Tampilkan postingan dengan label Yaoi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yaoi. Tampilkan semua postingan

Hollander's Dirty Wish

SHINRA ACADEMY : HOLLANDER’S DIRTY WISH

Rating : M

Charas : Hollander, Genesis, Sephiroth.

Setting : Somewhere in the past; ShinRa.

Genre : (Apa aja deh, agak2 horor bagi saia – wkwkwkwk… xD)

Warning : Sedikit Yaoi yang bikin merinding, tapi nggak ada Lime/Lemon. Kalau nggak suka, silakan lewatkan chapter ini karena chapter berikutnya tidak berhubungan dengan yang ini.


Hollander menatap wajah seorang pemuda yang sedang tidur di atas dipan di ruangan labolatorium-nya. Wajah itu begitu memukaunya. Penuh dengan daya tarik duniawi. Bibir yang sedikit terbuka seolah menantang siapa pun untuk melumatnya. Hollander mendekat, mengawasi wajah si pemuda lebih dekat lagi. Sekarang dia bisa tenang-tenang mengawasinya. Jika sepasang mata pemuda itu membuka; menampakkan bola mata biru-kelabu yang indah itu; maka Hollander takkan berani lagi memandangi wajah itu lama-lama.

Sebenarnya sayang sekali Hollander tidak bisa menatap sepasang mata biru-kelabu yang cantik milik si pemuda yang sedang tertidur ini. Mata itu; Hollander mengingatnya; begitu hidup. Begitu penuh daya pikat duniawi. Begitu menantang. Penuh aroganisme dan kecongkakan, tetapi begitu indah.

Perlahan sang profesor tua mengulurkan tangannya. Jemarinya menyentuh pipi si pemuda yang sedang tidur ini. Pemuda itu tidak merasakannya. Oh tentu saja tidak. Obat tidur racikan Hollander memang keras. Sang profesor tersenyum sendiri.

Burung merak merah; Pikir Hollander sambil mengagumi kecantikan si pemuda yang sedang tidur di dipannya. Pemuda itu adalah SOLDIER Kelas Pertama; Genesis Rhapsodos; mahluk yang bermain dengan api laksana burung phoenix. Tetapi saat ini Genesis sama sekali tidak berbahaya, sebab pengaruh obat tidur jelas membiusnya.

Hollander menikmati menyentuh kulit wajah Genesis yang putih bersih, kemudian ke bibirnya yang sedikit terbuka. Perlahan Hollander memasukkan jari telunjuknya ke mulut Genesis; mendorong bibir itu membuka. Telunjuk sang profesor terus masuk ke dalam mulut sang SOLDIER. Hollander menutup mata; membayangkan SOLDIER Kelas Pertama itu menghisap jarinya.

Kemudian sang profesor membuka mata lagi, menatap kembali wajah cantik yang sedang tertidur itu; seakan tidak ada di dunia ini yang bisa membangunkannya. Bahkan ciuman sekali pun.

Sang profesor menarik kembali jarinya dari mulut Genesis. Kemudian profesor itu membungkuk; mendekatkan wajahnya ke wajah Genesis; sampai dia bisa merasakan nafas pelan sang SOLDIER yang tertidur.

Genesis terlalu menarik; Pikir Hollander; Sangat—sangat—menantang. Membuat siapa pun merasa tertantang untuk memilikinya; menyentuhnya; menundukkannya…. Tetapi tentu saja tidak akan ada yang bisa berhasil, sebab Genesis adalah SOLDIER Kelas Pertama yang terhebat setelah Sephiroth…..

Dan Angeal.

Setara dengan Angeal.

Hollander mengamati wajah Genesis dari dekat; membayangkan apakah Angeal pernah menikmati bibir si rambut merah itu. Angeal; putranya tersayang. Putra tunggalnya yang baik, yang tidak (belum) tahu bahwa Hollander adalah ayahnya.

Apakah putra tunggalnya; Angeal; pernah menciumi bibir si rambut merah ini… atau malah mungkin lebih dari itu ?

Hollander sudah sering memperhatikan keduanya dari jauh sejak keduanya tiba di ShinRa Building ini. Bisa dikatakan Genesis-lah yang lebih dominan. Jadi.. apakah bibir si rambut merah ini pernah memaksa mencium bibir Angeal..?

Hollander paham sifat keduanya. Kalau ada sesuatu pernah terjadi di antara Angeal dan Genesis; itu semua adalah upaya Genesis. Mahluk berambut merah ini begitu liar, penuh nafsu duniawi, sekaligus penuh daya pikat yang menggairahkan.

Jari-jari Hollander bergerak ke leher Genesis.

Mahluk ini adalah ciptaanku; Pikirnya; Ciptaanku yang gagal. Tentunya saat ini mahluk malang ini tidak pernah mengira bahwa dirinya hanyalah sebuah ciptaan yang gagal. Hollander tersenyum. Jari-jarinya kini melepaskan pelindung bahu kiri Genesis, lalu pelindung bahu kanan, kemudian perlahan menanggalkan jubah merah Genesis.

Hollander meletakkan jubah merah itu di lantai, lalu tangan sang profesor bergerak ke ban pinggang sang SOLDIER yang tertidur.

Mahluk pongah yang malang; Batin sang profesor lagi; Burung merak. Mahluk ini belum sadar apa yang akan menimpanya.

Sang profesor menggeleng prihatin. Bukan karena kasihan pada monster yang sedang tertidur ini, tetapi karena menyesali kegagalannya. Angeal; putranya; adalah sesuatu yang lebih sempurna ketimbang monster berambut merah ini. Tapi sama saja. Baik Genesis maupun Angeal; keturunan Project-G yang diciptakan Hollander ini; tidak pernah bisa menyamai hasil dari Project-S ciptaan Hojo sialan itu.

Genesis mengeluarkan bunyi rintihan pelan.

Hollander tersentak dan buru-buru menarik tangannya dari kulit sang SOLDIER. Tentunya si profesor tua ini tidak mau ambil resiko sang SOLDIER menyadari apa yang sedang terjadi. Tetapi untunglah rupanya SOLDIER itu belum bisa terbangun dari tidurnya juga. SOLDIER itu hanya merintih pelan sedetik lalu kembali terlelap; memberi kesempatan pada Hollander untuk kembali menyentuhnya.

Hollander tahu persis siapa yang diinginkan oleh monster ciptaannya ini. Memang sudah takdirnya. Memang sudah ditanamkan dalam darahnya. Bahkan jika monster itu berusaha untuk mengelak pun akan sia-sia. Sebagai ciptaan sulung dari Project-G; dalam diri Genesis secara otomatis menyukai Sephiroth; mengharapkan Sephiroth yang merupakan ciptaan tunggal dari Project-S saat ini. Hampir seperti Adam dan Hawa. Hampir bisa diistilahkan bahwa Genesis diciptakan dari tulang rusuk Sephiroth; tepatnya sel Jenova yang berada dalam tubuh Sephiroth.

Keberhasilan Hojo, dan kegagalan Hollander.

Sephiroth bahkan tidak mau membalas perasaan Genesis; tidak perduli bagaimana indahnya fisik Genesis. Menurut pengamatan Hollander selama ini, Sephiroth agaknya cukup baik pada Angeal; mahluk kedua hasil keturunan Project-G. Tetapi jelas bukan berarti Sephiroth jatuh cinta kepada salah satu pun di antara Genesis maupun Angeal. Hanya saja sebagai seorang sahabat atau kakak; Sephiroth agaknya lebih menyukai Angeal daripada Genesis.

Tentu saja; Pikir Hollander. Angeal memiliki budi pekerti yang baik. Dan Angeal adalah ciptaan yang lebih sempurna ketimbang Genesis.

Meskipun begitu; Hollander tahu bahwa keindahan yang dimiliki kedua monster ciptaannya bukan hasil kreasi tangannya. Itu adalah pemberian Gaia. Keindahan fisik yang didapat secara biologis. Begitulah darimana Angeal bisa mendapatkan rambut hitamnya yang tebal bergelombang. Rambut yang mirip dengan ibu biologis Angeal; yaitu Gillian.

Istri Hollander. Istrinya yang sah hingga saat ini; yang ditinggalkannya di desa Banora. Hollander meninggalkan istri dan anaknya demi mengabdi kepada ShinRa.

Bicara soal Gillian, sebenarnya ada bagian-bagian dalam diri Genesis yang juga mirip dengan Gillian.

Tentu saja.

Sel Jenova; disuntikkan lebih dahulu kepada Gillian. Kemudian dari situlah sel Gillian disuntikkan kepada si bayi tabung yang sekarang sudah menjadi manusia dewasa di depannya ini. Ciptaan yang tidak sempurna. Monster. Meskipun begitu; bayi tabung juga dihasilkan dari persilangan sel sperma dengan sel telur manusia, hanya saja bukan secara normal. Orang tua biologis Genesis adalah Kepala Desa Banora dan istrinya. Sang Kepala Desa memang sudah merupakan abdi setia ShinRa dan menerima bayi yang diberikan padanya, meskipun awalnya istrinya agaknya jijik dengan si bayi.

Kemudian dari Gillian sendiri secara langsung melahirkan bayi; yang tentunya menjadi ciptaan yang lebih sempurna dibanding yang pertama tadi. Bayi yang lebih normal ini adalah Angeal.

Entah darimana Genesis mendapatkan rambut merahnya; sebab baik Gillian maupun orang tua biologis Genesis sendiri berambut hitam.

Sedangkan kedua adik biologis Genesis; Weiss dan Nero; memiliki proses kelahiran yang jauh lebih normal.

Tentu saja jika bicara soal fisik, memang Hollander mengakui bahwa monster berambut merah ini sangat sempurna; setidaknya saat ini; sebab kesempurnaannya ada batasnya dan dengan cepat akan menguap. Sayangnya itu juga akan terjadi kepada Angeal; tetapi dengan kondisi berbeda.

Sepasang mahluk Project-G; Genesis dan Angeal; masih belum bisa menandingi satu-satunya mahluk dari Project-S milik Hojo; Sephiroth; putra biologis Hojo sendiri dengan si cantik Lucrecia.

Hollander menghela nafas menyadari kenyataan itu. Kegagalannya. Dan lagi-lagi keberhasilan Hojo.

Diam-diam timbul harapan aneh di batin Hollander. Meskipun sepasang monster hasil kreasinya tidak bisa menandingi Sephiroth; dia berharap setidaknya salah satu bisa menjadi pasangan Sephiroth. Bukankah Genesis sangat serasi dengan Sephiroth ? Di seluruh ShinRa ini, siapakah yang bisa menandingi keindahan fisik Genesis ? Mahluk paling cantik di SOLDIER. Sayangnya itu tidak akan berlangsung lama. Dan ketika rambut mahluk ini memutih serta tubuhnya melemah; meskipun kulitnya tidak berubah; apa Sephiroth masih mau meliriknya ?

Yah, sekarang saja tidak. Apalagi nanti.

Hollander kembali membelai pipi si monster berambut merah yang sedang tertidur. “Kenapa kau tidak mau berusaha lebih keras ?” Bisik sang profesor; “Bukankah kau sangat menginginkan Sephiroth ? Kenapa kau tidak mau memaksa lebih keras ? Kau sangat menginginkannya; semua orang tahu itu. Kau membencinya sekaligus mengharapkannya. Kau iri padanya sekaligus mengaguminya setengah mati. Semua orang bisa melihatnya. Terpancar dari matamu, ekspresi wajahmu, gairahmu, kata-katamu, sikapmu, bahkan aku bisa melihat getaran kulitmu yang mendambakan untuk bersentuhan dengan kulitnya.”


Authoress : *Coughs* Itu menjijikkan. I need a break. Phew. Air. *gasp*

Oke, lanjut…..



Jari-jari Hollander menyentuh tubuh Genesis perlahan, dari ujung kepalanya; lalu rambutnya; lalu beralih ke wajah—kelopak mata yang tertutup, pipi, hidung, bibir yang sempurna, lalu dagunya. Kemudian leher dan terus turun…..

Hollander tidak pernah bisa mengerti kenapa putra Hojo menolak mahluk seindah ini. Memang sih; keindahan ini akan pudar begitu proses degradasinya dimulai, tetapi saat ini.. siapa di dalam nama Gaia yang bisa menandingi keindahan burung merak merah ini…?

Dengan frustasi Hollander teringat kembali kepada Hojo dan Lucrecia. Ya, pastilah Sephiroth mewarisi keangkuhan Hojo dan Lucrecia. Hati yang dingin milik Hojo dan Lucrecia, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa sel-sel dalam tubuh Sephiroth adalah pemberian Jenova. Yang paling menimbulkan frustasi adalah fisik Sephiroth yang sungguh mengingatkan akan ibu biologisnya yang cantik rupawan. Wanita dambaan Hollander; yang telah menolak Hollander untuk Hojo. Si cantik Lucrecia; wanita paling sempurna……..

“Kalau bukan Genesis,” Bisik Hollander pada dirinya sendiri; “Pilihlah Angeal, Sephiroth..!!”

Sialnya, tepat saat dia mengatakan kata terakhir, pintu ruangan labolatoriumnya terbuka. Hollander menengok dan nyaris terlompat menyadari siapa yang berjalan masuk.

“S-S-S-Sephiroth…?”

Sephiroth tentu saja tidak mendengar jelas ucapan Hollander mengenai “pilihlah Angeal” tetapi dia jelas tidak menyukai pemandangan yang dilihatnya. “Singkirkan tangan kotormu darinya !!!” Sephiroth langsung membentak. Pemandangan yang dilihatnya memang layak untuk membuat si pemilik pedang Masamune ini naik darah. Bagaimana tidak ?! Dia melihat sahabatnya tersayang (oke, mungkin bukan ‘tersayang’ tapi toh tetap sahabatnya) berbaring tak sadarkan diri di atas dipan labolatorium; tanpa mengenakan busana apa pun lagi; dan si tua Hollander berdiri di sisi dipan; membungkuk dan menyentuh tubuh sahabatnya itu. Walaupun Hollander tidak tampak bernafsu dengan tubuh yang dilihatnya, tetapi toh Sephiroth tetap tidak bisa menerima perlakuan seperti itu kepada sahabatnya !

Pedang Masamune nyaris menebas putus kepala Hollander jika Hollander tidak buru-buru membanting diri untuk tiarap sampai menabrak meja dan terguling ke sudut ruangan.

Dengan cepat Sephiroth menyambar kain selimut yang berada di kaki Genesis lalu menutupi tubuh sahabatnya itu, kemudian dia menghampiri Hollander yang tersudut. Pedang Masamune-nya terarah mengancam.

“Apa yang kau lakukan ??!” Bentak Sephiroth.

“S-S-S-Sephiroth-T-t-idak-a-ada-y-yang-k-kulakik-maksudku-kulakukan---” Hollander tergagap memandang sosok marah di hadapannya.

“Kau apakan dia ??!” Sephiroth membentak lagi; “Jawab yang benar !!”

“A-aaa-aku..me-me-memeriksanya……” Otak Hollander bekerja sementara dia memberanikan dirinya mengucapkan dalih; “D-dia demam ! A-aku mengecek s-s-suhu b-badannya…..”

“Benarkah begitu ?!” Tanya Sephiroth tanpa menurunkan pedangnya. Ekspresinya masih terlihat sangat murka.

“Y-yaaa….” Hollander mengangguk-angguk meyakinkan.

“Aku tidak merasa kau mengatakan yang sebenarnya !” Lanjut Sephiroth pula; “Sebab menurutku Genesis tidak akan membiarkanmu melepaskan seluruh pakaiannya begitu !”

“D-dia.. t-tertidur…..” Hollander membela diri; “A-aku m-melakukannya d-di-luar kesadarannya… se-sebab a-aku ha-harus m-mengecek suhu b-badannya…..”

“Tidak bisakah kau mengecek suhu badannya dengan menempelkan termometer pada lehernya atau semacam itu ?!” Balas Sephiroth; “Yang kulihat tadi sangat menjijikkan !”

“M-maafkan a-aku, S-Sephiroth……” Hollander buru-buru bertekuk lutut; “Tadi a-aku sa-sangat bingung.. m-maka aku berbuat b-bodoh….. Kau tahu kan, a-aku tidak bermaksud melakukan hal-hal yang diluar kesusilaan kepadanya……”

“Yang benar ?!”

“Sephiroth ! Kau tahu aku, kan… A-aku sudah tua, dan a-aku sudah mengabdi lama di ShinRa. Apa m-mungkin aku berbohong pada se-seorang SOLDIER Kelas Pertama sepertimu ?! Kau tahu sendiri; a-aku laki-laki. Aku t-tidak tertarik kepada sesama laki-laki !”

“Aku jelas tahu kau laki-laki, tetapi aku tidak yakin kau tertarik atau tidak kepada sesama jenis.” Gerutu Sephiroth; “Sebab di ShinRa ini semuanya bertingkah aneh belakang ini !”

“Sephiroth, ayolah……”

“Baiklah. Kita andaikan kau jujur. Tapi kenapa kau membius Genesis ?”

“M-memb-bius…?” Ulang Hollander kaget. Dia heran bagaimana Sephiroth bisa tahu dia telah memberi Genesis obat tidur.

“Jangan membodohiku, Profesor.” Sahut Sephiroth; “Aku kenal Genesis. Aku pernah beberapa kali bertanding dengannya. Level kekuatannya sangat tinggi; nyaris menyamaiku; dan orang macam kau takkan bisa menyentuhnya tanpa membuatnya terbangun. Sekarang ini kita berdua berbicara dengan suara keras dan berisik, aku heran kenapa dia tidak terbangun jika memang dia tidak dibius, sedangkan orang biasa yang bukan SOLDIER saja pasti terbangun kalau ada yang berisik di dekat tempat tidurnya.”

“A-a-aaaa…..” Sesaat Hollander hanya bisa tergagap lagi. Tetapi Masamune semakin mendekat ke lehernya, maka dengan cepat dia memberi alasan; “A-aku tidak me-membius G-Genesis….. Pasti a-asistenku tidak sengaja memasukkan o-obat tidur ke gelas yang ditujukan untuk Genesis…..” Sang profesor bersimpuh; “Tolonglah, General. Percayalah, aku tidak mungkin punya maksud tertentu terhadap Genesis; apalagi dia adalah SOLDIER Kelas Pertama ! K-kau tahu aku sudah lama berada di ShinRa dan a-aku cukup dipercayai oleh P-president ShinRa……”

Sephiroth diam sejenak. Mudah baginya untuk memotong kepala si tua di depannya ini. Tetapi dia tahu bahwa President ShinRa mempercayai si tua ini, dan jika dia membunuh si tua ini maka dia akan menimbulkan banyak tanda tanya dan rentetan penyelidikan mengenai motifnya membunuh dan itu malah akan semakin memalukan Genesis sendiri. Maka dia menurunkan pedangnya.

“Kalau sampai terjadi lagi, Profesor, aku tidak akan memberi ampun.” Ucapnya mengancam.

“B-baik….!” Jawab Hollander.

“Dan mulai sekarang setiap kali Genesis harus mengunjungimu untuk keperluan apa pun, aku akan memastikan aku menemaninya.” Lanjut Sephiroth.

“S-silakan.” Sang profesor mengiyakan.

“Berapa lama sampai pengaruh obat bius sialanmu lenyap ?” Tanya Sephiroth pula; “Berapa lama Genesis akan tidur ?”

“S-sekitar.. d-dua hari.” Sahut Hollander; “D-dia akan b-baik-baik saja begitu sadar. Ha-hanya obat tidur biasa, tidak akan ada efek samping.”

“Bagus. Kalau sampai dua hari dia belum bangun juga; atau jika dia bangun dalam keadaan tidak sehat; aku akan mencarimu lagi !”

“Y-yaa……”

Sephiroth yang sudah menyimpan kembali pedangnya; berjalan ke dipan lagi. Dia menyambar semua pakaian Genesis dan memakaikannya kepada sahabatnya itu tanpa berhasil membuat Genesis terbangun.

Hollander mengawasinya. Ekspresi Sephiroth tetap dingin, tidak ada perubahan; meskipun gerakannya memakaikan pakaian di tubuh sahabatnya tergolong lembut.

Hollander memberanikan diri bertanya; “K-kau.. menyukainya ?”

Sephiroth tidak menjawab. Dia menyelesaikan memakaikan pakaian kepada sahabatnya yang tertidur seperti boneka saja. Lalu dia mengangkat tubuh sahabatnya itu dan menggendongnya keluar tanpa menengok lagi.

Hollander menghela nafas. “Kelihatannya….” Pikirnya; “Harapanku sebenarnya akan tercapai. Hanya tinggal soal waktu. Sebetulnya anak Lucrecia menyukai monster ciptaanku itu, hanya saja dia berusaha lari dari perasaannya sendiri…. Menarik. Hojo juga pasti menyadari itu.” Perlahan dia bangkit; “Tapi anak Lucrecia itu.. wajahnya benar-benar mirip dengan ibunya !” Dia menghela nafas penuh kerinduan membayangkan Lucrecia.

Dia teringat alasan pertama Hojo dan dirinya mulai menciptakan project-project ini waktu mereka berdua masih muda; sebenarnya semua hanya demi cinta mereka kepada Lucrecia. Mereka berdua menghabiskan bertahun-tahun untuk memberi “hadiah” kepada Lucrecia; yaitu mahluk hidup campuran antara biologis dengan ilmu pengetahuan. Tetapi kemudian terjadi hal yang tidak menyenangkan dan Lucrecia dikurung dalam salah satu tabung eksperimen karena cinta Hojo dan Hollander kepada wanita itu surut dan bergantikan dengan cinta kepada ilmu pengetahuan. Mereka menjadi lebih mencintai project mereka daripada mencintai Lucrecia. Mahluk yang diciptakan oleh Hojo memiliki unsur “Yang” (Positif), sedangkan mahluk yang pertama kali diciptakan oleh Hollander memiliki unsur “Yin” (Negatif) meskipun yang kedua tidak.

The End



Authoress : Gua ngga tau Hollander naksir Lucrecia apa engga. Tapi di fanfic ini gua anggap aja begitu.. Hehe. Dan tentang Project-G adalah “pasangan” Project-S itu adalah bisa-bisanya gua.. xD

Sleeping Beauty

SHINRA ACADEMY : SLEEPING BEAUTY

Rating : M, yaoi.

Charas : Hollander, Genesis, Sephiroth, Angeal

Setting : Somewhere in the past; ShinRa.

Genre : Romance

Warning : YAOI (without lemon)

Summary : Sephiroth talked about sex and love…..

.

.

“K-kau yakin ?” Hollander menatap SOLDIER berambut merah di depannya.

Anak malang; Pikir Hollander dalam hati dengan rasa sedikit iba; Sampai segitunya dia menginginkan Sephiroth !

“Apa aku harus bilang sampai seratus kali ?!” Bentak sang SOLDIER berambut merah; Genesis.

“Uh…..” Hollander ragu sejenak; “K-kalau sampai G-general Sephiroth tahu a-aku terlibat, kepalaku akan m-melayang…..”

“Dia tidak akan tahu !” Genesis tampak tak sabar; “Sudah kukatakan itu padamu belasan kali ! Kau tidak percaya padaku ?!?”

“B-bukan begitu !”

“Bagaimana kalau begini saja ?!” Genesis menodongkan pedang Rapier-nya yang merah membara ke leher si tua Hollander; “Kau selalu takut pada Sephiroth, kan ?! Kau tidak pernah takut padaku ?! Aku berani jamin pedangku sama tajamnya dengan Masamune miliknya ! Kalau kau tidak mau mengerjakan apa yang kusuruh tadi, kepalamu akan melayang di tanganku !”

“G-Genesis !” Hollander buru-buru menyoja; berusaha memadamkan emosi sang 1th Class SOLDIER; “B-bukannya a-aku tidak mau menurutimu…. Hanya saja.. re-resikonya besar untuk dirimu sendiri. K-kalau S-Sephiroth tidak mau---”

“Tidak usah banyak omong !!” Putus Genesis marah; “Aku tidak tanya pendapatmu !! Pokoknya buatkan saja apa yang aku mau !!!”

“B-baik !” Gerutu Hollander; “Resikonya kau tanggung sendiri, Genesis !”

Genesis tampak nyaris menggerakkan pedangnya untuk menebas kepala Hollander, maka Hollander buru-buru tutup mulut dan mengerjakan perintah anak itu. Tidak mudah, apalagi Genesis menunggu dengan sangat tidak sabar. SOLDIER satu itu berjalan hilir-mudik di labolatorium dengan ekspresi sangat tak sabar. Sesekali dia bertanya; “Sudah selesai ?” Dan itu membuat Hollander agak grogi, tetapi si tua berusaha mengerjakan sebaik mungkin.

Akhirnya selesai juga.

Hollander menuangkan cairan yang dikerjakannya ke dalam sebuah botol kristal kecil. Cairan itu berwarna hijau menjijikkan seperti lumut.

Genesis mendekat, mengulurkan tangannya untuk meminta botol itu.

Tetapi Hollander masih ragu memberikannya, dan dengan baik hati Hollander memberi nasehat terakhir; “Genesis, dengar. Mari kita bikin jelas sekali lagi untuk terakhir kalinya. Obat ini; seperti permintaanmu; akan membuatmu tertidur, dan tak ada seorang pun yang bisa membangunkanmu, kecuali…..” Hollander diam sejenak, lalu dengan mashygul meneruskan; “Ciuman Sephiroth di bibirmu !”

“Berikan saja botol itu dan tutup mulutmu !” Bentak Genesis.

Hollander memberikan botol itu ke tangan Genesis dengan rasa mashygul yang makin parah. Dalam hati dia merutuk; Darimana sih anak sinting ini bisa dapat ide gila begitu ?! Apa dia baru saja membaca dongeng Sleeping Beauty di perpustakaan dan dipikirnya taktik ini akan berhasil ?!

“Jangan minum disini, Genesis !” Tambah Hollander cepat; “Aku tidak mau Sephiroth tahu bahwa akulah yang membuatkanmu obat itu. Kau sendiri yang minta aku buatkan obat sinting itu.”

“Sinting ?!” Genesis tertawa; “Demi Gaia ! Sephiroth adalah laki-laki paling tampan di seluruh ShinRa !”

Hollander mengumpat tak jelas.

“Aku tahu jalan pikiranmu !” Kata Genesis pula; “Menurutmu Sephiroth tidak akan mau menciumku, bukan ?!”

“Yeah.” Gerutu Hollander. Dalam hati si tua membatin; YEAH. Jelas tidak mau.

“Aku adalah sahabatnya.” Genesis berkata lagi; “Tidak mungkin dia tidak mau menolong sahabatnya sendiri !”

“Kita doakan saja begitu.” Gerutu Hollander dengan pelan. Dalam hatinya dia menambahkan lagi; Setahuku kau sudah beberapa kali mencoba membunuh Sephiroth dalam sesi latihan, aku heran dia masih menganggapmu sahabatnya.

“Profesor ?”

“Yeah ?”

“Menurutmu siapa yang paling cantik dalam SOLDIER ?”

“Huh ?” Hollander mendengus.

“Jawab pertanyaanku !” Pedang Rapier terarah lagi ke leher Hollander; “Siapa yang tercantik disini ?”

Yang pasti bukan elo; Pikir Hollander. Di hatinya terbayang Lucrecia; ibu Sephiroth. Tapi tentu saja dia tidak berani mengatakan itu, maka dia menjawab; “Uuuhh… Cissnei sangat cantik meskipun usianya masih sangat kecil……”

“Aku bilang di dalam SOLDIER !” Bentak Genesis tak puas.

“Genesis, yang benar saja ! SOLDIER kan semua laki-laki !” Keluh Hollander dengan capek.

“Oke ! Siapa yang paling tampan di dalam SOLDIER ?”

“Mana kutahu, Genesis ?! Aku sudah terlalu tua untuk mengamati muka kalian satu-persatu.”

“Jangan bercanda, Profesor !” Genesis mendesak.

Anak ini gila; Pikir Hollander; Dan narcisnya minta ampun. Tapi di luarnya si tua menjawab dengan pasrah; “Aku tidak terlalu ingat wajah-wajah SOLDIER lain tapi menurutku kau cukup menarik, Genesis.”

“Cukup ?! Hanya cukup ?!” Genesis tampak tak puas.

“Genesis, aku capek !” Hollander mulai kesal; “Masih banyak yang harus kukerjakan ! Sebaiknya kau bawa obatmu ke kamarmu dan cepat minum sebelum Sephiroth keburu jatuh ke pelukan SOLDIER lain ! Aku akan mendoakan kebahagiaanmu !”

***

Maka, siang hari keesokannya, di ShinRa terjadi berita yang menggemparkan.

SOLDIER 1th Class; Genesis Rhapsodos; jatuh tidak sadarkan diri. Yang kasihan adalah Angeal, soalnya dia kelabakan banget.

“Apa yang terjadi ?” Tanya Sephiroth ketika Angeal masuk ke dalam ruangannya sambil menggendong tubuh Genesis yang tidak sadarkan diri.

Angeal membaringkan Genesis di atas meja sang General. “A-aku tidak tahu !” Angeal tampak sangat panik; “A-awalnya dia bilang dia bilang dia mau ke toilet, dan aku menungguinya di luar. Kira-kira lima menit kemudian dia keluar, dan kami kembali berjalan menuju Perpustakaan. Awalnya dia kelihatan baik-baik saja, tapi mendadak d-dia jatuh dan tidak sadarkan diri. Aku sudah berusaha membangunkannya tapi sia-sia !”

Tentu saja Angeal tidak tahu bahwa diam-diam Genesis meminum obatnya ketika berada di dalam toilet lalu membuang botolnya ke tempat sampah.

“Apa ada orang lain di dalam toilet itu ?” Tanya Sephiroth.

“Sudah kuperiksa. Tidak ada siapa-siapa !”

Sephiroth menyentuh dahi Genesis. “Sama sekali tidak ada tanda-tanda demam.” Ucapnya kuatir; “Dan tidak terlihat pucat. Apa semalam dia masih baik-baik saja ?” (Angeal dan Genesis tinggal bersama di satu apartemen).

“Yeah, semalam dia masih normal.” Sahut Angeal.

“Tolong panggilkan Prof. Hollander.” Kata Sephiroth pula. Tentu saja dia tidak tahu bahwa Hollander yang membuatkan obat tidur, tetapi karena doktor yang biasa menangani Genesis adalah Hollander, secara otomatis Sephiroth meminta dipanggilkan Hollander.

Angeal segera berlari keluar memanggilkan Hollander.

Tak lama, si tua itu datang bersama Angeal. Muka Hollander tampak pucat.

“S-S-Sephiroth…..” Hollander menyapa.

“Tolong periksa Genesis.” Kata Sephiroth; “Dia jatuh tak sadarkan diri dengan mendadak.”

“B-baiklah.” Hollander maju, menghampiri meja dimana Genesis dibaringkan. Dia memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan kiri Genesis lalu di lehernya. Kemudian si tua itu pura-pura mengeluarkan beberapa alat dari sakunya dan berpura-pura memeriksa dengan teliti. Setelah puas, dia menghela nafas.

“Cepat katakan, Profesor !” Seru Angeal.

Hollander berusaha tidak menatap Sephiroth dan menjawab Angeal; “Sepertinya Genesis menelan obat tidur---”

“Obat tidur ?!” Ulang Angeal.

“B-bukan obat tidur biasa, Angeal.” Lanjut Hollander; “Semacam obat tidur khusus. I-ini akan membuatnya tidur selamanya….”

“Apa ?!?”

“A-ada obatnya, kok ! A-aku kan belum selesai bicara ! D-dia bisa di-disadarkan dengan…..” Hollander nyaris tidak sanggup meneruskan.

Sephiroth dan Angeal menunggu.

“Dengan……” Hollander memalingkan muka.

“Dengan apa ?” Bentak Angeal tak sabar; “Katakan saja, Profesor !”

“K-kurasa dengan… ciuman…….” Cicit Hollander pelan.

Sesaat hening.

“Dengan apa ?” Sephiroth menegas; mengira dirinya salah dengar.

Hollander mengulang dengan segan; “C-ciuman dari o-orang yang dicintainya.”

Sekali lagi hening. Detik berikutnya Buster Sword sudah menempel di leher Hollander.

“Jangan bercanda, Profesor !” Gerutu Angeal.

“A-aa-aku tidak bercanda, Angeal !” Seru Hollander gemetar; “M-memang begitulah k-kenyataannya ! S-seperti dalam dongeng Snow White, Sleeping Beauty, semacam itu….!”

Sephiroth dan Angeal saling pandang. Sephiroth tampak bingung, sebab dia tidak pernah membaca dongeng seumur hidupnya (betapa malangnya…..).

“Kenapa harus dongeng keparat itu ?!” Gerutu Angeal pula; “Kita tidak hidup di negeri dongeng, Profesor !”

“M-mana kutahu, Angeal ?! Tanyakan saja p-pada Genesis !” Sahut Hollander.

Angeal memutar bola mata dengan tak sabar dan menarik kembali Buster Sword-nya; “Oke, kita andaikan saja ini benar ! Lalu bagaimana caranya membangunkan Genesis---”

“Kan aku sudah bilang; dicium oleh orang yang dia cintai !” Hollander mengumpat.

“Disitulah masalahnya ! Genesis tidak punya pacar !” Balas Angeal kesal.

“T-tidak punya pacar b-bukan berarti d-dia tidak diam-diam me-mencintai seseorang, A-angeal.” Ucap Hollander sambil melirik Sephiroth dengan sembunyi-sembunyi.

“Apa maksudmu ?” Tanya Angeal.

“G-Genesis sudah dewasa.” Sahut Hollander; “Pastilah diam-diam ada orang yang di-disukainya. Kau sebagai sahabatnya, apa dia tidak pernah menceritakan padamu isi hatinya, A-Angeal ?”

Angeal menggaruk kepala.

“Yeah, mungkin dia pernah menyukai seseorang, Angeal ?” Sephiroth akhirnya membuka mulut.

“A-aku tidak tahu….” Jawab Angeal dengan ragu; “Well, dia tidak pernah membicarakan perempuan---Maksudku; pernah, tapi tidak sering. Genesis agak terlalu tertutup dengan perempuan…..”

“M-mungkin….” Cicit Hollander pula; “B-bukan p-perempuan---?” Dan detik berikutnya Buster Sword sudah kembali menempel di leher Hollander, kali ini ditambah dengan Masamune.

“Apa maksudmu, Profesor ?!” Gerutu Angeal; “Tidak lucu !”

“A-a-aaa-ku kan h-hanya m-menduga-duga…..” Hollander gemetar; “S-singkirkan p-pedang k-kalian….”

Sephiroth dan Angeal menarik kembali pedang mereka.

“Demi Gaia !” Angeal tampak mashygul; “Apa yang harus kita lakukan sekarang..?! Adakah cara lain untuk menyelamatkan Genesis, Profesor ?”

Hollander menggeleng.

“Katakan padaku siapa yang pernah disukai Genesis.” Ucap Sephiroth pada Angeal dengan baik hati; “Aku akan membawa perempuan itu kesini, sekali pun misalnya perempuan itu sudah menikah.”

Hollander mendengus. “Jangan mengganggu ketentraman rumah tangga orang lain, Sephiroth !” Umpat si tua dengan pelan.

Angeal duduk dan berusaha mengingat-ingat dengan mashygul. “Kurasa dia pernah menyukai seorang wanita di desa kami dulu…..”

“Katakan alamat dan nama wanita itu !” Putus Sephiroth cepat.

“Masalahnya, wanita itu sudah mati, Sephy !” Balas Angeal setengah putus asa; “Kau tidak ingin Genesis berciuman dengan mayat kan ?!”

Sephiroth memutar bola mata dengan jengkel; “Jelas tidak !” Gumamnya.

“Kemudian….” Angeal masih berusaha mengingat-ingat; “Waktu kecil Genesis pernah memelihara anjing dan dia sangat dekat dengan anjingnya. Dia kehilangan harapan saat anjingnya meninggal….. Anjing itu betina, tapi sudah mati juga……”

Sephiroth mendengus; “Yang bener, dong, Angeal !” Dia tidak tahan untuk tidak membentak; “Aku capek nih !”

Hollander melirik si pemilik pedang Masamune dengan sembunyi-sembunyi, lalu menatap Angeal dan dalam hati si tua membatin; Nggak usah susah-susah, Angeal, orang yang dicintai Genesis ada di depanmu kok !

“Aku tidak tahu lagi siapa yang disukai Genesis !” Angeal tampak benar-benar putus asa sekarang.

Melihat itu Hollander memberi usul dengan baik hati; “Memangnya tak ada ya orang yang selalu dibicarakan Genesis siang dan malam ?”

Angeal tampak berpikir sejenak. “Ada sih…..” Jawabnya ragu.

“Siapa ?” Tanya Sephiroth cepat.

Angeal tidak menjawab.

“Angeal ?” Desak Sephiroth.

“Ugh…..” Angeal tampak semakin ragu. Dia memalingkan mukanya dari Sephiroth, tetapi sambil menjawab; “Itu kau sendiri.”

“APA ?!”

“Aku sudah mengatakan yang sebenarnya, Seph !” Angeal angkat bahu.

“Gila !” Umpat Sephiroth, merasa kepalanya pusing mendadak. Dia buru-buru duduk di kursinya di belakang meja. “Dia membicarakan aku hanya sebagai sahabat, bukan, Angeal ?!” Lanjutnya sambil memijit dahinya sendiri; “Pasti ada wanita yang dia cintai dalam hidupnya !”

Sebelum Angeal menjawab, Hollander berkata; “Kalau memang ada orang yang dibicarakan oleh Genesis setiap hari dari pagi hingga malam ya sudah pasti orang itulah yang dicintainya !”

“Jaga lidahmu, Profesor !” Hardik Sephiroth.

“Maaf, General.” Gerutu si tua; “Bagaimana kalau begini saja; kita panggil seluruh wanita muda di ShinRa Building ini, di Midgar, dan di Banora Village; lalu kita suruh satu-persatu mencium Genesis ?!”

Hollander langsung mendapatkan tatapan kemarahan dari Sephiroth dan Angeal sekaligus.

“Maaf.” Hollander nyengir; “Soalnya kita kan tidak tahu siapa yang disukai Genesis.”

“Mungkin dia tidak pernah mengatakannya padaku karena dia malu.” Angeal menghela nafas; “Bagaimana kalau kita tanya beberapa orang yang agak akrab dengannya di SOLDIER ?”

“Yang paling akrab dengannya kan dirimu.” Ucap Sephiroth.

“Yeah, tapi bisa saja dia grogi untuk bercerita tentang perempuan kepada sahabat terakrabnya dan memilih menceritakan hal itu pada orang lain.” Kata Angeal letih.

“Ya sudah. Terserah kau saja.” Sahut Sephiroth.

“Aku akan menanyakan pada beberapa orang. Kau tunggu disini, Seph.” Angeal bergegas keluar, meninggalkan Sephiroth dengan Hollander dan dengan Genesis yang sedang tertidur lelap.

Mau tak mau Sephiroth menatap Genesis yang terbaring di atas mejanya. Angeal sialan ! Kenapa Angeal membaringkan Genesis disini ?! Sephiroth jadi tidak bisa bekerja. Semua kertasnya tertindih tubuh Genesis. Yeah, Laptop-nya di meja samping memang masih ada, tapi bagaimana pun seseorang takkan bisa bekerja dengan tenang sementara ada tubuh tertidur di atas mejanya.

Apa burung merak merah ini benar-benar tidur ? Pikir Sephiroth. Diawasinya sepasang mata Genesis yang terpejam. Agaknya memang tertidur lelap; sangat lelap. Tampak damai.

Kalau sedang begini sebetulnya dia manis juga; Pikir Sephiroth pula; Sialan ! Kemudian disadarinya Hollander yang masih berada di ruangan ini mengawasinya dengan sembunyi-sembunyi.

“Ya, Profesor ?” Sephiroth menegur.

“T-tidak….” Hollander buru-buru menunduk.

Hening sejenak.

“G-General ?” Hollander akhirnya berkata lagi.

“Yeah ?”

“Anda ingin a-aku tinggalkan sendiri ?”

Sephiroth diam sejenak mendengar pertanyaan itu. Kemudian, di luar dugaan Hollander; Sephiroth menjawab; “Tidak.”

“T-tapi.. a-aku ingin kembali ke labolatorium-ku !” Rengek Hollander.

“Well, baiklah kalau begitu.” Sahut sang General.

Hollander buru-buru meninggalkan tempat itu dan menutup pintu ruangan di belakangnya; berharap Sephiroth segera membangunkan Genesis dan ini semua berakhir. Si tua kembali ke labolatorium-nya.

Setelah Hollander pergi, mau tak mau tatapan mata Sephiroth kembali jatuh pada sosok yang tertidur pasrah di atas mejanya.

Aneh. Kenapa seseorang bisa tampak begitu manis bila sedang tidur dengan damai begini ? Apakah karena di saat sadar orang itu memiliki kepribadian yang begitu buruknya..?

Pandangan mata Sephiroth jatuh pada bibir Genesis.

Bibir yang sangat menggoda. Sangat menantang. Sangat mengundang. Tidak heran Genesis memiliki begitu banyak penggemar; bahkan ada gosip bahwa setiap kali Genesis pergi ke bar banyak pria yang mencoba menggaetnya.

Bibir itu—mulut itu; yang selalu mengatakan hal-hal yang bertentangan dengan perkataan Sephiroth di dalam setiap adu debat mereka; sekedar hanya untuk memancing kemarahan Sephiroth. Entah kenapa. Sudah bukan sekali-dua kali Sephiroth dan Genesis bertengkar; bahkan nyaris selalu diakhiri dengan pertarungan yang hampir saling-bunuh jika Angeal tidak berusaha menghentikan.

Bicara tentang Angeal, pintu mendadak terbuka dan Angeal masuk. Ekspresi mukanya aneh, campuran antara geram dan putus asa.

“Angeal ?” Sephiroth menegur sahabatnya; “Kau sudah tahu siapa yang disukai Genesis..?”

“Tidak !” Jawab Angeal, tampak lebih condong pada ‘geram’ sekarang daripada ‘putus asa’.

“Katakan padaku.” Bujuk Sephiroth; “Apa yang terjadi ?”

“Oh, Seph !” Angeal menghampirinya dan duduk di depan meja; di seberang Sephiroth; sementara tubuh Genesis berbaring di atas meja di antara mereka berdua. “Kau tahu apa kata orang ?”

“Apa ?” Sephiroth menjaga nada suaranya tetap tenang. Dia tidak ingin panik. Kalau dia panik maka Angeal akan semakin panik. Sephiroth, Angeal, dan Genesis seumur. Sephiroth lebih tua satu (atau beberapa) bulan dari Genesis dan Genesis lebih tua satu (atau beberapa) bulan dari Angeal. Tapi dalam semuanya Genesis-lah yang paling banyak menimbulkan masalah bagi kedua temannya. Seperti sekarang ini.

“Mereka bilang…..” Angeal tampak ragu mengucapkannya; “Mereka pernah melihat dia bersama laki-laki.”

Sephiroth terdiam.

“Aku tidak bisa mempercayai gosip ini !” Angeal menggeleng; “Tapi semua orang yang kutanya mengatakan gosip yang sama. Aku tidak bisa percaya ! Genesis sangat normal di depanku !”

“Apa maksud mereka dengan kalimat dia bersama laki-laki ?” Tanya Sephiroth.

“Pada tahun pertama kami di ShinRa, suatu malam Genesis pernah pergi ke bar tanpa diriku karena aku tertidur saking kelelahan. Orang-orang mengatakan bahwa malam itu Genesis mabuk dan seorang pria setengah baya menggandengnya. Kemudian saat kami berada di 2nd Class SOLDIER kata orang Genesis pernah ke bar dan dalam keadaan tidak mabuk dia memaksa seorang remaja putra biasa untuk memuaskannya ! Lalu---”

Sephiroth tidak merasa ingin mendengar lanjutannya, tetapi Angeal sudah meneruskan; “Saat kami berada di 1th Class SOLDIER ada gosip bahwa Genesis berpacaran dengan seorang SOLDIER muda dari 3th Class.”

“SOLDIER muda dari 3th Class ?” Ulang Sephiroth; “Berarti orang itu masih ada disini sekarang ? Kau sudah bicara dengannya ?”

“Yeah. Dia masih di 3th Class. Masih kanak-kanak.” Gerutu Angeal; “Dia mengaku bahwa dia memang berpacaran dengan Genesis, tapi menurutnya Genesis-lah yang lebih dominan dan yang selalu menentukan kapan mereka berdua akan bertemu. Jika Genesis sedang tidak menginginkan pertemuan maka anak 3th Class itu tidak berani memintanya.” Angeal diam sejenak, lalu dengan frustasi meneruskan; “Dia bilang.. Genesis menyuruhnya---”

“Cukup ! Aku tak mau dengar !” Putus Sephiroth.

“Sephy, anak itu memiliki warna rambut yang nyaris sama sepertimu.” Kata Angeal pula.

“Oh ya ?! Dan apa artinya itu ?” Balas Sephiroth dengan nada tersinggung.

Angeal menghela nafas.

Hening sejenak.

“Kalau memang begitu bawa saja anak itu kesini.” Ucap Sephiroth; “Suruh anak itu membangunkan Genesis.”

“Seph--”

“Kita tahu tidak ada cara lain, kan ?! Kalau memang Genesis menyukai anak itu kenapa tidak kau bawa anak itu kesini ?!”

“Karena a-aku rasa.. G-Genesis akan lebih suka jika yang menciumnya adalah--”

Sephiroth jelas tidak ingin mendengar itu. Dia tidak mau mendengarnya. “Angeal..!” Putusnya dengan cepat; “Bawa anak itu kesini ! Sekarang !”

Angeal menatap Sephiroth. “Dengar, Seph !” Ucapnya; “Aku tidak mau berbohong lebih lama lagi. Sejak awal aku sudah curiga, tetapi aku menyimpan perasaan curiga ini. Kemudian setelah tadi aku mendengar dari orang-orang bahwa Genesis memang tertarik pada sesama jenis (dan juga lain jenis), aku sadar bahwa kecurigaanku benar--”

“Angeal Hewley !” Putus Sephiroth lagi, nada suaranya semakin cepat. Dia nyaris tidak memberi kesempatan pada dirinya sendiri untuk bernafas; “ Aku suruh kau panggil anak itu kesini !!”

Hening sejenak.

“Maaf.” Kata Angeal.

“Tidak. Akulah yang minta maaf.” Sahut Sephiroth. Dia merasa seperti telah membentak Angeal, padahal dia tidak pernah ingin membentak Angeal.

Angeal bangun; “Biar kupanggil anak itu.” Lalu dia keluar.

Sephiroth menghela nafas. Karena tidak ingin memandang Genesis, Sephiroth bangun dan berjalan ke dekat pintu; menunggu.

Tidak lama kemudian Angeal kembali bersama seorang anak berusia sekitar enam belasan; SOLDIER 3th Class (*Authoress : karakter OC). Anak itu tampak gugup dan gemetar; apalagi setelah melihat Sephiroth juga berada di ruangan ini.

“G-general….” Cicitnya. Seperti kata Angeal; anak itu memiliki rambut berwarna perak yang hampir sama dengan warna rambut Sephiroth.

“Abaikan aku dan lakukan apa yang harus kau lakukan.” Sephiroth memutar tubuh; membelakangi ruangan; menatap tembok.

Sephiroth tidak melihatnya, tapi dia tahu anak itu sedang berjalan menghampiri Genesis dengan gemetar. Angeal memberinya instruksi; “Kau hanya harus mencium Red general, dan ingat—hanya sekali—dan jangan coba-coba mengambil kesempatan !”

Sephiroth tidak perlu menengok untuk menyadari bahwa anak itu sedang membungkuk di atas wajah Genesis dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Genesis…..

Terasa seperti berjam-jam, bertahun-tahun. Terasa lama sekali. Sephiroth tidak tahan dan membalikkan tubuhnya----dalam waktu yang tidak tepat. Dia melihat dengan mata kepala sendiri sang SOLDIER 3th Class mencium Genesis…..

Selama beberapa detik yang terasa menyiksa dan seperti berjam-jam lamanya; Sephiroth merasa dadanya sesak. Seperti ada sesuatu yang menekan ulu hatinya dengan keras. Sangat menyakitkan.

“Cukup !” Syukurlah Angeal yang agaknya menyadari itu buru-buru menarik SOLDIER 3th Class itu mundur; “Tidak berhasil !”

“M-maaf…..” Wajah SOLDIER 3th Class itu memerah.

“Pergilah !” Kata Angeal.

Anak itu menurut dan pergi dengan terbirit-birit.

Angeal menatap Sephiroth. Sang white (silver) general memalingkan wajah. “Sekarang terserah padamu.” Ucap Angeal; “Tapi ini menyangkut Genesis. Aku bisa mengerti kalau kau tidak memiliki perasaan apa pun padanya. Meski begitu, bisakah kau melakukan ini demi membangunkannya..?”

“Kenapa tidak kau saja ?” Sephiroth balas bertanya.

“Seph, dia menyukaimu !”

“Kau sahabatnya.” Sephiroth angkat bahu; “Dan aku belum pernah berciuman seumur hidupku ! Aku tidak tahu bagaimana caranya.”

Angeal memutar bola mata.

“Kau selalu bersamanya.” Lanjut Sephiroth; “Kau kira aku buta, Angeal ? Kau kira aku tuli ? Aku tahu pernah terjadi sesuatu di antara kau dan Genesis. Kenapa bukan kau saja yang menciumnya sekarang ?”

Angeal tampak terkejut. “Terjadi sesuatu ?!” Dia mengulang.

“Demi Gaia.” Sephiroth menatap sahabatnya itu; “Aku tidak buta. Jangan pura-pura lagi. Kau dan Genesis pernah berhubungan sex. Mungkin itu sudah bertahun-tahun lalu; waktu kalian masih beranjak remaja; di Banora Village. Tapi aku tahu itu pernah terjadi. Keakraban kalian terlalu intim, dan cara kalian menatap satu sama lain.”

Angeal mengerjap. “Untuk seseorang yang belum pernah berpacaran seumur hidupnya kau termasuk cukup jeli, Sephiroth.” Gumamnya.

“Pengakuanmu membuatku semakin tidak bisa menciumnya.” Sephiroth berkata lagi.

“Kenapa ?” Tanya Angeal.

“Karena dia adalah milikmu.” Sahut Sephiroth pahit; “Dan aku tidak suka merebut kekasih sahabatku.”

Angeal tertawa kecil; “Benar-benar seorang Sephiroth, eh ?!” Dia menjawab; “Nah, masalahnya adalah kau tidak tahu hubungan seperti apa yang kumiliki dengan Genesis. Aku tidak akan kehilangan dia.”

“Maksudmu ?”

“Well… Sulit untuk kukatakan.” Angeal angkat bahu; “Tapi singkatnya kalau kau.. uh… menciumnya atau menginginkannya aku tidak akan merasa kau merebutnya dariku; jika itu maksudmu.”

“Aku tidak mengerti.”

“Jelasnya….” Angeal tampak berpikir sejenak; “Aku tidak menganggapmu sebagai musuh. Bukan berarti aku merendahkanmu. Yah, sulit kukatakan. Anggap saja bahasa lainnya adalah aku menerima kehadiranmu di dalam hubunganku dengan Genesis.”

Sephiroth diam sejenak, lalu berkata lagi; “Aku semakin tidak mengerti, dan rasanya aku jadi salah menangkap maksudmu, Angeal !”

Mau tak mau Angeal tertawa; “Jangan berpikiran yang aneh-aneh tentangku, Sephy..!”

“Kau memberiku ide untuk berpikiran begitu !” Gerutu Sephiroth; “Nah, sebaiknya kita jangan memperpanjang waktu. Ciumlah dia.”

“Sudah kukatakan,” Sahut Angeal sabar; “Kau yang harus melakukannya.”

“Tidak sebelum kau mencobanya sendiri !”

Angeal diam sejenak, lalu menjawab; “Kalau aku melakukannya, kau juga akan melakukannya setelah aku ?”

“Aku tidak yakin.”

“Seph, jangan pikirkan tentang harga dirimu dulu. Ini menyangkut Genesis. Dia bisa benar-benar mati kalau dibiarkan terlalu lama. Setidaknya, walaupun kau tak punya perasaan padanya; anggaplah yang kau lakukan adalah perbuatan untuk menyelamatkan nyawa seorang sahabat.”

Sephiroth ragu sejenak. Tapi akhirnya mengangguk; “Baiklah. Kalau memang ini bisa menolongnya.”

Hening sejenak. Tidak ada yang beranjak melakukannya di antara Sephiroth maupun Angeal.

“Sebenarnya aku lebih suka langsung kau saja yang melakukannya.” Ucap Angeal; “Sebab jika aku melakukannya lebih dulu sebelum kau; dan itu pasti sia-sia; sama saja kita menganggap dia semacam piala bergilir dan itu merendahkan martabatnya.”

“Masalahnya aku tidak bisa melakukannya sebelum dirimu.” Sahut Sephiroth; “A-aku belum pernah mencium seseorang……”

“Ayolah…..”

“Dan kenyataan bahwa dia lebih akrab denganmu. Kau sudah dua puluh lima tahun mengenalnya.”

Angeal memutar bola mata. Karena ini demi Genesis; sahabatnya; dia tidak mau membuang waktu lagi; “Baiklah. Aku akan duluan. Kau mau berpaling, Sephy ?”

Sephiroth memutar tubuhnya tanpa menjawab. Dia tidak melihat, tapi dia tahu apa yang sedang dikerjakan Angeal. Bayangan Angeal mencium Genesis seolah terlihat jelas di depan matanya. Ada perasaan aneh menjalar di hatinya. Cemburukah ? Tapi pada yang mana..? Ataukah rasa tegang karena sebentar lagi dirinya sendiri akan merasakan bagaimana rasanya mencium bibir seseorang ?

Sephiroth pernah menginginkan cinta. Pernah memaksakan diri mencintai seorang wanita, tapi gagal. Hatinya ini terlalu dingin dan tidak bisa dipaksa. Meskipun begitu, dia tidak pernah bermimpi bahwa ciuman pertamanya adalah dengan seorang pria.

Rasanya menjijikkan.

Dia nyaris membatalkan niatnya ketika Angeal menepuk bahunya dari belakang dan berbisik; “Sudah kulakukan. Aku akan keluar sekarang. Dan kau tidak perlu kuatir, aku takkan menceritakan tentang ini kepada siapa pun.” Lalu Angeal tersenyum padanya dan berjalan keluar.

Sephiroth mengawasi pintu ruangannya ditutup dari depan. Lalu dia membalikkan tubuh dan perlahan menghampiri Genesis. Dia memandangi sosok yang tertidur itu. Jelas, sosok ini bukanlah impiannya, bukanlah sosok yang dibayangkannya akan menjadi ciuman pertamanya.

Meskipun begitu, Genesis memang “cantik” ……

Mahluk paling rupawan dalam SOLDIER.

Jika sedang membuka sepasang mata biru-kelabu Genesis selalu penuh dengan cahaya kehidupan. Seolah menantang orang untuk menundukkannya. Keangkuhannya, kecongkakannya, segala emosinya yang membara. Menantang orang untuk memilikinya, namun tidak ada yang bisa benar-benar berhasil memilikinya. Bahkan bibirnya seperti menjanjikan kenikmatan duniawi.

Sephiroth berdiri di samping meja, membungkukkan tubuhnya ke wajah Genesis…. Dia bisa merasakan nafas teratur Genesis yang sedang tertidur.

Sangat damai.

Apa sebaiknya tidak usah dibangunkan ?

Burung api ini akan membakar apa saja di saat bangun……

Walaupun berpikir begitu, Sephiroth menempelkan bibirnya di bibir Genesis. Basah….. Bekas ciuman Angeal. Ada kemarahan yang aneh di hati Sephiroth menyadari bahwa bibir ini telah mencium beberapa orang lain berkali-kali.

Beginikah rasanya mencium bibir seseorang….?

Sephiroth memejamkan matanya, menekankan bibirnya lebih lagi pada bibir Genesis. Perlu waktu beberapa detik, kemudian dirasakannya bibir Genesis membuka dan memaksa bibirnya sendiri membuka juga, lalu dirasakannya sesuatu mendorong masuk ke dalam mulutnya. Lidah. Sephiroth membuka mata dan menyadari Genesis sudah bangun.

White general hendak menyentakkan kepalanya mundur, tetapi Red general mengulurkan tangan kanannya; menahan kepala Sephiroth, dan terus memaksa menciumnya; tepatnya mengajarinya caranya berciuman.

Beberapa detik Sephiroth membiarkan dirinya terlena dengan ciuman itu. Kemudian dia memaksa diri menyentak; melepaskan diri. “Kau sudah sadar.” Bisiknya.

Genesis diam sejenak. Sepasang matanya menatap wajah Sephiroth. Tangannya masih berada di belakang kepala Sephiroth dan membelai rambut perak itu.

“Bagaimana rasanya ?” Akhirnya Red general berbicara.

“Apa ?”

“Ciuman pertamamu.”

Hening sejenak.

“Cukup aneh.” Jawab Sephiroth sejujurnya.

“Itu ciuman pertamamu, bukan ?” Sahut Genesis; “Aku bisa merasakannya. Aku bisa melihatnya.”

“Dan itu pasti bukan pertamamu.” Sephiroth membalas, menegakkan diri.

Genesis bangun, duduk di atas meja; sementara Sephiroth berdiri di sampingnya.

“Aku bisa mengajarimu lebih banyak.” Ucap Genesis.

Sephiroth menatapnya. Pandangan mata Genesis kali ini berbeda dengan biasanya. Pandangan mata itu tampak memohon.

“Dengan siapa kau pertama kali belajar berciuman ?” Tanya Sephiroth tak tertahankan.

“Angeal.” Sahut Genesis tanpa malu-malu; “Dan saat itu adalah saat pertama kali untuknya juga.”

“Kau terlalu liar, songbird.” Kata Sephiroth pelan; “Sama sekali bukan tipe-ku.”

“Kalau kau mau menjadi milikku, aku akan mencoba berusaha mengendalikan diri.” Jawab Genesis.

Kembali hening sejenak.

“Lalu bagaimana dengan Angeal ?” Tanya Sephiroth pula.

“Angeal….. Jangan kuatirkan dia.” Genesis mengulurkan tangannya; menarik lengan baju Sephiroth; “Menurutmu aku harus bagaimana dengan dia ? Kau yang beritahu aku, moonbeam.”

“Apa kau punya perasaan terhadapnya ?” Sephiroth membiarkan Genesis memainkan lengan bajunya, kemudian Genesis merebahkan kepala di lengan Sephiroth. Genesis tidak menjawab.

“Kau sengaja kan dengan kecelakaan tertidur ini, songbird ?” Sephiroth akhirnya menyadari; “Kau sudah merencanakan ini ? Dan aku masuk dalam perangkapmu tanpa kusadari ! Siapa yang membuatkan obat tidur untukmu ? Hollander ?”

“Kau cerdas, Sephy.” Genesis tersenyum tanpa merasa bersalah. Dia masih memeluk lengan Sephiroth dan menyandarkan kepalanya di lengan itu.

“Kau membuatku takut.” Gerutu white general.

“Oh, aku tidak bermaksud begitu.” Jawab Genesis santai.

Kembali hening sejenak. Akhirnya dengan pelan Sephiroth menepiskan tangan Genesis yang memeluknya dan menyentakkan lengan; memaksa kepala Genesis tegak kembali.

“Datanglah ke apartemenku besok malam.” Ucap Sephiroth pelan; “Seorang diri. Kita akan meneruskan pembicaraan ini.”

Dan senyum pun merekah di wajah Genesis….. Dia tahu misinya sudah sukses. Dia sudah memiliki Sephiroth sekarang; atau Sephiroth yang memilikinya. Entah yang mana. Tapi yang pasti dia tahu dia sudah berhasil membuat sang white general merasakan cinta dan gairah……..

The End.

Beat Me

Beat Me

Setting : Somewhere in the past; SOLDIER

dalam cerita ini Genesis dan Angeal masih berada dalam 3nd Class SOLDIER

Warning : Sedikit Yaoi



.

.

Genesis menatap pemuda berambut perak di depannya. Oke, seharusnya ini tidak akan jadi terlalu buruk. Pemuda itu seusianya. Mereka dilahirkan pada tahun yang sama, jadi kenapa dia harus membungkuk pada anak seusianya; meskipun anak itu telah menjadi SOLDIER Kelas Pertama dan bahkan telah berpangkat General sementara dirinya dan Angeal masih berada di Kelas Ketiga ?! Tapi meskipun berpikir begitu jantung Genesis berdegup sangat keras. Dia memang bisa berkeras untuk bersikap angkuh di luar, tapi dalam hatinya segala macam perasaan berbunga-bunga. Benci, iri, cemburu, gairah, cinta, dan kagum---semua berbaur menjadi satu.

Ini hanyalah sesi latihan. Sang General datang untuk melihat latihan SOLDIER Kelas Ketiga angkatan ini. Mentor mereka menyuruh anggota SOLDIER Kelas Ketiga untuk berlatih berpasangan, dan tentu saja awalnya Genesis langsung bergerak ke arah Angeal. Dia tidak pernah jauh dari Angeal, tapi kemudian dilihatnya dengan matanya sendiri sang General membisikkan sesuatu pada mentor mereka sambil sepasang mata hijau sang General membalas tatapan Genesis, kemudian sang mentor pun mengumumkan sesuatu yang menyebalkan; “Dilarang berpasangan dengan sahabat karib kalian !”

Angeal menatap Genesis dengan pandangan meminta maaf, lalu karena Angeal adalah anak yang penurut dia segera bergegas menghampiri anggota lain dan berpasangan dengan anggota lain itu.

Tinggal Genesis sendirian. Tidak ada yang mau berpasangan dengannya, dan karena jumlah anggota di SOLDIER Kelas Tiga angkatan ini ganjil, maka setelah semuanya berpasangan tinggalah dia sendirian; berdiri memegangi pedangnya.

Tidak bisa dibayangkan betapa malu, marah, dan kesalnya Genesis. Dia jelas-jelas ditinggalkan sendirian oleh yang lain, di depan Sephiroth. Sekarang sang General pastilah berpikir bahwa si rambut merah itu kuper atau bagaimana. Genesis melirik Angeal dan menyadari tatapan cemas Angeal padanya; tatapan cemas plus ekspresi meminta maaf sekaligus. Tapi tentu saja Genesis tidak bisa menyalahkan Angeal sekarang. Dia tidak mau terlihat tolol dengan membentak-bentak sahabatnya di mata sang General walaupun sebenarnya dia sangat ingin melakukan itu untuk melampiaskan kesal. Tapi toh ini bukan salah Angeal.

Ini salah General sialan itu.

Sephiroth sialan.

Dia nyaris tidak bisa percaya bahwa Sephiroth perduli siapa berpasangan dengan siapa. Sephiroth tahu Genesis dan Angeal adalah sahabat karib karena selama berada di ShinRa sudah beberapa kali Sephiroth melihat keduanya bersama. Di kantin Angeal dan Genesis selalu berdekatan. Saat jam istirahat pun keduanya memisahkan diri dari yang lain dan pergi berduaan. Di pesta mereka berdua juga selalu berdekatan. Semua orang sudah tahu bahwa Angeal dan Genesis memang tidak terpisahkan. Yang jadi pertanyaan Genesis sekarang adalah kenapa Sephiroth harus perduli kalau seseorang ingin berpasangan dengan sahabat karib.

Mungkin karena sang General tidak pernah punya sahabat ! Genesis memberitahu dirinya sendiri untuk menghibur diri. Sepasang matanya membalas tatapan Sephiroth yang tertuju padanya. Genesis bisa mendengar desisan Angeal yang bernada memperingatkan, bahkan Genesis juga sadar mentornya sedang menatapnya dengan sangat tajam, karena pandangan mata Genesis terhadap Sephiroth bisa dikategorikan sebagai pandangan kemarahan.

“Anak yang pemberani.” Komentar Sephiroth sambil bergerak menghampiri; “Baiklah, karena kau tidak dapat pasangan, biar aku yang berpasangan denganmu.”

Kalimat itu mengejutkan semua orang, bahkan Genesis sendiri.

“Sir !” Angeal tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata; “Genesis tidak bermaksud---” Sebelum Angeal menyelesaikan ucapannya mentor mereka membentaknya; “Diam, Hewley !”

“Jangan kuatir.” Jawab Sephiroth, seperti biasa nada suaranya datar tanpa ekspresi; begitu pun wajahnya; “Aku tidak akan melukainya.”

Angeal tetap kuatir. Bagaimana pun juga Sephiroth adalah SOLDIER Kelas Pertama dan sudah berpangkat General, sedangkan Genesis masih berada di Kelas Ketiga. Seluruh anggota tampaknya tidak ada yang mau latihan dengan pasangan mereka masing-masing sekarang, mereka lebih tertarik menonton Sephiroth dan Genesis.

Dan, begitulah. Genesis menatap Sephiroth yang berdiri tak jauh di hadapannya. Sephiroth agaknya menunggu sesuatu dan Genesis paham Sephiroth menunggu Genesis membungkuk hormat sebelum latihan dimulai. Enak saja ! Genesis mengangkat pedangnya dan mengarahkannya pada Sephiroth.

Sephiroth tidak tampak keberatan dengan sikap Genesis walaupun tentunya baru kali ini; setelah bertahun-tahun dia berada dalam SOLDIER; ada yang berani bersikap tidak sopan padanya.

Genesis tidak menunggu lebih lama lagi. Dia segera menyerang Sephiroth dan dengan mudah Sephiroth dapat menghindar. Genesis menyerang lagi, bahkan mulai serius dengan meng-cast magic Api. Genesis berbakat dalam cast elemen Api. Pedangnya; Rapier; juga sangat sesuai dengan kemampuannya itu. Pedang itu menyalurkan panas. Merah membara. Dia terus gencar menyerang Sephiroth sehingga Sephiroth tidak punya kesempatan untuk menghindar lagi.

Sesaat Genesis mengira dirinya menang, tetapi tentu saja tidak --- sebab setelah semua serangan api dan kobarannya memadam, Sephiroth tidak tampak terluka sedikit pun. Genesis sangat terkejut, tetapi sebelum sempat dia menggunakan cast lagi, Sephiroth sudah menyerangnya. Genesis menahan dengan pedangnya. Kedua pedang mereka beradu, dan tenaga Sephiroth membuat tubuh Genesis terpental ke belakang; terguling di tanah dan masih terdorong mundur.

“Genesis !!” Angeal segera meninggalkan semua sopan santunnya dan berlari memeluk sahabatnya yang terpelanting dan akhirnya jatuh terbaring di tanah; syukurlah yang lebih dulu membentur tanah bukan kepalanya tapi punggungnya. Tanpa pikir panjang lagi Angeal segera menyerang Sephiroth.

“Hewley !!” Mentor mereka menghalangi di depan Sephiroth.

Angeal terus mendesak menyerang.

“Cukup !!” Bentak mentor mereka; “Kalian berdua di-skors !! Kau dan Rhapsodos..!”

Angeal membuka mulut hendak protes tetapi sebelum dia bicara, Sephiroth sudah berkata; “Tidak perlu. Mereka tidak salah apa-apa. Aku terlalu keras pada si rambut merah.”

“General…..”

Sephiroth menghampiri Genesis. Dia berdiri di depan si rambut merah itu yang sedang bergerak bangun sambil meringis. Sephiroth mengulurkan tangannya, menawarkan untuk membantu Genesis bangun. Selama beberapa detik Genesis tidak mengatakan apa-apa, dia menatap tangan Sephiroth, lalu kemudian dia menepiskan tangan Sephiroth dengan kasar.

“Genesis !” Angeal memperingatkan. Angeal segera berlari menghampiri sahabatnya lagi dan membantu sahabatnya bangun.

“Bawa dia ke Hollander.” Perintah mentor mereka. Angeal mengangguk dan membimbing Genesis kembali ke gedung.

***

“Bagaimana keadaannya ?” Tanya Sephiroth keesokan harinya. Saat itu Angeal sedang makan siang di kantin. Karena Genesis masih harus istirahat hari ini, Angeal duduk seorang diri. Tidak disangka Sephiroth masuk ke kantin dan mendatanginya. “General.” Angeal langsung berhenti makan dan berdiri.

“Tidak usah sungkan-sungkan.” Jawab Sephiroth; “Bagaimana keadaan temanmu yang berambut merah ?”

“Genesis baik-baik saja. Terima kasih atas perhatian Anda.”

“Apa dia masih berada di tempat Hollander atau sudah boleh kembali ke kamarnya ?”

Untuk SOLDIER Kelas Tiga dan Kelas Dua, ShinRa menyediakan asrama. Tapi bagi SOLDIER Kelas Pertama diizinkan untuk tinggal di apartemen terpisah sesuka mereka.

“Dia berada di kamar.” Jawab Angeal.

“Baiklah.” Kata Sephiroth, lalu berjalan pergi meninggalkan Angeal. Angeal mengawasi punggung Sephiroth yang menjauh.

***

Terdengar ketukan di pintu.

“Angeal ?” Seru Genesis sambil tetap berbaring di tempat tidurnya; “Masuk saja, pintunya nggak dikunci, kok !”

Pintu terbuka, tapi yang masuk bukan Angeal, melainkan Sephiroth.

Genesis segera melompat bangun.

“Tak usah bangun, tetaplah berbaring.” Kata Sephiroth sambil mendekatinya.

Tentu saja saran itu tidak dituruti. Genesis berdiri.

“Aku benar-benar menyesal atas kekasaranku kemarin.” Ucap si rambut perak; “Aku baru saja bicara dengan Hollander. Kata Hollander reputasi kesehatanmu sejak awal memang kurang baik. Katanya waktu kecil kau pernah pingsan mendadak---”

“Maaf ?!” Putus Genesis dengan nada protes yang tidak disembunyikan; “Apa urusan Anda dengan reputasi kesehatanku ?! Sir ?”

Sephiroth diam sejenak. Sepasang matanya yang pupilnya nyaris seperti mata kucing menatap Genesis. Sesaat kemudian dia bertanya dengan nada yang jauh lebih formal; “Kau tahu apa kelemahanmu, Genesis Rhapsodos ?”

Genesis nyaris bertanya bagaimana Sephiroth mengetahui namanya, tapi dia langsung ingat bahwa Sephiroth sudah bicara dengan Hollander dan Hollander telah memberikan catatan kesehatan Genesis kepada sang General. Tetapi mengingat itu tidak meredakan amarahnya sedikit pun.

“Rhapsodos ?” Sephiroth menegur lagi menyadari pertanyaannya dibiarkan tidak terjawab.

Genesis berusaha mengontrol diri; “Ya, Sir ?”

“Kelihatannya kau tidak senang kalau diberi nasehat.” Sephiroth menghela nafas; “Baiklah, sebaiknya aku pergi saja. Aku datang hanya ingin melihat keadaanmu---”

“Kalau begitu kau simpan saja kekuatiranmu. Hanya benturan kecil tidak akan melukaiku.” Putus Genesis.

“Benturan kecil ?!” Ulang Sephiroth, nadanya mulai semakin dingin; “Oh, kulihat yang kemarin bukan benturan kecil, tapi baiklah. Aku tidak ingin mengganggumu.” Dia berjalan ke pintu, tetapi sebelum dia keluar dia menengok sebentar dan berkata lagi; “Kalau kau sudah sehat dan merasa tidak puas atas hasil kemarin; kau boleh mencariku, Rhapsodos. Kuijinkan kau memasuki kantor SOLDIER Kelas Pertama untuk mencariku.” Kemudian tanpa menunggu jawaban Sephiroth keluar, meninggalkan Genesis yang sudah membuka mulut untuk menyahut tapi terlambat.

***

“Genesis Rhapsodos berasal dari Banora Village.” Sekretaris Sephiroth memberitahu sang General ketika ditanya; “Seusia dengan Anda. Sifatnya memang emosional dan mudah terpancing. Waktu pertama tiba disini dia sudah bertengkar dengan teman-teman seangkatannya. Dia suka memisahkan diri, tidak terlalu senang bergaul, dan kudengar teman-temannya bilang dia adalah anak yang sangat angkuh. Tetapi dia sangat suka membaca dan sering melafalkan legenda Loveless. Selain itu dia juga suka menulis; buku harian misalnya. Sering di kantin dia malah menulis dan bukannya menghabiskan makanannya. Sahabat akrabnya adalah Angeal Hewley yang diketahui memanglah sahabatnya sejak kecil di desa. Mereka dibesarkan bersama.”

“Oh.” Sephiroth menghela nafas.

Sekretarisnya meneruskan; “Hal lain tentang anak itu adalah catatan kesehatannya yang kurang mendukung. Tenaganya memang besar dan kuat, dan pada saat normal dia memiliki daya tahan yang sangat tinggi. Tetapi menurut profesor Hollander yang telah berkomunikasi dengan dokter di Banora Village, Genesis pernah jatuh tak sadarkan diri secara mendadak sebanyak lima kali waktu kecilnya.”

“Itu adalah reputasi yang buruk bagi seorang SOLDIER.” Jawab Sephiroth; “Apa Hollander tidak menemukan penyebabnya ? Mungkin salah satu rusuknya atau tulang tengkoraknya lemah dan setiap mengalami benturan sekecil apa pun di tempat itu dia akan jatuh tak sadarkan diri.”

“Profesor Hollander melaporkan pada administrasi SOLDIER bahwa beliau tidak menemukan penyebabnya.” Sahut sang sekretaris; “Tapi karena di luar reputasi buruk itu Genesis Rhapsodos memiliki semangat dan energi yang besar maka pada tes masuk mereka tahun lalu Hollander bersedia melaporkan bahwa Genesis pantas menjadi SOLDIER. Sekarang ini, kudengar yang dikuatirkan dan dikeluhkan para mentornya bukanlah mengenai kesehatannya (sebab Genesis belum pernah pingsan mendadak selama berada di SOLDIER) melainkan mengenai sifatnya.”

“Bisa kubayangkan.” Kata sang General.

“Yeah. Angeal Hewley harus terus mengontrolnya; sebagai seorang sahabat. Dia masih mau mendengarkan kata-kata Hewley.”

“Bagus kalau dia masih mau mendengarkan Hewley. Setidaknya kulihat Hewley masih lebih menggunakan otak daripada otot.”

“Hewley memiliki reputasi yang bagus. Pendiam, sopan, tenang, dan kalem.” Sang sekretaris menyetujui, diam sejenak, kemudian meneruskan dengan nada sangat pelan berbisik; “Dan, Sir, aku pernah dengar satu gosip aneh mengenai Genesis Rhapsodos.” Dia mendekati Sephiroth dan membisikkan sesuatu kepada tuannya itu……

***

Satu minggu lewat dan Sephiroth mengira bahwa Genesis sudah melupakan persoalan itu, tetapi dia salah, sebab suatu pagi di hari Minggu ketika dia berada di apartemennya pintunya diketuk. Dia membukakan pintu dan melihat Genesis.

Si rambut merah tampak agak salah tingkah. “A-aku mendapatkan alamatmu dari bagian administrasi.” Ucapnya.

Sephiroth menyilakan Genesis masuk, lalu menjawab; “Yakin kau mendapatkannya dari petugas dan bukan mencurinya ?”

“Kau---”

“Tidak usah marah dulu. Kalau yang datang adalah orang lain menggangguku di hari Minggu; satu-satunya hari liburku; apalagi masih pagi begini; pasti sudah langsung kuusir. Tapi kuduga kau ingin membalas dendam atas kekalahanmu minggu lalu?”

“Aku tidak bermaksud mengganggumu ! Aku mencari kesempatan dimana sahabatku masih tidur---”

“Ah, ya.” Putus Sephiroth lagi dengan kalem; “Yang kau maksudkan adalah Angeal Hewley. Sebaiknya kau menuruti kata-katanya. Dia adalah orang yang baik hati. Aku tidak terlalu senang mendengar bahwa kau melarikan diri darinya---”

“Melarikan diri ?!” Genesis balas memutus, nadanya sudah meninggi; “Kau terlalu menganggap remeh diriku ! Hanya karena kekalahan kecilku minggu lalu ! Aku tidak siap waktu itu dan kau---”

“Kukira waktu itu kau cukup punya kesempatan untuk menyerangku ?! Hanya saja kau terlalu---”

“Kita akan lihat apa kau masih bisa menghinaku lagi sesudah hari ini !!!” Genesis membentak.

“Oke, kita lihat saja nanti.” Sahut Sephiroth.

Genesis segera bersiap; pedang Rapier merahnya terangkat dan tertuju lurus pada Sephiroth, tapi dengan tenang Sephiroth berjalan ke lemari. Sephiroth bahkan belum mengambil pedangnya yang masih tergeletak manis di meja di samping ranjang. Sephiroth membuka lemari dan mengeluarkan handuk lebar.

Selama beberapa detik Genesis mematung saking bingungnya. Tetapi dia tidak perlu menebak lama, Sephiroth berjalan ke kamar mandi dengan membawa handuk itu. Genesis hanya bisa memperhatikan Sephiroth masuk ke kamar mandi dan menutup pintu. Setelah pulih dari kagetnya, Genesis menurunkan pedangnya dulu dan duduk di sofa menunggu lawannya.

Mau tak mau dia memperhatikan keadaan sekelilingnya. Semua barang di tempat ini jauh lebih mewah daripada di tempat lain manapun yang pernah dilihatnya. Tanpa sadar dia mengeluarkan buku Loveless yang selalu dibawanya kemana-mana dan yang selalu dibacanya saat senggang, dan dia membacakannya keras-keras.

Dia tidak sadar Sephiroth sudah keluar dari kamar mandi dan menatapnya, mendengarkan selama sesaat. Ketika akhirnya Genesis berhenti sejenak untuk memberi jeda di antara bait, dia mengangkat wajahnya dan baru menyadari kehadiran Sephiroth yang hanya terbalut handuk pada pinggul.

Wajah si rambut merah langsung memerah; nyaris semerah rambutnya sendiri.

“Kau punya kebiasaan yang unik. Songbird.” Sephiroth mengomentari kebiasaan Genesis membaca Loveless sambil berjalan ke lemari dan membukanya untuk mengambil pakaian. Dengan santai dan tanpa malu-malu si rambut perak menanggalkan handuknya; tidak menyadari bahwa wajah Genesis sudah semakin memerah saja, tapi sepasang mata biru Genesis tidak bisa beralih dari tubuh si rambut perak yang memiliki kulit putih pucat dan bentuk tubuh seorang pria yang sempurna. Tentu saja Genesis sudah sering melihat seorang pria ganti pakaian di depannya. Angeal juga kadang begitu (walaupun seringnya Angeal masih berusaha menutupi diri demi kesopanan). Di kamar mandi SOLDIER Kelas Tiga dan di ruang ganti pun sebagai sesama pria semua anggota biasanya leluasa saja berganti pakaian atau mandi bersama, dan Genesis sudah banyak melihat itu; tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda dan jantungnya berdegup sangat kencang.

Sephiroth selesai berpakaian dan mengambil pedang Masamune-nya, lalu membalikkan tubuh sambil berkata; “Baiklah, sekarang kita bisa------Eh, Ada apa denganmu..? Wajahmu merah sekali ?”

Genesis cepat-cepat memalingkan mukanya. “T-tidak ada apa-apa.” Jawabnya.

“Kau tidak enak badan ?” Sephiroth bertanya lagi; “Sakit ?”

“Tidak !” Genesis menegakkan diri, menyimpan kembali bukunya, bangun dan menyambar pedangnya lagi. Tetapi sebelum dia sempat menyerang, dia merasa rasa sakit yang mendadak dan tak tertahankan menjalari tulang punggungnya; khususnya tempurung tulang punggung sebelah kiri. “Tidak !” Batinnya, berusaha menahan sakit; “Jangan sekarang !!” Tapi usahanya sia-sia. Yang diketahuinya kemudian semua menjadi gelap……

***

Genesis merasa seperti sedang bermimpi, dan terbangun entah sudah berapa lama. Selama beberapa detik dia lupa apa yang telah terjadi. Dia mengira dia berada di kamarnya di Banora Village, tetapi ranjang yang dia tiduri saat ini jauh lebih nyaman dari ranjangnya di desa, membuatnya malas bergerak untuk beberapa saat. Kemudian suara kaku menyadarkannya; “Kau tidak apa-apa, songbird..?”

Dia menengok dan melihat Sephiroth.

Dengan cepat kesadaran Genesis kembali pulih. Dia teringat lagi apa yang telah terjadi. Disadarinya dia masih berada di apartemen Sephiroth, bahkan sedang berbaring di ranjang sang General.

Rasa frustasi menyerangnya; menyadari bahwa dia tadi jatuh pingsan mendadak tanpa sebab. Tapi sebelum dia sempat mengatakan sesuatu untuk menutupi rasa malunya, Sephiroth agaknya mengerti dan berkata duluan; “Jangan kuatir. Aku tidak menganggap kau lemah, dan aku tidak akan memberitahu mentormu atau siapa pun mengenai kejadian ini.”

Genesis hendak bangun, tapi Sephiroth menahannya; mendorongnya dengan lembut untuk kembali berbaring, dan berkata lagi; “Tidak usah bangun, Genesis.”

“Sir----”

“Sephiroth.” Si rambut putih memutus; “Kurasa karena kita seumur kita tidak usah menggunakan formalitas saat kita sedang berduaan saja ?!”

Genesis nyaris tidak mempercayai pendengarannya. Dia membaringkan kembali kepalanya di bantal yang nyaman ini, tetapi sepasang matanya masih mengawasi wajah Sephiroth yang seperti biasa kaku tanpa ekspresi.

Si rambut perak membalas tatapannya. Sephiroth tahu bahwa seharusnya dia tidak boleh begini. Harga dirinya terlalu besar untuk bisa menyukai laki-laki; secantik apa pun. Tetapi bahkan orang bodoh pun akan bisa melihat pandangan mata Genesis saat ini adalah pandangan mata penuh harap dan cinta tanpa bisa disembunyikan. Penuh kekaguman. Dan disini tidak ada siapa-siapa. Ini adalah hari Minggu, hari dimana Sephiroth bisa beristirahat. Tak bolehkah dia bersenang-senang sedikit..? Walaupun kesenangan itu tergolong aneh.

Sangat aneh. Biasanya dia tidak pernah menginginkan ini. Banyak wanita yang menggodanya setiap kali dia lewat di Midgar. Semua wanita cantik dan sexy; tipe apa pun; berharap bisa berada dalam pelukannya walau hanya untuk semalam saja. Tapi tidak pernah ada perasaan apa pun di hati Sephiroth. Dia tidak menemukan dirinya sebagai seseorang yang bisa menjalin cinta atau hubungan, atau jatuh cinta. Dia tidak memiliki perasaan apa pun; meskipun kadang dia berusaha memaksakan diri menyukai seseorang.

Dia menatap wajah Genesis yang berbaring, membalas tatapan mata Genesis. Sephiroth sadar bahwa dirinya tidak mencintai Genesis seperti cinta antar kekasih, dan juga bukan perasaan nafsu. Dia harus mengakui; memang Genesis sangat rupawan; tapi perasaan dalam hati Sephiroth bukanlah nafsu seperti pria terhadap wanita. Meski begitu, ada perasaan aneh bergolak…. Lebih mirip perasaan penasaran, atau tertantang. Sepertinya bibir Genesis menjanjikan petualangan, pandangan mata Genesis yang penuh cinta di saat bersamaan juga seperti penuh menantang. Seolah menantang Sephiroth; “Beranikah kau melakukannya ? Sanggupkah ? Beranikah kau menghampiriku ? Aku berada disini, menunggu.”

Tantangan itu begitu besar. Tantangan untuk mencicipi sebuah permainan yang belum pernah dirasakannya. Bibir si rambut merah itu bagi Sephiroth seolah akan tertawa mengejek bila dia tidak berani menerima tantangan ini. Dan itu cukup bagi Sephiroth untuk kemudian membungkuk di atas dada Genesis; mendekatkan wajahnya ke wajah si rambut merah itu; dirasakannya Genesis menahan nafas; dan kemudian Sephiroth mencium bibir si rambut merah……..

Genesis tidak meronta, tapi juga tidak memberi respon.

Sephiroth menghentikan ciumannya, tapi masih berada dalam jarak yang sangat dekat dengan wajah Genesis. Si rambut merah tidak memejamkan mata. Si rambut merah itu terlampau sombong untuk bisa membiarkan Sephiroth melihatnya memejamkan mata menikmati ciuman yang padahal sangat diharapkannya itu.

“Kenapa kau tidak mendorongku ?” Bisik Sephiroth; “Kenapa tidak memukulku..?”

“Haruskah ?” Genesis balas berbisik.

“Apa kau menyukainya ?”

“Ya.”

“Kalau begitu, berikan respon.” Sephiroth menciumnya sekali lagi dan kali ini didapatkannya respon yang sangat agresif. Seperti petualangan yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. Sangat agresif, sangat menantang, dan merangsang gairah. Ciuman si rambut merah itu seakan berusaha memaksa Sephiroth luluh dalam pelukannya, tetapi Sephiroth tidak akan menyerah begitu saja. Dia yang akan menundukkan Genesis.

Tanpa sadar Sephiroth sudah bergerak naik ke tempat tidur.

“Apa kau pernah melakukan ini sebelumnya ?” Tanya Genesis setelah akhirnya mereka berdua bisa melepaskan ciuman mereka.

“Tidak. Tapi aku tahu kau pernah.”

“Bagaimana kau tahu ?”

“Sekretarisku yang bilang. Katanya salah seorang bawahan di ShinRa pernah memergokimu suatu malam minum-minum di bar dan saat mabuk kau mau saja dirangkul oleh seorang pria setengah baya dan dibawa pergi. Gosip lain mengatakan bahwa di malam lain saat mabuk kau menggandeng seorang anak remaja putra dan menyuruhnya memuaskan kesenanganmu.”

Genesis membuka mulut hendak menjawab dengan marah, tapi Sephiroth meletakkan telunjuknya di bibir Genesis, lalu meneruskan; “Jangan kuatir. Aku tidak menganggapmu tercela, dan aku juga tidak akan membocorkan rahasia itu kepada siapa pun. Kau memiliki sifat sulit mengendalikan diri dan sangat menuruti emosi serta perasaan. Apa Angeal Hewley tahu tentang dua kejadian itu ? Kuduga kau pasti kebetulan sedang tidak bersamanya saat itu ?”

“Memang aku sedang tidak bersamanya saat itu.” Genesis memainkan rambut Sephiroth yang berbaring di atas tubuhnya; “Angeal terlalu taat akan norma-norma. Kalau dia tahu apa yang telah kulakukan, dia akan menceramahiku siang dan malam.”

“Kalau begitu apa kau tidak takut Angeal akan datang kesini mencarimu sekarang..?”

“Jangan kuatir. Aku sudah meninggalkan pesan untuknya bahwa aku pergi jalan-jalan ke Midgar. Dan kau sendiri ? Apa akan ada yang datang mencarimu sekarang?”

“Aku mematikan Handphone-ku setiap hari Minggu.” Sephiroth mengerling pada Handphone-nya di atas meja di sebelah Masamune; “Jika tidak benda sialan itu akan berdering terus setiap lima menit.”

“Aku tidak perlu mematikan handphone-ku. Tidak ada yang mencariku, kecuali Angeal dan orang tuaku.” Tangan Genesis sekarang membelai pipi Sephiroth, tetapi sang General menangkap tangan itu dan meletakkan tangan itu di atas kepala si rambut merah sendiri lalu menahannya disitu dengan tangannya.

“Kau yang akan menurutiku, Genesis.” Bisik Sephiroth.

“Kenapa ?”

“Well… karena kau kalah minggu lalu. Tapi aku akan bersikap adil. Kalau kau bisa mengalahkanku suatu hari nanti, aku akan menurut padamu.”

Genesis tersenyum, jelas dia merasa dia akan menang suatu hari nanti dan akan bisa membuat Sephiroth bertekuk lutut di hadapannya lalu dia akan bisa menguasai si rambut perak itu selamanya seperti impiannya selama ini, tetapi saat ini; detik ini; dia tidak bisa memperdulikan hal itu dulu, sebab dia akan segera sibuk dengan sesuatu……

The End.



Note. Walaupun kelihatannya tulisanku (mungkin) memuji Sephiroth, sebenarnya jujur saja aku tidak melihat dia “tampan”/“cantik”---whatever. Aku akui dia hebat dan cool but just it. Aku benci model rambutnya dan kulitnya yang terlampau pucat, dan di mataku rupanya sama sekali tidak “mempesona”. Meski begitu, aku berusaha memberikan kesan “sportif” dalam tulisanku, karena dalam dunia Final Fantasy Sephiroth dianggap sebagai sosok yang sempurna.

Pengikut

free hit counter