yang satunya… berada di sisi kiri paling dekat dengan sang General dan bersebelahan dengan SOLDIER Kelas Pertama.

Sephiroth menunggu dengan tak sabar dan sedetik kemudian dia nyaris tidak bisa percaya bahwa kedua SOLDIER Kelas Kedua itu; kedua bawahannya itu; memperebutkan tempat duduk yang berada di antara Kelas Kedua. Sephiroth bisa mengerti kalau tidak ada yang mau duduk di sebelahnya. Dia tahu dia memang mengerikan. Tapi yang membuatnya nyaris tidak percaya adalah tingkah laku kekanakkan dari dua pria dewasa yang terlambat datang ini.

Kedua SOLDIER Kelas Kedua itu berlari bersamaan ke kursi yang diapit oleh dua teman sekelas mereka lalu saling menyikut dan mendorong sampai salah satu teman mereka hampir terjatuh.

“Cukup !” Seru Sephiroth; “Kau !”---Dia menunjuk Genesis; “Disini !!” Dia memberi isyarat agar Genesis duduk di kursi yang paling ujung dari sisi meja; yang berada paling dekat dengan Sephiroth.

Mau tak mau Genesis berjalan kesitu, membiarkan Angeal mendapat tempat yang lebih menyenangkan. Sephiroth mengawasi Genesis dan jelas menyadari bahwa si rambut merah itu menolak memandangnya; tapi ekspresi kemarahan mulai jelas terlihat di wajah si rambut merah.

Kemarahan yang tidak disembunyikan.

Si rambut merah itu menarik kursinya dengan kasar lalu membanting dirinya duduk dan menghela nafas jengkel.

“Bisa kita mulai ?” Pancing Sephiroth.

Anggota lain sadar bahwa pertanyaan itu ditujukan bukan pada mereka, maka mereka tidak memberi jawaban.

Genesis tidak mengacuhkan pertanyaan itu, sepasang matanya menatap ke sepasang tangannya sendiri yang diletakkan di atas meja dan ekspresinya jelas menunjukkan kemurkaan.

Angeal tidak tahan untuk tidak memperingatkan sahabatnya yang agaknya tidak sadar kepada siapa pertanyaan Sephiroth ditujukan. “Genesis !” Desis Angeal. Cukup keras di ruangan yang sunyi ini sehingga sekarang semua mata tertuju pada Angeal; kecuali mata Genesis sendiri.

Muka Angeal memerah.

Sephiroth menatap Angeal sekilas lalu kembali memandang Genesis yang masih menatap ke kedua tangannya sendiri sambil menahan marah. Saking marahnya si rambut merah tidak meyadari bahwa Angeal baru saja melakukan pengorbanan besar mempermalukan diri demi memanggil namanya.

Tetapi sedetik kemudian Genesis segera terlonjak dengan terkejut dan shock, sebab Sephiroth menggebrak meja sambil berdiri.

“Bisa kita mulai ?” Ulang Sephiroth. Nadanya jauh lebih tegas, lebih keras, dan lebih disiplin. Pandangannya lurus kepada Genesis.

“Y-ya, Sir.” Genesis lupa untuk marah saking shock-nya.

Sephiroth berjalan ke arah papan tulis yang memang telah disediakan di ruangan rapat ini dan meneruskan ceramahnya tentang perang yang telah terjadi selama bertahun-tahun ini. ShinRa dan Wutai.

Dia sudah menerangkan selama sekitar empat puluh lima menit ketika akhirnya dia dengan jengkel menyadari bahwa ada yang tidak mendengarkan. Dia berhenti berbicara, kembali menatap pada mahluk berambut merah yang sedang menunduk mengawasi kedua tangannya sendiri di atas meja sambil entah memikirkan apa; yang pasti ekspresi si rambut merah itu jelas menunjukkan ketidakpuasan.

Dengan ngeri Angeal melihat Sephiroth berjalan menghampiri Genesis sementara si rambut merah itu masih belum mau sadar dari lamunan. Selama dua detik Angeal merasa Sephiroth akan menarik kerah baju Genesis lalu menampar anak itu, tetapi syukurlah ternyata tidak. Sephiroth hanya berdiri diam di sebelah Genesis selama sesaat; menunggu reaksi Genesis.

“S-Sir ?” Akhirnya Genesis menyadari juga bahwa sang General sudah berada di sebelahnya dan memperhatikannya. Dia menengadah, membalas tatapan sang General.

“Ada yang ingin kau katakan ?” Balas Sephiroth.

“Apa ?”

“Kulihat agaknya ada banyak sekali keberatan di hatimu. Coba kau sampaikan satu persatu sekarang.”

Genesis melayangkan pandangan matanya pada Angeal selama beberapa saat, lalu menjawab; “T-tidak. Tak ada.”

“Kalau begitu maukah kau lebih berkonsentrasi lagi dan mendengarkan jika ada yang sedang berbicara di depan ?!” Kata Sephiroth pula; berusaha bersikap baik.

“Ya, Sir.”

Sephiroth kembali berjalan ke papan tulis. Dirasakannya pandangan si rambut merah di punggungnya. Tanpa perlu menoleh dia menyadari bahwa pandangan yang diberikan oleh Genesis adalah tatapan penuh kebencian. Ketika Sephiroth akhirnya sampai di papan tulis dan memutar tubuhnya untuk menghadapi bawahan-bawahannya yang duduk memandangnya; pandangan matanya dan pandangan mata Genesis bertemu, dan Sephiroth benar-benar melihat kemarahan dan kebencian yang tersirat.

Sephiroth kembali menerangkan. Kali ini Genesis memperhatikan, tapi terus dengan tatapan mata benci dan marah. Sephiroth menyadari itu, maka setiap dua puluh menit dia berhenti menerangkan dan membalas tatapan mata Genesis dengan terang-terangan sambil bertanya dengan nada kaku; “Ada pertanyaan ?”

Awalnya Genesis menggeleng, tetapi setelah terjadi selama dua kali dan Sephiroth dengan jelas menunjuknya; “Kau. Ada pertanyaan ?” Maka Genesis tidak menahan diri lagi, dia mulai memberikan komentar-komentarnya. Adu debat terjadi. Bahkan kemudian Genesis tanpa bisa menahan diri lagi mulai berani menginterupsi saat Sephiroth sedang meneruskan, melontarkan kritik-kritik atas penjelasan mengenai taktik perang sang General.

Mereka berdua berbeda pendapat. Dan seisi ruangan sadar bahwa walaupun taktik perang metode lain yang disarankan Genesis memang mungkin lebih sederhana; tetapi sangat menyolok bahwa selalu lebih kejam daripada semua metode Sephiroth. Seolah Genesis tidak akan segan mengorbankan nyawa penduduk dalam suatu desa demi kemenangan, bahkan tidak akan segan mengorbankan nyawa ratusan prajurit ShinRa sendiri demi kemenangan.

Entahlah apakah memang Genesis memiliki sifat yang kejam, ataukah hal-hal yang dia lontarkan saat ini dipaksakannya keluar hanya supaya demi bisa mengkritik Sephiroth.

Rapat ini berlangsung sangat lama karena kedua orang itu terus berbantahan. Sudah lewat jam dua siang dan mereka semua masih terkurung di ruangan ini. Angeal mulai lapar dan bosan dengan pertengkaran kedua orang itu. Dia berkali-kali menatap sahabatnya dengan nada memberi isyarat agar sahabatnya diam, tetapi Genesis tidak bisa berhenti kalau sudah memulai sesuatu.

Semua SOLDIER Kelas Ketiga yang hadir disini sekarang sudah bergerak-gerak dengan gelisah dan capek. Lapar, haus, serta kebutuhan untuk ke toilet. Tidak ada yang berani minta izin keluar untuk ke toilet sedari tadi; sebab melihat ekspresi sang General yang seperti orang sedang menjalani uji kesabaran.

Jam tiga siang dan Angeal merasa seluruh ototnya pegal dan kaku, tapi lagi-lagi mereka masih terkurung di ruangan ini; mendengarkan omong-kosong Genesis; sadistic little bitch; yang berusaha mempermalukan Sephiroth dengan sia-sia sebab sang General jelas lebih berotak. Angeal menyesal kenapa dia tidak pernah merusak pita suara sahabatnya sejak dulu (tentu saja kiasan) atau setidaknya menyumbat mulut sahabatnya itu. Dia melirik Genesis yang masih berbicara dan merasa bahwa dia ingin sekali menutup mulut itu dengan tangannya.

Setengah jam kemudian, sesuatu terjadi. Seorang SOLDIER Kelas Ketiga yang bertubuh kecil yang sedari tadi bergerak-gerak gelisah di tempat duduknya; mendadak miring dan terjatuh. Semua orang terkejut. SOLDIER kecil itu pingsan. Dengan sigap Angeal segera melompat bangun dan mengangkat tubuh si SOLDIER yang pingsan dari lantai.

“Bawa dia ke Prof. Hollander !” Seru Sephiroth, tampak terkejut. Angeal mengangguk dan menggendong anak yang pingsan itu keluar.

Kejadian itu cukup menyadarkan Sephiroth bahwa mereka semua sudah lelah. “Rapat selesai !” Dia melirik jam sambil berjalan kembali ke mejanya. Dilihatnya Genesis juga bergerak hendak bangun meninggalkan meja, maka dia berkata; “Kau. Dan temanmu yang tadi, datanglah ke ruanganku nanti sore setelah kalian cukup istirahat untuk membicarakan tentang tingkah laku kalian berdua pagi tadi !”

Genesis tidak menjawab, tapi sepertinya dia mengerti. Dia meninggalkan ruangan bersama SOLDIER yang lain.

Salah seorang SOLDIER Kelas Pertama masih berada disini. “Anak itu……” Dia berkata sambil menunjuk punggung Genesis yang menjauh; “Aku salah satu mentor mereka. Aku akan memberi pelajaran pada anak itu kalau kau mau. Namanya Genesis Rhapsodos, dan dia memang kurang sopan santun.”

Big mouth. Lack of knowledge.” Gerutu Sephiroth sambil membereskan kertas-kertasnya di atas meja.

“Kau terlalu baik dengan meladeninya berdebat.”

“Oh ya ?! Aku hanya ingin membungkamnya, tidak kusangka dia sangat gigih. Semangat yang bagus sebenarnya.” Jawab Sephiroth pula, menumpuk kertas-kertas dan map-nya; “Nah, pergilah istirahat. Aku juga memerlukan istirahat.” Dia meninggalkan ruangan.

‘Tunggu, Sir !” Cegah sang SOLDIER Kelas Pertama; “Anda tidak ingin aku memberi pelajaran sopan santun pada anak itu ?”

“Aku akan melakukannya sendiri kalau aku mau.” Sahut Sephiroth tanpa berhenti berjalan menjauh.

Memang, tidak ada yang bisa berhasil menghasut atau menjilat Sephiroth, walaupun jelas semua orang di ShinRa berusaha melakukan itu.

***

Angeal mengawasi Genesis yang kali ini sibuk makan tanpa banyak protes padahal biasanya selalu saja ada yang bisa dikomentari Genesis tentang makanan di kantin keparat ini.

Si rambut merah itu tidak menaruh perhatian pada apa pun lagi kecuali makanan dan terlihat sangat capek serta kelaparan.

“Kau tidak akan selapar itu kalau kau tadi tidak mencoba berdebat dengan sang General.” Angeal menghela nafas.

“Sudah terlambat.” Jawab Genesis sambil makan; “Aku sudah berdebat dengannya dan sekarang aku sangat capek !”

“Menurutku kau tadi terlalu nekad.” Angeal menghela nafas.

“Nekad ?!” Genesis tertawa sinis; “Terima kasih atas dukunganmu, sahabatku yang baik hati.”

Angeal memutar bola mata.

***

Pintu ruangan Sephiroth diketuk. Si rambut perak itu melirik jam dengan kesal, tapi menahan diri lalu berkata; “Masuk !”

Pintu terbuka. Genesis masuk duluan diikuti Angeal di belakangnya.

“Anda memanggil, Sir ?” Tanya si rambut merah. Agaknya dia sudah lebih tenang dan tidak semarah waktu di ruang rapat. Rupanya kantin di ShinRa entah bagaimana hari ini cukup memuaskannya.

Hari sudah malam. Sebagian besar orang sudah pulang. Sudah jam setengah tujuh. Sephiroth sebenarnya sudah menunggu kedua anak itu sejak jam lima, tapi keduanya tidak muncul juga, maka akhirnya Sephiroth menyuruh salah satu staff untuk memanggilkan keduanya yang rupanya bersembunyi di perpustakaan.

Sephiroth mengamati ekspresi kedua mahluk yang sekarang duduk di hadapannya. Si rambut merah tampak tenang, bahkan tampak agak puas. Sedangkan Angeal tampak setengah geram (entah pada siapa) dan setengah merasa bersalah. Tidak perlu waktu lama bagi Sephiroth untuk menyadari kejadian yang terjadi: Genesis tidak menyampaikan pesan Sephiroth pada Angeal bahwa Sephiroth menunggu mereka. Genesis berpura-pura lupa (dan Angeal memang lupa sungguhan; sebab di awal rapat tadi pagi Sephiroth sudah menyampaikan secara langsung), dan ketika ada staff datang memanggilkan mereka barulah Angeal benar-benar teringat sementara Genesis pura-pura baru ingat.

“Berapa usiamu, Genesis Rhapsodos ?” Sephiroth bertanya dengan nada datar.

“Huh ?” Genesis tampak kaget.

“Aku menanyakan usiamu.” Jawab Sephiroth.

“Bukankah usiaku tercantum dalam data-dataku ?” Genesis balas bertanya.

“Aku ingin mendengarnya secara langsung darimu.” Kata sang General pula.

Mau tak mau Genesis menjawab; “Dua puluh dua.”

Sephiroth menghela nafas, “Kukira kau baru tujuh belas tahun.” Ucapnya kalem lalu meneruskan dengan nada setengah mengejek; “Tentu saja maksudku bukan wajahmu; tapi tingkah lakumu.”

Sekali lagi, Sephiroth membuat Genesis kehabisan kata-kata saking marah dan malunya. Mau tak mau Sang General merasa puas mengamati wajah Genesis yang merah karena malu sekaligus masam karena geram.

“General.” Tegur Angeal dengan nada agak tajam; “Sebenarnya ada apa Anda memanggil kami ?” Jelas sekali Angeal adalah sahabat yang baik yang tidak rela sahabatnya dipermalukan.

“Oh.” Sephiroth mengalihkan pandangannya dari wajah Genesis ke wajah Angeal; “Aku hanya ingin menyampaikan teguranku atas keterlambatan kalian tadi pagi, dan setahuku kalian sudah sering terlambat.” Dia mengeluarkan kartu absen Genesis dan Angeal dari laci mejanya; “Aku menyuruh orang membawakan kartu absen kalian padaku tadi sore.”

Angeal diam sejenak, menatap sang General yang membolak-balik kedua kartu absen itu. Entah kenapa Angeal memiliki firasat bahwa sang General sudah tidak percaya pada catatan hadir yang tertulis disitu, tetapi Angeal terlambat memperingatkan Genesis yang sudah berkilah; “Kalau Anda lihat baik-baik… saya baru terlambat sekali ini……”

“Yang benar ?” Tanya Sephiroth.

“Ya, a---” Genesis mencoba menjawab lagi tetapi Angeal sudah menendang kaki sahabatnya itu di bawah dan berkata duluan dengan cepat kepada Sephiroth; “Maafkan kami.”

Genesis mengaduh dan memelototi sahabatnya. Angeal berusaha menutupi suara mengaduh itu dengan berkata sekali lagi dengan sangat cepat tanpa membalas pandangan Genesis; “MaafkankamiGeneralkamitidakakanmengulanginya !” Tangannya menyikut lengan sahabatnya.

Agaknya sekarang Genesis sadar. Dia menatap Angeal, lalu menatap Sephiroth; “B-bagaimana kau bisa tahu ?” Dia menanyai sang General.

Kalimat yang berkesan kurang ajar itu membuat Angeal menendang kaki sahabatnya lagi di bawah.

Aduh !” Seru Genesis; melompat bangun; “Angeal, aku----”

Angeal memberi isyarat dengan mengerling ke arah Sephiroth. Genesis segera duduk kembali.

Syukurlah Sephiroth tidak marah, tetapi juga tidak tampak terkesan dengan dagelan singkat dari sepasang sahabat itu.

“Apa semua orang di desa Banora seperti ini..?” Dia menggumam pelan.

“Maaf ?” Tanya Angeal.

“Oh, aku hanya bergurau.” Jawab sang General; “Dan untuk menjawab pertanyaanmu, Genesis, aku sadar bahwa catatan di kartu absenmu palsu karena aku melihat ada tiga kali terlambat dalam kartu Angeal sedangkan tidak dalam kartumu, padahal aku sudah dengar bahwa kalian selalu datang bersama, dan kalian berdua jelas melupakan petugas satpam pagi hari yang selalu melihat kedatangan kalian.” Dia berhenti sejenak untuk memperhatikan ekspresi gelisah Genesis, lalu meneruskan dengan tenang; “Tolong jangan buat aku berpikir bahwa kalian berdua baru duduk di SOLDIER kelas tiga, Genesis Rhapsodos dan Angeal Hewley. Itu pertama. Yang kedua, jangan mencoba melukai satpam yang kumaksud hanya karena dia mengatakan kebenaran di depanku. Kalau ada sesuatu terjadi dengan satpam itu dan keluarganya, kalian berdualah yang pertama akan kudatangi.”

“Baik, Sir.” Sahut Angeal formal meskipun mukanya merah padam karena malu dan merasa bersalah.

Sephiroth menatapnya; “Tolong awasi tingkah laku sahabatmu mulai sekarang, Hewley.”

“Baik, Sir.” Jawab Angeal dengan nada tak senang. Bukan tak senang karena apa, tapi karena Sephiroth mengucapkan itu seolah menganggap Genesis liar dan tidak sebijak Angeal sendiri. Angeal tidak pernah ingin dianggap mengungguli Genesis; dalam hal apa pun; oleh siapa pun.

“Dan mulai sekarang.” Tambah sang General; “Aku akan meminta Mr. Lazard mengganti sistem absensi dengan mesin sidik jari. Setidaknya itu lebih baik. Seharusnya ShinRa sudah memperbaiki sistem ini sejak lama, tapi sebelumnya memang tidak ada yang berani berbuat curang; sehingga selama ini kami bersedia mempercayakan setiap anggota untuk menulis sendiri jam hadirnya di kartu masing-masing. Selama ini kami menilai setiap anggota yang bisa masuk ke ShinRa berarti sudah cukup dewasa dan bisa jujur serta bertanggung jawab……”

Muka Genesis memerah. Dia menunduk; tidak berani menatap sang General dan tidak berani mengatakan apa-apa lagi.

Sephiroth diam sejenak. Kedua anak di depannya yang seusia dengannya ini tidak berani membalas pandangannya sekarang. Sebetulnya mereka bertiga seumur. Sephiroth hanya satu (atau beberapa) bulan lebih tua dari Genesis dan Genesis hanya satu (atau beberapa) bulan lebih tua dari Angeal.

Dia merasa bahwa kedua bawahannya itu sudah cukup mendapat pelajaran. “Baiklah, sekarang kalian boleh pergi.” Katanya; “Kurasa kalian tidak akan mengulanginya lagi besok.”

Angeal dan Genesis bangkit. Ketika Genesis mengangkat muka lagi untuk memandang Sephiroth sekilas sebelum mengikuti Angeal meninggalkan ruangan, Sephiroth menyadari tatapan mata kagum dan penuh cinta dari si rambut merah itu seolah sudah bertahun-tahun Genesis memang telah memendam perasaan itu kepada Sephiroth, dan kenyataannya memang begitulah yang sebenarnya…….

The End


Happy Birthday Genesis

Happy Birthday, Genesis



Setting : Somewhere in the past



Genesis bersandar pada dinding, menatap sekeliling ruangan. Tampak semua undangan menikmati pesta ini; kecuali dirinya sendiri. Padahal ini adalah pesta ulang tahunnya yang keenam belas. Semua tamu itu diundang oleh orang tuanya yang sangat memanjakannya, meskipun itu diluar kemauan Genesis sendiri. Teman-teman orang tuanya, dan teman-teman Genesis di Banora Village ini hadir, kecuali……

Sepasang mata biru Genesis melirik pada jam dinding di seberang. Pukul enam sore. Pesta ini sudah dimulai sejak tadi; sejak jam tiga siang, dan akan segera berakhir (setidaknya itulah harapan Genesis). Dia sudah capek dan beramah-tamah bukanlah hobi-nya. Dia lebih suka membaca Loveless atau menulis di buku hariannya. Hobi lain yang diam-diam disukainya adalah mengumpulkan artikel-artikel tentang si Anak Sempurna; Sephiroth dari ShinRa.

Dia sudah memotong kue ulang tahunnya sejak jam lima dengan harapan bahwa acara akan segera berakhir begitu kue ulang tahun dipotong. Tetapi ternyata para orang tua disini masih mau mengobrol dengan orang tua Genesis. Yah, ayah Genesis memang adalah Mayor di Banora Village.

Dia sudah tidak tahan lagi. Orang yang sangat diharapkannya tidak hadir disini. Dia tahu bahwa orang itu tidak mungkin; dan tidak pernah sekalipun; melewatkan kesempatan untuk menemuinya. Dia bergerak, menyelinap di antara orang-orang yang sedang bercakap-cakap sambil tertawa-tawa. Meskipun dia adalah yang berulang tahun disini, agaknya semua orang tidak terlalu memperhatikannya.

“Kakak !”

Dia terkejut dan menengok.

“Weiss.” Dia melihat adiknya menghampirinya.

“Kau mau kemana ?” Tanya sang adik. Sepasang matanya tidak lepas memandangi wajah sang kakak.

“Aku mau keluar sebentar cari angin.” Jawab Genesis.

“Aku tahu kau mau kemana.” Sang adik berkata lagi, nada suaranya tidak bisa dibilang ramah. Mereka bertiga memang tidak terlalu rukun tapi juga tidak bisa dibilang sering berantem. Genesis memiliki dua adik. Ketiga bersaudara ini bersifat mandiri dan masing-masing; tidak saling mencampuri urusan yang lain.

“Terus kenapa kalau aku memang mau kesana ?!” Bentak sang kakak.

“Ini adalah pesta ulang tahunmu dan kau hendak melarikan diri.” Sang adik angkat bahu; “Orang tua kita tercinta terlalu memanjakan Kakak. Tapi terserahlah, aku tidak mau mengganggu kesenanganmu.”

“Bagus kalau kau tahu diri !” Sang kakak membentak sekali lagi, lalu kembali membalikkan tubuh dan meneruskan langkahnya keluar.

Di halaman dilihatnya pohon apelnya. Dia sangat menyayangi pohon itu dan dia sangat menyukai apel dari pohon itu; apel terlezat di dunia. Banyak anak seusianya maupun yang lebih muda atau lebih tua berusaha mencuri apel dari pohon itu; dan sering Genesis menghabiskan waktunya mengusir anak-anak kecil yang tidak bisa menahan diri untuk tidak mencoba mencuri apelnya, tetapi hanya ada satu anak di seluruh Banora Village ini yang tidak pernah mencoba mencuri apelnya.

Yaitu Angeal Hewley.

Padahal Angeal dilahirkan di keluarga miskin, bertolak belakang dengan Genesis. Dan siapa pun tahu bahwa sewaktu kecil kadang Angeal suka mencuri apel dari rumah-rumah lainnya; kecuali rumah Genesis. Bahkan pernah Genesis menawari Angeal apel dari pohon apel di rumahnya ini, tetapi Angeal menolak.

Angeal dan Genesis sangat akrab sejak kecil. Entah apa yang membuat mereka berdua dekat, padahal mereka berdua sangat bertolak belakang. Angeal memiliki bola mata hitam dan rambut hitam, kulit coklat, dan tubuh tinggi besar. Genesis memiliki bola mata biru, rambut merah, kulit putih, dan meskipun dia laki-laki dia adalah anak yang cantik. Keduanya seumur, tapi Genesis lebih tua sekitar satu (atau beberapa) bulan.

Dan hari ini Angeal tidak datang ke pesta ulang tahun Genesis. Tentu saja si rambut merah ini bingung dan kuatir. Dia memang tidak menelepon sahabatnya kemarin karena mengira bahwa Angeal sudah hafal dengan tanggal ulang tahunnya dan akan datang sendiri. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sudah sebulan ini dia jarang melihat Angeal. Agaknya Angeal sedang sangat sibuk. Angeal tidak lagi meneleponnya, tidak lagi datang menjemputnya ke rumah untuk mengajaknya bermain di bukit-bukit dan padang di belakang desa, dan setiap kali mereka bertemu dalam sebulan ini Angeal selalu tampak letih serta capek. Kalau Genesis meneleponnya atau mengiriminya sms pun Angeal hanya menjawab atau membalas seadanya dan terdengar letih.

Apakah Angeal sudah menemukan orang lain yang lebih berarti baginya daripada Genesis ? Kecemburuan pun menguasai Genesis.

Biasanya Angeal tidak begini. Satu hal yang sangat disukai Genesis dari Angeal selama ini adalah bahwa dia bisa percaya Angeal tidak akan pernah meninggalkannya. Angeal pernah menjanjikan itu waktu mereka berdua masih kanak-kanak; bahwa mereka berdua akan selalu bersama, bahwa Angeal akan menjaganya, dan bahwa tidak ada rahasia apa pun di antara mereka.

Bagaimana jika mendadak Angeal menemukan orang lain ?! Tidak, tidak ! Angeal adalah miliknya ! Angeal tidak mungkin bisa meninggalkannya ! Genesis sadar sekali akan pesona dirinya sendiri, dan dia meyakinkan diri bahwa Angeal tidak mungkin bisa melepaskan diri dari pesonanya ini.

Genesis tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dia harus ke rumah Angeal sekarang juga dan memaksa sahabatnya menceritakan apa yang mengganggu pikiran sahabatnya itu selama sebulan ini.

Dia menatap gubuk tempat tinggal Angeal. Sahabatnya itu tidak memiliki ayah. Ayah mereka kabarnya meninggalkan Angeal dan ibunya sewaktu Angeal masih kecil karena urusan pekerjaan. Ibu Angeal; Gillian; seorang diri mengasuh putranya. Dia mengetuk pintu gubuk.

Tak lama kemudian pintu terbuka dan seorang wanita setengah baya muncul. Wanita itu adalah Gillian; ibu Angeal. Wanita itu tampak kurang sehat. “Oh, Genesis.” Gillian menyapa; “Masuklah. Ayo masuk.” Wanita itu menyilakannya masuk dengan hangat. Genesis masuk. Dia selalu suka berada disini. Gillian sangat ramah padanya dan memperlakukannya seperti anak sendiri. Bahkan Genesis pernah mendengar bahwa sejak kecil Gillian selalu berpesan kepada Angeal agar Angeal menjaga Genesis dan menghormati Genesis seperti seorang kakak.

Dan meskipun sangat miskin; Gillian selalu berusaha menjamu Genesis setiap kali Genesis datang ke pondok ini. Seperti sekarang, sang nyonya tua berusaha mencari-cari di lemari dapurnya.

“Tidak usah repot-repot.” Putus Genesis; “Aku tidak lapar dan tidak haus. Oh ya, dimana Angeal ?”

Gillian berhenti mencari-cari dan terdiam sesaat. “Angeal belum pulang.” Ucapnya pelan.

“Belum pulang ?!” Ulang Genesis. Salah satu kelemahan Genesis adalah sifat emosionalnya. Anak berambut merah ini sulit mengendalikan emosi.

“Maaf, Genesis.” Gillian menatapnya; “Angeal belum pulang. Aku ingat.. hari ini hari ulang tahunmu, ya ?! Aku harus memberimu sesuatu…..” Dan si nyonya tua sesaat tampak kikuk, menatap ke sekitarnya; berusaha mencari-cari sesuatu yang layak diberikan.

“Tidak usah !” Putus Genesis dengan cepat; “Aku hanya ingin Angeal !” Gillian tampak merasa bersalah.

“Kemana Angeal sebenarnya ?” Tanya Genesis pula sambil berusaha mengabaikan rasa bersalah di wajah si nyonya tua di hadapannya ini.

“D-dia……” Gillian tampak ragu.

Genesis menunggu.

“Dia……” Sekali lagi sang nyonya ragu, bahkan tampak gundah; “Genesis, maafkan aku. Angeal memintaku agar jangan memberitahumu.”

“Apa ?!” Genesis tersentak; “Angeal memintamu jangan memberitahuku ?!”

Agaknya nada suara Genesis meninggi sebab Gillian tampak semakin merasa bersalah dan membungkuk pada si anak Mayor.

“Angeal menyembunyikan sesuatu dariku ?!” Genesis masih bicara; “Kenapa ? Kemana dia ? Katakan padaku !”

Gillian menggeleng. Di satu sisi, nyonya tua ini tidak ingin membuat Genesis marah. Dia menyukai anak itu. Tapi di sisi lain, dia telah berjanji kepada putra kandungnya sendiri untuk tidak memberitahukan ini kepada Genesis karena putra kandungnya itu merencanakan----

“Ibu, aku pulang !” Sebelum Gillian sempat berpikir lebih jauh, terdengar seruan riang, dan seorang anak laki-laki bertubuh tinggi besar melangkah masuk, lalu terkejut melihat ada tamu disini; “Genesis ?”

“Angeal !” Genesis bertolak pinggang. Kemarahan tercermin di bola mata birunya; “Darimana kau ?”

Sejenak Angeal diam, matanya menatap ibunya yang memberi isyarat dengan mengangguk.

“A-aku……” Angeal menjawab dengan aneh. Tangannya bergerak mengusap rambutnya sendiri dengan kikuk.

“Sebaiknya aku istirahat dulu.” Ucap Gillian; “Maafkan aku, Genesis.” Nyonya tua itu membungkuk sekali lagi, lalu meninggalkan ruangan ini; masuk ke kamar, memberi kesempatan kepada putranya untuk bicara berdua dengan si anak Mayor.

“Nah ?” Genesis tidak sedikit pun mengalihkan pandangan matanya dari wajah sahabatnya.

Angeal masih tampak kikuk, tapi kemudian agaknya dia berusaha menenangkan diri dan tersenyum pada sahabatnya itu lalu berkata; “Genesis, hari ini hari ulang tahunmu ! Aku--- ”

“Aku mau tahu kau habis darimana !” Putus Genesis membentak; “Jangan mengalihkan pembicaraan, Angeal !”

Angeal agak salah tingkah. “Baik, baiklah.” Dia berusaha membujuk sahabatnya; “Aku akan memberitahumu, tapi izinkan aku ganti baju dulu, lalu bagaimana kalau kita pergi ke kota sambil merayakan ulang tahun---”

“Aku mau dengar kau habis darimana, sekarang juga !!” Lagi-lagi Genesis membentaknya. Angeal merasa melihat kilatan seperti percikan api di mata biru Genesis; menandakan bahwa kesabaran si rambut merah itu sudah habis.

Angeal tahu tidak ada gunanya mengelak lagi.

“Baiklah.” Dia menunduk; “Tapi bisakah jangan disini ?” Dia memelankan suaranya dan meneruskan; “Nanti ibuku dengar apa yang ingin kusampaikan padamu.”

Genesis memutar bola mata dengan tak sabar. Dia membuka mulutnya hendak membentak sahabatnya lagi sekaligus menolak saran itu, tapi Angeal dengan cepat memohon; “Please ? Tolonglah.”

“Ya sudah !” Genesis menghela nafas kesal; “Kau mau bicara dimana ?” “Bagaimana kalau kita sambil jalan ke bukit di belakang desa ?” Angeal mengusulkan.

“Terserah !” Genesis mendahului sahabatnya keluar dengan marah. Angeal mengikuti di belakangnya.

Mereka berdua berjalan di bawah langit malam yang bertabur bintang. Sepanjang jalan agaknya Genesis terlalu kesal untuk bicara. Dia berjalan di depan dengan langkah cepat dan tidak menengok sedikit pun. Angeal mengikuti di belakangnya, menatap punggung sahabatnya.

Di padang rumput tempat mereka biasa bermain, Genesis berhenti dan membalikkan tubuh untuk menatap sahabatnya.

“Apa lagi alasanmu sekarang ?” Dia langsung mencecar; “Disini sudah cukup sepi, puas..?! Ibumu takkan bisa mendengar kita dari sini, bahkan jika kau berteriak sekalipun, dan aku sudah tidak tahan lagi dengan tingkahmu yang membuat-buat misteri untukku ! Aku benci misteri, dan aku benci menjadi orang yang tidak tahu apa-apa, dan----”

Ucapan Genesis terputus sebab Angeal sudah melangkah mendekatinya sampai posisi mereka cukup dekat bagi Angeal untuk mengulurkan tangan kanannya menutup mulut Genesis dengan telapak tangan, tentu saja secara lembut. Kemarahan langsung tampak semakin menyala di mata si rambut merah, dan nyaris dia menarik tangan Angeal lalu menonjok sahabatnya itu saking marahnya, tapi sebelum dia sempat melakukannya Angeal sudah mencium dahinya dan berbisik; “Selamat ulang tahun, Genesis.”

Ciuman itu tidak disangka-sangka dan karena diberikan dengan sangat tulus dapat memadamkan kemarahan Genesis. Selama beberapa detik dia membiarkan dirinya dipeluk oleh sahabatnya itu. Angeal memeluknya erat dan mencium dahinya sekali lagi. Kemudian akhirnya Genesis melepaskan diri dan mundur beberapa langkah.

“Jangan membodohiku.” Dia berkata, tapi sudah tidak marah lagi; “Sebenarnya apa yang terjadi, Angeal ?”

Angeal tersenyum; “Salah satu kelemahanmu adalah tidak sabaran.” Dia menggoda, lalu meneruskan dengan serius begitu melihat ekspresi sahabatnya berubah; “Oke….. A-aku… aku kerja part-time……”

“Apa ?!?”

“Aku mencari kerja sambilan di Midgar.” Lanjut Angeal dengan jengah. Mukanya memerah dan dengan kikuk dia mengalihkan pandangannya dari wajah sahabatnya; “Sudah sebulan ini. Hanya kerja kasar, kok……”

“Dan kenapa kau merahasiakan itu dariku ?” Balas Genesis.

“Se-sebab….” Muka Angeal semakin merah; “Sebab aku melakukannya untukmu..! Aku mulai kerja sekitar awal bulan ini, karena a-aku ingin mengumpulkan uang untuk me-mengajakmu makan malam di salah satu tempat mewah di Midgar di malam ulang tahunmu……”

Genesis terdiam.

“Aku memberitahu ibuku bahwa aku kerja sambilan untuk mencari uang guna mengajakmu makan di tempat yang layak.” Lanjut Angeal; “S-sebenarnya aku merencanakan membeli buket bunga untukmu, dan.. dan.. aku ingin menyampaikan sesuatu yang penting……”

Genesis menatap sahabatnya. Angeal masih menunduk dan meneruskan; “Tapi.. tapi rencanaku gagal, Genesis. Aku pulang terlambat hari ini sebab di jalan aku melihat seorang anak kecil yang sedang dipukuli penyamun dan aku menolong anak itu dulu…. Maafkan aku, Genesis, aku tidak bermaksud mengacaukan segalanya. Aku tidak bermaksud membuatmu marah. Aku tidak bermaksud merusak kegembiraanmu. Aku tidak bermaksud membuatmu menungguku… bahkan kau sampai datang sendiri ke rumahku…… Maaf.”

Tidak ada jawaban.

Dengan susah payah Angeal mengangkat wajahnya lagi untuk memandang sahabatnya yang terus menatapnya dalam diam seribu bahasa.

“Genesis..?” Bisik Angeal.

Selama beberapa detik Angeal yakin dirinya melihat ada genangan air mata di sepasang mata biru Genesis; membuat sepasang mata itu tampak berkaca-kaca dan indah. Tapi hal yang paling tidak diinginkan Angeal adalah membiarkan air mata tumpah dari sepasang mata biru yang sudah sangat dikenalnya itu. Dia tidak pernah ingin melihat sahabatnya tersayang menangis. Tanpa tertahankan dia mendekati sahabatnya itu lagi dan memeluknya.

Genesis membiarkan Angeal memeluknya selama sesaat, lalu kemudian dia tertawa; memecah keheningan. Dia mendorong bahu Angeal dan mundur lagi beberapa langkah untuk melepaskan dirinya dari pelukan Angeal.

“Dasar bodoh !” Tawa Genesis; “Kau memang bodoh !” Tapi tawa itu bukan tawa mengejek, bukan tawa menghina. Tawa itu penuh dengan rasa haru, geli, campur iba. “Huh ?!” Angeal menggaruk kepalanya yang tidak gatal; “Kau berani bilang aku bodoh, eh ?!” Angeal tahu Genesis hanya menggodanya.

Genesis menghabiskan tawanya, lalu kali ini giliran dia yang melangkah mendekati sahabatnya. Tangannya terulur membelai pipi Angeal. “Kau memang orang paling bodoh di dunia ini, Angeal.” Bisiknya dengan nada sayang; “Tapi aku tetap menyukaimu. Kau pikir dengan mengajakku makan malam di tempat mewah bisa menyenangkanku ?! Kau tahu sekali apa yang sebenarnya kuinginkan, Angeal !”

Angeal menatap wajah sahabatnya. Sepasang bola mata biru Genesis membalas tatapannya dengan penuh arti.

Ada dua hal yang paling diinginkan Genesis di dunia ini, dan Angeal tahu itu. Dua hal itu adalah Sephiroth, dan Angeal sendiri.

“T-tapi sebenarnya yang ingin kuberikan padamu di malam ultahmu bukan hanya membawamu makan di tempat mewah.” Bisik Angeal, tangannya menggenggam tangan Genesis yang sedang membelai pipinya; “Sebenarnya.. ada hal yang ingin sekali kukatakan padamu… aku berharap bisa mengatakannya bersama seikat bunga, tapi……”

“Aku tidak perlu bunga.” Jawab Genesis; “Katakan saja apa yang mau kau katakan.”

Lagi-lagi muka Angeal memerah. Dia tampak kikuk dan gelisah lagi, tapi kemudian dia memantapkan hatinya. Sudah lama dia merasakan ini, dan dia harus mengatakannya sekarang. Dan sudah lama juga diam-diam dia sadar bahwa Genesis merasakan hal yang sama, walaupun agaknya Genesis menunggu Angeal yang memulai duluan. Dan Angeal tidak ingin membiarkan Genesis menunggu lebih lama lagi.

Perlahan dia memberanikan diri mengulurkan tangannya ke dagu sahabatnya dan mengangkat dagu sahabatnya agar wajah itu menengadah menatapnya. Selama ini Angeal selalu bersikap sangat sopan. Meskipun Genesis sering menyentuh pipi Angeal dan membelai wajah Angeal, tidak sekali pun Angeal berani membelai wajah Genesis walaupun sebenarnya Angeal sangat ingin melakukannya.

Dua pasang mata bertemu dalam diam.

Sudah lama Genesis tahu perasaan Angeal. Sudah lama Genesis juga menyimpan rasa yang sama terhadap Angeal. Tapi Genesis pun sadar bahwa Angeal butuh waktu, dan selama ini dia bersabar memberi waktu bagi Angeal. Jantung Genesis berdebar keras; Akankah kali ini Angeal mundur lagi seperti biasa ? Akankah kali ini pikiran Angeal kembali lari pada “harga diri”, “norma-norma”, dan rendah diri akan “perbedaan status” yang selama ini mengurung Angeal dari keinginannya? Ataukah kali ini sahabatnya itu sudah cukup berani ? Genesis berharap kali ini mimpinya bisa menjadi kenyataan.

Keheningan mencekam mereka berdua. Dua pasang mata bertemu, penuh arti. Yang satu diam menunggu, sedangkan satunya……

Selama ini Angeal selalu berusaha bersikap sopan. Meskipun Genesis jelas-jelas sudah membuka diri, Angeal tetap bersikap sebagaimana layaknya sahabat atau adik. Harga dirinya membuatnya merasa tidak mungkin dia bisa menyukai seorang pria; secantik apa pun. Tapi dalam hati kecilnya Angeal pun menyadari bahwa sebenarnya yang mencegahnya untuk menyukai Genesis bukanlah “harga diri”, tapi malah “rendah diri” akan perbedaan status sosial mereka.

Sekarang ini, Angeal merasa dia harus memberanikan diri. Jika tidak, mungkin Genesis akan keburu lelah menanti. Persetan dengan segala norma-norma masyarakat ! Persetan dengan jenjang status di antara mereka berdua !

“Aku… menyukaimu.” Angeal berbisik. Pelan, tapi tegas. Akhirnya…..! Senyum menghiasi wajah Genesis.

Dan bersamaan itu Angeal mendekatkan wajahnya ke wajah Genesis dan mengecup bibir sahabatnya…… Tangannya membelai rambut merah sahabatnya itu dan dia merasakan bibir yang diciumnya memberi respon balasan yang penuh semangat.

Sekarang dia akan bisa meraba wajah itu, membelai rambut merah itu, mencium mata yang selama ini dijaganya agar jangan menangis, dan bahkan lebih dari itu…….

The End

Pengikut

free hit counter